Jun 26, 2008

Doa Anita Buat Sang Dermawan...(05)


WAJAH Ny Anita yang semula sembab mendadak ceria. Ada senyum dari bibirnya nan mungil. Anita lalu bertanya kepada wanita yang mengasuh Muhammad khalif Akbar, "Sudah bisa ketawakah Bu?" Pengasuh itu mengangguk. Sembari menimang Khalif, Anita sedikit memberikan komentar. "Sudah gede betul ya!" Bahkan, dalam pertemuan mengharukan antara ibu dan sang buah hatinya, Anita sempat mengganti popok Khalif, bocah berusia tiga bulan.

Selang berapa lama, Abdul Manaf, ayah kandung Ny Anita, tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Lelaki itu baru pulang dari kebunnya, tempat ia mengais rezeki. Melihat anaknya sudah berada di rumah, Manaf, tak kuasa menahan keharuan dan segera memeluk Anita. Semula ia tak percaya jika wanita yang ada di depannya itu adalah Anita. Seperti mimpi, katanya. Sejak mendengar kabar kedatangan anaknya, Manaf bergegas lari menuju ke rumahnya.
Air matanya tak bisa dibendung. "Anakku," teriak Manaf. Anita lalu berdiri, menyambut pelukan sang ayah. "Bapak...," teriak Anita. Keduanya larut dalam kegembiraan dengan air mata bercucuran. Sanak kerabat yang ikut menyaksikan pertemuan itu, juga tak henti-hentinya meneteskan air mata. Mereka tak kuasa menahan keharuan. Dengan isak yang masih serak, Manaf meminta maaf kepada Anita. "Maafkan Bapak, Nak... Bapak tak bisa membawamu pulang... Bapak tak punya uang Nak...Bapak hanya bisa berdoa kepada Allah... Setiap malam bapak selalu berdoa, sampai air mata bapak kering," tutur Manaf.

Kepada Anita, Manaf menceritakan bahwa uang yang hasil kerjanya yang ia kumpulkan tak cukup untuk membayar tagihan. "Bapak hanya bisa berdoa... dan berdoa dan berdoa. Saya bekerja di pembibitan Jarak, PT Japindo dengan upah Rp 35.000 per hari. Uang itu tak cukup untuk membayar tagihan klinik. Kebutuhan keluarga di sini pun sulit terpenuhi," kata Manaf kepada Tribun. Ia pun menceritakan perjuangan suami Anita, Ardi. Menantunya itu sudah berusaha mencari biaya pengobatan istrinya hingga ke Makassar. "Setelah 10 hari bekerja, Ardi hanya bisa mengirimkan uang 1,4 juta. Namun uang itu habis untuk membeli susu Alif. Jadi tak sempat dikirimkan ke Balikpapan.".

Mengumpulkan uang sebesar Rp 25 juta bagi keluarga Manaf yang keadaan ekonominya cukup memprihatinkan adalah sebuah keajaiban. Untunglah ada dermawan itu. "Saya hanya bisa mendoakan agar yang membantu kami dipanjangkan umur dan dilapangkan rizqinya oleh Allah. Amin...," kata Manaf sambil menyeka air matanya. Mendengar doa sang ayah, Anita mengamininya. "Sama seperti Bapak, saya juga mengucapkan terima kasih. Semoga orang yang telah menolong saya dimudahkan rizqi dan selalu diberi kesehatan oleh Allah," ujar Anita sambil terisak. Doa ayah dan anak itu benar-benar keluar dari lubuk hati paling dalam....sebagai ucapan terimakasih kepada para dermawan. Hanya itulah yang mereka bisa berikan, ketulusan dan keikhlasan hati dalam memanjatkan doa.

***
JARUM jam menunjukkan pukul 09.00 Wita. Seorang pria tiba-tiba datang ke Klinik Al-Afiat, Jalan A Yani Balikpapan. Pria itu membawa sebuah amplop berwarna coklat berisi uang tunai Rp 5 juta. Sayangnya pria itu menolak menyebutkan identitasnya. Dia menyerahkan uang itu kepada Ambarwati, petugas kasir di klinik Al-Afiat. "Ini uang untuk melunasi biaya perawatan dan pengobatan Anita," kata Ambarwati menirukan ucapan hamba Allah. Itu berarti biaya perawatan dan pengobatan Anita di klinik lunas.

Ambarwati kemudian menerima uang pecahan Rp 100.000 itu dan memberikan selembar kuitansi. Semula Ambarwati hanya membuat kuitansi senilai sisa uang yang harus dilunasi Rp 3.334.100. Namun pria itu meminta agar semua uang itu diterima klinik. Alasannya, sisa uang sebanyak Rp 1.665.900 didepositkan untuk keperluan Anita jika suatu hari nanti memerlukan pengobatan atau perawatan dokter spesialis paru-paru di Klinik Al-Afiat. "Bapak itu meminta kami menyimpan uang senilai Rp 1.665.900 untuk kontrol ulang kesehatan Anita," ujar Ambarwati.

Total biaya perawatan dan pengobatan Anita, sejak 13 Maret hingga 15 Juni 2008 sebesar Rp 37.604.100. Namun pihak klinik mendiskon hingga Rp 15.420.000. Jadi Anita hanya membayar Rp 22.184.100. Hingga Minggu (15/6) dana yang disetor Tribun Kaltim ---yang terhimpun dari para pembaca--- sebesar Rp 18.000.000. Bila ditotalkan dengan sumbangan dari warga lain senilai Rp 18.850.000 dan masih tersisa Rp 3.334.100. Namun Senin (16/6), semua pembiayaan dilunasi bahkan dideposit.