Showing posts with label Balikpapan. Show all posts
Showing posts with label Balikpapan. Show all posts

Jun 26, 2008

Doa Anita Buat Sang Dermawan...(05)


WAJAH Ny Anita yang semula sembab mendadak ceria. Ada senyum dari bibirnya nan mungil. Anita lalu bertanya kepada wanita yang mengasuh Muhammad khalif Akbar, "Sudah bisa ketawakah Bu?" Pengasuh itu mengangguk. Sembari menimang Khalif, Anita sedikit memberikan komentar. "Sudah gede betul ya!" Bahkan, dalam pertemuan mengharukan antara ibu dan sang buah hatinya, Anita sempat mengganti popok Khalif, bocah berusia tiga bulan.

Selang berapa lama, Abdul Manaf, ayah kandung Ny Anita, tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Lelaki itu baru pulang dari kebunnya, tempat ia mengais rezeki. Melihat anaknya sudah berada di rumah, Manaf, tak kuasa menahan keharuan dan segera memeluk Anita. Semula ia tak percaya jika wanita yang ada di depannya itu adalah Anita. Seperti mimpi, katanya. Sejak mendengar kabar kedatangan anaknya, Manaf bergegas lari menuju ke rumahnya.
Air matanya tak bisa dibendung. "Anakku," teriak Manaf. Anita lalu berdiri, menyambut pelukan sang ayah. "Bapak...," teriak Anita. Keduanya larut dalam kegembiraan dengan air mata bercucuran. Sanak kerabat yang ikut menyaksikan pertemuan itu, juga tak henti-hentinya meneteskan air mata. Mereka tak kuasa menahan keharuan. Dengan isak yang masih serak, Manaf meminta maaf kepada Anita. "Maafkan Bapak, Nak... Bapak tak bisa membawamu pulang... Bapak tak punya uang Nak...Bapak hanya bisa berdoa kepada Allah... Setiap malam bapak selalu berdoa, sampai air mata bapak kering," tutur Manaf.

Kepada Anita, Manaf menceritakan bahwa uang yang hasil kerjanya yang ia kumpulkan tak cukup untuk membayar tagihan. "Bapak hanya bisa berdoa... dan berdoa dan berdoa. Saya bekerja di pembibitan Jarak, PT Japindo dengan upah Rp 35.000 per hari. Uang itu tak cukup untuk membayar tagihan klinik. Kebutuhan keluarga di sini pun sulit terpenuhi," kata Manaf kepada Tribun. Ia pun menceritakan perjuangan suami Anita, Ardi. Menantunya itu sudah berusaha mencari biaya pengobatan istrinya hingga ke Makassar. "Setelah 10 hari bekerja, Ardi hanya bisa mengirimkan uang 1,4 juta. Namun uang itu habis untuk membeli susu Alif. Jadi tak sempat dikirimkan ke Balikpapan.".

Mengumpulkan uang sebesar Rp 25 juta bagi keluarga Manaf yang keadaan ekonominya cukup memprihatinkan adalah sebuah keajaiban. Untunglah ada dermawan itu. "Saya hanya bisa mendoakan agar yang membantu kami dipanjangkan umur dan dilapangkan rizqinya oleh Allah. Amin...," kata Manaf sambil menyeka air matanya. Mendengar doa sang ayah, Anita mengamininya. "Sama seperti Bapak, saya juga mengucapkan terima kasih. Semoga orang yang telah menolong saya dimudahkan rizqi dan selalu diberi kesehatan oleh Allah," ujar Anita sambil terisak. Doa ayah dan anak itu benar-benar keluar dari lubuk hati paling dalam....sebagai ucapan terimakasih kepada para dermawan. Hanya itulah yang mereka bisa berikan, ketulusan dan keikhlasan hati dalam memanjatkan doa.

***
JARUM jam menunjukkan pukul 09.00 Wita. Seorang pria tiba-tiba datang ke Klinik Al-Afiat, Jalan A Yani Balikpapan. Pria itu membawa sebuah amplop berwarna coklat berisi uang tunai Rp 5 juta. Sayangnya pria itu menolak menyebutkan identitasnya. Dia menyerahkan uang itu kepada Ambarwati, petugas kasir di klinik Al-Afiat. "Ini uang untuk melunasi biaya perawatan dan pengobatan Anita," kata Ambarwati menirukan ucapan hamba Allah. Itu berarti biaya perawatan dan pengobatan Anita di klinik lunas.

Ambarwati kemudian menerima uang pecahan Rp 100.000 itu dan memberikan selembar kuitansi. Semula Ambarwati hanya membuat kuitansi senilai sisa uang yang harus dilunasi Rp 3.334.100. Namun pria itu meminta agar semua uang itu diterima klinik. Alasannya, sisa uang sebanyak Rp 1.665.900 didepositkan untuk keperluan Anita jika suatu hari nanti memerlukan pengobatan atau perawatan dokter spesialis paru-paru di Klinik Al-Afiat. "Bapak itu meminta kami menyimpan uang senilai Rp 1.665.900 untuk kontrol ulang kesehatan Anita," ujar Ambarwati.

Total biaya perawatan dan pengobatan Anita, sejak 13 Maret hingga 15 Juni 2008 sebesar Rp 37.604.100. Namun pihak klinik mendiskon hingga Rp 15.420.000. Jadi Anita hanya membayar Rp 22.184.100. Hingga Minggu (15/6) dana yang disetor Tribun Kaltim ---yang terhimpun dari para pembaca--- sebesar Rp 18.000.000. Bila ditotalkan dengan sumbangan dari warga lain senilai Rp 18.850.000 dan masih tersisa Rp 3.334.100. Namun Senin (16/6), semua pembiayaan dilunasi bahkan dideposit.

Anakku Mana Bu.... Anakku Mana...? (04)


HUJAN air mata meledak. Semua mata menjadi sembab. Kami pun ikut terharu. Tak terasa, air mata kami ikut menggalir. Ada rasa keharuan yang begitu mendalam, hingga menggetarkan jiwa dan kalbu kami. Adalah Ny Anita. Ia masih muda dan punya segudang harapan meraih kehidupan lebih baik di negeri ini. Tak ada satu pun manusia di muka bumi yang mempunyai hak untuk merebut kebebasannya, membatasi ruang geraknya, apalagi menyangkut tali silaturahim dengan sang buah hati Muhammad Khalif Akbar.

Berkat kepedulian seorang hamba Allah yang tak mau disebut namanya --membantu biaya perawatan dan pengobatan-- Ny Anita Minggu (15/6) kemarin, akhirnya bisa berkumpul bersama anggota keluarganya. Hari itu, Kota Penajam Pasir Utara (PPU), seakan menjadi saksi bahwa masih ada manusia yang peduli, ringan tangan dan mau memahami tingkat kesulitan manusia lain. Selamat berbahagia Anita... Salam buat Muhammad Khalif Akbar... MAHA Besar Allah Swt... Bantuan sebesar Rp 19 juta rupiah dari seorang hamba Allah yang tak mau disebutkan identitasnya, telah menolong Anita. Anugerah Tuhan yang mengalir via uluran tangan seorang dermawan, mengantarkan Anita kembali bersama keluarga yang dirindukannya. Bantuan yang diserahkan melalui Tribun Kaltim, dipergunakan membayar tunggakan biaya perawatan dan pengobatan Anita. Belum semua. Dari Rp 21 juta yang dirinci dalam tagihan, baru terpenuhi 18 juta. Tribun telah menunggu di Klinik Al-Afiat Minggu (15/6) sejak jam 09.00 Wita untuk menyelesaikan administrasi. Petugas klinik baru bisa menuntaskannya, pukul 10.00 Wita. Selepas itu, mobil kijang Tribun bergerak membawa Anita mengarungi perjalanan panjang menuju kampung halamannya, La Bangka, Penajam Paser Utara. Beberapa barang bawaan Anita, seperti bantal, kasur, termos, dan rantang dimasukkan ke dalam ruang belakang mobil. Saat berangkat, hujan deras mengguyur. Anita yang duduk di kursi depan tampak kedinginan. Dalam perjalanan itu, ia menutup rapat kaca jendela. Telapak tangan kanannya menggenggam telapak kiri, lengannya pun dirapatkan pada badannya. Mungkin sedikit menghangatkan tubuhnya yang kurus kering. Sebelumnya, perawat melarang Anita terkena suhu dingin AC untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Sepanjang perjalanan, tak banyak kalimat yang diucapkannya. Rombongan tiba di Pelabuhan Kariangau jam 11.40 Wita. Perjalanan mengarungi Teluk Balikpapan memakan waktu selama 1 jam 30 menit. Setelah tiba di pelabuhan feri Penajam pukul 13.30, Tribun kembali melanjutkan perjalanan selama satu jam ke La Bangka. Sepanjang perjalanan, Anita tak merinci lokasi rumahnya. Ia hanya menjawab singkat. "Masih jauh, sedikit lagi, atau sudah dekat.." Pukul 14.35, rombongan tiba di 'rumah' Anita, atau lebih tepatnya bangsal kecil yang dikontrak keluarganya. Anita keluar dari mobil. Ia berlari, sembari menggenggam koran Tribun Kaltim. Tanpa menghiraukan tanah yang becek dan licin, wanta itu bergegas menuju rumahnya. Di dapur rumah itu, ada seorang wanita yang selama ini mengasuh Muhammad Khalif Akbar, anak Anita. Wanita itu teperanjat. "Nitaaa...," katanya dengan air mata yang tak terbendung, sembari memeluk tubuh kurus Anita. Dalam sekejab, hujan air mata meledak. Dekapan itu begitu erat. Lalu, Anita dengan isak yang tertahan berbisik, "Anakku mana Bu?... Anakku mana?". Sang pengasuh yang matanya masih sembab, segera memberitahu kalau anaknya dititipkan di rumah tetangga. Sejurus kemudian ia memanggil tetangga yang sedang menjaga Alif. Lalu, terjadilah pertemuan mengharukan itu, antara sang Ibu dengan buah hati tercintanya. "Anakku.... Anakku..."

Rp 19 Juta buat Anita...(03)


ALLAH Maha Besar, Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Melihat terhadap apa-apa yang dialami makhluknya di muka bumi. Seperti doa yang dipanjatkan Manaf, ayah kandung Ny Anita. Doa itu dijabah oleh Allah. Sabtu (14/6) malam, markas Tribun mendadak didatangi seorang hamba Allah. Lelaki itu tak mau menyebutkan identitasnya. "Saya prihatin dengan penderitaan yang dialami Anita. Dimana empati kita semua? Ternyata di daerah yang kaya raya ini, masih ada manusia yang menderita dan kita cenderung tidak peduli serta cuek dengan kenyataan seperti ini," kata pria itu kepada Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim Achmad Subechi, sambil menitipkan amplop sebesar Rp 19 juta rupiah.

"Sisihkan Rp 1 juta untuk biaya perjalanan Anita ke desanya. Sisanya bayarkan ke pihak klinik. Hari Senin nanti saya akan lunasi semuanya. Usahakan malam ini dia keluar dari klinik. Kalau pihak klinik tidak mau, kamu saja yang menjadi jaminannya. Saya benar-benar kasihan dan prihatin dengan keadaan Anita," tutur lelaki yang lahir dan dibesarkan di Kaltim. Mendapat amplop yang berisi sebesar itu, Achmad Subechi, spontan berdiri dalam menyalami sang dermawan yang baik hati. "Allahu Akbar.... Allah Maha Besar. Semoga shodaqoh bapak diterima dan dilipatkgandakan oleh Allah." Pria itu terdiam. Ia lalu berpesan kepada Achmad Subechi agar malam ini juga segera menutup semua biaya perawatan dan pengobatan Ny Anita yang totalnya sekitar Rp 25 juta.

"Usahakan malam ini dia keluar dari klinik ya... Antar ke rumahnya, biar dia ketemu anaknya. Nanti, kalau dia sudah sehat, saya diberi alamat rumahnya dan saya akan bantu Anita setiap bulannya agar beban penderitaannya sedikit terkurangi," pintanya. Mendengar penjelasan itu, bulu kuduk Achmad Subechi berdiri. Malam itu juga ia mengajak beberapa wartawan dan redaktur mendatangi Klinik Al-Afiat, di Jalan Achmad Yani, Balikpapan untuk menyampaikan amanah. Ketika berada di klinik, karyawan bagian kasir dan administrasi sudah pulang. "Kata Bu dokter, lebih baik diselesaikan besok saja. Saya sendiri juga takut Pak menyimpan uang sebanyak itu. Mau saya tempatkan dimana," kata seorang karyawati.

***
SABTU (16/6) hari masih pagi. Jam menunjukkan pukul 11.00 Wita. Seorang lelaki berbadan tegap dan berambut cepak, datang ke Klinik Al-Afiat. Lelaki berpakaian doreng tersebut menanyakan keberadaan seorang pasien bernama Ny Anita. "Mana pasien yang bernama Anita," tanya lelaki tegap yang belakangan diketahui bernama Hendra, kepada salah seorang karyawan klinik Al-Afiat. "Sebentar Pak duduk dulu, nanti dipanggilkan Anita-nya," jawab seorang karyawan klinik. "Ruangannya dimana? Saya mau lihat," tanyanya lagi.

Petugas klinik lalu memanggil Ny Anita. Tak lama kemudian lelaki berbaju doreng berpangkat mayor itu dipertemukan dengan Ny Anita di ruang tunggu berukuran 3 x 5 meter. "Kamu Anita?" tanya Hendra. Anita mengangguk. "Sudah berapa lama kamu disini? Anita sudah makan?" tanyanya. "Sudah Pak". Kedatangan sang mayor TNI AD itu ke klinik, tergerak setelah membaca berita di Tribun Kaltim berjudul: Derita Ny Anita tak Boleh Tinggalkan Klinik (edisi Sabtu/14/6 di halaman 1). Lelaki tersebut kemudian bertanya kepada seorang tukang ojek dan tetangga karibnya untuk diantarkan ke Klinik Al-Afiat.

"Jujur saya tadi pagi menangis membaca kisah Anita di Tribun Kaltim. Ternyata masih ada warga yang tidak mampu membayar biaya pengobatan karena faktor ekonomi dan saya sangat terharu. Saya dari rumah ke sini... dalam perjalanan, hati saya menangis.. Hati nurani saya tergerak untuk membantunya," kenang Hendra. Setelah itu Hendra menghampiri penanggung jawab klinik Al-Afiat, Ali Zaini. Ia ingin mengetahui duduk persoalannya. Harapan untuk menolong Anita tak kesampaian. Sebab, Anita masih mempunyai tanggungan. Hendra pun sadar. Ia bukanlah jutawan. Ia hanya abdi negara yang tergerak hatinya.

Sekian lama menatap Anita, Hendra kemudian mengeluarkan lembaran uangnya dan menyodorkannya kepada Anita. "Buat kamu, bukan buat bayar rumah sakit. Uang itu dari saya buat makan kamu," pesan Hendra. Anita awalnya malu-malu menerimanya. Hendra juga meminta sang tukang ojek untuk membelikan makanan dan minuman buat Anita. Setelah melakukan perbincangan panjang lebar, lelaki tegap yang merasa iba terhadap Ny Anita menjelaskan bahwa dirinya sempat berpikir negatif terhadap pihak klinik ini. Akan tetapi, setelah mendapat penjelasan dari pihak penanggung jawab klinik, Hendra akhirnya memahaminya. Karena itu ia berharap kepada para dermawan yang memiliki harta berlebih, mau membantu dan meringankan beban Anita. "Setelah mendapat penjelasan dari penanggung jawab saya bisa memahami. Saya ini orang Padang dan tidak punya hubungan apa-apa dengan Anita. Niat saya bagaimana Anita itu cepat sembuh. Kita hidup kan saling membantu dengan sesama. Jadi saya juga menghimbau kepada masyarakat dan pejabat untuk membantu warganya," tuturnya.

Ya Allah, Berilah Saya Rezeki (02)


TUBUHNYA terbaring di atas ranjang. Sesekali bocah itu menggeliat berusaha menggoyangkan tubuhnya. Tak lama kemudian suara tangis meledak dari bibirnya nan mungil. "Oh.... Dia lagi beol," kata Ny Meti. Tak lama kemudian, kain yang dipakai dilapkan di bagian pantatnya. Suara tangis pun berhenti. Setelah bersih, bocah itu ditimang-timangnya. Sesaat kemudian, Tribun melihat kedua mata Ny Meti berkaca-kaca. Dalam hitungan detik, air mata itu menetes membasahi pipinya saat ia menatap wajah Khalif yang ketika itu berada di pangkuannya.

Bayi yang ada di dalam gendongan itu bernama Muhammad Khalif Akbar. Ia adalah anak semata wayang Ny Anita, pasien Klinik Al-Afiat Balikpapan yang belum bisa keluar dari klinik karena belum menyelesaikan masalah keuangan yang melilitnya sebesar Rp 25 juta. Khalif tinggal bersama neneknya, Ny Meti, dan Akbar di RT 03 Desa Labangka, Kecamatan Babulu. Menurut penuturan Ny Meti, Anita adalah anggota keluarganya dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejak dirawat di Balikpapan, Anita menitipkan anaknya untuk dirawat.

Ia mengaku sejak Khalif dilahirkan baru sekali disentuh mamanya. Itu pun saat akan berangkat ke Balikpapan untuk berobat. "Mamanya hanya menyentuh anaknya pada saat ia akan dibawa ke Balikpapan. Karena kata dokter Anita nggak boleh dulu bersama anaknya, takut nanti penyakitnya menular. Saat dilahirkan pun anak ini belum sempat disentuh," kenang Meti. Kondisi kesehatan Khalif lumayan sehat, meski bocah itu kini jauh dari ibunya. Berat badannya yang semula hanya 2,6 Kg, malah naik menjadi 6 Kg. Meningkatnya berat badan Khalif, terjadi karena setiap hari ia disuplai susu formula. "Empat hari sekali ia menghabiskan satu kaleng susu ukuran 900 gram. Harganya itu sekitar Rp 75.000," ungkapnya.

Kendati kondisi tubuhnya sehat, suami Ny Meti, Akbar, mengaku bahwa bocah ini kerap menangis saat malam hari. Bahkan terkadang sampai pagi mereka tidak tidur karena terusik tangisan Khalif. "Mungkin kalau mamanya lagi pusing di Balikpapan, ia (Khalif) ikut merasakannya. Makanya sering nangis-nangis di tengah malam," ujarnya. Ayah kandung Ny Anita, Manaf, mengaku tidak mampu berbuat banyak untuk mengeluarkan anaknya dari Klinik Al-Afiat, Balikpapan. "Jangankan bayar uang perawatan, makan saja susah," jelas Manaf berkaca-kaca.

Tak lama kemudian, isak tangis meledak. Manaf sedih setiap kali memikirkan nasib anaknya yang masih berada di klinik. Sebagai buruh harian yang tidak memiliki penghasilan tetap, Manaf sering mendapat telepon dari Klinik Al-Afiat yang memintanya agar segera melunasi uang perawatan anaknya. "Saya sering dapat telepon dan diminta untuk membayar uang perawatan Anita. Tapi saya dapat uang dari mana? Makan saja susah," tuturnya terisak-isak. Manaf mengaku, setelah shalat magrib ia selalu menangis meminta kepada Allah SWT agar memberikan rezeki yang tak terduga untuk menebus biaya perawatan anaknya.

"Tengah malam pun kadang saya bangun dan langsung menangis. Saya berdoa, ya Allah berilah rezeki ya Allah agar saya bisa mengeluarkan anakku dari rumah sakit. Kasihanilah dia Yaa Allah," kata Manaf, sembari mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa. Ia pun tidak mampu menahan tangis dan langsung duduk. Suami Anita, Ardi, sehari-hari adalah penjual koran di Makassar. Beberapa hari lalu ia mengirim uang Rp 1,2 juta, namun uang itu hanya dipakai untuk membeli susu anaknya. Ia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan supaya anaknya bisa dikeluarkan dari rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Penajam Paser Utara (PPU) dr Arnold Wayong menyatakan, dirinya belum bisa memutuskan apakah akan membantu Anita atau tidak karena persoalan ini harus dibicarakan dengan Sekkab Sutiman dan Asisten II Antung AR Sumagiri. "Senin (16/6) kami akan rapat dahulu" ujarnya. Menurut Wayong, Anita sempat dirawat di Puskesmas Babulu saat melahirkan. Ketika tengah dalam perawatan, ia tiba-tiba minta pulang. Setelah penyakitnya kambuh, ia lalu berangkat ke Balikpapan untuk berobat. "Tapi dia tidak dirujuk puskesmas. Tadi sudah saja cek juga melalui perawatnya. Dan dia tidak memiliki kartu surat keterangan tidak mampu (SKTM). Tapi saya akan tetap berusaha agar Ny Anita bisa kita Bantu. Mudah-mudahan Senin sudah ada hasilnya," janji Arnold.

Saya Ingin Memeluk Khalif Akbar...(01)


BERAT badannya 32 kilogram. Tingginya sekitar 165 sentimeter lebih. Kondisi fisik itu tentu tak ideal seperti layaknya manusia normal biasa. Belum lagi betis. Jika dilihat sepintas, tentu tak lebih besar dari ukuran lengannya. Itulah sekilas gambaran Ny Anita. Saat ditemui Tribun di ruang tunggu Klinik Al-Afiat, Jalan A Yani, Balikpapan, matanya terlihat menerawang. Seakan-akan tak ada lagi harapan, karena di dalam benaknya ada tanggungan biaya perawatan sebesar Rp 25 juta yang harus ia bayar. Sementara, keluarganya tak bisa membantu meringankan beban berat Ny Anita yang semakin mengimpit akibat tekanan ekonomi. Di ruang tunggu Klinik Al-Afiat yang tak begitu luas, kira-kira berukuran 3 x 6 meter, wanita itu tampak terdiam duduk di kursi, sembari kedua tangannya dilipat ke bagian ujung lututnya. Lagi- lagi, matanya terlihat kosong. "Kamu siapa?" tanyanya kepada Tribun.

Saat ditanya bagaimana kondisinya saat ini, Ny Anita mengaku sudah agak sehat. "Lumayan... Cuman, saya masih belum bisa keluar karena pihak kinik mengharuskan saya melunasi segala tanggungan biaya pengobatan dan perawatan," ungkapnya. Jumat (13/6) pagi itu, warga Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara (PPU), hanya bisa pasrah. Perempuan berusia 20 tahun tersebut mengaku tak diperbolehkan meninggalkan Klinik Al- Afiat karena keluarganya tidak mampu menebus biaya perawatan sebesar Rp 25 juta.

Anita dirawat di klinik itu sejak 13 Maret 2008 lantaran sesak napas akibat penyakit paru-parunya cukup parah. Penyakit itu timbul selang beberapa hari setelah ia melahirkan anak pertamanya di Puskesmas Babulu, PPU, 29 Februari. "Selang dua hari setelah melahirkan, penyakit paru-paru saya kambuh dan saya dirujuk ke puskesmas, lalu dirujuk ke RSU PPU. Sejak saya melahirkan sampai sekarang saya belum sempat melihat bahkan mengendong anak saya. Saya ingin sekali memeluknya," kenangnya. Putra pertamanya itu diberi nama Muhammad Khalif Akbar. Saat ini, Khalif dititipkan kepada seorang warga berasal dari Jawa yang ada di Kecamatan Babulu. "Saya titipkan ke warga asal Jawa itu karena saya anggap beliau seperti ibu kandung sendiri. Ibu saya bekerja di Balikpapan sebagai buruh warung makan di daerah Karangrejo."

Karena keterbatasan alat, maka tim medis setempat merujuk ke klinik di Balikpapan. Pihak keluarga kemudian berinisiatif membawa Anita ke Balikpapan untuk berobat di Klinik Al Afiat dengan uang pendaftaran Rp 250.000. Berdasarkan diagnosa dokter, Anita menderita penyakit tipus dan paru-paru. Karena cukup akut, tim medis merawatnya selama sebelas hari secara intensif dengan menghabiskan sebelas tabung oksigen. Biaya perawatannya tentu saja cukup tinggi. Sehari bisa mencapai Rp 580.000, dengan rincian biaya inap plus obat, oksigen, dan makan. Sejak ditangani tim medis di Klinik Al-Afiat, kondisi Anita berangsur membaik walaupun lengan wanita itu diinfus selama dua bulan. Begitu kondisinya membaik, infusnya lalu dicabut.

Seharusnya Anita bisa pulang ke rumahnya untuk menemui anaknya, Muhammad Khalif Akbar. Tetapi, karena ia belum membayar semua biaya perawatan dan pengobatan yang mencapai Rp 25 juta, Anita belum diperbolehkan pulang. Anita hanya bisa pasrah. Hingga Jumat (13/6) kemarin, wanita asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu masih menginap di klinik tersebut . Itu berarti, ia sudah tiga bulan ia dalam pengawasan tim medis. Di sisi lain, biaya pun semakin membengkak. Hingga kini keluarga Anita belum bisa melunasinya. Ibunya, Ny Rosmiah, Rabu (11/6) malam kemarin, datang ke klinik secara sembunyi-sembunyi.

Sebenarnya, menurut informasi yang diperoleh Tribun, biaya perawatan dan pengobatan Ny Anita melebihi Rp 25 juta. Tetapi, karena pihak klinik merasa iba, maka ada diskon khusus buatnya. Ketika dikonfirmasi, Jumat (13/6), dr Sri Nurulita, dokter di Klinik Al-Afiat, enggan menjelaskan secara detail soal penanganan Anita. "Kami sudah memberikan diskon kepada Anita, namun keluarganya tidak punya niat untuk membayar," tegasnya. Hingga kini, keluarga Anita baru membayar biaya perawatan dan pengobatan sebesar Rp 250.000. Karena kesulitan membayar, pihak klinik lalu menyita handphone milik Anita. "Benar kami menyita HP Anita untuk menebus biaya perawatannya," ujar dr Sri.