Jun 26, 2008

Saya Ingin Memeluk Khalif Akbar...(01)


BERAT badannya 32 kilogram. Tingginya sekitar 165 sentimeter lebih. Kondisi fisik itu tentu tak ideal seperti layaknya manusia normal biasa. Belum lagi betis. Jika dilihat sepintas, tentu tak lebih besar dari ukuran lengannya. Itulah sekilas gambaran Ny Anita. Saat ditemui Tribun di ruang tunggu Klinik Al-Afiat, Jalan A Yani, Balikpapan, matanya terlihat menerawang. Seakan-akan tak ada lagi harapan, karena di dalam benaknya ada tanggungan biaya perawatan sebesar Rp 25 juta yang harus ia bayar. Sementara, keluarganya tak bisa membantu meringankan beban berat Ny Anita yang semakin mengimpit akibat tekanan ekonomi. Di ruang tunggu Klinik Al-Afiat yang tak begitu luas, kira-kira berukuran 3 x 6 meter, wanita itu tampak terdiam duduk di kursi, sembari kedua tangannya dilipat ke bagian ujung lututnya. Lagi- lagi, matanya terlihat kosong. "Kamu siapa?" tanyanya kepada Tribun.

Saat ditanya bagaimana kondisinya saat ini, Ny Anita mengaku sudah agak sehat. "Lumayan... Cuman, saya masih belum bisa keluar karena pihak kinik mengharuskan saya melunasi segala tanggungan biaya pengobatan dan perawatan," ungkapnya. Jumat (13/6) pagi itu, warga Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara (PPU), hanya bisa pasrah. Perempuan berusia 20 tahun tersebut mengaku tak diperbolehkan meninggalkan Klinik Al- Afiat karena keluarganya tidak mampu menebus biaya perawatan sebesar Rp 25 juta.

Anita dirawat di klinik itu sejak 13 Maret 2008 lantaran sesak napas akibat penyakit paru-parunya cukup parah. Penyakit itu timbul selang beberapa hari setelah ia melahirkan anak pertamanya di Puskesmas Babulu, PPU, 29 Februari. "Selang dua hari setelah melahirkan, penyakit paru-paru saya kambuh dan saya dirujuk ke puskesmas, lalu dirujuk ke RSU PPU. Sejak saya melahirkan sampai sekarang saya belum sempat melihat bahkan mengendong anak saya. Saya ingin sekali memeluknya," kenangnya. Putra pertamanya itu diberi nama Muhammad Khalif Akbar. Saat ini, Khalif dititipkan kepada seorang warga berasal dari Jawa yang ada di Kecamatan Babulu. "Saya titipkan ke warga asal Jawa itu karena saya anggap beliau seperti ibu kandung sendiri. Ibu saya bekerja di Balikpapan sebagai buruh warung makan di daerah Karangrejo."

Karena keterbatasan alat, maka tim medis setempat merujuk ke klinik di Balikpapan. Pihak keluarga kemudian berinisiatif membawa Anita ke Balikpapan untuk berobat di Klinik Al Afiat dengan uang pendaftaran Rp 250.000. Berdasarkan diagnosa dokter, Anita menderita penyakit tipus dan paru-paru. Karena cukup akut, tim medis merawatnya selama sebelas hari secara intensif dengan menghabiskan sebelas tabung oksigen. Biaya perawatannya tentu saja cukup tinggi. Sehari bisa mencapai Rp 580.000, dengan rincian biaya inap plus obat, oksigen, dan makan. Sejak ditangani tim medis di Klinik Al-Afiat, kondisi Anita berangsur membaik walaupun lengan wanita itu diinfus selama dua bulan. Begitu kondisinya membaik, infusnya lalu dicabut.

Seharusnya Anita bisa pulang ke rumahnya untuk menemui anaknya, Muhammad Khalif Akbar. Tetapi, karena ia belum membayar semua biaya perawatan dan pengobatan yang mencapai Rp 25 juta, Anita belum diperbolehkan pulang. Anita hanya bisa pasrah. Hingga Jumat (13/6) kemarin, wanita asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu masih menginap di klinik tersebut . Itu berarti, ia sudah tiga bulan ia dalam pengawasan tim medis. Di sisi lain, biaya pun semakin membengkak. Hingga kini keluarga Anita belum bisa melunasinya. Ibunya, Ny Rosmiah, Rabu (11/6) malam kemarin, datang ke klinik secara sembunyi-sembunyi.

Sebenarnya, menurut informasi yang diperoleh Tribun, biaya perawatan dan pengobatan Ny Anita melebihi Rp 25 juta. Tetapi, karena pihak klinik merasa iba, maka ada diskon khusus buatnya. Ketika dikonfirmasi, Jumat (13/6), dr Sri Nurulita, dokter di Klinik Al-Afiat, enggan menjelaskan secara detail soal penanganan Anita. "Kami sudah memberikan diskon kepada Anita, namun keluarganya tidak punya niat untuk membayar," tegasnya. Hingga kini, keluarga Anita baru membayar biaya perawatan dan pengobatan sebesar Rp 250.000. Karena kesulitan membayar, pihak klinik lalu menyita handphone milik Anita. "Benar kami menyita HP Anita untuk menebus biaya perawatannya," ujar dr Sri.