Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts

Dec 18, 2014

7 Langkah Mewujudkan Mimpi Besar

Kompas.com - Banyak orang punya mimpi besar. Tapi tidak semua orang bisa mulai besar.
Karena mereka tidak bisa memulai besar, banyak orang yang akhirnya malah sibuk menunggu moment ideal untuk membangun profesi impiannya, mimpi profesi yang katanya “Gue Banget”.

Contoh, punya passion di bidang makanan, profesi impiannya adalah bikin restoran. Tapi karena tidak ada modalnya, akhirnya hanya duduk cantik dan menunggu. Punya passion di bidang perfilman. Tapi tidak punya peralatan maut bin dahsyat, akhirnya hanya duduk memandang langit diiringi soundtrack sendu sinetron.

Waktu kita membangun profesi yang ‘Gue Banget’, kita condong berharap memulai secara ideal. Modal ideal, karyawan ideal, peralatan ideal, skala bisnis ideal. Padahal, pssssttt, justru inilah yang menghambat kita beralih dari profesi lama, ke profesi yang sebenarnya kita inginkan. Kelamaan nunggu ‘kondisi ideal’ yang entah kapan datangnya!

Sebagai Passionpreneurs, kita adalah orang- orang yang menciptakan peluang. Kita tidak membuang waktu dengan kebanyakan menunggu, dan kita tidak mengatakan “Tidak bisa”, tapi harusnya selalu bertanya, “Gimana caranya supaya bisa?”

Saya punya 7 langkah untuk Anda, untuk memulai transisi Anda menuju profesi mimpi besar Anda, dengan memulainya dari apapun yang ada saat ini!

1. Kenali mimpi besar Anda dan posisi saat Anda ini.
Banyak orang yang tahu apa yang dia nggak mau, tapi nggak semua orang tahu apa yang sebenarnya dia mau! Tahu yang Anda nggak mau itu nggak cukup. Anda harus tahu tujuan dan profesi impian besar Anda sebenarnya, dan bagaimana perbandingan posisi Anda sekarang dengan profesi itu, apakah sudah pas? Bagaimana supaya pas?

2. Bermain dalam skala di bidang yang sama.
Apa kesamaan si mbok di rumah, dengan “5aSec”? Keduanya adalah “tukang cuci”. Apa kesamaan nasi padang kompleks sama restoran padang “Sederhana”? Keduanya jual ayam kalio. Yang membedakan? Skala. Belum bisa main di skala besar? Mainlah dulu di skala kecilnya, dan tekuni. Tanyakan pada diri Anda, “Apa saja versi skala yang lebih kecilnya dari profesi impian saya ini?”

3. Breakdown perjalanan Anda dalam target- target.
Mimpi besar kadang bikin takut atau bikin kita berhenti berjalan. Karena itu, supaya kita lebih berani maju dan bisa mencatat progress perjalanan, pecahkan perjalanan membangun profesi Anda dalam target- target pendek. Bayangkan level- level skala dalam profesi itu sebagai target atau anak tangga, dan mulai dari yang bisa Anda lakukan sekarang, bukan besok apalagi lusa.

4. Budgeting waktu dan tenaga.
Tidak ada hal indah yang bisa didapatkan tanpa usaha. Makin berkualitas hasilnya, makin besar usaha yang dibutuhkan. Sebagai Passionpreneur yang lagi membangun profesi yang ‘Gue Banget’, kita memang butuh effort ekstra! Berikan waktu dan tenaga untuk membangun jalan Passion Anda, atau kalau dalam istilah saya, jalan ‘Profesi Masa Depan’ Anda nantinya.

5. Budgeting dana.
Hitung dan budgetkan sebagian dana dan aliran income yang Anda dapat dari profesi saat ini ke dalam pengembangan profesi Passion Anda. Tidak usah terlalu besar, awalnya 10 persen- 20 persen per bulan sudah cukup kok. Yang penting ada aliran dana yang bisa Anda budgetkan.

6. Berdiri di dua dunia.
Pssssttt, nggak usah terburu- buru langsung resign dan buru- buru memecat bos Anda. Kecuali Anda punya tabungan dan modal besar, bos Anda sebenarnya adalah sumber dana dan jaringan untuk membangun profesi impian Anda! Pakai sebagian income dari pekerjaan Anda untuk membangun profesi impian Anda, dan menjaga dapur Anda tetap ngebul dalam prosesnya! Jadinya secara tidak langsung, bos Anda yang bayarin biaya buat Anda resign kan?

7. Terus berjalan dan menjejak tangga.
Hal yang paling penting dalam mengembangkan profesi yang ‘Gue Banget’ dan membawa Anda pada kesuksesan (sukses buat saya adalah Kaya, Bermakna, Bahagia), adalah konsistensi. Jadi teruslah melangkah dari anak tangga paling bawah dari target- target Anda, dan jangan pernah berhenti hingga Anda tiba di anak tangga teratas!

Dengan 7 langkah sederhana ini, semoga kita bisa sama- sama melewati tahap transisi dari profesi lama yang ‘nggak gue banget’ ke profesi impian Anda yang ‘gue banget’!

Mimpi itu harus besar, tapi aksi menuju mimpi bisa dirampingkan agar bisa dimulai saat ini juga.
Memandanglah tinggi ke bintang, tapi dengan kaki menjejak bumi.

Nov 29, 2014

6 Perilaku Orang Tua yang Menjauhkan Anak dari Sikap Pemimpin

Liputan6.com - Sebagai orang tua, belajar untuk menjadi bijak dan menyayangi tidak selalu menjadi cara yang baik untuk melindungi buat hati. Justru, hal ini bisa menahan anak-anak untuk berkembang, mendapatkan kebebasan, dan segala potensi kepemimpinan yang dimilikinya. Dari pakar kepemimpinan, Dr. Tim Elmore, ia mengatakan bahwa saat ini banyak orang tua yang gagal menjadikan anaknya sebagai seorang memimpin.

Dr. Tim Elmore pun memberitahukan hal-hal apa yang bisa menjauhkan anak dari sifat dan sikap pemimpin di perusahaan bahkan di hidup mereka sendiri seperti yang dilansir dari Forbes.com, Kamis (20/11/2014):

1. Tidak membiarkan anak-anak mengalami resiko pengalaman orang tua

Memberikan peringatan bagi anak-anak agar tidak mengalami kesalahan yang sama seperti orang tuanya memang hal yang baik. Namun, jika terlalu sering anak-anak justru akan memberikan efek buru. Anak-anak merasa terisolasi dalam berperilaku, bahkan bisa saja menimbulkan sebuah fobia. Mereka gagal itu wajar seperti mereka memiliki pacar dan kemudian putus. Hal ini akan menimbulkan kematangan emosi di diri mereka.

2. Terlalu menyelamatkan anak-anak

Jika kita terlalu cepat menyelamatkan memanjakan anak-anak di tiap mereka mengalami sebuah masalah, kita justru menghapus kebutuhan mereka untuk memetakan dan memecahkan masalah. Cepat atau lambat, anak-anak akan terbiasa dengan orang yang menyelamatkan mereka. Jika mereka gagal, mereka akan cenderung tenang karena ada orang tua yang akan membantu. Namun, Anda tidak akan menemani mereka seumur hidup bukan?

3. Terlalu mudah mengapresiasi

Ketika orang tua terlalu mudah membanggakan sang anak, justru anak-anak akan berpikir bahwa hanya orang tua mereka sajalah mengakui kehebatan mereka. Akhirnya, anak-anak akan belajar untuk menipu, membesar-besarkan cerita dan berbohong, serta menghindari kenyataan yang sulit. Anak-anak menjadi tidak siap untuk menghadapi segala kondisi.

4. Tidak berbagi cerita mengenai kesalahan masa lalu kita

Anak-anak senang untuk mencoba hal-hal baru. Kita harus membiarkan, tetapi juga tetap mengontrol mereka. Berbagi pengalaman buruk yang pernah dialami dan bagaimana cara mengatasinya merupakan pilihan yang baik. Anak-anak akan mempersiapkan diri apabila menghadapi masalah yang sama.

5. Salah menilai kecerdasan dan bakat

Kerap kali, kecerdasan dinilai bisa menjadi tolak ukur kedewasaan anak. Hasilnya, orang tua menganggap anak cerdas adalah telah siap untuk memasuk `dunia`. Bintang Hollywood muda yang memiliki bakat luar biasa akhirnya terjebak dalam sebuah skandal publik. Anak memang harus diberikan kebebasan, tetapi mengamati dan mengontrol anak-anak tetap harus dilakukan.

6. Tidak memberikan contoh

Orang tua memiliki tanggung jawab sebagai orang yang perilaku, gaya, dan sikapnya akan dicontoh oleh anak-anak. Mereka bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakan mereka. Tampilan diri Anda apa adanya, jangan memberikan kepalsuan ketika bersama anak. Kebohongan hanya diperlukan apabila tindakan tersebut tidak baik untuk diikuti anak-anak.

Jun 28, 2014

Jangan Ragu Pindah Kerja kalau Tak Dianggap, apalagi "Dikebiri"

Kompas.com - Berpindah pekerjaaan itu biasa, tetapi alasannya harus tepat. Berikut ini delapan alasan Anda harus segera pindah dari pekerjaan yang digeluti saat ini. Apakah ada di antara alasan berikut yang tengah Anda rasakan?

* Passion hilang
Saat Anda tak lagi memiliki semangat pada pekerjaan, ini berarti Anda telah kehilangan passion. Padahal, passion sangat berpengaruh terhadap karier. Sama halnya dengan bentuk hubungan lain, saat tujuan bekerja lenyap, karier pun tak lagi berarti dalam hidup Anda.

Tanpa passion, bangun pukul 05.00 pagi dan berangkat ke kantor pukul 06.00 pagi, lalu berjibaku dengan kemacetan akan terasa sangat menyiksa. Padahal, kebahagiaan merupakan kunci supaya Anda mampu bekerja maksimal. Jika passion tak muncul lagi, barangkali inilah saatnya Anda memilih pindah kerja.

* Beda tujuan
Banyak karyawan yang mengaku betah dan bahagia bekerja, kini malah merasakan yang sebaliknya. Alasannya, selain penghasilan atau gaji, yang dirasa kurang adalah kebijakan manajemen yang tak sesuai. Akibatnya, beberapa di antara mereka ada yang tetap bertahan sambil mencoba mencari penghasilan tambahan. Tak sedikit pula karyawan yang mencari aktivitas atau pekerjaan lain yang mampu mengakomodasi tujuan mereka.

* Tak dianggap
Bagaimana Anda bisa tetap termotivasi jika kemampuan tak lagi dihargai? Saat atasan tak lagi memercayai potensi Anda dan tidak memberi kesempatan peningkatan karier, rasanya tak ada satu pun karyawan yang bakal loyal pada pekerjaannya.

Andaikan Anda tak punya pilihan lain selain bertahan, berikan penghargaan kepada diri sendiri dengan mengukur potensi dan kemampuan Anda. Ingat, sesulit apa pun kondisinya, Anda harus lebih menghargai diri sendiri!

* Tidak berkembang
Jika Anda merasa bosan, tidak puas, dan merasa tak bisa menyalurkan kemampuan di kantor, ada baiknya Anda menilai kembali karier Anda. Misalnya, apakah Anda berada di zona nyaman yang malah menghalangi Anda berkembang? Apakah Anda membutuhkan tantangan yang lebih sulit? Jika ya, sudah saatnya Anda menyebarkan kembali curriculum vitae.

* Buntu solusi
Jika Anda merasa tak mampu menghadapi tantangan kerja, apakah atasan serta manajemen menawarkan beragam solusi untuk mendongkrak kinerja Anda? Bila mereka malah lebih berkutat pada kinerja Anda yang turun, tanpa melihat alasan yang mendasarinya, sebaiknya segera berkemas dan pindah kantor saja. Jika tidak, jangan berharap karier bakal berkembang.

* Tak profesional
Para atasan atau manajer yang tidak transparan dan menjalankan bisnis dengan tidak profesional akan sulit dipercaya bawahannya. Misalnya, dalam hal promosi dan penempatan orang.

Budaya perusahaan semacam ini lama-kelamaan akan memengaruhi performa dan kemampuan karyawan. Pasalnya, para pekerja menjadi resah dan bertanya-tanya tentang masa depan karier mereka di perusahaan tersebut. Jadi, jika Anda menjadi bagian dari sebuah organisasi yang penuh dengan permasalahan seperti di atas, rasanya tak salah untuk berpikir ulang tentang masa depan di perusahaan tersebut.

* Tak obyektif
Penghargaan atau reward semestinya bersifat kualitatif dan kuantitatif. Artinya, terukur sesuai standar, bukan semata emosional atau berdasarkan, “Kamu kayaknya enggak oke semester ini.” Jika Anda mengalami hal ini berulang kali, saatnya Anda angkat kaki dan pindah ke perusahaan atau bidang kerja yang lain.

* Tidak sesuai panggilan
Tak sedikit perusahaan, dalam hal ini manajemen perusahaan, yang tidak membiarkan karyawannya bekerja sesuai kemampuan. Padahal, bekerja sesuai panggilan jiwa ini menyumbang penuh kinerja maksimal karyawan. “Pengebirian” semacam ini akhirnya akan membuat karyawan tak lagi berpikir, bertindak, dan berinovasi sesuai kemampuan dan panggilan jiwa mereka.

Akibatnya, perusahaan terancam kehilangan para karyawan berbakat yang bekerja penuh passion dan semangat. Bagaimana tidak kabur jika seorang karyawan marketing yang sangat kreatif dan menikmati pekerjaannya mendadak dipindahkan ke bagian administrasi yang kaku? Nah, bila Anda merasa tugas tidak sesuai “panggilan jiwa” dan tak ada solusi dari manajemen, saatnya bepikir untuk pindah pekerjaan.

Jun 19, 2013

Jangan Beri Toleransi pada 10 Hal Ini!

Kompas.com - Untuk mencapai kebahagiaan, hidup lebih produktif dan lebih sehat, ada beberapa perubahan yang perlu Anda lakukan. Paula Davis-Laack, JD, MAPP, terapis stres menyarankan untuk berhenti memberikan toleransi pada 10 hal berikut ini.

1. Hidup tak sehat.
Tak ada lagi kata toleransi untuk gaya hidup tak sehat. Dengan semakin banyaknya kasus kelebihan berat badan bahkan obesitas, sudah waktunya Anda hidup lebih sehat. Mulailah dengan membuat perubahan kecil dalam keseharian. Lalu berusahalah konsisten. Dari hal kecil Anda bisa mencapai hasil besar ke depannya.

2. Tak ada aksi.
Kebanyakan orang merasa mandek dengan berbagai hal dalam hidupnya lantaran tak bisa mengatasi rasa takut, rasa bersalah, juga tidak tahu cara mencapai tujuannya. Untuk mencapai tujuan besar, mulailah dengan langkah kecil. Meski tujuan yang Anda ingin capai terasa begitu besar dan seakan sulit dicapai, tetaplah berusaha mencapainya perlahan tapi pasti dengan langkah nyata. Sampai akhirnya Anda bisa mengatakan dengan percaya diri, "Saya berhasil menyelesaikannya, mudah ternyata."

3. Pesimistis dan negatif.
Dalam dunia kerja, begitu banyak informasi negatif yang Anda dengar bahkan dapatkan setiap harinya. Kondisi ini sangat mudah mematahkan semangat, membuat Anda pesimistis dan ikut-ikutan menjadi negatif.

Lawan segala hal yang negatif dengan humor. Studi menunjukkan humor bisa memperkuat sistem imun dalam tubuh, mengurangi rasa sakit, dan mengurangi level stres. Karena humor bisa membangun emosi positif, humor juga bisa mengurangi rasa marah, depresi, dan kecemasan. Emosi positif dapat meningkatkan kegembiraan dan kepuasan hidup.

4. Disorganisasi.
Disorganisasi menjadi penghambat produktivitas. Anda bisa lebih terorganisasi dengan membuat jadwal dan sistem yang kemudian menjadi kebiasaan. Sehingga tak ada lagi alasan menunda pekerjaan, juga tak ada lagi kebiasaan mengatakan "Saya tidak punya waktu melakukan hal X".

5. Stres kronik.
Menurut laporan kerja Catalyst, 75-90 persen pemeriksaan di dokter terkait dengan stres. Laporan ini juga menunjukkan 68 persen karyawan stres karena merasa kelelahan dan terlalu sibuk. Sekitar 44 persen karyawan kehilangan produktivitas satu jam atau lebih dalam sehari karena stres. Terkait hal ini, 22 persen karyawan tak masuk kerja lebih dari enam hari dalam setahun karena stres. Laporan ini menunjukkan kebanyakan karyawan stres karena beban kerja, masalah interpersonal, status pekerjaan, kesibukan kerja dan kehidupan personal. Akibat dari karyawan yang stres ini berdampak pada keluarga, yakni orangtua yang cepat tua atau anak menderita penyakit kritis.

6. Materialistis.
Kebanyakan orang selalu saja mau tahu apa yang dimiliki orang lain, sebagai perbandingan. Termasuk dalam hal materi. Kemudian banyak orang berpikir dengan memiliki materi berlimpah ia akan lebih bahagia. Padahal, studi perilaku terhadap 12.000 remaja tentang kepuasan hidup di usia 37 menunjukkan, mereka yang mengekspresikan kepentingan materi tidak merasa bahagia dalam hidupnya dua dekade kemudian.

7. Sempurna.
Menuntut diri sempurna. Kalau ingin bahagia, jangan lagi mentoleransi nilai ini dalam hidup Anda. Jangan menilai diri juga orang lain dengan standar mutlak. Dengarkan apa kata orang lain. Alih-alih menuntut sempurna, lakukan saja yang terbaik setiap harinya. Fokus pada pencapaian bukan kesempurnaan.

8. Pendapat orang tentang Anda.
Berapa banyak energi yang Anda habiskan untuk memedulikan pendapat orang lain tentang Anda? Merasa khawatir tidak melakukan sesuatu dengan baik dan membuat orang lain berkomentar, hanya akan membuat Anda semakin jauh dari rasa bahagia. Berhenti memikirkan apa kata orang lain dari setiap tindakan yang Anda lakukan. Jangan sampai orang lain mengontrol diri Anda.

9. Membenci pekerjaan.
Anda tak menyukai pekerjaan saat ini? Tenang saja, Anda tak sendirian. Banyak orang mengalaminya. Data di Amerika menunjukkan hanya 44 persen orang yang menyukai pekerjaannya. Kalau Anda tak suka pekerjaan namun tak memungkinkan pindah kerja untuk saat ini, mulai melakukan transisi dengan tetap menjalankan pekerjaan namun juga bersiap untuk pindah kerja saat waktunya tepat.

10. Literasi finansial rendah.
Banyak orang memahami pentingnya merencanakan keuangan, namun hanya sedikit dari mereka yang benar-benar mulai menjalankan rencana keuangan. Mulai sekarang, lakukan aksi nyata untuk merencanakan keuangan, menabung atau investasi. Kenali berbagai macam produk keuangan, seperti reksa dana atau lainnya. Cari informasi, jika perlu cari bantuan tenaga profesional.

May 28, 2013

5 Tanda Anda Harus Segera "Resign"

Kompas.com - Rasa lelah akibat beban kerja wajar saja. Toh, semua pekerjaan memiliki hambatannya sendiri. Namun, mungkin, beberapa kali ide untuk mencoba peruntungan di tempat lain melintas di kepala Anda ketika beban pekerjaan sedang banyak-banyaknya.

Terlebih lagi, rumput tetangga, kan, selalu lebih hijau, bukan? Mendengar pekerjaan teman yang bebannya tak sebesar yang dimiliki Anda, tetapi memiliki gaji lebih besar atau fasilitas lebih menggiurkan, mungkin membuat Anda ingin segera melayangkan surat lamaran ke perusahaan tersebut.

Lantas, kebimbangan pun terjadi. Apakah pekerjaan yang sekarang benar-benar pantas untuk dipertahankan atau justru Anda telah memberikan terlalu banyak pengorbanan tanpa hasil setimpal? Nah, sedang mengalami kebimbangan tersebut? Baca tuntas hal-hal yang mengindikasikan Anda lebih baik mencari pekerjaan lain, berikut ini!

1. Dominasi setiap hari
Bekerja dari Senin hingga Jumat selama sembilan jam, belum lagi jika di antara hari tersebut Anda harus lembur, memang sudah cukup menguras tenaga, ya? Ditambah, Anda pun harus siaga di akhir pekan untuk urusan kerja. Beruntung apabila Anda menikmatinya dan memiliki manajemen waktu yang baik.

Namun, bila yang terjadi Anda malah kehilangan nafsu bekerja? Misalnya, di satu pagi, Anda tiba-tiba mengharapkan terkena flu demi tak masuk kantor, terus membuka jadwal cek dokter yang memungkinkan Anda cuti, atau setiap hari Anda hanya menghitung hari hingga libur datang, tandanya mungkin tempat kerja yang sekarang tidak memberikan semua yang Anda harapkan di tempat kerja.

Akan tetapi, hal ini tentu tak dapat dijadikan pembenaran. Tempat kerja memang tak selalu bisa memberikan semua yang Anda inginkan, bukan? Pastikan memang tempat kerjanya yang kurang tepat, bukan semata Anda yang malas dan tak termotivasi.

2. Anda tak menguasainya
Alasan seseorang dapat mencintai atau nyaman di tempatnya bekerja adalah ketika ia memiliki kemampuan dalam bidang yang ia kerjakan. Dalam artian, sejak awal, ia telah mengetahui potensi dan memilih bidang tersebut untuk digeluti. Apabila Anda merasa payah dan tak bisa mengerjakan pekerjaan Anda belakangan ini, ditambah tak ada keinginan untuk mengembangkan diri, lebih baik Anda pindah. Toh, jika memaksakan tetap di sana pun Anda tak akan bisa menjadi siapa-siapa dan tak akan berkembang.

3. Tak ada kebanggaan
Ketika tiba saatnya kumpul keluarga, pertanyaan mengenai pekerjaan adalah hal paling terakhir yang Anda harapkan. Bagaimanapun, seseorang membutuhkan kebanggaan terhadap pekerjaan yang bisa membuatnya semangat dan bahagia atas pekerjaannya. Jadi, apabila Anda tak memiliki itu, mungkin bidang kali ini tak sesuai dengan Anda.

4. Terus mengeluh
Apabila pada dasarnya Anda tak mudah mengeluh dan tiba-tiba saja beberapa bulan ke belakang Anda selalu menemukan keluhan di kantor, mungkin pertanda ada sesuatu yang tak beres. Akan tetapi, cari tahu dulu, apakah keluhan Anda seputar rekan kerja, bos, atau tentang pekerjaan dan perusahaannya? Apabila alasannya adalah pekerjaan dan perusahaan, tak apa bila cari tempat kerja baru.

5. Tak ada tantangan
Bagi beberapa orang, tak ada tantangan berarti tak ada motivasi. Misalnya saja, jika Anda berhasil melewati target dan tak tahu apa lagi yang harus dikejar. Apabila Anda termasuk yang demikian, tak heran apabila performa karier Anda terasa stagnan. Siapa tahu di tempat baru Anda bisa lebih berkembang?

Oct 10, 2012

Trik Wawancara Saat Pindah Kerja

Kompas.com - Mengapa pindah kerja? Pertanyaan ini sering muncul saat wawancara kerja, terutama ketika Anda baru saja meninggalkan kantor lama. Banyak yang terganjal di wawancara kerja karena salah memberikan jawaban. Erina Collins, agen rekruitmen di Los Angeles, memberikan tip agar Anda tidak terpeleset lidah saat menjawab pertanyaan saat wawancara kerja.

1. Jangan curhat tentang atasan.
Menjawab bahwa Anda tidak suka dengan atasan. Apalagi curhat tentang sikap atasan yang Anda anggap tidak menyenangkan pada pewawancara.

Misal: "Atasan suka membuat saya jengkel karena gemar memberikan pekerjaan tambahan, sudah gitu gaju saya enggak naik-naik pula."

Kalau Anda menyatakan hal ini saat wawancara kerja, pewawancara akan berpikir bahwa Anda akan melakukan hal yang sama ketika pindah kerja dari perusahaan tersebut.

2. Bicara taktis dan diplomatis.
Jangan pernah memberikan jawaban yang menjelekkan tempat kerja lama Anda atau apa pun yang konotasinya negatif. Keburukan yang lama, cukup Anda curhatkan pada sahabat saja.

Sebaiknya katakan: "Saya menginginkan suasana kerja yang teratur dan terjadwal." Atau katakan, "Gaji saya sebenarnya baik-baik saja, tapi saya tentu akan senang kalau ada peluang peningkatan gaji di tempat lain."

Bisa juga dengan menjawab, "Suasana kantornya menyenangkan, saya belajar banyak di tempat lama, tapi saya merasa inilah saatnya saya mengembangkan sayap lebih lebar lagi di tempat baru."

Sep 6, 2012

15 Cara Berpikir Orang Kaya

Kompas.com- Di Australia, salah seorang wanita terkaya di dunia, Gina Rinehart menciptakan kontroversi dengan tulisannya yang mengecam warga Australia lainnya yang dianggapnya kurang bekerja keras. "Tidak ada monopoli untuk menjadi miliuner." tulis Rinehart dalam salah satu majalah Investasi di Australia sebagaimana dilaporkan Koresponden Kompas di Australia, L  Sastra Wijaya, Selasa (4/9/2012). "Bila Anda iri dengan orang-orang yang memiliki banyak uang, jangan duduk dan mengeluh saja. Lakukan sesuatu untuk mendapatkan uang -  habiskan waktu lebih sedikit untuk minum-minum di pub, merokok dan ataupun ngobrol. Kerja lebih banyak."

Orang kaya lainnya di Australia Clive Palmer baru-baru ini membeberkan rencana untuk membangun kapal pesiar Titanic 2, yang akan dilengkapi dengan kasino dimana hanya penumpang di kelas satu saja yang boleh bermain di kasino tersebut. Kontroversi orang-orang kaya ini membuat  situs news.com.au mempertanyakan apakah memang cara berpikir orang kaya berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Apakah mereka pekerja keras, dan sifat apakah yang membuat mereka menjadi kaya.

Inilah yang kemudian disarikan dari pengarang buku How Rich People Think (Bagaimana Pola Pikir Orang Kaya), Steve Siebold, yang mengatakan bahwa orang kaya dan orang kebanyakan memiliki cara pandang yang sangat berbeda.

1. Orang kaya menganggap egois adalah hal positif. Orang kebanyakan beranggapan membantu orang lain adalah hal yang mulia, dan itulah yang membuat mereka miskin. Orang kaya berperilaku bahwa kalau mereka tidak bisa membuat diri mereka kaya dulu, maka mereka tidak akan bisa nantinya membantu orang lain.

2.Orang kaya memiliki perilaku aksi. Anda tidak akan melihat orang kaya antre membeli lotere (bahkan sebelum mereka kaya). Orang kebanyakan selalu menunggu adanya orang lain yang akan membantu mereka menjadi kaya - Lotere, pemerintah, teman atau pasangan hidup - namun itulah yang membuat mereka tetap miskin. Orang kaya melakukan tindakan, dan menghabiskan waktu mereka menyelesaikan masalah yang ada.

3. Orang kaya mementingkan pengetahuan khusus, bukan sepotong ijazah. Orang kebanyakan mempercayai bahwa jalan menuju kaya adalah lewat pendidikan. Orang kaya pada umumnya berhasil karena mereka menjual pengetahuan khusus dan unik yang mereka sudah kuasai.

4. Orang kaya mimpi akan masa depan.  Orang kaya banyak menghabiskan waktu melihat ke depan, menentukan target yang ingin dicapai, dan semangat dengan tantangan yang ada. Orang kebanyakan lebih sering berpikir mengenai masa lalu, sehingga kemudian membuat mereka merasa tidak bahagia dan stres.

5. Orang kaya berpikir secara logis soal uang. Orang kebanyakan dan orang yang berpendidikan bisa masuk perangkap dengan berpikir mengenai uang secara emosional, dan ingin pensiun secukupnya. Orang kaya berpikir secara logis mengenai uang yang dianggap sebagai alat untuk mencetak lebih banyak kekayaan lagi.

6. Orang kaya mengikuti minat mereka. Ini pernyataan dari Oprah Winfrey -  ikuti minatmu dan lakukan apa yang senang kamu lakukan. Orang kaya menemukan cara mendapatkan pemasukan melakukan sesuatu yang mereka sukai, sementara orang kebanyakan mendapatkan uang melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai.

7. Orang kaya memiliki tujuan tinggi. Orang kebanyakan memasang target rendah karena takut kecewa, sementara orang kaya mengejar target tinggi, dan kemudian berusaha keras mewujudkan mimpi tersebut.

8. Orang kaya percaya kita harus menjadi "seseorang". Sementara orang kebanyakan percaya kita harus melakukan "sesuatu" untuk bisa kaya. Orang kaya terus menerus berusaha memperbaiki diri dan belajar dari sukses dan kegagalan.

9. Orang kaya menggunakan uang orang lain.  Orang kebanyakan percaya bahwa mereka harus menggunakan uang sendiri untuk menghasilkan, sementara orang kaya tidak memiliki masalah menggunakan uang orang lain.

10. Orang kaya hidup di bawah batas ambang. Ini terlihat bertentangan namun orang kaya berusaha terus kaya sehingga  mereka bisa hidup di bawah batas ambang mereka, sementara orang kebanyakan hidup di atas ambang kekayaan mereka.

11.Orang kaya mengajari anak mereka bagaimana menjadi kaya. Orang kebanyakan mengajar anak mereka bagaimana bertahan hidup, namun orang kaya mengajar anak mereka dari sejak dini mengenai orang kaya dan miskin.

12. Orang kaya tidak membiarkan uang membuat mereka jadi stress. Orang kebanyakan stress karena uang. Orang kaya merasa tenang dengan kekayaan mereka dan tahu bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah dengan uang yang mereka miliki - dengan itu mereka bisa mencetak lebih banyak uang lagi. Orang kebanyakan melihat uang sebagai perjuangan melawan setan dan keburukan.

13.Orang kaya terus belajar, dan tidak sekedar mencari hiburan. Orang kebanyakan malah kebalikannya. Mereka membaca buku, tabloid atau menonton televisi, dan bukannya belajar lebih serius meskipun sudah selesai sekolah.

14. Orang kaya bergaul dengan orang yang berpikiran seperti mereka.  Orang kebanyakan melihat orang kaya sebagai snob, dan cenderung berperilaku negatif terhadap mereka. Orang kaya cenderung menghindari orang-orang yang berpikiran negatif.

15. Orang kaya mengfokuskan diri pada pendapatan.  Orang kebanyakan memfokuskan diri pada menabung dan kehilangan kesempatan besar karena takut mengambil risiko. Orang kaya terus menerus memfokuskan diri pada tujuan besar, dan bagaimana meraih pendapatan besar.

Jul 6, 2012

Hindari 5 Jawaban Ini Saat Wawancara Kerja

Kompas.com - Menjawab pertanyaan wawancara kerja juga butuh strategi demi memberikan kesan positif dan memberikan nilai tambah bagi si calon karyawan.
Menurut Anthony Balderrama dalam jurnalnya yang berjudul How to Answer "Tell Me a Little About Yourself", ada lima jawaban wawancara kerja yang sebaiknya Anda hindari. Jadi, kalau jawaban ini muncul di kepala Anda, pikir ulang kembali sebelum mengatakannya.

1. "Saya pernah bekerja di perusahaan A dan tidak suka pada bos dan pekerjaan di sana." 
Tiap profesi tentu punya tantangan sendiri, entah rekan kerja yang menyebalkan, bos galak, atau pembagian kerja yang tak sesuai harapan. Boleh saja kesal tapi bukan berarti Anda boleh mengutarakannya kepada semua orang, apalagi di depan pewawancara. Misalnya, Anda benci pada bos lama karena gemar marah-marah dan sering memberi pekerjaan tambahan, padahal, siapa tahu, sosok yang sedang mewawancarai Anda merasa tersinggung karena ia juga seperti itu.

2. "Saya merasa cocok dengan pekerjaan ini dan akan melakukan apa pun untuk bisa bekerja di perusahaan Anda secepatnya."
Menunjukkan ketertarikan memang perlu, namun bila sudah pada tahap Anda meminta dan terkesan sangat butuh pekerjaan, ini bisa menurunkan nilai jual kita. Sebaiknya ikuti proses rekrutmen yang telah ditetapkan perusahaan dan cukup katakan, "Saya tertarik dengan pekerjaan ini karena..."

3. "Saya itu pekerja keras, cinta tantangan, tak takut target..." 
Jangan juga mengumbar skill yang sebenarnya tidak memiliki referensi dan membuat kita terkesan mengumbar janji. Misalnya dengan menganggap diri pekerja keras, bisa dipercaya, bertanggung jawab, kredibel, dan lainnya. Cukup ungkapkan pengalaman kerja atau modal pendidikan yang telah Anda miliki.

4. "Saya tertarik pada ajaran agama A dan partai politik B" 
Hindari bersikap SARA, sebab perusahaan akan menganggap Anda tak mampu menghargai perbedaan dan berpotensi membuat masalah dengan rekan kerja.

5. "Keluarga saya.." atau "Saat saya kecil..." 
Sebaiknya hindari untuk menceritakan hal pribadi, baik soal keluarga atau pacar kecuali mereka bertanya. Ini hanya akan membuat kita terkesan tidak profesional karena tidak bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan.

Apr 14, 2009

Pertanyaan yang Kerap Diajukan Saat Wawancara

Sering merasa bingung bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara kerja? Pelajari dulu perkiraan pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan si pewawancara di bawah ini.

1. Apa kekurangan Anda?

Sebelum bertemu pewawancara, pikirkan baik-baik jawaban dari pertanyaan ini. Ini pertanyaan yang cukup menjebak. Karena ini dilihat apakah Anda mengenal baik diri Anda sendiri, dan apakah akan ada usaha untuk memperbaiki diri. Disarankan untuk Anda mencari tahu sisi positif dari apa yang akan Anda katakan. Misalnya, “Saya sangat memperhatikan detail dan di beberapa industri, terlalu mendetail bisa membutuhkan waktu lama sehingga kurang diperlukan. Namun di posisi akunting yang saya lamar ini, saya rasa saya bisa bekerja dengan baik dan nyaman.”

2. Mengapa Anda berhenti dari pekerjaan sebelumnya?

Sebisa mungkin Anda tidak mengucapkan hal-hal negatif tentang tempat bekerja sebelumnya. Usahakan untuk bersikap netral dan menjawab secukupnya. Misalnya, “Tempat bekerja saya sebelumnya bukan tempat yang tepat untuk kepribadian saya yang senang berkreasi bebas. Namun dari sana saya mempelajari bahwa dalam sebuah organisasi memiliki sebuah tipe karakteristik tertentu seperti layaknya manusia. Sekarang saya mengetahui bahwa saya akan bekerja lebih baik di tempat yang memerlukan pemikir-pemikir independen dan memiliki metode bekerja yang berbeda dari tempat saya sebelum ini.”

3. Mengapa Anda ingin bekerja di sini?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan kemauan untuk meneliti dan mencari tahu tentang tempat yang dituju. Cari tahu sedikit tentang latar belakang perusahaan tersebut. Misal, “Saya ingin menjadi bagian dari perusahaan global yang dalam satu tahun saja bisa menginvestasikan 1,4 triliun rupiah hanya untuk riset dan pengembangan proses industri yang ramah lingkungan.”

4. Ceritakan tentang diri Anda.

Inilah kesempatan Anda untuk unjuk gigi, tapi bukan untuk menceritakan sejarah hidup Anda. Mulai dengan karakter Anda, penghargaan-penghargaan yang pernah Anda terima, pendidikan, atau pekerjaan yang relevan dengan posisi yang dituju. Jangan terlalu banyak mendalam ke informasi personal kecuali informasi tersebut berhubungan dengan pekerjaan yang dilamar. Misalnya, “Saya tipe yang senang berkreativitas. Saya sudah menjadi sales manager selama 5 tahun dan menggunakan kreativitas saya untuk menciptakan insentif-insentif unik untuk membuat para sales di bawah saya termotivasi. Karena ide-ide tersebut, tim sales saya mendapatkan banyak penghargaan dari perusahaan.”

5. Ceritakan tentang bos terburuk yang pernah Anda temui.

Meski ini terlihat sebagai "sarana" baik untuk bercurhat tentang si mantan bos yang menyebalkan itu, namun Anda harus menahan godaan itu. Alih-alih cobalah bersikap bijaksana, misalnya, “Meski tak ada mantan atasan saya yang menyebalkan, namun ada yang mengajarkan saya lebih banyak tentang bermacam hal ketimbang yang lainnya.”

6. Apa gol yang ingin Anda tuju?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang baik untuk dijawab sesuai dengan pernyataan tentang tujuan hidup yang tertulis di surat lamaran Anda. Usahakan mendetail, namun tidak berlebihan. Misalnya, “Saya ingin bekerja sebagai teknik sipil di sebuah perusahaan yang berkonsentrasi pada pengembangan ritel. Secara ideal, saya ingin bekerja di perusahaan yang baru berkembang, seperti tempat ini, agar saya bisa bisa mempelajari segala hal yang bisa saya pelajari sedini mungkin mengenai banyak hal di perusahaan yang sedang berkembang.” Namun ada pula tempat-tempat tertentu yang mengharapkan jawaban jujur dari calon pekerjanya, misalnya dengan mengatakan bahwa Anda mencari penghasilan yang lebih baik. Sebaiknya perhatikan pula karakter si pewawancara.

Feb 12, 2009

Usir Kebiasaan Sering Telat


1. Cari keuntungannya

Langkah pertama untuk membuat kita lebih tepat waktu adalah menyiapkan "hadiah" yang akan diberikan untuk diri sendiri. Tak ada salahnya berpikir sedikit egois; kira-kira apa timbal balik yang akan saya dapatkan kalau saya on time, dan apa dampaknya kalau saya terlambat datang ke sebuah acara.

Dengan kata lain, cari tahu apa untung-ruginya untuk Anda. Hindari kata-kata yang bersifat umum seperti reputasi di kantor. Buatlah lebih spesifik lagi. Misalnya, kalau saya terlambat datang maka gaji akan dipotong. Atau, kalau saya datang lebih awal, pekerjaan lebih cepat selesai dan bisa pulang lebih cepat.

2. Ubah pola pikir

Orang-orang yang sering telat biasanya melakukan hal ini: memajukan jam 10 menit lebih awal agar punya waktu untuk bersiap dan berangkat lebih awal. Kenyataannya, karena hanya penunjuk waktunya saja yang berubah, pola pikirnya tidak. Akibatnya, kita tetap saja bersikap santai karena tahu masih ada waktu beberapa menit lagi.

Bila ingin berhasil mengubah kebiasaan, ubah juga pola pikir Anda. Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa ngaret adalah kebiasaan buruk dan merugikan orang lain. Bila Anda ada janji pertemuan jam 10, tanamkan dalam pikiran bahwa waktu pertemuan adalah jam 9.30.

3. Cari kesibukan saat menunggu

Menurut Julie Morgenstern, penulis buku Time Management from the Inside Out, ada sebagian orang yang takut dan panik bila harus menunggu. "Mereka jadi cemas karena menunggu dan tak melakukan apa-apa," katanya. Karena itulah orang-orang dalam kelompok ini lebih suka datang terlambat.

Bila Anda juga termasuk orang yang tak suka bengong di ruang tunggu, rencanakan kegiatan apa yang akan dilakukan selama menunggu. Misalnya, memeriksa berkas presentasi, cek email, dan masih banyak lagi. Intinya, ubahlah waktu tunggu Anda menjadi waktu yang berguna.

4. Hindari kesibukan sebelum berangkat

Hindari melakukan hal-hal kecil sebelum Anda berangkat ke kantor atau tempat pertemuan. Terkadang hal kecil pun bisa menyita perhatian dan waktu kita.