Dec 1, 2012

Masjid untuk Gay dan Lesbian Dibuka di Perancis

Kompas.com - Untuk pertama kalinya, sebuah masjid yang bisa menerima kelompok gay dan lesbian dibuka di Paris, Perancis, Jumat (30/11/2012). Pembukaan masjid ini menjadi tantangan tersendiri terhadap tradisi Islam yang menentang hubungan sesama jenis.

Masjid itu, selain menerima gay, lesbian dan transgender juga tidak memisahkan tempat umat pria dan perempuan. Hal ini juga mematahkan tradisi lama Islam yang biasanya memisahkan tempat antara umat pria dan perempuan.

Pendiri masjid ini, seorang Muslim yang juga aktivis gay berdarah Aljazair, Ludovic-Mohamed Zahed (35) juga mendorong perempuan memimpin ibadah shalat Jumat.

"Ini adalah sebuah masjid inklusif yang radikal. Sebuah masjid yang menerima umatnya apa adanya," kata Zahed.

Masjid ini, yang untuk saat ini dibuka terbatas pada saat shalat Jumat ini, dibuka pada saat para pemimpin agama di Perancis, termasuk para pemuka agama Islam senior, tengah membuat petisi untuk menentang rencana pemerintah melegalkan pernikahan gay.

Zahed memutuskan untuk mendirikan masjid ini setelah anggota organisasi Muslim Homoseksual Perancis yang dikelolanya terus bertambah. Dua tahun lalu anggota organisasi ini hanya enam orang dan kini sudah mencapai 325 orang.

Kehadiran masjid ini mendapat sambutan hangat warga Muslim Perancis yang kebetulan adalah kaum gay dan lesbian.

"Perancis sangat kekurangan tempat seperti ini," kata seorang pengunjung masjid berusia 38 tahun yang tak ingin disebutkan namanya.

Namun, tentu saja masjid Zahed ini mendapat tentangan dari institusi Muslim formal dan pemuka agama Islam di Perancis.

"Kami tahu homoseksual Muslim itu ada. Namun, membuka sebuah masjid khusus bagi mereka adalah penyimpangan," kata Abdallah Zekri, yang memantau serangan anti-Muslim untuk Dewan Muslim Perancis.

Sementara itu, Pengelola Masjid Paris Dalil Boubaker mengatakan proyek masjid Zahed harus berada di luar komunitas.

"Kami tidak menuding kaum homoseksual. Namun kami tidak bisa memberi mereka kredit dan mengakui keberadaan mereka di komunitas kami," ujar Boubaker.

Bagaimana pendapat umat Muslim Perancis?

"Shalat adalah sebuah ritual. Anda tak bisa semaunya menentukan cara melakukan shalat. Anda harus melakukannya seperti diperintahkan Allah," kata Soufiene (45).

Sementara itu sejumlah pakar juga ikut mengomentari masjid yang dikelola Zahed ini.

"Tujuan para Muslim ini adalah untuk mempromosikan Islam yang inklusif dan memiliki nilai-nilai progresif," kata peneliti di Institut Riset dan Studi tentang Arab dan Dunia Muslim, Florence Bergeaud-Blackler.

Zahed sendiri adalah seorang gay yang menikahi kekasihnya, yang juga seorang Muslim dalam pernikahan sipil di Afrika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis.

No comments:

Post a Comment