Kompas.com - Sosiolog Imam B Prasodjo menulis sebuah catatan menarik di akun Facebook pribadinya mengenai seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman.
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Oct 6, 2016
Oct 5, 2016
Jun 17, 2016
Mima Saina, orang Indonesia jadi pahlawan di Israel
| Mima Saina (Kiri) dan Tole Madna (Kanan) |
Merdeka.com - Mungkin tak banyak orang tahu dan sejarah Indonesia pun belum pernah mencatat. Namun bagi Israel, sekecil apapun sumbangsih bangsa lain kepada warganya menjadi sebuah penghargaan tertinggi. Di Yadvashem dua nama nama orang Indonesia tercatat sebagai pahlawan. Mereka adalah orang-orang telah mempertaruhkan nyawanya untuk warga yahudi dari kekejaman Nazi.
Jun 9, 2016
Bupati Dedi Perbolehkan Warung Buka 24 Jam, Warga: Keren
Tempo.co - Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengeluarkan kebijakan yang nyeleneh ihwal jam operasional rumah makan selama Ramadan. Sementara di daerah lain rumah-rumah makan dilarang buka pada siang hari, di Purwakarta justru dipersilakan beroperasi selama 24 jam.
Ahok Larang Sekolah Negeri Wajibkan Siswinya Pakai Jilbab
Kompas.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melarang sekolah-sekolah negeri memaksa siswinya mengenakan jilbab.
May 7, 2016
Melahirkan Dalam Mobil, Perempuan Minta Unit Baru ke Honda
Liputan6.com - Seorang ibu asal New York, Amerika Serikat (AS), meminta mobil baru pada Honda via Twitter. Ia melakukannya setelah terpaksa melahirkan di kursi belakang mobil parbikan Jepang tersebut.
Apr 26, 2016
Demi Selamatkan Nyawa Pasien, Jet F-16 AU Norwegia Antar Peralatan Medis
Kompas.com - Pesawat jet F-16 yang sudah dikenal kehandalannya di berbagai pertempuran, ternyata juga bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa manusia.
May 31, 2015
Begini Cara Google Manjakan Karyawannya
Kompas.com - Google secara konsisten dinilai sebagai tempat terbaik untuk bekerja. Beberapa alasannya adalah ketersediaan beragam fasilitas, dari yang kecil hingga besar.
Head of People Operations Google Laszlo Bock mengatakan, pada pertengahan tahun 2000-an, Google menawarkan subsidi 5.000 dollar (sekitar Rp 65 juta) kepada karyawan yang membeli mobil hibrida, sebagaimana ditelusuri CNN.
Namun dengan cepat, mobil ramah lingkungan tersebut menjadi lebih murah dan lebih umum.
Secara internal, hal ini dikenal sebagai subsidi Prius dan Google memutuskan sudah waktunya untuk menghentikan subsidi untuk merek Toyota itu.
Ketika karyawan mendengar bahwa subsidi tersebut dihilangkan pada tahun berikutnya, mereka benar-benar kecewa.
"Kami hanya melakukan ini selama tiga tahun, tetapi mereka terbiasa untuk itu. Dealer lokal memberitahu kami bahwa mereka melalui Desember yang menakjubkan tahun itu," kata Bock, yang baru saja menulis sebuah buku berjudul Work Rules!.
Jadi apa fasilitas terbaik Google? Bock mengungkapkan daftarnya.
Makanan gratis. Ini adalah salah satu fasilitas yang jelas. Google adalah salah satu perusahaan pertama yang menawarkan makanan gratis, yang sekarang menjadi hal pokok di Silicon Valley. Bock mengatakan makanan tersebut tidak hanya lezat, tetapi membantu untuk menjaga kesehatan karyawan.
Layanan antar-jemput. Fasilitas terbaik Google kedua adalah juga salah satu yang kontroversial. Bock mengatakan, angkutan gratis tersebut mengurangi volume 20.000 sampai 40.000 mobil di jalan setiap harinya. Namun beberapa warga kota di sekitar kantor pusat Google menganggap bus merupakan simbol masuknya pekerja teknologi kaya dan peningkatan sewa.
Ilmu dari pembicara beken. Google memiliki daftar pembicara tamu beken, mulai dari Stephen Colbert, Lady Gaga hingga Barack Obama. Bock mengatakan lingkungan di Google menciptakan lingkungan ide-ide segar dan dapat belajar terus-menerus.
Namun, fasilitas yang benar-benar menunjukkan kepedulian terhadap pekerja adalah memberikan karyawan fleksibilitas dan kontrol, terutama di masa-masa sulit, kata Bock.
Misalnya, lanjut Bock, jika karyawan meninggal saat bekerja di Google, keluarganya akan mendapat manfaat kematian, yakni semua saham karyawan tersebut segera dilindungi, pasangannya juga mendapatkan setengah gaji selama 10 tahun, dan anak-anak mendapatkan 1.000 dollar per bulan.
"Dalam menjalani kehidupan, ada saatnya anda berada di atas dan adakalanya jatuh hingga terhempas ke bawah. Saat itulah kami perlu berada di sana untuk anda," kata Bock.
Head of People Operations Google Laszlo Bock mengatakan, pada pertengahan tahun 2000-an, Google menawarkan subsidi 5.000 dollar (sekitar Rp 65 juta) kepada karyawan yang membeli mobil hibrida, sebagaimana ditelusuri CNN.
Namun dengan cepat, mobil ramah lingkungan tersebut menjadi lebih murah dan lebih umum.
Secara internal, hal ini dikenal sebagai subsidi Prius dan Google memutuskan sudah waktunya untuk menghentikan subsidi untuk merek Toyota itu.
Ketika karyawan mendengar bahwa subsidi tersebut dihilangkan pada tahun berikutnya, mereka benar-benar kecewa.
"Kami hanya melakukan ini selama tiga tahun, tetapi mereka terbiasa untuk itu. Dealer lokal memberitahu kami bahwa mereka melalui Desember yang menakjubkan tahun itu," kata Bock, yang baru saja menulis sebuah buku berjudul Work Rules!.
Jadi apa fasilitas terbaik Google? Bock mengungkapkan daftarnya.
Makanan gratis. Ini adalah salah satu fasilitas yang jelas. Google adalah salah satu perusahaan pertama yang menawarkan makanan gratis, yang sekarang menjadi hal pokok di Silicon Valley. Bock mengatakan makanan tersebut tidak hanya lezat, tetapi membantu untuk menjaga kesehatan karyawan.
Layanan antar-jemput. Fasilitas terbaik Google kedua adalah juga salah satu yang kontroversial. Bock mengatakan, angkutan gratis tersebut mengurangi volume 20.000 sampai 40.000 mobil di jalan setiap harinya. Namun beberapa warga kota di sekitar kantor pusat Google menganggap bus merupakan simbol masuknya pekerja teknologi kaya dan peningkatan sewa.
Ilmu dari pembicara beken. Google memiliki daftar pembicara tamu beken, mulai dari Stephen Colbert, Lady Gaga hingga Barack Obama. Bock mengatakan lingkungan di Google menciptakan lingkungan ide-ide segar dan dapat belajar terus-menerus.
Namun, fasilitas yang benar-benar menunjukkan kepedulian terhadap pekerja adalah memberikan karyawan fleksibilitas dan kontrol, terutama di masa-masa sulit, kata Bock.
Misalnya, lanjut Bock, jika karyawan meninggal saat bekerja di Google, keluarganya akan mendapat manfaat kematian, yakni semua saham karyawan tersebut segera dilindungi, pasangannya juga mendapatkan setengah gaji selama 10 tahun, dan anak-anak mendapatkan 1.000 dollar per bulan.
"Dalam menjalani kehidupan, ada saatnya anda berada di atas dan adakalanya jatuh hingga terhempas ke bawah. Saat itulah kami perlu berada di sana untuk anda," kata Bock.
Apr 17, 2015
CEO Pangkas Gaji hingga 90 Persen untuk Gandakan Gaji Karyawan
| Dan Price |
Kompas.com - Seorang direktur perusahaan teknologi di Seattle, Amerika Serikat, rela memangkas 90 persen gajinya agar bisa menaikkan gaji seluruh karyawan. Dengan demikian, gaji karyawan di perusahaannya minimal menjadi 70.000 dollar AS per tahun.
Dengan keputusan ini, gaji sejumlah karyawan Gravity Payments yang berjumlah 120 orang naik dua kali lipat.
Juru bicara perusahaan mengatakan, rata-rata gaji Gravity Payments di kisaran 48.000 dollar AS. Perusahaan yang bergerak di bidang pemrosesan pembayaran kartu kredit itu berharap seluruh karyawan sedikitnya mendapatkan gaji 70.000 dollar AS pada Desember 2017.
Dan Price, direktur perusahaan, mengatakan bahwa dirinya menyadari betul dengan kemungkinan dampak negatif dari kenaikan gaji karyawan yang sangat tajam ini. Salah satunya, karyawan akan berpikir akan sulit untuk kembali mendapatkan kenaikan gaji.
"Risiko akan selalu ada, tapi kami coba untuk mengatasinya," kata Price yang mendirikan perusahaan pada usia 19 tahun.
Kepada ABC News, Price menjelaskan angka 70.000 dollar AS didapat setelah membaca kajian yang dibuat oleh Universitas Princeton. Kajian itu menyebutkan kenaikan gaji di atas US$70.000 akan berdampak positif terhadap kebahagiaan seseorang.
Ketika ditanya tentang bagaimana ia akan menyesuaikan dengan gaji barunya, yang tentu saja akan sangat jauh berkurang, ia mengatakan, "Tentu saya harus berhemat (tapi tak mengapa karena) saya bujang. Saya juga hanya punya satu anjing."
"Saya meyakini, makin kaya seseorang, kehidupannya akan makin pelik," kata dia.
Dengan keputusan ini, gaji sejumlah karyawan Gravity Payments yang berjumlah 120 orang naik dua kali lipat.
Juru bicara perusahaan mengatakan, rata-rata gaji Gravity Payments di kisaran 48.000 dollar AS. Perusahaan yang bergerak di bidang pemrosesan pembayaran kartu kredit itu berharap seluruh karyawan sedikitnya mendapatkan gaji 70.000 dollar AS pada Desember 2017.
Dan Price, direktur perusahaan, mengatakan bahwa dirinya menyadari betul dengan kemungkinan dampak negatif dari kenaikan gaji karyawan yang sangat tajam ini. Salah satunya, karyawan akan berpikir akan sulit untuk kembali mendapatkan kenaikan gaji.
"Risiko akan selalu ada, tapi kami coba untuk mengatasinya," kata Price yang mendirikan perusahaan pada usia 19 tahun.
Kepada ABC News, Price menjelaskan angka 70.000 dollar AS didapat setelah membaca kajian yang dibuat oleh Universitas Princeton. Kajian itu menyebutkan kenaikan gaji di atas US$70.000 akan berdampak positif terhadap kebahagiaan seseorang.
Ketika ditanya tentang bagaimana ia akan menyesuaikan dengan gaji barunya, yang tentu saja akan sangat jauh berkurang, ia mengatakan, "Tentu saya harus berhemat (tapi tak mengapa karena) saya bujang. Saya juga hanya punya satu anjing."
"Saya meyakini, makin kaya seseorang, kehidupannya akan makin pelik," kata dia.
Jul 29, 2014
Muslim Palestina Salat Idul Fitri di Gereja
Tempo.co - Warga Gaza menemukan kedamaian pada akhir bulan suci Ramadan dengan melaksanakan salat di sebuah gereja umat Kristen di tengah gempuran bom dan tumpahan darah.
Mahmud Khalaf, warga Gaza, mengatakan komunitas Kristen di Gereja Saint Porphyrius mengundangnya untuk beribadah di dalam gereja. Gereja itu juga menjadi tempat pengungsian bagi Khalaf dan keluarga setelah bom Israel meledakkan wilayah tempat tinggalnya di Shaaf, Gaza. (Baca: Gencatan Senjata di Gaza Hanya Bertahan Dua Jam)
"Mereka mengundang kami untuk beribadah di dalam gereja. Saya sebelumnya tidak mengenal satu orang pun umat Kristen di sini, tapi kini kami telah menjadi saudara," kata Khalaf, sebagaimana dilansir situs Thenews.com.pk pada 26 Juli lalu.
Saat memasuki gereja, umat Nasrani akan menyambut para muslim dengan ucapan marhaban atau selamat datang. Menurut Khalaf, dia telah mengungsi selama dua pekan di gereja itu. Ritual puasa pada Ramadan pun dilakukannya di sana. (Baca: Israel Gencatan Senjata 24 Jam, Hamas Tak Sepakat)
"Umat Kristen tentunya tidak berpuasa. Namun mereka menghormati kami dengan tidak makan dan minum di depan kami. Mereka juga tidak merokok saat berada di sekitar kami yang sedang puasa," ujar Khalaf.
Awalnya, Khalaf mengaku merasa janggal karena harus salat di ruangan yang sama dengan tempat patung Yesus Kristus berada. Namun jemaat gereja itu membantu dia dan pengungsi lainnya dalam beribadah, sehingga mereka merasa nyaman. Selama Ramadan, menurut Khalaf, dia dan para pengungsi lainnya selalu melakukan saat tarawih berjemaah di dalam gereja itu. "Hal ini mengubah pandangan saya tentang umat Kristen," kata Khalaf.
Gereja Saint Porphyrius sejauh ini telah menampung 500 pengungsi Gaza yang selamat dari baku tembak antara pasukan Israel dan Hamas. Baku tembak antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung 20 hari ini menewaskan sedikitnya 1.050 warga Gaza yang sebagian besar merupakan warga sipil. Sebanyak 42 tentara dan tiga warga sipil Israel pun tewas dalam konflik ini. (Baca juga: Palestina Adukan Israel ke Mahkamah Internasional)
Mahmud Khalaf, warga Gaza, mengatakan komunitas Kristen di Gereja Saint Porphyrius mengundangnya untuk beribadah di dalam gereja. Gereja itu juga menjadi tempat pengungsian bagi Khalaf dan keluarga setelah bom Israel meledakkan wilayah tempat tinggalnya di Shaaf, Gaza. (Baca: Gencatan Senjata di Gaza Hanya Bertahan Dua Jam)
"Mereka mengundang kami untuk beribadah di dalam gereja. Saya sebelumnya tidak mengenal satu orang pun umat Kristen di sini, tapi kini kami telah menjadi saudara," kata Khalaf, sebagaimana dilansir situs Thenews.com.pk pada 26 Juli lalu.
Saat memasuki gereja, umat Nasrani akan menyambut para muslim dengan ucapan marhaban atau selamat datang. Menurut Khalaf, dia telah mengungsi selama dua pekan di gereja itu. Ritual puasa pada Ramadan pun dilakukannya di sana. (Baca: Israel Gencatan Senjata 24 Jam, Hamas Tak Sepakat)
"Umat Kristen tentunya tidak berpuasa. Namun mereka menghormati kami dengan tidak makan dan minum di depan kami. Mereka juga tidak merokok saat berada di sekitar kami yang sedang puasa," ujar Khalaf.
Awalnya, Khalaf mengaku merasa janggal karena harus salat di ruangan yang sama dengan tempat patung Yesus Kristus berada. Namun jemaat gereja itu membantu dia dan pengungsi lainnya dalam beribadah, sehingga mereka merasa nyaman. Selama Ramadan, menurut Khalaf, dia dan para pengungsi lainnya selalu melakukan saat tarawih berjemaah di dalam gereja itu. "Hal ini mengubah pandangan saya tentang umat Kristen," kata Khalaf.
Gereja Saint Porphyrius sejauh ini telah menampung 500 pengungsi Gaza yang selamat dari baku tembak antara pasukan Israel dan Hamas. Baku tembak antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung 20 hari ini menewaskan sedikitnya 1.050 warga Gaza yang sebagian besar merupakan warga sipil. Sebanyak 42 tentara dan tiga warga sipil Israel pun tewas dalam konflik ini. (Baca juga: Palestina Adukan Israel ke Mahkamah Internasional)
Apr 6, 2014
Juliana, "Pahlawan" untuk Bocah Iqbal
Kompas.com - Juliana (32) terenyuh begitu melihat bocah penuh luka di gendongan seorang pria. Hatinya tergerak membantu. Kepedulian itu akhirnya mengungkap kasus penganiayaan terhadap Iqbal Saputra.
Dalam perjalanannya dengan bus transjakarta dari Sawah Besar ke Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (13/3), Juliana mendapati ”pemandangan” tak biasa. Matanya tertuju penuh pada seorang bocah yang kejang-kejang.
”Pertama, saya lihat di halte Sawah Besar, kemudian ketemu lagi di Kota. Di Halte Kota, saya beranikan diri untuk bertanya. Sakit apa, bagaimana bisa terjadi, lalu saya bujuk agar mau dibawa ke dokter,” kata Juliana.
Laki-laki penggendong, Dadang Supriatna (29), mengaku akan membawa bocah itu, Iqbal Saputra (3,5), ke kampung halaman di Karawang, Jawa Barat. Menurut dia, luka itu bekas penganiayaan ibu tiri.
Di antara lalu lalang orang dan padatnya kendaraan di Jalan Mangga Dua Raya, Juliana membulatkan hati untuk membantu Iqbal. Dia membujuk Dadang agar turut membawanya ke dokter. Juliana memanggil dua tukang ojek untuk mengantarnya ke dokter.
Curiga
Tiba di Puskesmas Pademangan, Juliana mulai curiga. ”Dia (Dadang) sepertinya tidak suka saya bawa Iqbal ke dokter,” ujarnya.
Padahal, bocah itu penuh luka bekas sundutan rokok, gigitan, dan tusukan paku di sejumlah bagian tubuh. Iqbal juga beberapa kali kejang-kejang.
Pada saat itu, anggota patroli Polsek Pademangan, Brigadir Kepala AZD Putra, tiba di puskesmas untuk patroli rutin. Juliana pun menyampaikan kejadian yang menimpa Iqbal. ”Saya menangkap gelagat tak baik. Cerita Dadang tentang luka-luka yang dialami Iqbal tak logis.
Saya lalu meminta Iqbal dirujuk ke rumah sakit dan memeriksa Dadang lebih lanjut,” kata Putra.
Menurut Putra, Dadang keberatan saat Iqbal akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Putra lalu membujuk Dadang ke kantor polisi. Setelah beberapa jam menjalani pemeriksaan, Dadang mengakui sebagai penganiaya Iqbal.
Kepala Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Mohamad Iqbal mengatakan, penyidik berkesimpulan Dadang bersalah dan melanggar sejumlah pasal dalam Undang-undang Perlindungan Anak dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Polisi juga menemukan Iis Novianti (30), ibu Iqbal, yang hilang sejak pertengahan Februari 2014. Dia ditemukan bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Hingga Kamis (3/4) malam, Iqbal masih terbaring di ruang perawatan. Kondisinya membaik, tetapi bocah itu belum mampu menggerakkan badannya.
Komisi Kepolisian Nasional menyampaikan penghargaan kepada Polres Metro Jakarta Utara atas pengungkapan kasus itu. Mereka berterima kasih atas kepedulian Juliana. ”Semoga muncul Juliana-Juliana lain,” kata Sekretaris Kompolnas Syafriadi Cut Ali.
Menurut Syafriadi, kasus itu juga menjadi pelajaran bagi kepolisian untuk terjun ke lapangan. Mereka harus terus bergerak memantau lapangan. ”Jangan hanya memantau dari markas,” ujarnya.
Dalam perjalanannya dengan bus transjakarta dari Sawah Besar ke Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (13/3), Juliana mendapati ”pemandangan” tak biasa. Matanya tertuju penuh pada seorang bocah yang kejang-kejang.
”Pertama, saya lihat di halte Sawah Besar, kemudian ketemu lagi di Kota. Di Halte Kota, saya beranikan diri untuk bertanya. Sakit apa, bagaimana bisa terjadi, lalu saya bujuk agar mau dibawa ke dokter,” kata Juliana.
Laki-laki penggendong, Dadang Supriatna (29), mengaku akan membawa bocah itu, Iqbal Saputra (3,5), ke kampung halaman di Karawang, Jawa Barat. Menurut dia, luka itu bekas penganiayaan ibu tiri.
Di antara lalu lalang orang dan padatnya kendaraan di Jalan Mangga Dua Raya, Juliana membulatkan hati untuk membantu Iqbal. Dia membujuk Dadang agar turut membawanya ke dokter. Juliana memanggil dua tukang ojek untuk mengantarnya ke dokter.
Curiga
Tiba di Puskesmas Pademangan, Juliana mulai curiga. ”Dia (Dadang) sepertinya tidak suka saya bawa Iqbal ke dokter,” ujarnya.
Padahal, bocah itu penuh luka bekas sundutan rokok, gigitan, dan tusukan paku di sejumlah bagian tubuh. Iqbal juga beberapa kali kejang-kejang.
Pada saat itu, anggota patroli Polsek Pademangan, Brigadir Kepala AZD Putra, tiba di puskesmas untuk patroli rutin. Juliana pun menyampaikan kejadian yang menimpa Iqbal. ”Saya menangkap gelagat tak baik. Cerita Dadang tentang luka-luka yang dialami Iqbal tak logis.
Saya lalu meminta Iqbal dirujuk ke rumah sakit dan memeriksa Dadang lebih lanjut,” kata Putra.
Menurut Putra, Dadang keberatan saat Iqbal akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Putra lalu membujuk Dadang ke kantor polisi. Setelah beberapa jam menjalani pemeriksaan, Dadang mengakui sebagai penganiaya Iqbal.
Kepala Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Mohamad Iqbal mengatakan, penyidik berkesimpulan Dadang bersalah dan melanggar sejumlah pasal dalam Undang-undang Perlindungan Anak dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Polisi juga menemukan Iis Novianti (30), ibu Iqbal, yang hilang sejak pertengahan Februari 2014. Dia ditemukan bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Hingga Kamis (3/4) malam, Iqbal masih terbaring di ruang perawatan. Kondisinya membaik, tetapi bocah itu belum mampu menggerakkan badannya.
Komisi Kepolisian Nasional menyampaikan penghargaan kepada Polres Metro Jakarta Utara atas pengungkapan kasus itu. Mereka berterima kasih atas kepedulian Juliana. ”Semoga muncul Juliana-Juliana lain,” kata Sekretaris Kompolnas Syafriadi Cut Ali.
Menurut Syafriadi, kasus itu juga menjadi pelajaran bagi kepolisian untuk terjun ke lapangan. Mereka harus terus bergerak memantau lapangan. ”Jangan hanya memantau dari markas,” ujarnya.
Mar 21, 2014
Bocah Siti Aisyah, Setahun Lebih Tidur di Becak Bersama Ayahnya yang Sakit
Detik.com - Siti Aisyah Pulungan (8) sudah lebih dari satu tahun tidur di becak bersama ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (56) yang sakit parah. Jika malam tiba, keduanya meringkuk di atas becak yang diparkir di teras rumah warga. Saat hujan, suasana menjadi semakin sulit.
Aisyah kini tidak sekolah lagi. Dulu dia sempat duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD), namun seiring dengan kondisi ayahnya yang sulit, kesehariannya kini hanya menjaga ayahnya.
"Mulai dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, hanya menjaga ayah,” kata Aisyah di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (19/3/2014) sore.
Becak barang itu menjadi rumah bagi Aisyah dan ayahnya. Ada bantal, ember, selimut, pakaian dan kebutuhan harian lainnya. Mereka tinggal dan beraktivitas di atas becak itu. Malam hari mereka memarkirkan becaknya di depan teras rumah warga di seputar Jalan Sisingamangaraja. Jika pagi tiba, mereka pindah ke sekitar Masjid Raya. Aisyah lah yang mendayung becak itu.
Sang ayah Nawawi menderita penyakit komplikasi paru yang berimbas pada kondisi fisiknya. Kurus layu dan tidak bisa menggerakkan sebagian besar tubuh. Aisyah menjadi tumpuan. Setiap hari Aisyah yang memberi makan, minum, dan memberi obat dan mengurus kebersihan tubuh ayahnya.
Setiap hari keduanya memarkirkan becak mereka di samping Masjid Raya. Masjid bersejarah ini menjadi bagian dari penyambung hidup mereka. Saat masjid sedang tidak ramai, Aisyah masuk dan membersihkan tubuh di kamar mandi masjid itu. Usai mandi, dia kemudian membawa kain yang sudah dibasahi untuk mengelap tubuh ayahnya. Begitu cara ayahnya mandi.
Tapi jika akan ke kamar mandi masjid, Aisyah tidak akan masuk dari pintu depan. Ini masjid yang rutin dikunjungi turis dan pejabat, jika Aisyah terlihat masuk dari depan, bisa menyulitkan penjaga. Maka Aisyah masuk dengan cara melompati pagar masjid. Penjaga masjid tahu, tapi tidak memarahi.
Keberadaan Aisyah dan ayahnya tidak disukai pejabat kelurahan. Mereka sering diusir, apalagi jika pejabat akan datang mengunjungi Masjid Raya. Jika sudah begitu, maka Aisyah akan mendayung becaknya, membawa ayahnya pergi ke tempat yang aman.
Aisyah kini tidak sekolah lagi. Dulu dia sempat duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD), namun seiring dengan kondisi ayahnya yang sulit, kesehariannya kini hanya menjaga ayahnya.
"Mulai dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, hanya menjaga ayah,” kata Aisyah di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (19/3/2014) sore.
Becak barang itu menjadi rumah bagi Aisyah dan ayahnya. Ada bantal, ember, selimut, pakaian dan kebutuhan harian lainnya. Mereka tinggal dan beraktivitas di atas becak itu. Malam hari mereka memarkirkan becaknya di depan teras rumah warga di seputar Jalan Sisingamangaraja. Jika pagi tiba, mereka pindah ke sekitar Masjid Raya. Aisyah lah yang mendayung becak itu.
Sang ayah Nawawi menderita penyakit komplikasi paru yang berimbas pada kondisi fisiknya. Kurus layu dan tidak bisa menggerakkan sebagian besar tubuh. Aisyah menjadi tumpuan. Setiap hari Aisyah yang memberi makan, minum, dan memberi obat dan mengurus kebersihan tubuh ayahnya.
Setiap hari keduanya memarkirkan becak mereka di samping Masjid Raya. Masjid bersejarah ini menjadi bagian dari penyambung hidup mereka. Saat masjid sedang tidak ramai, Aisyah masuk dan membersihkan tubuh di kamar mandi masjid itu. Usai mandi, dia kemudian membawa kain yang sudah dibasahi untuk mengelap tubuh ayahnya. Begitu cara ayahnya mandi.
Tapi jika akan ke kamar mandi masjid, Aisyah tidak akan masuk dari pintu depan. Ini masjid yang rutin dikunjungi turis dan pejabat, jika Aisyah terlihat masuk dari depan, bisa menyulitkan penjaga. Maka Aisyah masuk dengan cara melompati pagar masjid. Penjaga masjid tahu, tapi tidak memarahi.
Keberadaan Aisyah dan ayahnya tidak disukai pejabat kelurahan. Mereka sering diusir, apalagi jika pejabat akan datang mengunjungi Masjid Raya. Jika sudah begitu, maka Aisyah akan mendayung becaknya, membawa ayahnya pergi ke tempat yang aman.
Jan 22, 2014
Restoran di Tambun Bekasi Ini Sediakan Makanan Gratis untuk Korban Banjir
Detik.com - Sebuah rumah makan Sunda, Resto Saung Wulan di Tambun Selatan, Bekasi ini hebat. Resto ini menyediakan ribuan makanan gratis bagi korban banjir. Kegiatan amal ini sudah dilakukan sejak Minggu (19/1) kemarin. Polisi pun menjaga restoran ini.
Pemilik restoran Saung Wulan, Muhidin Bimo mengatakan, saat ini dia belum bersedia untuk melayani pemesanan selain untuk dibagikan kepada para korban banjir. "Dari kemarin kita coba bagikan nasi bungkus gratis. Saya sudah nggak terima orderan dulu karena ingin fokus untuk korban banjir," kata Bimo saat berbincang dengan detikcom, Senin (20/1/2014).
Bimo mengatakan, pihaknya akan menyiapkan berapa pun pesanan nasi bungkus untuk para korban banjir, selama dia dan anak buahnya mampu untuk memasak. Untuk kemarin saja, dia sudah menyiapkan sekitar 6.000 lebih nasi bungkus yang dibagikan ke korban bajir.
"Target kita hari ini 10.000 bungkus. Makanan ini gratis. Kita siap melayani dengan ikhlas," katanya.
Bimo menjelaskan, restorannya hanya bertugas untuk memasak dan menyiapkan makanan, sesuai dengan jumlah pesanan. Untuk pendistribusian harap diambil dan disebarkan langsung oleh para relawan.
"Kalau ada relawan, silakan ambil di resto kami agar bisa didistribusikan. Silakan dijemput, karena karyawan saya hanya fokus untuk masak biar cepat," katanya.
Untuk memesan, Bimo memberikan nomor resto dan telepon pribadinya agar bisa langsung direspons, yaitu 021 88337777 atau 087881561333 dan 081282883333. Alamat resto ini berada di Jl Abu Bakar no 60, Setya Dharma, Tambun Selatan, Bekasi.
"Bisa juga mengunjungi website kita di www.RestoSaungWulan.com untuk melihat peta dan alamat jelasnya. Tapi mohon maaf kalau websitenya sudah dibuka atau lambat direspon karena dari kemarin banyak sekali yang memesan," katanya.
Kapolres Bekasi Kombes Pol, Isnaini Ujiarto membenarkan resto ini menyediakan pesanan makanan gratis untuk korban banjir.
"Memang benar Resto Saung Wulan membagikan makanan gratis. Anggota sudah cek ke sana," ujar Kapolres saat dihubungi detikcom, Senin (20/1/2014). "Tadi malam mereka masak sampai jam 1 pagi," ucapnya.
Saat ini Kapolres menempatkan beberapa anggotanya di area rumah makan itu, karena khawatir masyarakat akan 'menyerbu' tempat itu. "Polisi akan membantu melakukan pembagian agar tepat sasaran," jelasnya.
Pemilik restoran Saung Wulan, Muhidin Bimo mengatakan, saat ini dia belum bersedia untuk melayani pemesanan selain untuk dibagikan kepada para korban banjir. "Dari kemarin kita coba bagikan nasi bungkus gratis. Saya sudah nggak terima orderan dulu karena ingin fokus untuk korban banjir," kata Bimo saat berbincang dengan detikcom, Senin (20/1/2014).
Bimo mengatakan, pihaknya akan menyiapkan berapa pun pesanan nasi bungkus untuk para korban banjir, selama dia dan anak buahnya mampu untuk memasak. Untuk kemarin saja, dia sudah menyiapkan sekitar 6.000 lebih nasi bungkus yang dibagikan ke korban bajir.
"Target kita hari ini 10.000 bungkus. Makanan ini gratis. Kita siap melayani dengan ikhlas," katanya.
Bimo menjelaskan, restorannya hanya bertugas untuk memasak dan menyiapkan makanan, sesuai dengan jumlah pesanan. Untuk pendistribusian harap diambil dan disebarkan langsung oleh para relawan.
"Kalau ada relawan, silakan ambil di resto kami agar bisa didistribusikan. Silakan dijemput, karena karyawan saya hanya fokus untuk masak biar cepat," katanya.
Untuk memesan, Bimo memberikan nomor resto dan telepon pribadinya agar bisa langsung direspons, yaitu 021 88337777 atau 087881561333 dan 081282883333. Alamat resto ini berada di Jl Abu Bakar no 60, Setya Dharma, Tambun Selatan, Bekasi.
"Bisa juga mengunjungi website kita di www.RestoSaungWulan.com untuk melihat peta dan alamat jelasnya. Tapi mohon maaf kalau websitenya sudah dibuka atau lambat direspon karena dari kemarin banyak sekali yang memesan," katanya.
Kapolres Bekasi Kombes Pol, Isnaini Ujiarto membenarkan resto ini menyediakan pesanan makanan gratis untuk korban banjir.
"Memang benar Resto Saung Wulan membagikan makanan gratis. Anggota sudah cek ke sana," ujar Kapolres saat dihubungi detikcom, Senin (20/1/2014). "Tadi malam mereka masak sampai jam 1 pagi," ucapnya.
Saat ini Kapolres menempatkan beberapa anggotanya di area rumah makan itu, karena khawatir masyarakat akan 'menyerbu' tempat itu. "Polisi akan membantu melakukan pembagian agar tepat sasaran," jelasnya.
May 3, 2013
Tetap Bersekolah walau Harus Menjadi Buruh
Kompas.com - Kesulitan ekonomi tak menyurutkan semangat Indah Sari (17) dan dua adiknya mengenyam pendidikan. Demi menutupi biaya sekolah, mereka bekerja sebagai buruh plasma bulu mata palsu. Kisah pilu di Hari Pendidikan Nasional!
Terik matahari menyengat kepala ketika Indah dan kedua adiknya berseragam putih-biru menyusuri jalan setapak di Dusun Batur, Desa Penusupan, Purbalingga (70 kilometer timur laut Purwokerto), Jawa Tengah. Mereka baru saja pulang sekolah.
Indah duduk di kelas IX SMPN 4 Rembang. Sementara kedua adiknya, Supriyani Astuti (15) dan Juliah (13), duduk di kelas VII sekolah yang sama.
Sesampai di bilik bambu berukuran 5 x 6 meter, ketiga sosok perempuan itu segera mengambil peralatan merangkai bulu mata palsu.
”Saya sekolah sambil bekerja bikin idep (bulu mata) sejak lima tahun lalu. Adik-adik juga akhirnya ikut membantu supaya ada uang untuk makan,” tutur Indah, Selasa (30/4/2013) siang, sambil memilin rambut di kawat yang dipasang di papan kayu untuk kemudian dirajut jadi bulu mata palsu.
Upah dari aktivitas itu tak hanya untuk menghidupi Indah dan kedua adiknya. Di rumah itu juga tinggal ibu mereka, Tarmini (40), dan adik bungsu, Sayang (5).
Beban mereka kian berat karena Tarmini mengalami gangguan mental sejak kelahiran anak terakhirnya akibat kondisi ekonomi. Perempuan itu tak pernah lagi berbicara kepada orang lain, termasuk anak-anaknya. Setiap hari, ia lebih sering menatap kosong keluar atau tidur di dipan.
Depresi kian mengimpit saat Warsito, ayah Indah yang sakit-sakitan, akhirnya meninggal akhir tahun 2012. Warsito yang semasa hidup menjadi juru kunci Petilasan Bukit Ardi Lawet ini menderita komplikasi sejumlah penyakit dalam.
Menjadi buruh
Tanto Purnomo (23), si sulung, lima tahun terakhir ini bekerja di sebuah bengkel di Samarinda, Kalimantan Timur. ”Mas Tanto tiap bulan kirim uang sekitar Rp 300.000, tetapi semuanya terpakai untuk bayar utang lama biaya berobat Bapak,” tutur Indah.
Saat ini, mereka masih berutang Rp 3 juta kepada pihak pemerintahan desa untuk sewa tanah bengkok tempat rumah mereka berdiri.
Kendati sebagian penduduk di Dusun Batur bekerja sebagai petani, kondisi keluarga Indah sangat memprihatinkan. Bilik bambu tempat mereka berteduh hanya berlantai tanah yang sangat lembab. Kamar mandi tidak ada. Penghuninya setiap hari mandi di sungai. Jika genteng rumah bocor, Indah dan ketiga adiknya hanya bertahan di sudut dipan sambil berpelukan, menghangatkan tubuh.
Keterbatasan ekonomi pula yang membuat Indah dan Supriyani beberapa kali putus sekolah. Namun, semangat belajar Indah dan kedua adiknya tak surut. ”Kalau bikin bulu mata, tidak perlu keluar rumah. Bahan-bahannya sudah dikasih. Nanti, dua hari sekali disetor ke pengepul di dekat sini juga,” ujar Indah.
Indah mengaku ikut bekerja di plasma bulu mata palsu karena diajak tetangganya yang prihatin terhadap kondisi keluarga itu. Di desa tersebut, sejumlah ibu rumah tangga menambah penghasilan dengan membuat bulu mata palsu. Produk itu kemudian dikumpulkan untuk dikirim ke pabrik-pabrik bulu mata palsu yang banyak berdiri di Purbalingga.
Setiap pasang bulu mata palsu dihargai Rp 170. Setiap bulannya, Indah dan dua adiknya bisa mendapatkan Rp 150.000 dari hasil membuat bulu mata palsu. Meski lebih sering habis untuk makan, Indah beberapa kali menyisihkan hasil kerjanya untuk tabungan sekolah.
Namun, dengan bekerja, bukan berarti Indah melupakan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Ia dan adik-adiknya membatasi pekerjaan membuat bulu mata palsu hingga jelang magrib. Selepas itu, mereka belajar hingga larut malam.
Berprestasi
Dengan keterbatasan uang, asupan gizi ketiga pelajar ini sangat tidak memadai. Mereka bahkan tidak pernah sarapan sebelum sekolah. ”Seringnya hanya makan sekali. Paling nasi dengan sayur singkong, ” ujar Supriyani yang bercita-cita menjadi atlet tenis meja.
Walau begitu, mereka tetap berprestasi. Indah yang bercita-cita menjadi atlet bulu tangkis, misalnya, sejak awal SMP selalu menduduki peringkat 10 besar di kelas. Juliah bahkan meraih peringkat kelima di kelasnya, sementara Supriyani memiliki prestasi di bidang olahraga dan pernah mendapat beasiswa karena juara II tenis meja tingkat kabupaten.
Indah mengaku ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) mengambil jurusan akuntansi. Namun, dia kembali menghadapi dilema karena lokasi SMK terdekat berada di Kecamatan Bobotsari, 25 kilometer jauhnya dari rumah.
”Apalagi, nanti, SMK sudah harus bayar. Saya juga takut susah mengatur waktu belajar dan kerja,” kata Indah.
Guru Bimbingan Konseling SMPN 4 Rembang, Sri Supriyatiningsih, kagum dengan semangat belajar ketiga siswinya itu.
Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Purbalingga mencatat, tenaga kerja yang tertampung pada ratusan plasma industri wig dan bulu mata palsu mencapai 26.000 orang. Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Purbalingga Supono tak menampik bahwa sebagian di antara mereka adalah anak usia sekolah.
Terkait banyaknya siswa putus sekolah di Purbalingga karena menjadi buruh, Ketua Dewan Pendidikan Purbalingga Sudino khawatir hal itu menjadi bom waktu. Bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko memastikan Indah dan adik-adiknya mendapatkan bantuan siswa miskin (BSM) agar mereka paling tidak bisa menuntaskan pendidikan dasar.
Terik matahari menyengat kepala ketika Indah dan kedua adiknya berseragam putih-biru menyusuri jalan setapak di Dusun Batur, Desa Penusupan, Purbalingga (70 kilometer timur laut Purwokerto), Jawa Tengah. Mereka baru saja pulang sekolah.
Indah duduk di kelas IX SMPN 4 Rembang. Sementara kedua adiknya, Supriyani Astuti (15) dan Juliah (13), duduk di kelas VII sekolah yang sama.
Sesampai di bilik bambu berukuran 5 x 6 meter, ketiga sosok perempuan itu segera mengambil peralatan merangkai bulu mata palsu.
”Saya sekolah sambil bekerja bikin idep (bulu mata) sejak lima tahun lalu. Adik-adik juga akhirnya ikut membantu supaya ada uang untuk makan,” tutur Indah, Selasa (30/4/2013) siang, sambil memilin rambut di kawat yang dipasang di papan kayu untuk kemudian dirajut jadi bulu mata palsu.
Upah dari aktivitas itu tak hanya untuk menghidupi Indah dan kedua adiknya. Di rumah itu juga tinggal ibu mereka, Tarmini (40), dan adik bungsu, Sayang (5).
Beban mereka kian berat karena Tarmini mengalami gangguan mental sejak kelahiran anak terakhirnya akibat kondisi ekonomi. Perempuan itu tak pernah lagi berbicara kepada orang lain, termasuk anak-anaknya. Setiap hari, ia lebih sering menatap kosong keluar atau tidur di dipan.
Depresi kian mengimpit saat Warsito, ayah Indah yang sakit-sakitan, akhirnya meninggal akhir tahun 2012. Warsito yang semasa hidup menjadi juru kunci Petilasan Bukit Ardi Lawet ini menderita komplikasi sejumlah penyakit dalam.
Menjadi buruh
Tanto Purnomo (23), si sulung, lima tahun terakhir ini bekerja di sebuah bengkel di Samarinda, Kalimantan Timur. ”Mas Tanto tiap bulan kirim uang sekitar Rp 300.000, tetapi semuanya terpakai untuk bayar utang lama biaya berobat Bapak,” tutur Indah.
Saat ini, mereka masih berutang Rp 3 juta kepada pihak pemerintahan desa untuk sewa tanah bengkok tempat rumah mereka berdiri.
Kendati sebagian penduduk di Dusun Batur bekerja sebagai petani, kondisi keluarga Indah sangat memprihatinkan. Bilik bambu tempat mereka berteduh hanya berlantai tanah yang sangat lembab. Kamar mandi tidak ada. Penghuninya setiap hari mandi di sungai. Jika genteng rumah bocor, Indah dan ketiga adiknya hanya bertahan di sudut dipan sambil berpelukan, menghangatkan tubuh.
Keterbatasan ekonomi pula yang membuat Indah dan Supriyani beberapa kali putus sekolah. Namun, semangat belajar Indah dan kedua adiknya tak surut. ”Kalau bikin bulu mata, tidak perlu keluar rumah. Bahan-bahannya sudah dikasih. Nanti, dua hari sekali disetor ke pengepul di dekat sini juga,” ujar Indah.
Indah mengaku ikut bekerja di plasma bulu mata palsu karena diajak tetangganya yang prihatin terhadap kondisi keluarga itu. Di desa tersebut, sejumlah ibu rumah tangga menambah penghasilan dengan membuat bulu mata palsu. Produk itu kemudian dikumpulkan untuk dikirim ke pabrik-pabrik bulu mata palsu yang banyak berdiri di Purbalingga.
Setiap pasang bulu mata palsu dihargai Rp 170. Setiap bulannya, Indah dan dua adiknya bisa mendapatkan Rp 150.000 dari hasil membuat bulu mata palsu. Meski lebih sering habis untuk makan, Indah beberapa kali menyisihkan hasil kerjanya untuk tabungan sekolah.
Namun, dengan bekerja, bukan berarti Indah melupakan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Ia dan adik-adiknya membatasi pekerjaan membuat bulu mata palsu hingga jelang magrib. Selepas itu, mereka belajar hingga larut malam.
Berprestasi
Dengan keterbatasan uang, asupan gizi ketiga pelajar ini sangat tidak memadai. Mereka bahkan tidak pernah sarapan sebelum sekolah. ”Seringnya hanya makan sekali. Paling nasi dengan sayur singkong, ” ujar Supriyani yang bercita-cita menjadi atlet tenis meja.
Walau begitu, mereka tetap berprestasi. Indah yang bercita-cita menjadi atlet bulu tangkis, misalnya, sejak awal SMP selalu menduduki peringkat 10 besar di kelas. Juliah bahkan meraih peringkat kelima di kelasnya, sementara Supriyani memiliki prestasi di bidang olahraga dan pernah mendapat beasiswa karena juara II tenis meja tingkat kabupaten.
Indah mengaku ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) mengambil jurusan akuntansi. Namun, dia kembali menghadapi dilema karena lokasi SMK terdekat berada di Kecamatan Bobotsari, 25 kilometer jauhnya dari rumah.
”Apalagi, nanti, SMK sudah harus bayar. Saya juga takut susah mengatur waktu belajar dan kerja,” kata Indah.
Guru Bimbingan Konseling SMPN 4 Rembang, Sri Supriyatiningsih, kagum dengan semangat belajar ketiga siswinya itu.
Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Purbalingga mencatat, tenaga kerja yang tertampung pada ratusan plasma industri wig dan bulu mata palsu mencapai 26.000 orang. Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Purbalingga Supono tak menampik bahwa sebagian di antara mereka adalah anak usia sekolah.
Terkait banyaknya siswa putus sekolah di Purbalingga karena menjadi buruh, Ketua Dewan Pendidikan Purbalingga Sudino khawatir hal itu menjadi bom waktu. Bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko memastikan Indah dan adik-adiknya mendapatkan bantuan siswa miskin (BSM) agar mereka paling tidak bisa menuntaskan pendidikan dasar.
Apr 22, 2013
Tasripin dan 3 Adiknya Lahap Es Krim Pertama Seumur Hidup
Detik.com - Tasripin (12) dan ketiga adiknya hidup di pelosok desa. Tak banyak menu makanan dan minuman yang dicecap. Seumur hidupnya baru sekali ia merasakan es krim.
"Iya, baru pertama (makan es krim)," kata adik Tasripin, Dandi, mewakili Tasripin dan kedua saudaranya, Jumat (19/4/2013).
Dandi yang didampingi Tasripin dan dua adiknya tampak tersipu. Sambil mengawasi kolam di Hotel Wisata Niaga di Jalan Merdeka, Purwokerto, tak henti-hentinya mulutnya melahap es krim pemberian donatur itu.
Tasripin dan ketiga adiknya diinapkan selama di hotel karena rumahnya tengah direhab. Selama di hotel, penampilan bocah-bocah ini sedikit berubah. Wajahnya tak lagi kusam. Pakaiannya tak lagi lusuh.
Bantuan ke Tasripin dan ketiga adiknya terus berdatangan. Tak hanya berupa barang, tapi juga uang. Uang bantuan itu disimpan di rekening.
Siang ini, Tasripin dan ketiga adiknya meninggalkan hotel. Rumah yang direhab anggota TNI sudah jadi. Belum diketahui seperti apa hasil jadi rehab, namun dipastikan lebih baik dari rumah sebelumnya. Rumah lama Tasripin hanya berupa bilik kayu yang disekat untuk kamar dan dapur.
Keempat bocah itu tinggal di Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok. Ibu Tasripin telah meninggal dan bapaknya bekerja di Kalimantan. Bapaknya dijadwalkan pulang Kamis kemarin, tapi hingga kini belum datang.
"Iya, baru pertama (makan es krim)," kata adik Tasripin, Dandi, mewakili Tasripin dan kedua saudaranya, Jumat (19/4/2013).
Dandi yang didampingi Tasripin dan dua adiknya tampak tersipu. Sambil mengawasi kolam di Hotel Wisata Niaga di Jalan Merdeka, Purwokerto, tak henti-hentinya mulutnya melahap es krim pemberian donatur itu.
Tasripin dan ketiga adiknya diinapkan selama di hotel karena rumahnya tengah direhab. Selama di hotel, penampilan bocah-bocah ini sedikit berubah. Wajahnya tak lagi kusam. Pakaiannya tak lagi lusuh.
Bantuan ke Tasripin dan ketiga adiknya terus berdatangan. Tak hanya berupa barang, tapi juga uang. Uang bantuan itu disimpan di rekening.
Siang ini, Tasripin dan ketiga adiknya meninggalkan hotel. Rumah yang direhab anggota TNI sudah jadi. Belum diketahui seperti apa hasil jadi rehab, namun dipastikan lebih baik dari rumah sebelumnya. Rumah lama Tasripin hanya berupa bilik kayu yang disekat untuk kamar dan dapur.
Keempat bocah itu tinggal di Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok. Ibu Tasripin telah meninggal dan bapaknya bekerja di Kalimantan. Bapaknya dijadwalkan pulang Kamis kemarin, tapi hingga kini belum datang.
Jul 20, 2012
Kisah Buruh Andriyani, Seorang Diri Menggugat Negara dan Menang!
Detik.com - Mata Andriyani (38) berkaca-kaca. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan tersenyum bahagia. Sebab permohonan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) dikabulkan. Alhasil pasal UU Ketenagakerjaan yang disahkan DPR dan disetujui pemerintah gugur oleh buruh PJTKI ini. Seorang diri.
"Selama 18 bulan perusahaan tempat saya bekerja telat membayar gajinya," kata Andriyani saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/6/2012).
Andriyani bekerja di PJTKI PT Megahbuana Citramasindo selama 14 tahun. Dua tahun terakhir masalah menghampirinya yaitu perusahaan tempatnya bekerja tidak membayar gajinya selama 18 bulan. Merasa haknya sebagai buruh dilanggar, lantas Andriyani mencoba mengadukan nasibnya ke Kementrian Tenaga Kerja
"Sudah mencoba melapor ke Depnaker tapi kurang ditanggapi," ujar ibu dari 3 anak ini.
Lalu dirinya disarankan Depnaker untuk ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) guna memperkarakan kasus ini. Di PHI Andriyani kalah. Ketika ingin mengajukan banding ia harus merogoh kocek untuk membayar uang perkara. Alhasil Andriyani tidak sanggup membayarnya.
"Karena harus membayar saya tidak ada biaya. Ya sudah, tidak jadi banding deh, "ujar ibu yang baru sebulan melahirkan ini.
Meski perkara di PHI ditolak, Andriyani tidak patah arang. Dia lantas mencari bantuan lain melalui internet. Setelah mencoba mencari akhirnya dia mendapatkan satu website yang menurutnya bisa membantu mengatasi masalah ini.
"Saya buntu karena PHI memenangkan perusahaan. Perusahaan saya pakai pengacara, saya kami tidak. Akhirnya saya cari ke website dan ketemu website organisasi buruh, FISBI. Lantas saya konsultasi dan ketemulah jalan untuk ke MK," papar Andriani.
Saat mengajukan gugutan ke MK Andriyani tidak ditemani kuasa hukum. Seorang diri memperjuangkan nasibnya sebagai buruh. Untuk mencari saksi ahli pun dia harus berjuang sendiri. Andriyani bersyukur ada profesor dari Universitas Indonesia (UI) yang bersedia memberikan keterangan keahliannya, tanpa dibayar sepeser pun.
"Saksi ahli itu Prof. Aloysius Uwiyono. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada beliau," ucapnya dengan nada terharu.
Dengan dikabulkannya gugatan ke MK berarti Andriyani bisa mengajukan PHK ke perusahaan dan mendapatkan pesangon sebesar Rp 62 juta atas jasanya bekerja selama 14 tahun. Menurutnya, meskipun agak sedikit takut harus berurusan dengan pengadilan tetapi dengan semangat dan keyakinan ia bisa berhasil.
"Saya memperjuangkan yang benar, makanya saya berani. Semoga nanti perusahaan mau membayar pesangon saya," harap Andiyani.
"Selama 18 bulan perusahaan tempat saya bekerja telat membayar gajinya," kata Andriyani saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/6/2012).
Andriyani bekerja di PJTKI PT Megahbuana Citramasindo selama 14 tahun. Dua tahun terakhir masalah menghampirinya yaitu perusahaan tempatnya bekerja tidak membayar gajinya selama 18 bulan. Merasa haknya sebagai buruh dilanggar, lantas Andriyani mencoba mengadukan nasibnya ke Kementrian Tenaga Kerja
"Sudah mencoba melapor ke Depnaker tapi kurang ditanggapi," ujar ibu dari 3 anak ini.
Lalu dirinya disarankan Depnaker untuk ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) guna memperkarakan kasus ini. Di PHI Andriyani kalah. Ketika ingin mengajukan banding ia harus merogoh kocek untuk membayar uang perkara. Alhasil Andriyani tidak sanggup membayarnya.
"Karena harus membayar saya tidak ada biaya. Ya sudah, tidak jadi banding deh, "ujar ibu yang baru sebulan melahirkan ini.
Meski perkara di PHI ditolak, Andriyani tidak patah arang. Dia lantas mencari bantuan lain melalui internet. Setelah mencoba mencari akhirnya dia mendapatkan satu website yang menurutnya bisa membantu mengatasi masalah ini.
"Saya buntu karena PHI memenangkan perusahaan. Perusahaan saya pakai pengacara, saya kami tidak. Akhirnya saya cari ke website dan ketemu website organisasi buruh, FISBI. Lantas saya konsultasi dan ketemulah jalan untuk ke MK," papar Andriani.
Saat mengajukan gugutan ke MK Andriyani tidak ditemani kuasa hukum. Seorang diri memperjuangkan nasibnya sebagai buruh. Untuk mencari saksi ahli pun dia harus berjuang sendiri. Andriyani bersyukur ada profesor dari Universitas Indonesia (UI) yang bersedia memberikan keterangan keahliannya, tanpa dibayar sepeser pun.
"Saksi ahli itu Prof. Aloysius Uwiyono. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada beliau," ucapnya dengan nada terharu.
Dengan dikabulkannya gugatan ke MK berarti Andriyani bisa mengajukan PHK ke perusahaan dan mendapatkan pesangon sebesar Rp 62 juta atas jasanya bekerja selama 14 tahun. Menurutnya, meskipun agak sedikit takut harus berurusan dengan pengadilan tetapi dengan semangat dan keyakinan ia bisa berhasil.
"Saya memperjuangkan yang benar, makanya saya berani. Semoga nanti perusahaan mau membayar pesangon saya," harap Andiyani.
Jun 15, 2012
Tambal Ban Gratis bagi Korban Ranjau
Liputan6.com - Banyaknya jumlah korban ranjau paku di jalan raya di Ibu Kota membuat sejumlah warga membentuk komunitas relawan jalan raya bernama Semut Orange. Sebuah tenda layanan tambal ban gratis didirikan di perempatan Cideng, Jakarta Pusat dari pagi hingga sore. Tak jarang mereka buka hingga malam hari jika masih ada yang membutuhkan.
Dengan modal yang dikumpulkan secara swadaya dari 14 anggotanya, mereka menyediakan seluruh peralatan untuk menambal ban dan tenda yang layak untuk mengerjakan tambal ban gratis. Para pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun. Mereka hanya diminta untuk mengisi buku yang berisi data dan tanggapan atas ulah ranjau paku.
Jasa pelayanan tambal ban gratis baru dimulai 25 Mei lalu. Mereka bisa memberi layanan bagi 15 sampai 17 orang per hari. Selain membuka tambal ban gratis, Semut Orange juga melakukan penyisiran ranjau paku setiap hari mulai pukul 04.00 WIB di kawasan Roxy, Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Istana. Mereka berharap para pengandara waspada dan hati-hati. Video
Dengan modal yang dikumpulkan secara swadaya dari 14 anggotanya, mereka menyediakan seluruh peralatan untuk menambal ban dan tenda yang layak untuk mengerjakan tambal ban gratis. Para pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun. Mereka hanya diminta untuk mengisi buku yang berisi data dan tanggapan atas ulah ranjau paku.
Jasa pelayanan tambal ban gratis baru dimulai 25 Mei lalu. Mereka bisa memberi layanan bagi 15 sampai 17 orang per hari. Selain membuka tambal ban gratis, Semut Orange juga melakukan penyisiran ranjau paku setiap hari mulai pukul 04.00 WIB di kawasan Roxy, Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Istana. Mereka berharap para pengandara waspada dan hati-hati. Video
Apr 17, 2012
Siswi SD Jadi 'Guru'
Liputan6.com - Karena kekurangan tenaga guru, siswi kelas enam sekolah dasar negeri (SDN) Batu Kerbuy 2 Pasean, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, juga berperan sebagai guru, Ahad (15/4). Layaknya seorang pengajar, Masriyah membimbing adik-adik kelasnya di kelas 1 dan 2 belajar di kelas.
Situasi itu terjadi, karena sekolah tersebut hanya memiliki tiga guru. Selain mengajar, Masriyah juga harus memeriksa hasil pekerjaan adik-adik kelasnya. “Ya terganggu juga, apalagi saya kan hendak menghadapi ujian nasional,” keluhnya.
Krisis guru tidak hanya terjadi di sekolah itu, tapi terjadi juga di sejumlah sekolah lain di wilayah Pamekasan. ”Kurangnya tenaga guru di wilayah utara Pamekasan, karena banyak guru yang mengadu nasib ke kota. Akibatnya, daerah pelosok kekurangan tenaga pengajar,” kata Kepala SDN Batu Kerbuy 2 Pamekasan Martoadi. Video
Situasi itu terjadi, karena sekolah tersebut hanya memiliki tiga guru. Selain mengajar, Masriyah juga harus memeriksa hasil pekerjaan adik-adik kelasnya. “Ya terganggu juga, apalagi saya kan hendak menghadapi ujian nasional,” keluhnya.
Krisis guru tidak hanya terjadi di sekolah itu, tapi terjadi juga di sejumlah sekolah lain di wilayah Pamekasan. ”Kurangnya tenaga guru di wilayah utara Pamekasan, karena banyak guru yang mengadu nasib ke kota. Akibatnya, daerah pelosok kekurangan tenaga pengajar,” kata Kepala SDN Batu Kerbuy 2 Pamekasan Martoadi. Video
Mar 17, 2012
Berjualan Bakso Usai Sekolah Demi Bertahan Hidup
Liputan6.com - Kemiskinan membuat seorang bocah tujuh tahun di Lebak, Banten, memilih berjualan untuk bertahan hidup dengan ibunya. Sepulang sekolah, Siti menuju rumah tetangganya untuk mengambil bakso yang kemudian dijual.
Dengan kedua tangan kecilnya, Siti mengangkat barang dagangannya berkeliling kampung. Bagi Siti, rasa lelahnya selalu terbayar setiap ada warga yang memanggilnya. Membersihkan mangkok, sendok, dan menuangkan bakso, dilakukannya dengan cekatan. Uang yang didapat disimpannya dengan rapi.
Dalam sehari, gadis kecil tersebut bisa menempuh jarak 10 kilometer dan berjalan selama tiga jam. Kendati lelah, ia selalu melayani pembeli dengan baik dan tak lupa mencuci mangkok baksonya. Jika beruntung, baksonya habis terjual. Siti pun bisa mendapatkan bayaran meski hanya selembar Rp 2.000. Namun uang ini diberikannya pada sang ibu yang hanya buruh tani biasa.
Meski harus mencari uang dengan berjualan bakso, di sekolah, Siti termasuk murid yang giat belajar dan pintar terutama di pelajaran matematika. Ledekan teman-temannya karena ia kerap berjualan bakso tak diindahkannya. Siti belajar dan dengan ikhlas membantu ibunya atas kemauannya sendiri.
Siti sudah yatim sejak berusia dua tahun. Kakak laki-lakinya sudah satu tahun tidak pulang ke rumah. Selama satu tahun terakhir inilah, atas kemauannya sendiri, Siti berjualan bakso untuk membantu ibunya. Video
Dengan kedua tangan kecilnya, Siti mengangkat barang dagangannya berkeliling kampung. Bagi Siti, rasa lelahnya selalu terbayar setiap ada warga yang memanggilnya. Membersihkan mangkok, sendok, dan menuangkan bakso, dilakukannya dengan cekatan. Uang yang didapat disimpannya dengan rapi.
Dalam sehari, gadis kecil tersebut bisa menempuh jarak 10 kilometer dan berjalan selama tiga jam. Kendati lelah, ia selalu melayani pembeli dengan baik dan tak lupa mencuci mangkok baksonya. Jika beruntung, baksonya habis terjual. Siti pun bisa mendapatkan bayaran meski hanya selembar Rp 2.000. Namun uang ini diberikannya pada sang ibu yang hanya buruh tani biasa.
Meski harus mencari uang dengan berjualan bakso, di sekolah, Siti termasuk murid yang giat belajar dan pintar terutama di pelajaran matematika. Ledekan teman-temannya karena ia kerap berjualan bakso tak diindahkannya. Siti belajar dan dengan ikhlas membantu ibunya atas kemauannya sendiri.
Siti sudah yatim sejak berusia dua tahun. Kakak laki-lakinya sudah satu tahun tidak pulang ke rumah. Selama satu tahun terakhir inilah, atas kemauannya sendiri, Siti berjualan bakso untuk membantu ibunya. Video
Jan 7, 2012
Di Taiwan, TKI Hidup Terjamin
Liputan6.com - Banyak kisah pilu buruh migran dipicu buruknya sistem perekrutan dan perlindungan yang kurang memadai. Namun di Taiwan telah diterapkan sistem yang lebih baik bagi pekerja asing nonformal. Namun di Taiwan telah diterapkan sistem yang lebih baik bagi pekerja asing nonformal. Mulai dari pemberian hari libur, penyediaan asuransi hingga training yang lebih ketat.
Bapak dan ibu Lily, misalnya. Mereka telah setahun terakhir mempekerjakan seorang tenaga kerja Indonesia asal Jember, Jawa Timur, Nur Kholifah. Nur dipercaya menjaga ibu Lily yang sudah tua, mulai dari membantu pekerjaan di dapur, mencuci, sampai merawat sang nenek.
Walau harus bekerja 24 jam seperti layaknya pembantu rumah tangga seperti di Hong Kong, Cina, para TKI di Taiwan mendapatkan hari libur dan uang lembur. "Libur boleh asal bilang dulu, kalau nggak mau libur ya dikasih uang lembur buat hari Minggu," kata Nur.
Keistimewaan lainnya adalah adanya asuransi kesehatan sehingga mereka tidak terlalu khawatir jika jatuh sakit di negeri orang. "Asuransinya menggunakan Askes, pembantu membayarkan 20 persen, majikan 20 persen, dan pemerintah juga," kata pengelola TKI di Taiwan, Popo Krisantus.
Para majikan di Taiwan tidak berkeberatan membayarkan asuransi pada TKI karena sejauh ini mereka puas dengan kerja buruh migran asal Indonesia. "Selama lima tahun saya menggunakan pembantu dari Indonesia. Pekerjaan mereka bagus, sabar, dan mereka bisa berbahasa Cina dengan cepat," kata majikan Nur Kholifah, Lily.
Dari sekitar 400 ribu tenaga kerja asing nonformal di Taiwan, Indonesia menempatkan paling banyak pekerjanya, yakni sekitar 160 ribu orang. Hal ini lantaran Taiwan membatasi jumlah pekerja asing nonformalnya.
Beragam prosedur ketat juga menjadi seleksi tersendiri untuk mendapatkan TKI yang lebih baik. Tempat pelatihan Good Power, misalnya. Di salah satu perusahaan pengerah tenaga kerja asing di Taiwan, para TKI diberi fasilitas memadai sekaligus tempat training bagi mereka sebelum ditempatkan. Tak hanya itu, perusahaan juga merekrut para senior TKI untuk memberikan pelatihan dan bimbingan bagi buruh migran baru.
Semua data personal para TKI diatur dalam file-file tersendiri. Para TKI pun dibekali dengan pengetahuan dan pendampingan yang maksimal. Nomer hotline yang aktif 24 jam juga bisa membantu para TKI jika ada masalah dengan majikan. Dengan sistem perlindungan tersebut, para TKI di Taiwan bisa bekerja lebih tenang.
Cerita pilu para TKI sudah saatnya dikurangi. Tidak ada salahnya sistem perekrutan dan perlindungan TKI di Taiwan bisa menjadi contoh agar para pahlawan devisa mendapatkan perlindungan memadai. Video
Bapak dan ibu Lily, misalnya. Mereka telah setahun terakhir mempekerjakan seorang tenaga kerja Indonesia asal Jember, Jawa Timur, Nur Kholifah. Nur dipercaya menjaga ibu Lily yang sudah tua, mulai dari membantu pekerjaan di dapur, mencuci, sampai merawat sang nenek.
Walau harus bekerja 24 jam seperti layaknya pembantu rumah tangga seperti di Hong Kong, Cina, para TKI di Taiwan mendapatkan hari libur dan uang lembur. "Libur boleh asal bilang dulu, kalau nggak mau libur ya dikasih uang lembur buat hari Minggu," kata Nur.
Keistimewaan lainnya adalah adanya asuransi kesehatan sehingga mereka tidak terlalu khawatir jika jatuh sakit di negeri orang. "Asuransinya menggunakan Askes, pembantu membayarkan 20 persen, majikan 20 persen, dan pemerintah juga," kata pengelola TKI di Taiwan, Popo Krisantus.
Para majikan di Taiwan tidak berkeberatan membayarkan asuransi pada TKI karena sejauh ini mereka puas dengan kerja buruh migran asal Indonesia. "Selama lima tahun saya menggunakan pembantu dari Indonesia. Pekerjaan mereka bagus, sabar, dan mereka bisa berbahasa Cina dengan cepat," kata majikan Nur Kholifah, Lily.
Dari sekitar 400 ribu tenaga kerja asing nonformal di Taiwan, Indonesia menempatkan paling banyak pekerjanya, yakni sekitar 160 ribu orang. Hal ini lantaran Taiwan membatasi jumlah pekerja asing nonformalnya.
Beragam prosedur ketat juga menjadi seleksi tersendiri untuk mendapatkan TKI yang lebih baik. Tempat pelatihan Good Power, misalnya. Di salah satu perusahaan pengerah tenaga kerja asing di Taiwan, para TKI diberi fasilitas memadai sekaligus tempat training bagi mereka sebelum ditempatkan. Tak hanya itu, perusahaan juga merekrut para senior TKI untuk memberikan pelatihan dan bimbingan bagi buruh migran baru.
Semua data personal para TKI diatur dalam file-file tersendiri. Para TKI pun dibekali dengan pengetahuan dan pendampingan yang maksimal. Nomer hotline yang aktif 24 jam juga bisa membantu para TKI jika ada masalah dengan majikan. Dengan sistem perlindungan tersebut, para TKI di Taiwan bisa bekerja lebih tenang.
Cerita pilu para TKI sudah saatnya dikurangi. Tidak ada salahnya sistem perekrutan dan perlindungan TKI di Taiwan bisa menjadi contoh agar para pahlawan devisa mendapatkan perlindungan memadai. Video
Subscribe to:
Posts (Atom)