Oct 6, 2016

Kisah Toni Ruttiman, Relawan asal Swiss yang Bangun Daerah Terpencil di Indonesia

Kompas.com - Sosiolog Imam B Prasodjo menulis sebuah catatan menarik di akun Facebook pribadinya mengenai seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman.

Imam mengisahkan upaya sukarela Toni yang diam-diam keluar masuk kampung wilayah terpencil di Indonesia.

Selama tiga tahun, Toni mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus.

Dalam catatannya itu, Imam juga menyertakan foto Toni dan sejumlah warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong.

Foto lainnya menunjukkan sejumlah anak-anak yang memakai seragam sekolah dasar, menyeberangi sebuah sungai dengan cara bergelantungan pada jembatan yang sudah rusak.
"Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak-anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyebrangi sungai dengan jembatan yang rusak," ujar Imam, dalam akun Facebook-nya, yang dikutip Kompas.com atas seizin Imam, Rabu (28/9/2016).

Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

Dia juga mengupayakan bantuan pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.

Toni merekrut beberapa tenaga kerja Indonesia untuk dijadikan stafnya untuk membantu semua upaya tersebut.

"Saat ini seorang pemuda bernama Suntana, dengan setia membantu misi kemanusiaan Toni," tutur Imam.

Dengan cara seperti ini, Toni telah berhasil memasang 61 jembatan gantung di berbagai daerah termasuk Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan bahkan hingga Sulawesi, Maluku Utara dan NTT.

Terhambat

Namun, yang terjadi akhir-akhir ini, upaya pengiriman bantuan justru terhambat. Menurut Imam, bantuan bahan jembatan seperti wirerope(kabel pancang) yang selama tiga tahun telah secara rutin ia kirim dari Swiss terhambat oleh lambannya birokrasi.

Padahal, Presiden Joko Widodo telah memberikan instruksi agar arus barang impor dipercepat.

"Saya ikut terlibat dan mengikuti betapa sulitnya mengurus proses administrasi import barang bantuan ini. Saya merasa kesal menghadapi birokrasi yang begitu ruwet dan lambat, walaupun untuk import barang bantuan sekalipun," ungkapnya.

Imam juga menuturkan keterangan dari Suntana, asisten Toni, yang bercerita proses pengurusan barang bantuan harus menghadapi penetapan denda demurrage (batas waktu kontainer).

Sementara untuk mengeluarkan kontainer dari area penyimpanan diperlukan dana yang tidak sedikit.

Di sisi lain, proses permintaan penghapusan tagihan denda demurrage (batas waktu container) atas tiga kontainer wirerope dari pihak pelayaran masih memerlukan waktu yang lebih lama.

Sedangkan biaya untuk denda demurrage terus berjalan per-hari.

Dalam lampiran tagihan demmurage yang diterima Imam, tertulis jumlah denda per tgl 19 September 2016 adalah Rp 169.890.000,- dan konfimasi terbaru tagihan demmurage per hari ini 26 September 2016 adalah Rp 195.650.000.

Selain itu, kata Imam, proses impor wirerope memakan waktu lebih dari dua bulan sejak kontainer tiba di Tanjung Priok karena lamanya proses rekomendasi dari kementrian-kementrian terkait yang harus ditempuh untuk proses hibah ini.

"Terus terang saya malu menghadapi kejadian ini. Saya ingin sekali berteriak sekerasnya mewakili rakyat yang selama ini masih mengharapkan bantuan Toni Ruttiman," ungkap Imam.

Beruntung, dari keterangan Imam kepada Kompas.com, Rabu malam, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah menyepakati akan membayar biaya demurrage dan seluruh proses administrasi dalam importasi wirerope sebanyak 3 kontainer.

"Semoga (janji Menteri PUPR) segera direalisasikan," tuturnya.

No comments:

Post a Comment