Nov 20, 2012

5 Kuliner Yogyakarta yang Ngangeni

Kompas.com - Sarapan, makan siang, minum kopi di sore hari, sampai makan malam. Masing-masing jam makan bisa memunculkan aneka kuliner khas Yogyakarta. Ya, walau disebut sebagai Kota Gudeng, kuliner Yogyakarta lebih dari sekadar “gudeg”.

Tentu saja, mampir ke Yogyakarta tetap tak lengkap jika belum mencicipi gudeg. Bagi pelancong sejati Yogyakarta, pasti memiliki kuliner favorit yang akan selalu dicari setiap menginjakan kaki di Yogyakarta.

Ada pula beberapa kuliner yang selalu menjadi incaran para wisatawan. Beberapa kuliner tersebut begitu “ngangeni” alias membuat rindu bagi orang yang sudah pernah memakannya. Berikut beberapa makanan Yogyakarta yang “ngangeni” versi Kompas.com.

Kipo. Kipo adalah jajanan khas Kotagede. Bentuknya kecil dan dibungkus daun pisang. Kulit kipo warna hijau dengan isian gula jawa. Bungkusan daun pisang berisi adonan yang sudah diberi gula jawa kemudian dipanggang di atas cobek.

Harum pandan dan kenyal kulit dari tepung ketan yang gurih bercampur dengan manisnya gula jawa. Salah satu tempat legendaris yang menjual kipo adalah kios Bu Djito di Jalan Mondorakan Nomor 27, Kotagede, yang sudah berjualan sejak 1946.

Sego Pecel. Sego berarti nasi, pecel sudah pasti sayuran dengan bumbu kacang. Masakan sederhana ini selalu mampu membuat penikmatnya rindu untuk menyantapnya kembali. Kuncinya memang di bumbu kacang.

Nah, SGPC Bu Wiryo bisa menjadi salah satu tempat makan untuk menikmati sego pecel. Lokasinya masih berada di kompleks Universitas Gajah Mada (UGM) dan sudah ada sejak tahun 1959. Tak heran, ini menjadi tempat makan nostalgia bagi kalangan alumni UGM.

Sego pecel ala Bu Wiryo tak jauh beda dengan nasi pecel lainnya, yaitu berisikan kacang panjang, bayam, dan tauge. Tentu saja tak lupa bumbu kacang gurih dengan sedikit rasa pedas, disiram di atas sayuran. Anda bisa tambahkan lauk lainnya untuk menyantap nasi pecel, ada tempe dan tahu bacem, ataupun sekedar telur goreng.

Gudeg. Mendengar kata “gudeg” saja sudah mampu menerbitkan air liur. Rasanya yang legit dengan paduan gurih dari santan. Nangka muda dimasak dengan santan selama berjam-jam hingga kental dan berubah warna.

Salah satu penjual gudeg yang tenar adalah Gudeg Yu Djum. Sampai-sampai, jika tak sempat makan, gudeg pun dibungkus untuk dijadikan oleh-oleh. Gudeg Yu Djum sering dibeli untuk dibawa pulang ke kota asal. Biasanya bisa awet jika dibungkus dengan kendil atau kendi tanah liat.

Gudeg kering khas Yu Djum ini berisikan telor bebek, ayam kampun, dan sambal krecek. Saking larisnya, siang hari seringkali gudeg di tempat ini sudah habis. Gudeg Yu Djum sudah berusia lebih dari 30 tahun dan terus berjualan di Jalan Wijilan.

Sate Klathak. Pertama kali menikmati sate klathak, tak perlu kaget dengan tampilan tusuk satainya yang tampak menyeramkan itu. Ya, jeruji sepeda yang terbuat dari besi digunakan sebagai tusuk sate. Sate Klathak bisa ditemukan di daerah Bantul.

Daging yang dipakai biasanya daging kambing muda yang sudah dibumbui dengan garam dan sedikit merica, tanpa tambahan kecap dan bumbu lainnya. Begitu sederhana namun malah mengeluarkan kesegaran rasa asli dari daging kambing.

Nama “klathak” sendiri berasal dari bunyi yang keluar saat daging dibakar di tungku bara api. Di Jalan Imogiri Timur dan Pasar Jejeran terdapat banyak penjual Sate Klathak. Namun salah satu yang tenar adalah Sate Klathak Pak Bari yang berada di Pojok Kidul Pasar Jejeran, Wonokromo, Bantul.

Kopi Jos. Ketenaran Kopi Jos ini sudah tak terkatakan lagi. Bisa dipastikan setiap pelancong yang ke Yogyakarta, mampir ke sebuah angkringan jadul di Jalan Mangkubumi, dekat pintu keluar Stasiun Tugu.

Angkringan Lek Man, demikian biasa disebut. Angkringan itu sudah ada sejak tahun 1950-an. Kopi Jos hanyalah kopi hitam pekat. Hal yang membuatnya istimewa adalah arang yang membara dimasukan ke dalam kopi.

Sambil menikmati kopi jos, jangan lupa menyantap sego kucing alias nasi dalam porsi kecil lengkap dengan sedikit lauk seperti ikan teri. Tambahkan aneka gorengan dan sate.

No comments:

Post a Comment