Kompas.com - Kelucuan anjing sebagai hewan peliharaan memang sudah cukup untuk menjadi alasan mengadopsinya. Namun, bila Anda masih butuh alasan lain untuk menjadikan hewan terloyal di dunia ini sebagai bagian dari keluarga, simak hasil penelitian di bawah ini.
Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts
Apr 15, 2017
Jul 16, 2015
Hati-Hati, 3 Sikap Ini Akan Membunuh Kepercayaan Diri Anak
Tempo.co - Banyak orang tua yang menyayangkan anaknya tumbuh dengan sifat pemalu, tidak memiliki kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Tanpa mereka sadari, sebenarnya penyebab kurangnya rasa percaya diri anak disebabkan oleh perlakuan orang tua.
Terkadang, orang tua melontarkan perkataan yang bahkan bisa membunuh karakter anak. Dilansir Berikut ulasannya seperti dilansir Family Share, Selasa 14 Juli 2015.
1. Menyepelekan anak dengan berkata 'Ini kan Mudah'
Terkadang anak tidak mampu menyelesaikan tugas atau sesuatu yang Anda minta padanya. Jelas, mereka masih sangat muda. Tentu Anda akan mudah melakukannya. Tapi belum tentu bagi si anak. Anda lalu mengatakan, "Itu kan mudah sekali, masak kamu tidak bisa." Dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung Anda telah meruntuhkan kepercayaan diri anak Anda.
Anak akan merasa begitu bodoh dan berpikir soal semudah itu saja tidak bisa diselesaikannya. Anak juga akan kecewa dan merasa bersalah sendiri. Sebab, mereka tidak bisa membanggakan Anda, orang tuanya.
2. Mengambil alih tugas anak
Anda mungkin mengerjakan semua tugas rumah tangga. Termasuk merapikan tempat tidur anak. Atau mungkin Anda mengambil alih dan mengerjakan tugas sekolah Anak.
Itu bukan ungkapan rasa sayang, melainkan sikap tersebut dapat mengirim sinyal kepada anak, 'Kamu tidak bisa mengerjakannya'.
3. Panik ketika anak melakukan kesalahan
Semua anak pasti pernah melakukan kesalahan. Dan mereka belajar dari kesalahan tersebut melalui respons Anda. Jika Anda panik ketika anak melakukan kesalahan, anak akan sangat terpukul karena hal itu.
Terkadang, orang tua melontarkan perkataan yang bahkan bisa membunuh karakter anak. Dilansir Berikut ulasannya seperti dilansir Family Share, Selasa 14 Juli 2015.
1. Menyepelekan anak dengan berkata 'Ini kan Mudah'
Terkadang anak tidak mampu menyelesaikan tugas atau sesuatu yang Anda minta padanya. Jelas, mereka masih sangat muda. Tentu Anda akan mudah melakukannya. Tapi belum tentu bagi si anak. Anda lalu mengatakan, "Itu kan mudah sekali, masak kamu tidak bisa." Dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung Anda telah meruntuhkan kepercayaan diri anak Anda.
Anak akan merasa begitu bodoh dan berpikir soal semudah itu saja tidak bisa diselesaikannya. Anak juga akan kecewa dan merasa bersalah sendiri. Sebab, mereka tidak bisa membanggakan Anda, orang tuanya.
2. Mengambil alih tugas anak
Anda mungkin mengerjakan semua tugas rumah tangga. Termasuk merapikan tempat tidur anak. Atau mungkin Anda mengambil alih dan mengerjakan tugas sekolah Anak.
Itu bukan ungkapan rasa sayang, melainkan sikap tersebut dapat mengirim sinyal kepada anak, 'Kamu tidak bisa mengerjakannya'.
3. Panik ketika anak melakukan kesalahan
Semua anak pasti pernah melakukan kesalahan. Dan mereka belajar dari kesalahan tersebut melalui respons Anda. Jika Anda panik ketika anak melakukan kesalahan, anak akan sangat terpukul karena hal itu.
Feb 10, 2015
Saat Marah, Ibu Jangan Katakan 3 Hal Ini kepada Anak
Kompas.com - Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah, tetapi sebenarnya bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan. Tidak jarang anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan Anda hingga membuat Anda marah. Ketika marah, ada tiga kalimat yang sebaiknya tidak Anda katakan kepada anak.
1. "Kamu membuat Ibu marah!"
Menurut psikolog Erica Reischer, PhD, kalimat ini atau kalimat serupa sebenarnya bermaksud untuk membuat anak merasa bersalah atas sikapnya. Tujuan orangtua menyampaikannya kepada anak adalah berharap si kecil mengubah sikap buruknya. Namun, jika Anda sedang benar-benar marah, hindarilah mengucapkannya di depan anak.
"Mengungkapkan ekspresi dengan kalimat seperti ini malah memperburuk keadaan dan membuat hubungan dengan anak menjadi negatif. Lebih buruk lagi, ini membuat anak merasa rendah diri dan merasa cemas serta ketakutan," ujar Reischer.
2. "Kamu ini kenapa sih?"
Reischer menjelaskan, kalimat ini membuat anak merasa dipermalukan. Tanpa Anda sadari, Anda mengharapkan anak mengubah sikapnya denagn membuatnya malu. Reischer menyebutkan, orangtua harus menyadari pasti ada maksud di balik hal-hal menjengkelkan yang dilakukan anak.
"Misalnya adalah dia mengharapkan perhatian Anda, menginginkan adanya informasi, atau yang terkait dengan kreativitas anak. Daripada mempermalukan anak seperti itu, lebih baik Anda mengatakan hal-hal yang bisa membuat anak lebih baik pada masa mendatang," sebut pengajar di University of California Berkeley, Amerika Serikat, ini.
3. "Lebih baik kamu..."
Kalimat semacam ini, kata Reischer, membuat anak merasa takut. Sebab, nada kalimat yang Anda utarakan ini menyiratkan agresi dan intimidasi. Ingatlah, anak akan tumbuh dewasa dan mandiri. Jika Anda mengatakan kalimat semacam ini, anak akan terhambat untuk dapat bersikap mandiri.
"Anda malah akan mendidik anak dengan cara yang intimidatif. Pada akhirnya, ini akan mengikis kepercayaan dan rasa hormat sebagai unsur penting dalam hubungan Anda dengan anak," jelas Reischer.
Lalu, kalimat seperti apa yang dapat Anda katakan agar anak dapat bersikap lebih baik tanpa harus merusak karakternya? Reischer memandang, ada baiknya Anda fokus pada eksplisitas perilakunya. Anda dapat mengungkapkan kalimat seperti, "Ibu tidak suka sikap kamu itu," atau "Ibu tidak suka kalau kamu...," atau "Kalau kamu begini, Ibu merasa...."
"Setelah mengatakan itu, pastikan Anda memberitahunya mengapa sikapnya itu tidak baik. Kemudian, lakukanlah semacam diskusi tentang apa yang seharusnya dia lakukan lain kali," imbuh Reischer.
1. "Kamu membuat Ibu marah!"
Menurut psikolog Erica Reischer, PhD, kalimat ini atau kalimat serupa sebenarnya bermaksud untuk membuat anak merasa bersalah atas sikapnya. Tujuan orangtua menyampaikannya kepada anak adalah berharap si kecil mengubah sikap buruknya. Namun, jika Anda sedang benar-benar marah, hindarilah mengucapkannya di depan anak.
"Mengungkapkan ekspresi dengan kalimat seperti ini malah memperburuk keadaan dan membuat hubungan dengan anak menjadi negatif. Lebih buruk lagi, ini membuat anak merasa rendah diri dan merasa cemas serta ketakutan," ujar Reischer.
2. "Kamu ini kenapa sih?"
Reischer menjelaskan, kalimat ini membuat anak merasa dipermalukan. Tanpa Anda sadari, Anda mengharapkan anak mengubah sikapnya denagn membuatnya malu. Reischer menyebutkan, orangtua harus menyadari pasti ada maksud di balik hal-hal menjengkelkan yang dilakukan anak.
"Misalnya adalah dia mengharapkan perhatian Anda, menginginkan adanya informasi, atau yang terkait dengan kreativitas anak. Daripada mempermalukan anak seperti itu, lebih baik Anda mengatakan hal-hal yang bisa membuat anak lebih baik pada masa mendatang," sebut pengajar di University of California Berkeley, Amerika Serikat, ini.
3. "Lebih baik kamu..."
Kalimat semacam ini, kata Reischer, membuat anak merasa takut. Sebab, nada kalimat yang Anda utarakan ini menyiratkan agresi dan intimidasi. Ingatlah, anak akan tumbuh dewasa dan mandiri. Jika Anda mengatakan kalimat semacam ini, anak akan terhambat untuk dapat bersikap mandiri.
"Anda malah akan mendidik anak dengan cara yang intimidatif. Pada akhirnya, ini akan mengikis kepercayaan dan rasa hormat sebagai unsur penting dalam hubungan Anda dengan anak," jelas Reischer.
Lalu, kalimat seperti apa yang dapat Anda katakan agar anak dapat bersikap lebih baik tanpa harus merusak karakternya? Reischer memandang, ada baiknya Anda fokus pada eksplisitas perilakunya. Anda dapat mengungkapkan kalimat seperti, "Ibu tidak suka sikap kamu itu," atau "Ibu tidak suka kalau kamu...," atau "Kalau kamu begini, Ibu merasa...."
"Setelah mengatakan itu, pastikan Anda memberitahunya mengapa sikapnya itu tidak baik. Kemudian, lakukanlah semacam diskusi tentang apa yang seharusnya dia lakukan lain kali," imbuh Reischer.
Nov 29, 2014
6 Perilaku Orang Tua yang Menjauhkan Anak dari Sikap Pemimpin
Liputan6.com - Sebagai orang tua, belajar untuk menjadi bijak dan menyayangi tidak selalu menjadi cara yang baik untuk melindungi buat hati. Justru, hal ini bisa menahan anak-anak untuk berkembang, mendapatkan kebebasan, dan segala potensi kepemimpinan yang dimilikinya. Dari pakar kepemimpinan, Dr. Tim Elmore, ia mengatakan bahwa saat ini banyak orang tua yang gagal menjadikan anaknya sebagai seorang memimpin.
Dr. Tim Elmore pun memberitahukan hal-hal apa yang bisa menjauhkan anak dari sifat dan sikap pemimpin di perusahaan bahkan di hidup mereka sendiri seperti yang dilansir dari Forbes.com, Kamis (20/11/2014):
1. Tidak membiarkan anak-anak mengalami resiko pengalaman orang tua
Memberikan peringatan bagi anak-anak agar tidak mengalami kesalahan yang sama seperti orang tuanya memang hal yang baik. Namun, jika terlalu sering anak-anak justru akan memberikan efek buru. Anak-anak merasa terisolasi dalam berperilaku, bahkan bisa saja menimbulkan sebuah fobia. Mereka gagal itu wajar seperti mereka memiliki pacar dan kemudian putus. Hal ini akan menimbulkan kematangan emosi di diri mereka.
2. Terlalu menyelamatkan anak-anak
Jika kita terlalu cepat menyelamatkan memanjakan anak-anak di tiap mereka mengalami sebuah masalah, kita justru menghapus kebutuhan mereka untuk memetakan dan memecahkan masalah. Cepat atau lambat, anak-anak akan terbiasa dengan orang yang menyelamatkan mereka. Jika mereka gagal, mereka akan cenderung tenang karena ada orang tua yang akan membantu. Namun, Anda tidak akan menemani mereka seumur hidup bukan?
3. Terlalu mudah mengapresiasi
Ketika orang tua terlalu mudah membanggakan sang anak, justru anak-anak akan berpikir bahwa hanya orang tua mereka sajalah mengakui kehebatan mereka. Akhirnya, anak-anak akan belajar untuk menipu, membesar-besarkan cerita dan berbohong, serta menghindari kenyataan yang sulit. Anak-anak menjadi tidak siap untuk menghadapi segala kondisi.
4. Tidak berbagi cerita mengenai kesalahan masa lalu kita
Anak-anak senang untuk mencoba hal-hal baru. Kita harus membiarkan, tetapi juga tetap mengontrol mereka. Berbagi pengalaman buruk yang pernah dialami dan bagaimana cara mengatasinya merupakan pilihan yang baik. Anak-anak akan mempersiapkan diri apabila menghadapi masalah yang sama.
5. Salah menilai kecerdasan dan bakat
Kerap kali, kecerdasan dinilai bisa menjadi tolak ukur kedewasaan anak. Hasilnya, orang tua menganggap anak cerdas adalah telah siap untuk memasuk `dunia`. Bintang Hollywood muda yang memiliki bakat luar biasa akhirnya terjebak dalam sebuah skandal publik. Anak memang harus diberikan kebebasan, tetapi mengamati dan mengontrol anak-anak tetap harus dilakukan.
6. Tidak memberikan contoh
Orang tua memiliki tanggung jawab sebagai orang yang perilaku, gaya, dan sikapnya akan dicontoh oleh anak-anak. Mereka bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakan mereka. Tampilan diri Anda apa adanya, jangan memberikan kepalsuan ketika bersama anak. Kebohongan hanya diperlukan apabila tindakan tersebut tidak baik untuk diikuti anak-anak.
Dr. Tim Elmore pun memberitahukan hal-hal apa yang bisa menjauhkan anak dari sifat dan sikap pemimpin di perusahaan bahkan di hidup mereka sendiri seperti yang dilansir dari Forbes.com, Kamis (20/11/2014):
1. Tidak membiarkan anak-anak mengalami resiko pengalaman orang tua
Memberikan peringatan bagi anak-anak agar tidak mengalami kesalahan yang sama seperti orang tuanya memang hal yang baik. Namun, jika terlalu sering anak-anak justru akan memberikan efek buru. Anak-anak merasa terisolasi dalam berperilaku, bahkan bisa saja menimbulkan sebuah fobia. Mereka gagal itu wajar seperti mereka memiliki pacar dan kemudian putus. Hal ini akan menimbulkan kematangan emosi di diri mereka.
2. Terlalu menyelamatkan anak-anak
Jika kita terlalu cepat menyelamatkan memanjakan anak-anak di tiap mereka mengalami sebuah masalah, kita justru menghapus kebutuhan mereka untuk memetakan dan memecahkan masalah. Cepat atau lambat, anak-anak akan terbiasa dengan orang yang menyelamatkan mereka. Jika mereka gagal, mereka akan cenderung tenang karena ada orang tua yang akan membantu. Namun, Anda tidak akan menemani mereka seumur hidup bukan?
3. Terlalu mudah mengapresiasi
Ketika orang tua terlalu mudah membanggakan sang anak, justru anak-anak akan berpikir bahwa hanya orang tua mereka sajalah mengakui kehebatan mereka. Akhirnya, anak-anak akan belajar untuk menipu, membesar-besarkan cerita dan berbohong, serta menghindari kenyataan yang sulit. Anak-anak menjadi tidak siap untuk menghadapi segala kondisi.
4. Tidak berbagi cerita mengenai kesalahan masa lalu kita
Anak-anak senang untuk mencoba hal-hal baru. Kita harus membiarkan, tetapi juga tetap mengontrol mereka. Berbagi pengalaman buruk yang pernah dialami dan bagaimana cara mengatasinya merupakan pilihan yang baik. Anak-anak akan mempersiapkan diri apabila menghadapi masalah yang sama.
5. Salah menilai kecerdasan dan bakat
Kerap kali, kecerdasan dinilai bisa menjadi tolak ukur kedewasaan anak. Hasilnya, orang tua menganggap anak cerdas adalah telah siap untuk memasuk `dunia`. Bintang Hollywood muda yang memiliki bakat luar biasa akhirnya terjebak dalam sebuah skandal publik. Anak memang harus diberikan kebebasan, tetapi mengamati dan mengontrol anak-anak tetap harus dilakukan.
6. Tidak memberikan contoh
Orang tua memiliki tanggung jawab sebagai orang yang perilaku, gaya, dan sikapnya akan dicontoh oleh anak-anak. Mereka bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakan mereka. Tampilan diri Anda apa adanya, jangan memberikan kepalsuan ketika bersama anak. Kebohongan hanya diperlukan apabila tindakan tersebut tidak baik untuk diikuti anak-anak.
Oct 29, 2014
5 Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Bayi Menangis Tanpa Sebab
Kompas.com - Bayi Anda sudah kenyang, sudah tidur, dan sudah mandi sekaligus wangi, lalu mengapa tak juga kunjung berhenti menangis? Jangan-jangan ada yang salah dengan perawatan yang Anda berikan.
Tenang saja, Anda jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Selama tangisan bayi tersebut tidak diikuti dengan keluhan medis yang terlihat pada fisik, maka bisa jadi bayi Anda tengah mencari perhatian. Berikut lima langkah dalam meredam tangisan tanpa sebab bayi yang baru lahir:
Berikan dot
Menurut penelitian, mengedot bisa membuat jantung bayi berdetak stabil, menenangkan perut dan kaki bayi yang bergerak serta menegang saat menangis. Disarankan untuk memberikan bayi dot atau jari Anda sendiri (pastikan dalam keadaan bersih dan steril), ini adalah cara umum untuk menghentikan tangis bayi yang pecah tanpa sebab.
Berikan pelukan dan kehangatan
Bayi yang baru lahir mengalami masa penyesuaian suhu tubuh dengan kondisi sekitar. Ini wajar terjadi, mengingat selama sembilan bulan bayi terproteksi dengan nyaman dalam kandungan ibu. Maka dari itu, saat bayi baru lahir terus menangis, padahal sudah menyusu dan tidur dengan cukup, ini tandanya mereka merasa kurang hangat atau nyaman dengan lingkungan sekitar. Disarankan untuk menyelimuti bayi dengan selimut yang tebal dan hangat agar kembali tenang. Selain itu, menimang sembari mendekapnya di dada dapat menciptakan rasa hangat dan menenangkan bayi dalam seketika.
Perdengarkan musik
Redakan tangis bayi Anda dengan menyalakan musik instrumental yang lembut, menyanyikan lagu nina bobo, dan menggendong bayi sembari ditimang-timang. Cobalah beberapa eksperimen dengan memperdengarkan sejumlah jenis musik untuk mengetahui mana yang dapat segera menenangkan bayi Anda.
Udara terbuka
Terkadang bayi menangis karena merasa bosan, maka dari itu cobalah untuk meredam jeritan tangis bayi Anda dengan cara membuka pintu kamar atau menggendongnya di udara terbuka. Saat melakukan hal itu, jangan lupa sembari bercerita mengenai lingkungan sekitar, entah langit yang berwarna biru, orang yang sedang sibuk berjalan, atau hal-hal lain yang terlihat kasatmata oleh Anda.
Pijatan
Umumnya bayi senang akan sentuhan tulus dan penuh kasih sayang dari orangtua dan saudara dekat lainnya. Anda tak perlu khawatir, apakah ini bakal membuat bayi Anda sakit atau salah urat, karena selama pijatan yang Anda berikan ringan, lembut, dan dilakukan secara perlahan, hal tersebut akan menciptakan rasa tenang pada bayi.
Tenang saja, Anda jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Selama tangisan bayi tersebut tidak diikuti dengan keluhan medis yang terlihat pada fisik, maka bisa jadi bayi Anda tengah mencari perhatian. Berikut lima langkah dalam meredam tangisan tanpa sebab bayi yang baru lahir:
Berikan dot
Menurut penelitian, mengedot bisa membuat jantung bayi berdetak stabil, menenangkan perut dan kaki bayi yang bergerak serta menegang saat menangis. Disarankan untuk memberikan bayi dot atau jari Anda sendiri (pastikan dalam keadaan bersih dan steril), ini adalah cara umum untuk menghentikan tangis bayi yang pecah tanpa sebab.
Berikan pelukan dan kehangatan
Bayi yang baru lahir mengalami masa penyesuaian suhu tubuh dengan kondisi sekitar. Ini wajar terjadi, mengingat selama sembilan bulan bayi terproteksi dengan nyaman dalam kandungan ibu. Maka dari itu, saat bayi baru lahir terus menangis, padahal sudah menyusu dan tidur dengan cukup, ini tandanya mereka merasa kurang hangat atau nyaman dengan lingkungan sekitar. Disarankan untuk menyelimuti bayi dengan selimut yang tebal dan hangat agar kembali tenang. Selain itu, menimang sembari mendekapnya di dada dapat menciptakan rasa hangat dan menenangkan bayi dalam seketika.
Perdengarkan musik
Redakan tangis bayi Anda dengan menyalakan musik instrumental yang lembut, menyanyikan lagu nina bobo, dan menggendong bayi sembari ditimang-timang. Cobalah beberapa eksperimen dengan memperdengarkan sejumlah jenis musik untuk mengetahui mana yang dapat segera menenangkan bayi Anda.
Udara terbuka
Terkadang bayi menangis karena merasa bosan, maka dari itu cobalah untuk meredam jeritan tangis bayi Anda dengan cara membuka pintu kamar atau menggendongnya di udara terbuka. Saat melakukan hal itu, jangan lupa sembari bercerita mengenai lingkungan sekitar, entah langit yang berwarna biru, orang yang sedang sibuk berjalan, atau hal-hal lain yang terlihat kasatmata oleh Anda.
Pijatan
Umumnya bayi senang akan sentuhan tulus dan penuh kasih sayang dari orangtua dan saudara dekat lainnya. Anda tak perlu khawatir, apakah ini bakal membuat bayi Anda sakit atau salah urat, karena selama pijatan yang Anda berikan ringan, lembut, dan dilakukan secara perlahan, hal tersebut akan menciptakan rasa tenang pada bayi.
May 18, 2014
Ingat 8 Hal Ini Saat Mulai Stres dengan Perilaku Balita
Kompas.com - Di usia balita, anak cenderung menjadi semakin aktif dan sering rewel. Tak jarang rengekan dan sikapnya yang tak bisa diam membuat Anda stres.
Saat balita membuat Anda merasa kehilangan kesabaran, cobalah mengingat delapan hal ini. Mudah-mudahan, kekesalan Anda langsung lenyap setelah membacanya.
1. Balita belum bisa mendisiplinkan diri sendiri
Kesenangan adalah keinginan utama dari para balita. Jadi mereka tak berkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya menuntut kedisiplinan. Butuh waktu beberapa tahun untuk melatih kedisiplinan pada si kecil.
2. Pada akhirnya mereka harus tidur
Rengekan anak di malam hari sangat mengganggu Anda. Kadang-kadang Anda memang bisa tidur selama beberapa hari, tetapi mungkin juga Anda harus terbangun tengah malam selama tiga hari berturut-turut. Tetapi, bukankah memang itu risiko punya anak? Hampir semua perempuan yang punya anak juga mengalaminya.
3. Si kecil mencintai Anda
Ulah si kecil seperti melempar boneka ke wajah Anda, atau menjambak rambut Anda mungkin memang menjengkelkan. Tapi itulah cara mereka menunjukkan rasa cinta. Terkadang mereka hanya ingin bermain atau menarik perhatian Anda.
4. Balita tidak menyimpan memori permanen
Maka dari itu apa yang Anda lakukan mungkin tak akan tersimpan selamanya di dalam memori mereka. Jadi jangan membuang waktu untuk merasa bersalah saat Anda terlihat tidak cool ketika sedang berusaha mendisiplinkannya.
5. Hal yang Anda lakukan untuk menunjukkan cinta pada anak akan berpengaruh
Kepribadian anak telah terbentuk penuh saat mereka berusia lima tahun. Karena itu konsistensi Anda saat mengasuh mereka bukannya tidak berarti apa-apa bagi mereka, meskipun kelihatannya mereka tidak menangkap maksud Anda. Tetapi bila Anda menunjukkannya dengan cinta, itu sangat berarti baginya.
6. Balita yang mudah tertawa
Jika Anda ingin tahu bagaimana rasanya menjadi stand-up comedian yang sangat lucu, tunjukkan saja lelucon ringan pada si kecil. Pasti ia akan tertawa, bahkan setiap kali Anda mengulangnya. Balita mudah sekali tertawa meskipun lelucon yang Anda berikan sangatlah basi.
7. Perilaku masa balita akan terjadi lagi di masa remaja nanti
Cara Anda membentuknya di masa balita akan menjadi cermin perilakunya di usia remaja. Karena saat itu Anda akan kembali melihat kelakuan balita seperti moody, tidak terduga apa yang akan dilakukannya, tidak tahu berterima kasih, berkeringat, dan sering sekali tidur siang.
8. Pada saatnya nanti momen ini akan berlalu
Ketika si balita mulai berulah, Anda mungkin merasa waktu yang Anda habiskan bersamanya menjadi begitu lama. Namun, beberapa tahun lagi Anda tak akan mengalaminya lagi. Tiba-tiba si kecil sudah masuk SD, dan tanpa disadari Anda merindukan masa-masa anak masih balita.
Nah, jadi jangan langsung menumpahkan kejengkelan saat si balita mulai membuat Anda stres.
Saat balita membuat Anda merasa kehilangan kesabaran, cobalah mengingat delapan hal ini. Mudah-mudahan, kekesalan Anda langsung lenyap setelah membacanya.
1. Balita belum bisa mendisiplinkan diri sendiri
Kesenangan adalah keinginan utama dari para balita. Jadi mereka tak berkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya menuntut kedisiplinan. Butuh waktu beberapa tahun untuk melatih kedisiplinan pada si kecil.
2. Pada akhirnya mereka harus tidur
Rengekan anak di malam hari sangat mengganggu Anda. Kadang-kadang Anda memang bisa tidur selama beberapa hari, tetapi mungkin juga Anda harus terbangun tengah malam selama tiga hari berturut-turut. Tetapi, bukankah memang itu risiko punya anak? Hampir semua perempuan yang punya anak juga mengalaminya.
3. Si kecil mencintai Anda
Ulah si kecil seperti melempar boneka ke wajah Anda, atau menjambak rambut Anda mungkin memang menjengkelkan. Tapi itulah cara mereka menunjukkan rasa cinta. Terkadang mereka hanya ingin bermain atau menarik perhatian Anda.
4. Balita tidak menyimpan memori permanen
Maka dari itu apa yang Anda lakukan mungkin tak akan tersimpan selamanya di dalam memori mereka. Jadi jangan membuang waktu untuk merasa bersalah saat Anda terlihat tidak cool ketika sedang berusaha mendisiplinkannya.
5. Hal yang Anda lakukan untuk menunjukkan cinta pada anak akan berpengaruh
Kepribadian anak telah terbentuk penuh saat mereka berusia lima tahun. Karena itu konsistensi Anda saat mengasuh mereka bukannya tidak berarti apa-apa bagi mereka, meskipun kelihatannya mereka tidak menangkap maksud Anda. Tetapi bila Anda menunjukkannya dengan cinta, itu sangat berarti baginya.
6. Balita yang mudah tertawa
Jika Anda ingin tahu bagaimana rasanya menjadi stand-up comedian yang sangat lucu, tunjukkan saja lelucon ringan pada si kecil. Pasti ia akan tertawa, bahkan setiap kali Anda mengulangnya. Balita mudah sekali tertawa meskipun lelucon yang Anda berikan sangatlah basi.
7. Perilaku masa balita akan terjadi lagi di masa remaja nanti
Cara Anda membentuknya di masa balita akan menjadi cermin perilakunya di usia remaja. Karena saat itu Anda akan kembali melihat kelakuan balita seperti moody, tidak terduga apa yang akan dilakukannya, tidak tahu berterima kasih, berkeringat, dan sering sekali tidur siang.
8. Pada saatnya nanti momen ini akan berlalu
Ketika si balita mulai berulah, Anda mungkin merasa waktu yang Anda habiskan bersamanya menjadi begitu lama. Namun, beberapa tahun lagi Anda tak akan mengalaminya lagi. Tiba-tiba si kecil sudah masuk SD, dan tanpa disadari Anda merindukan masa-masa anak masih balita.
Nah, jadi jangan langsung menumpahkan kejengkelan saat si balita mulai membuat Anda stres.
Mar 12, 2014
10 Sopan Santun yang Harus Diajarkan kepada Anak
Kompas.com - Tentu setiap orangtua ingin memiliki anak yang sopan dan tahu tata krama. Tugas Andalah sebagai orangtua untuk memberi contoh dan mengajarkan mereka tentang hal ini.
Sopan santun hendaknya diajarkan sejak si anak masih kecil karena mereka lebih mudah dibentuk dan lebih suka mencontoh perilaku orang di sekitar mereka, terutama orangtua. Mulailah mengajarkan dari hal sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Jangan lupa menjelaskan kepada anak alasan mengapa ia harus berlaku sopan dan menghargai orang lain sehingga mereka lebih termotivasi.
1. Menghormati orangtua dan orang yang lebih tua
Menghormati orangtua dan orang yang lebih tua adalah salah satu norma kesopanan penting yang berlaku di masyarakat. Ajarkan anak-anak untuk selalu berlaku dan berbicara sopan kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Misalnya, memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada ibu hamil atau orang lanjut usia.
2. Minta maaf
Banyak orang beranggapan bahwa meminta maaf berarti menunjukkan kelemahan. Namun, sebaliknya, minta maaf sebenarnya menunjukkan kekuatan dan kelapangan hati seseorang. Ajarkan anak-anak Anda untuk selalu minta maaf ketika ia melakukan kesalahan.
3. Table manner
Jangan anggap sepele masalah table manner. Anak-anak yang paham masalah table manner di rumah biasanya akan menjadi lebih sopan ketika mereka makan di luar rumah. Anda tak mau kan kalau saat diajak makan di restoran, anak berlarian dan memainkan alat makannya? Cara mengajarkan yang terbaik adalah memberi contoh. Jangan berharap si kecil tertib di meja makan jika orangtua selalu makan di depan televisi, misalnya.
4. Ajarkan untuk tak menjawab ulang
Terkadang saat marah Anda mungkin saja mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan kepada anak. Tak jarang anak juga menjawab balik kata-kata tersebut. Namun, sangat penting untuk mengajarkan anak bahwa hal ini tidaklah baik karena menunjukkan ketidakhormatan kepada orangtuanya.
5. Mengucapkan kata "tolong" dan "terima kasih"
Ada banyak anak yang tidak tahu bagaimana caranya meminta tolong dan juga berterima kasih. Ini sebenarnya adalah masalah kebiasaan, maka biasakan anak-anak untuk mengucapkan kata-kata ini setiap hari. Berilah contoh kepada mereka dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang sudah membantu, termasuk kepada tukang sayur langganan atau asisten rumah tangga.
6. Menghormati sesama
Ajarkan anak untuk selalu bisa memahami dan juga menghormati sesamanya. Dengan demikian anak akan tahu bahwa ia dan teman-temannya punya hak yang sama. Norma kesopanan ini akan membantu mencegah terjadinya bullying pada anak-anak.
7. Kesamaan derajat antarsesama
Ajarkan mereka untuk tidak mendiskriminasikan orang berdasarkan kekayaan, warna kulit, pekerjaan, ras, jender, atau agama. Ajarkan mereka bahwa setiap orang berhak diperlakukan sama derajatnya tanpa kecuali.
8. Perlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri
Tak ada orang yang mau memperlakukan dirinya sendiri dengan buruk. Anak harus tahu kalau mereka seharusnya memperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri. Hal ini akan membantu meningkatkan kemampuan sosialisasi si anak di lingkungannya.
9. Tak pelit pujian
Orangtua memuji ketika anaknya melakukan hal-hal terpuji dan hebat. Hal ini akan membantu anak untuk menyadari perlunya menghargai upaya seseorang. Namun, ajarkan juga untuk tidak bersikap palsu saat sedang memuji seseorang.
10. Membantu yang lemah
Di sekitar kita masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan. Misalnya, kakek atau nenek yang ingin menyeberang jalan, anak yatim piatu, dan lain-lainnya. Pastikan mengajarkan anak untuk selalu membantu yang lemah dan membutuhkan bantuan.
Sopan santun hendaknya diajarkan sejak si anak masih kecil karena mereka lebih mudah dibentuk dan lebih suka mencontoh perilaku orang di sekitar mereka, terutama orangtua. Mulailah mengajarkan dari hal sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Jangan lupa menjelaskan kepada anak alasan mengapa ia harus berlaku sopan dan menghargai orang lain sehingga mereka lebih termotivasi.
1. Menghormati orangtua dan orang yang lebih tua
Menghormati orangtua dan orang yang lebih tua adalah salah satu norma kesopanan penting yang berlaku di masyarakat. Ajarkan anak-anak untuk selalu berlaku dan berbicara sopan kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Misalnya, memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada ibu hamil atau orang lanjut usia.
2. Minta maaf
Banyak orang beranggapan bahwa meminta maaf berarti menunjukkan kelemahan. Namun, sebaliknya, minta maaf sebenarnya menunjukkan kekuatan dan kelapangan hati seseorang. Ajarkan anak-anak Anda untuk selalu minta maaf ketika ia melakukan kesalahan.
3. Table manner
Jangan anggap sepele masalah table manner. Anak-anak yang paham masalah table manner di rumah biasanya akan menjadi lebih sopan ketika mereka makan di luar rumah. Anda tak mau kan kalau saat diajak makan di restoran, anak berlarian dan memainkan alat makannya? Cara mengajarkan yang terbaik adalah memberi contoh. Jangan berharap si kecil tertib di meja makan jika orangtua selalu makan di depan televisi, misalnya.
4. Ajarkan untuk tak menjawab ulang
Terkadang saat marah Anda mungkin saja mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan kepada anak. Tak jarang anak juga menjawab balik kata-kata tersebut. Namun, sangat penting untuk mengajarkan anak bahwa hal ini tidaklah baik karena menunjukkan ketidakhormatan kepada orangtuanya.
5. Mengucapkan kata "tolong" dan "terima kasih"
Ada banyak anak yang tidak tahu bagaimana caranya meminta tolong dan juga berterima kasih. Ini sebenarnya adalah masalah kebiasaan, maka biasakan anak-anak untuk mengucapkan kata-kata ini setiap hari. Berilah contoh kepada mereka dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang sudah membantu, termasuk kepada tukang sayur langganan atau asisten rumah tangga.
6. Menghormati sesama
Ajarkan anak untuk selalu bisa memahami dan juga menghormati sesamanya. Dengan demikian anak akan tahu bahwa ia dan teman-temannya punya hak yang sama. Norma kesopanan ini akan membantu mencegah terjadinya bullying pada anak-anak.
7. Kesamaan derajat antarsesama
Ajarkan mereka untuk tidak mendiskriminasikan orang berdasarkan kekayaan, warna kulit, pekerjaan, ras, jender, atau agama. Ajarkan mereka bahwa setiap orang berhak diperlakukan sama derajatnya tanpa kecuali.
8. Perlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri
Tak ada orang yang mau memperlakukan dirinya sendiri dengan buruk. Anak harus tahu kalau mereka seharusnya memperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri. Hal ini akan membantu meningkatkan kemampuan sosialisasi si anak di lingkungannya.
9. Tak pelit pujian
Orangtua memuji ketika anaknya melakukan hal-hal terpuji dan hebat. Hal ini akan membantu anak untuk menyadari perlunya menghargai upaya seseorang. Namun, ajarkan juga untuk tidak bersikap palsu saat sedang memuji seseorang.
10. Membantu yang lemah
Di sekitar kita masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan. Misalnya, kakek atau nenek yang ingin menyeberang jalan, anak yatim piatu, dan lain-lainnya. Pastikan mengajarkan anak untuk selalu membantu yang lemah dan membutuhkan bantuan.
Mar 6, 2014
Sebelum Dua Tahun, Jangan Ajarkan Anak Bedakan Kiri Kanan
Kompas.com - Dalam budaya ketimuran termasuk di Indonesia, penggunaan tangan kanan untuk melakukan kegiatan tertentu menjadi hal yang penting. Misalnya untuk berjabat tangan, makan, dan kegiatan lainnya yang dinilai membutuhan kesopanan. Sehingga tangan kanan pun kerap dicap sebagai tangan "baik".
Sebenarnya sah-sah saja mengajari nilai tersebut pada si kecil supaya terbiasa sejak dini. Namun mengajarkan penggunaan tangan kanan pada anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya dihindari. Pasalnya hal itu akan mempengaruhi keseimbangan perkembangan otaknya.
"Sebelum dua tahun, jangan dulu ajarkan anak soal penggunaan tangan kanan dan kiri. Jika dia makan atau bersalaman dengan tangan kiri biarkan saja dulu, jangan dilarang," saran dokter spesialis anak dari Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Soedjatmiko dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, pelarangan terhadap penggunaan tangan tertentu pada anak di bawah dua tahun akan menghambat perkembangan salah satu bagian otak. Padahal untuk mendapatkan kecerdasan multipel, seluruh bagian otak anak perlu berkembang secara optimal.
Jika melarang penggunaan tangan kiri untuk meraih benda, makan, atau bersalaman, maka perkembangan otak kanan tidak optimal. Sementara perkembangan otak kiri mungkin berjalan dengan lebih baik sehingga saat dewasa anak akan lebih banyak mengunakan otak kirinya. Artinya, kreativitasnya bisa jadi kurang baik.
Kenapa sebelum dua tahun? Soedjatmiko menjelaskan, otak anak pada 1.000 hari pertama kehidupan tumbuh dan berkembang paling pesat. Sekitar 80 persen dari perkembangan otak terjadi di masa tersebut.
Seribu hari dihitung sejak konsepsi dan di dalam kandungan (270 hari) dan hingga usia dua tahun (730 hari). Itulah mengapa tidak optimalnya perkembangan otak di masa itu akan sangat mempengaruhi kemampuan anak di kemudian hari.
Untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya, Soedjatmiko menyarankan untuk memperhatikan tiga hal. Pertama, nutrisi harus lengkap dan seimbang. Kedua, tumbuh kembang anak perlu terukur setiap bulan meliputi tinggi dan berat badan, serta lingkar kepala.
Selain itu, anak juga membutuhkan pola pengasuhan yang meliputi kasih sayang dan cara mendidik yang tepat. "Jika semua itu terpenuhi maka anak mampu tumbuh menjadi orang yag cerdas, sehat, kreatif, dan berperilaku baik," pungkasnya.
Sebenarnya sah-sah saja mengajari nilai tersebut pada si kecil supaya terbiasa sejak dini. Namun mengajarkan penggunaan tangan kanan pada anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya dihindari. Pasalnya hal itu akan mempengaruhi keseimbangan perkembangan otaknya.
"Sebelum dua tahun, jangan dulu ajarkan anak soal penggunaan tangan kanan dan kiri. Jika dia makan atau bersalaman dengan tangan kiri biarkan saja dulu, jangan dilarang," saran dokter spesialis anak dari Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Soedjatmiko dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, pelarangan terhadap penggunaan tangan tertentu pada anak di bawah dua tahun akan menghambat perkembangan salah satu bagian otak. Padahal untuk mendapatkan kecerdasan multipel, seluruh bagian otak anak perlu berkembang secara optimal.
Jika melarang penggunaan tangan kiri untuk meraih benda, makan, atau bersalaman, maka perkembangan otak kanan tidak optimal. Sementara perkembangan otak kiri mungkin berjalan dengan lebih baik sehingga saat dewasa anak akan lebih banyak mengunakan otak kirinya. Artinya, kreativitasnya bisa jadi kurang baik.
Kenapa sebelum dua tahun? Soedjatmiko menjelaskan, otak anak pada 1.000 hari pertama kehidupan tumbuh dan berkembang paling pesat. Sekitar 80 persen dari perkembangan otak terjadi di masa tersebut.
Seribu hari dihitung sejak konsepsi dan di dalam kandungan (270 hari) dan hingga usia dua tahun (730 hari). Itulah mengapa tidak optimalnya perkembangan otak di masa itu akan sangat mempengaruhi kemampuan anak di kemudian hari.
Untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya, Soedjatmiko menyarankan untuk memperhatikan tiga hal. Pertama, nutrisi harus lengkap dan seimbang. Kedua, tumbuh kembang anak perlu terukur setiap bulan meliputi tinggi dan berat badan, serta lingkar kepala.
Selain itu, anak juga membutuhkan pola pengasuhan yang meliputi kasih sayang dan cara mendidik yang tepat. "Jika semua itu terpenuhi maka anak mampu tumbuh menjadi orang yag cerdas, sehat, kreatif, dan berperilaku baik," pungkasnya.
Feb 9, 2014
Aturan Membekukan dan Mencairkan ASI Perahan
Kompas.com - Air susu ibu (ASI) memiliki sejuta manfaat untuk bayi, tak hanya menyehatkan dan baik untuk perkembangan dan pertumbuhan otak, tapi juga membuat bayi lebih kuat, lincah dan semangat.
Namun dilemanya sebagai seorang ibu bekerja, pastinya Anda tak bisa setiap saat memberikan ASI segar secara langsung pada si kecil. Akhirnya, Air Susu Ibu Perahan, yaitu ASI yang disimpan dalam lemari pendingin menjadi solusi yang diterapkan oleh sejumlah ibu aktif, apakah salah satunya Anda?
ASI perahan yang dipompa dan dibekukan ini, biasanya hanya boleh digunakan hingga beberapa jam ke depan, dengan catatan cara serta tempat penyimpanannya tepat dan kondusif.
Berikut beberapa aturan menyimpan ASI yang aman, seperti dikutip dari situs MayoClinic :
Aturan wadah dan tempat menyimpan ASI
Sebelum memompa ASI, seorang ibu wajib membersihkan tangan mereka hingga benar-benar bersih dan steril. Hal lain yang tak kalah penting, ibu juga harus cermat dalam memilih tempat untuk menyimpan ASI. Pilihlah yang bermaterial dasar kaca atau plastik kedap udara. Sebelum berangkat kerja, periksa kembali tempat penyimpanan ASI, apakah masih dalam keadaan tertutup rapat atau renggang.
Ingat, jangan sekali-kali menyimpan ASI di dalam botol susu sekali pakai dan plastik yang digunakan untuk keperluan umum rumah tangga lainnya.
Aturan menempelkan label
Biasakan untuk menempelkan label yang memuat keterangan waktu kapan ASI dipompa dan disimpan. ini sangat berguna untuk mengindentifkasikan sudah berapa lama ASI berada dalam freezer. Sehingga, Anda bisa mengalkulasikan secara akurat, apakah ASI masih layak untuk dikonsumsi bayi atau tidak.
Aturan suhu dan temperatur
Sebelum membekukan ASI, ibu wajib mendinginkannya dahulu di dalam kulkas. Setelah dingin, baru pindahkan ke dalam freezer. Disarankan untuk menyimpannya di bagian paling dalam, di mana temperatur berada di suhu paling dingin. Tujuannya, supaya ASI dapat bertahan lama saat dibekukan dan tidak terkontaminasi unsur atau partikel lain yang terdapat di sekitarnya. Suhu penyimpanan dalam kulkas harus bersuhu 4 derajat celcius dan maksimum lima hari.
Aturan mencairan ASI perahan
Pilih ASI yang paling beku dan lama tersimpan, lalu satu malam sebelum ASI digunakan, pindahkan ASI dari freezer ke dalam bagian kulkas yang tidak terlalu dingin. Jika tidak merepotkan, bisa juga dengan memindahkannya ke dalam baskom berisi air hangat Sesaat sebelum diberikan kepada bayi, aduk gumpalan krim ASI yang berada di bagian atas botol dengan lembut hingga merata. Jangan sesekali mengocok botol ASI, mencairkannya dalam microwave atau dipanaskan dalam kompor. Karena menurut beberapa penelitian, proses pemanasan yang instan dapat mematikan khasiat antibodi pada ASI.
Segera berikan ASI yang telah mencair ini pada bayi Anda, waktu kadaluarsanya adalah 24 jam. Bila bersisa, segera buang karena dilarang keras untuk kembali membekukan sisa ASI perahan!
Namun dilemanya sebagai seorang ibu bekerja, pastinya Anda tak bisa setiap saat memberikan ASI segar secara langsung pada si kecil. Akhirnya, Air Susu Ibu Perahan, yaitu ASI yang disimpan dalam lemari pendingin menjadi solusi yang diterapkan oleh sejumlah ibu aktif, apakah salah satunya Anda?
ASI perahan yang dipompa dan dibekukan ini, biasanya hanya boleh digunakan hingga beberapa jam ke depan, dengan catatan cara serta tempat penyimpanannya tepat dan kondusif.
Berikut beberapa aturan menyimpan ASI yang aman, seperti dikutip dari situs MayoClinic :
Aturan wadah dan tempat menyimpan ASI
Sebelum memompa ASI, seorang ibu wajib membersihkan tangan mereka hingga benar-benar bersih dan steril. Hal lain yang tak kalah penting, ibu juga harus cermat dalam memilih tempat untuk menyimpan ASI. Pilihlah yang bermaterial dasar kaca atau plastik kedap udara. Sebelum berangkat kerja, periksa kembali tempat penyimpanan ASI, apakah masih dalam keadaan tertutup rapat atau renggang.
Ingat, jangan sekali-kali menyimpan ASI di dalam botol susu sekali pakai dan plastik yang digunakan untuk keperluan umum rumah tangga lainnya.
Aturan menempelkan label
Biasakan untuk menempelkan label yang memuat keterangan waktu kapan ASI dipompa dan disimpan. ini sangat berguna untuk mengindentifkasikan sudah berapa lama ASI berada dalam freezer. Sehingga, Anda bisa mengalkulasikan secara akurat, apakah ASI masih layak untuk dikonsumsi bayi atau tidak.
Aturan suhu dan temperatur
Sebelum membekukan ASI, ibu wajib mendinginkannya dahulu di dalam kulkas. Setelah dingin, baru pindahkan ke dalam freezer. Disarankan untuk menyimpannya di bagian paling dalam, di mana temperatur berada di suhu paling dingin. Tujuannya, supaya ASI dapat bertahan lama saat dibekukan dan tidak terkontaminasi unsur atau partikel lain yang terdapat di sekitarnya. Suhu penyimpanan dalam kulkas harus bersuhu 4 derajat celcius dan maksimum lima hari.
Aturan mencairan ASI perahan
Pilih ASI yang paling beku dan lama tersimpan, lalu satu malam sebelum ASI digunakan, pindahkan ASI dari freezer ke dalam bagian kulkas yang tidak terlalu dingin. Jika tidak merepotkan, bisa juga dengan memindahkannya ke dalam baskom berisi air hangat Sesaat sebelum diberikan kepada bayi, aduk gumpalan krim ASI yang berada di bagian atas botol dengan lembut hingga merata. Jangan sesekali mengocok botol ASI, mencairkannya dalam microwave atau dipanaskan dalam kompor. Karena menurut beberapa penelitian, proses pemanasan yang instan dapat mematikan khasiat antibodi pada ASI.
Segera berikan ASI yang telah mencair ini pada bayi Anda, waktu kadaluarsanya adalah 24 jam. Bila bersisa, segera buang karena dilarang keras untuk kembali membekukan sisa ASI perahan!
Sep 5, 2013
Agar Tak Lagi Berteriak Hadapi Anak
Kompas.com - Tak ada satupun orangtua yang ingin marah dengan menaikkan volume suaranya sampai satu oktav. Tapi, kadang ada saja kejadiannya, entah itu bikin susu tumpah, lupa bawa kotak sarapan, atau menutup pintu.
Namun sebelum teriak-teriak, coba ingat lagi, sebenarnya buat apa sih, kita sampai menaikkan volume suara? "Karena merasa tidak didengar oleh anak," ujar Eileen Kennedy-Moore, PhD, penulis buku Smart Parenting for Smart Kids.
Bisa jadi benar demikian. Tetapi, percayalah semakin kita menaikkan volume suara, makin anak tidak mendengarkan apa yang kita sampaikan. Jadi, baiknya coba terapkan 10 kebiasaan berikut ini sebagai gantinya.
1. Rencanakan semua hal dengan matang. Coba pikir-pikir lagi apa yang kerap membuat Anda marah-marah? Dan dari situ bikin atau siapkan agenda secara terencana. Bisa dari agenda anak berangkat sekolah, jadwal kursus mereka hingga acara akhir pekan.
Dr. Kennedy-Moore mengatakan kadang ketika orangtua marah-marah, itu karena dia butuh waktu persiapan lebih banyak. Jadi kenapa tidak mencoba bersiap lebih dulu sebelum meminta anak bersiap diri ke sekolah. Bagaimana caranya ketika Anda memakai maskara sementara di saat yang sama menyuruh anak juga mengurusi dirinya sendiri? Atur semua terencana, bisa dengan menempatkan post list, apa saja yang dibutuhkan anak, jadi semua lebih tertata. Misal, Rangga butuh baju olahraga tiap hari Selasa, dan daftar lainnya.
2. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Anda pernah meminta anak untuk membersihkan perlengkapan mainnya, dan semua berjalan lancar di minggu pertama, namun kemudian semua berantakan lagi di minggu berikutnya. Jangan buru-buru marah, bisa jadi karena dia masih kecil, bukannya abai atau tidak mau mendengarkan Anda.
3. Jadilah contoh atau role model. Ketika Anda berteriak-teriak, anak akan merekamnya dengan baik. Dan bayangkan, jika suatu saat, entah pada adiknya atau sesama teman di sekolah mereka akan melakukan hal yang sama. Berteriak-teriak, mengeluarkan semua kata-kata yang Anda pernah keluarkan. Jadi, coba bayangkan, Anda menyampaikan kemarahan dengan lembut, dan suatu saat dia akan berlaku sama.
4. Beri tanda. Di saat rasanya Anda akan marah-marah dengan berteriak, cobalah redam sebentar, dan bilang padanya untuk meninggalkan ruangan. Kontrol diri Anda dengan baik dan pahami bahwa jangan sampai kata-kata jelek keluar. Dengan sikap ini, anak pun belajar bahwa dirinya menaruh respect atau saling menghargai terhadap orang lain, menjaga kata-kata dan perbuatannya.
5. Alihkan dengan distraksi. Misalkan, suatu kali Anda masuk ke dapur dan melihat sepatu anak berserakaan. Seketika Anda ingin marah dan memanggilnya dengan suara setinggi mungkin. Sebelum itu cobalah alihkan pandangan ke yang lain, yang membuat Anda sedikit lebih tenang. Misalnya dengan mengambil permen mint atau melihat foto keluarga yang dipajang dekat sana. Ini bisa membantu mengontrol emosi.
6. Ingat peran Anda. Sesaat Anda akan berteriak sekencang-kencangnya, ingatlah, peran sebagai orangtua. Marah-marah tak keruan hanya akan membuat peran atau posisi Anda lebih rendah di mata anak, karena tidak bisa mengontrol diri. Bagaimanapun rasa hormat atau saling menghargai tidak timbul karena dari marah-marah.
7. Atur volume suara rendah di segala suasana. Meski dalam keadaan emosi stabil pun, cobalah untuk tidak teriak-teriak. Misalkan untuk memanggil anak, makan malam sudah siap. Tidak perlu berteriak dari ruang makan hingga kedengaran sampai kamarnya, lebih baik dekati mereka dan ingatkan dengan lembut.
8. Berpikir layaknya seorang guru. Ketika Anda memposisikan diri sebagai guru, maka beginilah kira-kira posisinya. Anda melihat kebiasaan buruk anak bukan secara personal, tapi kesempatan untuk mereka belajar sesuatu. Misal, ketika dia membiarkan sisa es krim di meja, Anda membuat diri seolah sebagai guru yang mengajarkan agar dia membuang sampah ke tempatnya. Anda menerapkan diri sebagai pengajar agar dia menjadi tahu dan berbuat baik di kemudian hari.
9. Kontak mata. Daripada Anda berteriak kencang supaya anak mau mendengarkan apa yang ingin Anda sampaikan, lebih baik ubah caranya. Dekati dia, tatap matanya dan bicara dengan lembut dan tenang. Apa yang Anda sampaikan lebih diterima dan mungkin akan diingatnya sampai beranjak dewasa.
10. Bayangkan di sekitar Anda ada orang lain. Ketika akan marah dan berniat menaikkan suara ke volume setinggi langit, coba bayangkan ada orang lain di sekitar Anda. Yang siapa tahu adalah bos, pimpinan tempat Anda bekerja, tetangga, atau teman lama. Bisa malu dan mau ditaruh dimana muka Anda kalau demikian. Jadi, lebih baik bersikap dengan baik, tenang dan elegan. Tidak ada gunanya marah-marah sampai harus teriak-teriak.
Namun sebelum teriak-teriak, coba ingat lagi, sebenarnya buat apa sih, kita sampai menaikkan volume suara? "Karena merasa tidak didengar oleh anak," ujar Eileen Kennedy-Moore, PhD, penulis buku Smart Parenting for Smart Kids.
Bisa jadi benar demikian. Tetapi, percayalah semakin kita menaikkan volume suara, makin anak tidak mendengarkan apa yang kita sampaikan. Jadi, baiknya coba terapkan 10 kebiasaan berikut ini sebagai gantinya.
1. Rencanakan semua hal dengan matang. Coba pikir-pikir lagi apa yang kerap membuat Anda marah-marah? Dan dari situ bikin atau siapkan agenda secara terencana. Bisa dari agenda anak berangkat sekolah, jadwal kursus mereka hingga acara akhir pekan.
Dr. Kennedy-Moore mengatakan kadang ketika orangtua marah-marah, itu karena dia butuh waktu persiapan lebih banyak. Jadi kenapa tidak mencoba bersiap lebih dulu sebelum meminta anak bersiap diri ke sekolah. Bagaimana caranya ketika Anda memakai maskara sementara di saat yang sama menyuruh anak juga mengurusi dirinya sendiri? Atur semua terencana, bisa dengan menempatkan post list, apa saja yang dibutuhkan anak, jadi semua lebih tertata. Misal, Rangga butuh baju olahraga tiap hari Selasa, dan daftar lainnya.
2. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Anda pernah meminta anak untuk membersihkan perlengkapan mainnya, dan semua berjalan lancar di minggu pertama, namun kemudian semua berantakan lagi di minggu berikutnya. Jangan buru-buru marah, bisa jadi karena dia masih kecil, bukannya abai atau tidak mau mendengarkan Anda.
3. Jadilah contoh atau role model. Ketika Anda berteriak-teriak, anak akan merekamnya dengan baik. Dan bayangkan, jika suatu saat, entah pada adiknya atau sesama teman di sekolah mereka akan melakukan hal yang sama. Berteriak-teriak, mengeluarkan semua kata-kata yang Anda pernah keluarkan. Jadi, coba bayangkan, Anda menyampaikan kemarahan dengan lembut, dan suatu saat dia akan berlaku sama.
4. Beri tanda. Di saat rasanya Anda akan marah-marah dengan berteriak, cobalah redam sebentar, dan bilang padanya untuk meninggalkan ruangan. Kontrol diri Anda dengan baik dan pahami bahwa jangan sampai kata-kata jelek keluar. Dengan sikap ini, anak pun belajar bahwa dirinya menaruh respect atau saling menghargai terhadap orang lain, menjaga kata-kata dan perbuatannya.
5. Alihkan dengan distraksi. Misalkan, suatu kali Anda masuk ke dapur dan melihat sepatu anak berserakaan. Seketika Anda ingin marah dan memanggilnya dengan suara setinggi mungkin. Sebelum itu cobalah alihkan pandangan ke yang lain, yang membuat Anda sedikit lebih tenang. Misalnya dengan mengambil permen mint atau melihat foto keluarga yang dipajang dekat sana. Ini bisa membantu mengontrol emosi.
6. Ingat peran Anda. Sesaat Anda akan berteriak sekencang-kencangnya, ingatlah, peran sebagai orangtua. Marah-marah tak keruan hanya akan membuat peran atau posisi Anda lebih rendah di mata anak, karena tidak bisa mengontrol diri. Bagaimanapun rasa hormat atau saling menghargai tidak timbul karena dari marah-marah.
7. Atur volume suara rendah di segala suasana. Meski dalam keadaan emosi stabil pun, cobalah untuk tidak teriak-teriak. Misalkan untuk memanggil anak, makan malam sudah siap. Tidak perlu berteriak dari ruang makan hingga kedengaran sampai kamarnya, lebih baik dekati mereka dan ingatkan dengan lembut.
8. Berpikir layaknya seorang guru. Ketika Anda memposisikan diri sebagai guru, maka beginilah kira-kira posisinya. Anda melihat kebiasaan buruk anak bukan secara personal, tapi kesempatan untuk mereka belajar sesuatu. Misal, ketika dia membiarkan sisa es krim di meja, Anda membuat diri seolah sebagai guru yang mengajarkan agar dia membuang sampah ke tempatnya. Anda menerapkan diri sebagai pengajar agar dia menjadi tahu dan berbuat baik di kemudian hari.
9. Kontak mata. Daripada Anda berteriak kencang supaya anak mau mendengarkan apa yang ingin Anda sampaikan, lebih baik ubah caranya. Dekati dia, tatap matanya dan bicara dengan lembut dan tenang. Apa yang Anda sampaikan lebih diterima dan mungkin akan diingatnya sampai beranjak dewasa.
10. Bayangkan di sekitar Anda ada orang lain. Ketika akan marah dan berniat menaikkan suara ke volume setinggi langit, coba bayangkan ada orang lain di sekitar Anda. Yang siapa tahu adalah bos, pimpinan tempat Anda bekerja, tetangga, atau teman lama. Bisa malu dan mau ditaruh dimana muka Anda kalau demikian. Jadi, lebih baik bersikap dengan baik, tenang dan elegan. Tidak ada gunanya marah-marah sampai harus teriak-teriak.
May 24, 2013
Kapan Anak Tidak Boleh Masuk Sekolah
Kompas.com - Pergantian cuaca biasanya membuat anak jadi mudah sakit. Belum ditambah dengan semakin ganasnya virus dan bakteri yang ada di luar sana. Stamina turun sedikit, anak bisa terkena batuk atau flu.
"Pada anak-anak yang masih kecil, daya tahan tubuhnya biasanya belum mampu mengenal dan melawan serangan berbagai virus," jelas Robert Key, MD, dokter keluarga pada Mayo Clinic Health System di Prairie du Chien. "Itu sebabnya, hingga mereka berusia sekitar 8 tahun, anak-anak sering pulang ke rumah dengan membawa virus yang didapatnya dari teman-temannya di sekolah. Mereka juga bisa sering sakit," lanjut Dr Key.
Sebagian orangtua menganggap penyakit anak masih dalam taraf ringan sehingga masih melepasnya ke sekolah. Namun, ada juga sebagian orangtua yang langsung melarang anaknya sekolah bila batuk sedikit. Sebenarnya, kapan saatnya kita melarang anak masuk sekolah dan kapan mereka boleh sekolah? Para ahli dari Mayo Clinic memberi sedikit tips.
"Umumnya, anak-anak harus tetap di rumah ketika mereka tidak merasa mampu untuk mengikuti aktivitas sehari-hari di sekolah dengan normal. Begitu juga bila mereka terlihat kurang berenergi untuk belajar atau bermain," kata Dr Key. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh masuk sekolah apabila mengalami:
* Muntah sebanyak dua kali atau lebih dalam kurun waktu 24 jam, atau tidak bisa menerima asupan makanan dan atau minuman normal.
* Demam dengan suhu tubuh 38,3 derajat Celcius atau lebih.
* Batuk-batuk yang parah atau sesak nafas.
* Diare yang parah dan berulang selama setidaknya satu hari.
* Rasa sakit di perut yang tidak kunjung hilang (lebih dari 2 jam).
* Luka terbuka di bagian mulut.
* Ruam pada kulit atau mata yang terlihat merah tanpa ada sebab yang jelas.
* Kondisi menular lainnya, seperti cacar air, dan lain-lain.
Jika penyakit anak terlihat lebih dari sekadar batuk-pilek biasa, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Hal paling penting yang dapat mencegah anak tertular penyakit adalah kebiasaan mencuci tangan dengan bersih. Ajari mereka untuk selalu mencuci tangan dengan sabun, setidaknya selama 15 detik, kemudian baru dibilas.
"Pada anak-anak yang masih kecil, daya tahan tubuhnya biasanya belum mampu mengenal dan melawan serangan berbagai virus," jelas Robert Key, MD, dokter keluarga pada Mayo Clinic Health System di Prairie du Chien. "Itu sebabnya, hingga mereka berusia sekitar 8 tahun, anak-anak sering pulang ke rumah dengan membawa virus yang didapatnya dari teman-temannya di sekolah. Mereka juga bisa sering sakit," lanjut Dr Key.
Sebagian orangtua menganggap penyakit anak masih dalam taraf ringan sehingga masih melepasnya ke sekolah. Namun, ada juga sebagian orangtua yang langsung melarang anaknya sekolah bila batuk sedikit. Sebenarnya, kapan saatnya kita melarang anak masuk sekolah dan kapan mereka boleh sekolah? Para ahli dari Mayo Clinic memberi sedikit tips.
"Umumnya, anak-anak harus tetap di rumah ketika mereka tidak merasa mampu untuk mengikuti aktivitas sehari-hari di sekolah dengan normal. Begitu juga bila mereka terlihat kurang berenergi untuk belajar atau bermain," kata Dr Key. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh masuk sekolah apabila mengalami:
* Muntah sebanyak dua kali atau lebih dalam kurun waktu 24 jam, atau tidak bisa menerima asupan makanan dan atau minuman normal.
* Demam dengan suhu tubuh 38,3 derajat Celcius atau lebih.
* Batuk-batuk yang parah atau sesak nafas.
* Diare yang parah dan berulang selama setidaknya satu hari.
* Rasa sakit di perut yang tidak kunjung hilang (lebih dari 2 jam).
* Luka terbuka di bagian mulut.
* Ruam pada kulit atau mata yang terlihat merah tanpa ada sebab yang jelas.
* Kondisi menular lainnya, seperti cacar air, dan lain-lain.
Jika penyakit anak terlihat lebih dari sekadar batuk-pilek biasa, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Hal paling penting yang dapat mencegah anak tertular penyakit adalah kebiasaan mencuci tangan dengan bersih. Ajari mereka untuk selalu mencuci tangan dengan sabun, setidaknya selama 15 detik, kemudian baru dibilas.
Apr 22, 2013
3 Langkah Atasi Anak Rewel
Kompas.com - Seringkali anak rewel saat dibawa jalan ke pusat perbelanjaan. Minta mainan ini dan itu, bahkan sampai menangis meraung-raung kalau tidak dikabulkan. Sebagai orangtua, tentunya Anda kerap bingung bagaimana membuat anak diam dan tidak membuat malu.
Hal yang sama juga kerap terjadi saat di keramaian, di pesta ulang tahun misalnya. Entah karena jarang hadir di antara banyak orang atau sebab lainnya, tiba-tiba sang anak menangis dan rewel. Bagaimana menyiasatinya?
Ditemui saat talkshow “Inspiring Mom and Kids” yang digelar Babyfamous di fX Sudirman, Jakarta, Sabtu (20/04/2013) lalu, psikolog Febria Indra Hastati, MPsi, CH, Cht dari Brawijaya Clinic, punya tiga kiat yang bisa dilakukan jika seandainya satu atau kedua kerewelan anak itu terjadi.
Pertama, orangtua mesti mengecek dulu kondisi fisik si anak. Apakah dia tidak sedang dalam keadaan mengantuk, apa dia tidak sedang kebelet buang air, atau apakah baju yang dikenakannya nyaman dipakai. Karena seringkali pakaian yang tidak nyaman, entah itu terlalu ketat atau kelonggaran, membuat dia rewel. Dengan mengutamakan kenyamanan kondisi fisiknya, si anak jadi lebih tenang.
Kedua, cobalah sebelum bepergian memberikan gambaran apa yang akan mereka jalani, atau siapkan mentalnya. Misalkan mau bepergian ke mall atau toko buku, kalau memang tidak ada rencana membelikan dia mainan, maka beri gambaran jelas bahwa agenda bepergian hari itu hanya untuk membeli buku. Sampaikan juga bahwa Anda akan membelikan mainan, misalnya minggu depan atau minggu berikutnya.
Begitu juga kalau ada pesta ulang tahun. Beri tahu beberapa jam sebelumnya, bagaimana kondisi saat pesta. Kalau ada kemungkinan si anak akan diminta untuk bernyanyi, maka bantu dia mempersiapkannya. Dengan begitu si anak akan merasa lebih siap dan tidak rewel saat pesta.
Kiat ketiga, cobalah beri hadiah atau reward atas sikap tenang mereka. Pemberian hadiah ini merupakan hak anak yang secara tidak langsung akan membuat mereka tahu bagaimana meresponsnya di kemudian hari.
Di luar itu, jangan terlalu sering berhenti di toko mainan. Kadang, masih saja terjadi ibu yang karena suka dengan mainan, lalu berhenti di toko tapi tidak mau membelikannya. Sama halnya Anda berhenti di toko baju atau tas, tentu tidak menyenangkan kalau hanya melihat-lihat saja. Jangan tunggu sampai mereka menangis atau meraung, baru Anda membelikannya. Lebih baik, menghindari toko mainan itu sejak semula.
Hal yang sama juga kerap terjadi saat di keramaian, di pesta ulang tahun misalnya. Entah karena jarang hadir di antara banyak orang atau sebab lainnya, tiba-tiba sang anak menangis dan rewel. Bagaimana menyiasatinya?
Ditemui saat talkshow “Inspiring Mom and Kids” yang digelar Babyfamous di fX Sudirman, Jakarta, Sabtu (20/04/2013) lalu, psikolog Febria Indra Hastati, MPsi, CH, Cht dari Brawijaya Clinic, punya tiga kiat yang bisa dilakukan jika seandainya satu atau kedua kerewelan anak itu terjadi.
Pertama, orangtua mesti mengecek dulu kondisi fisik si anak. Apakah dia tidak sedang dalam keadaan mengantuk, apa dia tidak sedang kebelet buang air, atau apakah baju yang dikenakannya nyaman dipakai. Karena seringkali pakaian yang tidak nyaman, entah itu terlalu ketat atau kelonggaran, membuat dia rewel. Dengan mengutamakan kenyamanan kondisi fisiknya, si anak jadi lebih tenang.
Kedua, cobalah sebelum bepergian memberikan gambaran apa yang akan mereka jalani, atau siapkan mentalnya. Misalkan mau bepergian ke mall atau toko buku, kalau memang tidak ada rencana membelikan dia mainan, maka beri gambaran jelas bahwa agenda bepergian hari itu hanya untuk membeli buku. Sampaikan juga bahwa Anda akan membelikan mainan, misalnya minggu depan atau minggu berikutnya.
Begitu juga kalau ada pesta ulang tahun. Beri tahu beberapa jam sebelumnya, bagaimana kondisi saat pesta. Kalau ada kemungkinan si anak akan diminta untuk bernyanyi, maka bantu dia mempersiapkannya. Dengan begitu si anak akan merasa lebih siap dan tidak rewel saat pesta.
Kiat ketiga, cobalah beri hadiah atau reward atas sikap tenang mereka. Pemberian hadiah ini merupakan hak anak yang secara tidak langsung akan membuat mereka tahu bagaimana meresponsnya di kemudian hari.
Di luar itu, jangan terlalu sering berhenti di toko mainan. Kadang, masih saja terjadi ibu yang karena suka dengan mainan, lalu berhenti di toko tapi tidak mau membelikannya. Sama halnya Anda berhenti di toko baju atau tas, tentu tidak menyenangkan kalau hanya melihat-lihat saja. Jangan tunggu sampai mereka menangis atau meraung, baru Anda membelikannya. Lebih baik, menghindari toko mainan itu sejak semula.
Mar 4, 2013
Tips Awam Agar Anak Tak Download Aplikasi Berbayar
Detik.com - Perangkat cerdas seperti smartphone dan tablet begitu mudah digunakan. Tak jarang orangtua pun sering memberikan tablet Android atau iPad agar bisa dimainkan oleh anak.
Seperti lazimnya smartphone atau piranti cerdas lain, biasanya suatu sistem operasi menyediakan aplikasi di toko online agar perangkatnya bisa dimaksimalkan. Dilema sering terjadi, kala toko online tersebut menyediakan aplikasi berbayar dan gratis.
Memang sudah sepatutnya bila anak bermain, orangtua harus mendampinginya. Tapi bagaimana bila Anak terpaksa harus bermain sendiri tanpa pengawasan dari orang dewasa?
Nah, bagaimana trik agar anak tidak berbuat 'macam-macam' seperti yang terjadi terhadap balita di Inggris yang tak sengaja menghabiskan Rp 28 juta dalam 10 menit untuk membeli aplikasi berbayar?
Berikut tips dan triknya seperti detikINET rangkum dari berbagai sumber, Jumat (1/3/2013).
1. Selalu Jaga Password Akun Toko Online
Untuk membeli aplikasi di toko online biasanya pengguna harus memasukkan kartu kredit yang dilindungi dalam password di akun. Sebisa mungkin, jangan memberikan password kepada anak Anda dan orang yang Anda kurang percaya.
Di iOS, untuk bisa men-download aplikasi baik berbayar atau free biasanya Apple akan meminta password akun iTunes Anda. Jadi di perangkat ini, orangtua bisa mengontrol dengan ketat aplikasi mana yang bisa disimpan.
Lain halnya dengan Android, pengguna tak perlu membuat akun seperti iTunes -- hanya masuk lewat Gmail. Sehingga men-download aplikasi berbayar atau malah gratis sekalipun tak perlu membutuhkan proteksi password.
Sehingga orangtua yang memberikan perangkat Android kepada anaknya, sebisa mungkin dalam pengawasan ketat.
2. Memanfaatkan Fitur & Aplikasi
Selain memproteksi dengan password, pengguna iOS bisa memanfaatkan fitur yang disebut Restrictions. Fungsinya agar anak tak bisa sembarangan men-download baik gratis ataupun berbayar.
Cara mengaktifkannya:
Setting>General>Restriction>Enable Restrictions, lalu pilih aplikasi atau fitur lain yang 'haram' digunakan.
Di Android, fitur ini memang tak ada. Namun ada dapat memanfaatkan aplikasi pihak ketiga, misalnya aplikasi Kids Safe Mode yang tersedia gratis di Google Play Store.
Nah, di Windows Phone 8 mempunyai fitur bawaan yang sejenis. Namanya Kids Corner, fungsinya adalah mengunci home screen default. Bila Anak anda membuka, yang didapatnya hanya aplikasi yang sudah diatur sebelumnya.
3. Hidupkan Airplane Mode
Bila terpaksa harus meninggalkan Anak anda bersama dengan perangkatnya. Cara yang paling mujarab untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan adalah mematikan fungsi internetnya dengan mengaktifkan Airplane Mode.
Sesuai namanya fitur ini memang dibuat untuk pengguna yang sedang di atas pesawat terbang, namun tetap ingin membuat perangkatnya menyala.
Dengan Airplane Mode ini, semua fungsi utama mulai dari telephone,SMS hingga internet akan dimatikan dan bisa dihidupkan lagi sesuai keinginan.
Seperti lazimnya smartphone atau piranti cerdas lain, biasanya suatu sistem operasi menyediakan aplikasi di toko online agar perangkatnya bisa dimaksimalkan. Dilema sering terjadi, kala toko online tersebut menyediakan aplikasi berbayar dan gratis.
Memang sudah sepatutnya bila anak bermain, orangtua harus mendampinginya. Tapi bagaimana bila Anak terpaksa harus bermain sendiri tanpa pengawasan dari orang dewasa?
Nah, bagaimana trik agar anak tidak berbuat 'macam-macam' seperti yang terjadi terhadap balita di Inggris yang tak sengaja menghabiskan Rp 28 juta dalam 10 menit untuk membeli aplikasi berbayar?
Berikut tips dan triknya seperti detikINET rangkum dari berbagai sumber, Jumat (1/3/2013).
1. Selalu Jaga Password Akun Toko Online
Untuk membeli aplikasi di toko online biasanya pengguna harus memasukkan kartu kredit yang dilindungi dalam password di akun. Sebisa mungkin, jangan memberikan password kepada anak Anda dan orang yang Anda kurang percaya.
Di iOS, untuk bisa men-download aplikasi baik berbayar atau free biasanya Apple akan meminta password akun iTunes Anda. Jadi di perangkat ini, orangtua bisa mengontrol dengan ketat aplikasi mana yang bisa disimpan.
Lain halnya dengan Android, pengguna tak perlu membuat akun seperti iTunes -- hanya masuk lewat Gmail. Sehingga men-download aplikasi berbayar atau malah gratis sekalipun tak perlu membutuhkan proteksi password.
Sehingga orangtua yang memberikan perangkat Android kepada anaknya, sebisa mungkin dalam pengawasan ketat.
2. Memanfaatkan Fitur & Aplikasi
Selain memproteksi dengan password, pengguna iOS bisa memanfaatkan fitur yang disebut Restrictions. Fungsinya agar anak tak bisa sembarangan men-download baik gratis ataupun berbayar.
Cara mengaktifkannya:
Setting>General>Restriction>Enable Restrictions, lalu pilih aplikasi atau fitur lain yang 'haram' digunakan.
Di Android, fitur ini memang tak ada. Namun ada dapat memanfaatkan aplikasi pihak ketiga, misalnya aplikasi Kids Safe Mode yang tersedia gratis di Google Play Store.
Nah, di Windows Phone 8 mempunyai fitur bawaan yang sejenis. Namanya Kids Corner, fungsinya adalah mengunci home screen default. Bila Anak anda membuka, yang didapatnya hanya aplikasi yang sudah diatur sebelumnya.
3. Hidupkan Airplane Mode
Bila terpaksa harus meninggalkan Anak anda bersama dengan perangkatnya. Cara yang paling mujarab untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan adalah mematikan fungsi internetnya dengan mengaktifkan Airplane Mode.
Sesuai namanya fitur ini memang dibuat untuk pengguna yang sedang di atas pesawat terbang, namun tetap ingin membuat perangkatnya menyala.
Dengan Airplane Mode ini, semua fungsi utama mulai dari telephone,SMS hingga internet akan dimatikan dan bisa dihidupkan lagi sesuai keinginan.
Dec 18, 2012
10 Hal yang Dibutuhkan Anak dari Orangtua
Kompas.com - Siapa sih, yang tak ingin memiliki anak yang percaya diri, merasa dicintai, dan diperlakukan dengan baik? Bukan hanya Anda, lho, yang punya kebutuhan dan menuntut kewajiban dari mereka. Anak-anak pun menginginkan 10 hal berikut ini dari Anda, agar tumbung kembangnya maksimal.
Mendengarkan
Mungkin apa yang dia ceritakan terkesan sepele. Sedangkan kondisi emosional atau kegiatan Anda mungkin sedang padat sehingga tak memungkinkan punya waktu untuk mendengarkannya. Namun, cobalah untuk tetap mendengarkan cerita anak Anda. Ini akan membuatnya merasa Anda punya ketertarikan pada ceritanya dan menghargainya.
Memuji
Memuji, meski hanya untuk hal-hal sederhana yang ia lakukan, akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Sebaliknya, mengatakan hal-hal yang secara tidak langsung meremehkan apa yang ia lakukan bisa menyurutkan semangatnya. Jadi, jangan pelit pujian kalau ia melakukan hal-hal positif.
Cinta tanpa syarat
Apa pun yang ia lakukan, ia butuh dicintai tanpa tergantung kondisi emosi yang Anda rasakan, atau hal lainnya. Dengan demikian, ia akan merasa nyaman berkomunikasi dengan Anda, bahkan ketika menceritakan kesalahan yang telah dibuatnya. Selanjutnya, Anda tinggal memberitahunya bagaimana agar ia tidak mengulangi kesalahan.
Percaya
Cobalah untuk memberikannya tanggung jawab kecil, misalnya menjaga adiknya saat Anda mencuci piring. Atau, biarkan ia melakukan hal yang diinginkannya, selama itu positif. Amati bagaimana ia melakukannya dari kejauhan. Ini akan membuatnya merasa dipercaya mampu melakukan hal penting atau tanggung jawab.
Bersenang-senang
Jangan hanya terus menuntutnya melakukan kewajibannya sebagai anak. Ia pun berhak menuntut haknya layaknya anak lain, yaitu bersenang-senang. Lupakan sejenak kesibukan Anda, tunda kegiatan lain, dan lakukan kegiatan yang menyenangkan bersamanya. Pergi ke tempat bermain, pantai, berenang, atau bahkan hanya memasak bersama Anda di rumah bisa meninggalkan kenangan manis baginya.
Minta penjelasan
Membiasakan anak untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan memang baik. Namun, lanjutkan pada langkah berikutnya, tanyakan mengapa ia meminta maaf. Terbiasa memberikan penjelasan atas hal ini akan membuat anak tidak meremehkan atau hanya mengobral kata maaf.
Bertanggung jawab
Bila memang Anda yang salah, katakan dengan jujur padanya dan mintalah maaf. Tak lupa, katakan bahwa Anda akan memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan demikian, anak belajar untuk bertanggungjawab bila melakukan kesalahan, dan tahu bahwa terkadang orangtua pun salah.
Kesempatan kedua
Mungkin ia memang melakukan kesalahan yang membuat emosi Anda memuncak, tapi ada baiknya Anda berikan kesempatan lagi padanya. Sehingga, ia berusaha memperbaiki diri dan belajar untuk lebih baik di kemudian hari.
Tak ada yang sempurna
Katakan padanya kalimat di atas. Sampaikan pula, sekeras apa pun kita berusaha untuk menyenangkan orang lain, bukan tidak mungkin tetap akan ada orang yang tidak puas pada kita. Begitu pula halnya dengan orang lain. Sebab, setiap orang unik dan berbeda. Selain itu, tak ada orang yang sempurna.
Maklum
Jangan merasa dunia kiamat hanya karena dia memecahkan keramik kesayangan Anda, atau menumpahkan makanan atau minumannya ke karpet. Alih-alih mengamuk, ajak dia untuk membersihkannya bersama. Ingat, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk Anda.
Mendengarkan
Mungkin apa yang dia ceritakan terkesan sepele. Sedangkan kondisi emosional atau kegiatan Anda mungkin sedang padat sehingga tak memungkinkan punya waktu untuk mendengarkannya. Namun, cobalah untuk tetap mendengarkan cerita anak Anda. Ini akan membuatnya merasa Anda punya ketertarikan pada ceritanya dan menghargainya.
Memuji
Memuji, meski hanya untuk hal-hal sederhana yang ia lakukan, akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Sebaliknya, mengatakan hal-hal yang secara tidak langsung meremehkan apa yang ia lakukan bisa menyurutkan semangatnya. Jadi, jangan pelit pujian kalau ia melakukan hal-hal positif.
Cinta tanpa syarat
Apa pun yang ia lakukan, ia butuh dicintai tanpa tergantung kondisi emosi yang Anda rasakan, atau hal lainnya. Dengan demikian, ia akan merasa nyaman berkomunikasi dengan Anda, bahkan ketika menceritakan kesalahan yang telah dibuatnya. Selanjutnya, Anda tinggal memberitahunya bagaimana agar ia tidak mengulangi kesalahan.
Percaya
Cobalah untuk memberikannya tanggung jawab kecil, misalnya menjaga adiknya saat Anda mencuci piring. Atau, biarkan ia melakukan hal yang diinginkannya, selama itu positif. Amati bagaimana ia melakukannya dari kejauhan. Ini akan membuatnya merasa dipercaya mampu melakukan hal penting atau tanggung jawab.
Bersenang-senang
Jangan hanya terus menuntutnya melakukan kewajibannya sebagai anak. Ia pun berhak menuntut haknya layaknya anak lain, yaitu bersenang-senang. Lupakan sejenak kesibukan Anda, tunda kegiatan lain, dan lakukan kegiatan yang menyenangkan bersamanya. Pergi ke tempat bermain, pantai, berenang, atau bahkan hanya memasak bersama Anda di rumah bisa meninggalkan kenangan manis baginya.
Minta penjelasan
Membiasakan anak untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan memang baik. Namun, lanjutkan pada langkah berikutnya, tanyakan mengapa ia meminta maaf. Terbiasa memberikan penjelasan atas hal ini akan membuat anak tidak meremehkan atau hanya mengobral kata maaf.
Bertanggung jawab
Bila memang Anda yang salah, katakan dengan jujur padanya dan mintalah maaf. Tak lupa, katakan bahwa Anda akan memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan demikian, anak belajar untuk bertanggungjawab bila melakukan kesalahan, dan tahu bahwa terkadang orangtua pun salah.
Kesempatan kedua
Mungkin ia memang melakukan kesalahan yang membuat emosi Anda memuncak, tapi ada baiknya Anda berikan kesempatan lagi padanya. Sehingga, ia berusaha memperbaiki diri dan belajar untuk lebih baik di kemudian hari.
Tak ada yang sempurna
Katakan padanya kalimat di atas. Sampaikan pula, sekeras apa pun kita berusaha untuk menyenangkan orang lain, bukan tidak mungkin tetap akan ada orang yang tidak puas pada kita. Begitu pula halnya dengan orang lain. Sebab, setiap orang unik dan berbeda. Selain itu, tak ada orang yang sempurna.
Maklum
Jangan merasa dunia kiamat hanya karena dia memecahkan keramik kesayangan Anda, atau menumpahkan makanan atau minumannya ke karpet. Alih-alih mengamuk, ajak dia untuk membersihkannya bersama. Ingat, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk Anda.
Oct 19, 2012
Jangan Sembarang Marah kepada Anak Batita
Kompas.com - Sering kali orangtua menjadi tak sabar menghadapi anak batita yang suka "membangkang". Padahal, salah penanganan, buruk dampaknya. Perlu dipahami, anak batita sedang berada pada fase negativistik dan hal ini normal dalam tumbuh kembang anak.
Yuyun Fitriah, S Psi, Kepala KB/TK Izara, mengatakan bahwa pada fase yang biasanya terjadi pada usia 2 tahun ini, anak batita mulai bisa menunjukkan penolakannya dengan cara membangkang, tidak patuh, atau memperlihatkan bahwa dirinya bisa "mandiri" melakukan sesuatu. Orangtua kadang tak sabar menghadapinya sehingga emosi pun meledak.
Dalam menghadapi perilaku anak batita yang "mengundang emosi", ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua:
* Jangan menegur anak di depan orang banyak. Meski masih batita, anak juga mempunyai rasa malu karena merasa semua mata mengarah kepadanya. Hal ini dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.
* Pertimbangkan kondisi emosi anak, apakah dia sedang good mood ataukah bad mood? Sehingga teguran yang orangtua berikan tidak menjadi beban bagi anak.
* Pertimbangkan pula, apakah hal yang akan orangtua sampaikan, baik melalui sikap maupun pembicaraan, dapat membuatnya trauma. Semestinya orangtua dapat menghindari anak dari trauma akibat ucapan atau sikap orangtuanya. Banyak orangtua yang yang tidak sadar bahwa trauma itu dapat dipendam anak dalam waktu cukup lama dan memengaruhi kehidupannya di saat dewasa.
* Dalam memberikan "hukuman" hendaknya menyesuaikan dengan apa yang sudah dikerjakannya. Jangan berlebihan melampiaskan emosi sehingga orangtua tidak memberikan respons yang tepat. Yang terpenting adalah memberikan pembelajaran kepada si anak, yang memang belum mengerti mana yang boleh dan tidak.
* Jika respons yang diberikan tidak memberi pembelajaran baginya, bahwa hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan, maka ini berarti orangtua masih terbawa emosi dan tidak memberikan solusi atas perilaku negatif anak batita. Jangan lupa, anak masih dalam kondisi banyak belajar dan melihat sekelilingnya. Ia akan melihat perilaku yang ditunjukkan orangtuanya adalah contoh perilaku yang harus diikuti.
* Usahakan memberi contoh hampir mendekati kenyataan dan selalu kembalikan kepada anak, apakah ia ingin mengalami hal serupa. Umpamanya, si kecil sering memukul, kita bisa katakan bahwa memukul itu membuat orang lain merasa sakit. Apakah kamu mau dipukul?
* Beri penjelasan dengan logika yang benar. Ketika anak tidak mau menghabiskan makanannya, misal, orangtua dapat menceritakan bagaimana di daerah lain banyak anak yang tidak bisa makan. Tentu ini dilakukan dengan bahasa yang sederhana, sesuai dengan pemahaman anak seusianya.
Yuyun Fitriah, S Psi, Kepala KB/TK Izara, mengatakan bahwa pada fase yang biasanya terjadi pada usia 2 tahun ini, anak batita mulai bisa menunjukkan penolakannya dengan cara membangkang, tidak patuh, atau memperlihatkan bahwa dirinya bisa "mandiri" melakukan sesuatu. Orangtua kadang tak sabar menghadapinya sehingga emosi pun meledak.
Dalam menghadapi perilaku anak batita yang "mengundang emosi", ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua:
* Jangan menegur anak di depan orang banyak. Meski masih batita, anak juga mempunyai rasa malu karena merasa semua mata mengarah kepadanya. Hal ini dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.
* Pertimbangkan kondisi emosi anak, apakah dia sedang good mood ataukah bad mood? Sehingga teguran yang orangtua berikan tidak menjadi beban bagi anak.
* Pertimbangkan pula, apakah hal yang akan orangtua sampaikan, baik melalui sikap maupun pembicaraan, dapat membuatnya trauma. Semestinya orangtua dapat menghindari anak dari trauma akibat ucapan atau sikap orangtuanya. Banyak orangtua yang yang tidak sadar bahwa trauma itu dapat dipendam anak dalam waktu cukup lama dan memengaruhi kehidupannya di saat dewasa.
* Dalam memberikan "hukuman" hendaknya menyesuaikan dengan apa yang sudah dikerjakannya. Jangan berlebihan melampiaskan emosi sehingga orangtua tidak memberikan respons yang tepat. Yang terpenting adalah memberikan pembelajaran kepada si anak, yang memang belum mengerti mana yang boleh dan tidak.
* Jika respons yang diberikan tidak memberi pembelajaran baginya, bahwa hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan, maka ini berarti orangtua masih terbawa emosi dan tidak memberikan solusi atas perilaku negatif anak batita. Jangan lupa, anak masih dalam kondisi banyak belajar dan melihat sekelilingnya. Ia akan melihat perilaku yang ditunjukkan orangtuanya adalah contoh perilaku yang harus diikuti.
* Usahakan memberi contoh hampir mendekati kenyataan dan selalu kembalikan kepada anak, apakah ia ingin mengalami hal serupa. Umpamanya, si kecil sering memukul, kita bisa katakan bahwa memukul itu membuat orang lain merasa sakit. Apakah kamu mau dipukul?
* Beri penjelasan dengan logika yang benar. Ketika anak tidak mau menghabiskan makanannya, misal, orangtua dapat menceritakan bagaimana di daerah lain banyak anak yang tidak bisa makan. Tentu ini dilakukan dengan bahasa yang sederhana, sesuai dengan pemahaman anak seusianya.
Sep 11, 2012
Agar Tak Susah Bujuk Anak Minum Obat
Kompas.com - Membujuk anak-anak untuk minum obat di kala sakit memang tak mudah.Sebab dalam bayangan anak, obat pasti rasanya pahit, sehingga mereka tidak suka jika harus minum obat.
"Sebenarnya tidak semua penyakit membutuhkan obat, Namun pada kondisi tertentu, misalnya demam, mereka tetap harus diberi obat agar cepat sembuh dan tidak bertambah parah," ungkap dr Atilla Dewanti, SpA, dari Brawijaya Women and Children Hospital, dalam talkshow daycare di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Untuk mempermudah anak-anak meminum obatnya, Atilla mengungkapkan beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain:
1. Beri pengertian
Tak mudah memang bicara pada anak, khususnya untuk melakukan hal-hal yang tak disukainya. Namun, Anda harus tetap berusaha agar ia mau mendengarkan Anda dan meminum obatnya. "Beri dia pengertian tentang kondisinya, dan apa yang terjadi jika ia tak meminum obatnya," jelasnya.
Hal ini dilakukan agar anak benar-benar tahu akan kondisi yang dihadapinya, dan bukan untuk menakut-nakutinya. Ketika ia tahu kondisi dan akibat tak minum obat, ia pasti akan mengikuti saran Anda untuk minum obat.
Hanya saja, pastikan untuk memberinya informasi yang tidak menakutinya. Anda cukup menjelaskan akibat negatif bila tak meminum obat ini dengan kata-kata yang lebih halus. Misalnya, sakitnya akan bertambah parah dan tidak bisa bermain bersama teman-temannya dalam waktu lama.
2. Beri contoh
Cara paling mudah untuk mengajarkan anak minum obat adalah dengan memberi contoh. "Anak-anak di atas usia satu tahun memang paling suka meniru orang lain. Maka, beri contoh padanya untuk minum obat agar ia menirunya," sarannya. Obat anak-anak memiliki dosis yang rendah, jadi bila Anda mencobanya sedikit untuk memberi contoh, Anda tak akan terkena efeknya.
3. Beri pilihan rasa obat
Obat-obatan untuk anak biasanya memiliki beberapa pilihan rasa. Misalnya, sirup obat batuk dengan rasa jeruk, strawberry, apel, dan lain-lain. Berikan kebebasan memilih rasa yang disukainya agar Anda lebih mudah untuk membujuknya minum obat.
"Sebenarnya tidak semua penyakit membutuhkan obat, Namun pada kondisi tertentu, misalnya demam, mereka tetap harus diberi obat agar cepat sembuh dan tidak bertambah parah," ungkap dr Atilla Dewanti, SpA, dari Brawijaya Women and Children Hospital, dalam talkshow daycare di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Untuk mempermudah anak-anak meminum obatnya, Atilla mengungkapkan beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain:
1. Beri pengertian
Tak mudah memang bicara pada anak, khususnya untuk melakukan hal-hal yang tak disukainya. Namun, Anda harus tetap berusaha agar ia mau mendengarkan Anda dan meminum obatnya. "Beri dia pengertian tentang kondisinya, dan apa yang terjadi jika ia tak meminum obatnya," jelasnya.
Hal ini dilakukan agar anak benar-benar tahu akan kondisi yang dihadapinya, dan bukan untuk menakut-nakutinya. Ketika ia tahu kondisi dan akibat tak minum obat, ia pasti akan mengikuti saran Anda untuk minum obat.
Hanya saja, pastikan untuk memberinya informasi yang tidak menakutinya. Anda cukup menjelaskan akibat negatif bila tak meminum obat ini dengan kata-kata yang lebih halus. Misalnya, sakitnya akan bertambah parah dan tidak bisa bermain bersama teman-temannya dalam waktu lama.
2. Beri contoh
Cara paling mudah untuk mengajarkan anak minum obat adalah dengan memberi contoh. "Anak-anak di atas usia satu tahun memang paling suka meniru orang lain. Maka, beri contoh padanya untuk minum obat agar ia menirunya," sarannya. Obat anak-anak memiliki dosis yang rendah, jadi bila Anda mencobanya sedikit untuk memberi contoh, Anda tak akan terkena efeknya.
3. Beri pilihan rasa obat
Obat-obatan untuk anak biasanya memiliki beberapa pilihan rasa. Misalnya, sirup obat batuk dengan rasa jeruk, strawberry, apel, dan lain-lain. Berikan kebebasan memilih rasa yang disukainya agar Anda lebih mudah untuk membujuknya minum obat.
Aug 24, 2012
4 Makanan Terlarang untuk Bayi
Kompas.com - Bayi yang berusia satu tahun ke atas biasanya sudah diperbolehkan untuk menyantap aneka makanan tambahan selain ASI. Namun, tidak semua jenis makanan yang dianggap bermanfaat benar-benar bisa disantapnya.
Ini beberapa di antara makanan yang sebaiknya tak diberikan kepada bayi:
1. Madu
Semua orang tahu manfaat madu bagi pertumbuhan dan kesehatan. Akan tetapi, ini hanya berlaku untuk orang dewasa. Madu dinilai kurang baik untuk bayi karena adanya kandungan spora Clostridium botulinumin di dalamnya. Spora ini akan memproduksi toksin (racun) yang akan menyebabkan terjadinya penyakit botulisme pada bayi. Penyakit ini ditandai dengan terjadinya kelumpuhan otot, sembelit, lemah, dan bahkan kematian dalam waktu 24 jam.
Pencernaan orang dewasa sudah bisa membantu menghentikan penyebaran dan perkembangannya. Namun, pencernaan bayi, khususnya yang usianya kurang dari satu tahun, belum sempurna sehingga tidak bisa menghentikan pertumbuhan spora ini.
2. Susu sapi
Kandungan protein yang tinggi dalam susu sapi membuat susu sapi ini berbahaya untuk bayi. Sistem pencernaan yang belum sempurna ini membuat bayi sulit mencerna protein. Selain itu, susu sapi juga dikhawatirkan dapat merusak ginjal bayi.
3. Jeruk
Buah-buahan memang punya banyak manfaat, hanya saja jeruk bukanlah pilihan yang tepat untuk bayi. Makanan ini tergolong berbahaya bagi bayi, terutama jika dalam satu keluarga ada yang mengidap penyakit kulit eksim. Jus jeruk atau makanan yang mengandung jeruk akan menimbulkan reaksi alergi kulit dan juga menyebabkan gangguan pencernaan.
4. Selai kacang
Selai kacang memang punya rasa yang kuat dan enak, tetapi tidak cukup baik untuk bayi. Teksturnya yang terlalu lengket menjadi masalah utamanya karena bisa membuat bayi tersedak. Selain itu, mungkin saja selai kacang menimbulkan alergi kulit.
Ini beberapa di antara makanan yang sebaiknya tak diberikan kepada bayi:
1. Madu
Semua orang tahu manfaat madu bagi pertumbuhan dan kesehatan. Akan tetapi, ini hanya berlaku untuk orang dewasa. Madu dinilai kurang baik untuk bayi karena adanya kandungan spora Clostridium botulinumin di dalamnya. Spora ini akan memproduksi toksin (racun) yang akan menyebabkan terjadinya penyakit botulisme pada bayi. Penyakit ini ditandai dengan terjadinya kelumpuhan otot, sembelit, lemah, dan bahkan kematian dalam waktu 24 jam.
Pencernaan orang dewasa sudah bisa membantu menghentikan penyebaran dan perkembangannya. Namun, pencernaan bayi, khususnya yang usianya kurang dari satu tahun, belum sempurna sehingga tidak bisa menghentikan pertumbuhan spora ini.
2. Susu sapi
Kandungan protein yang tinggi dalam susu sapi membuat susu sapi ini berbahaya untuk bayi. Sistem pencernaan yang belum sempurna ini membuat bayi sulit mencerna protein. Selain itu, susu sapi juga dikhawatirkan dapat merusak ginjal bayi.
3. Jeruk
Buah-buahan memang punya banyak manfaat, hanya saja jeruk bukanlah pilihan yang tepat untuk bayi. Makanan ini tergolong berbahaya bagi bayi, terutama jika dalam satu keluarga ada yang mengidap penyakit kulit eksim. Jus jeruk atau makanan yang mengandung jeruk akan menimbulkan reaksi alergi kulit dan juga menyebabkan gangguan pencernaan.
4. Selai kacang
Selai kacang memang punya rasa yang kuat dan enak, tetapi tidak cukup baik untuk bayi. Teksturnya yang terlalu lengket menjadi masalah utamanya karena bisa membuat bayi tersedak. Selain itu, mungkin saja selai kacang menimbulkan alergi kulit.
Jul 23, 2012
4 Hal yang Tidak Boleh Anda Katakan Pada Anak
Kompas.com - Maksud hati ingin mendidik anak supaya lebih disiplin, kuat dan bersikap baik di muka umum akan tetapi kok hasilnya selalu gagal. Sebenarnya kata-kata yang Anda pilih itu memengaruhi anak buat mematuhi Anda atau justru mengacuhkan.
1. "Jangan nangis"
Variasi kalimat yang lain: "Jangan sedih." "Jangan cengeng." "Jangan takut." Tapi anak-anak balita saat marah, takut, kesal pun menangis. Mereka tidak bisa selalu mengartikulasikan perasaan mereka dengan kata-kata. "Hal yang sangat wajar bagi orang tua ingin melindungi anak dari perasaan seperti itu," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur, Family Support Services di Mailman Segal Institute for Early Childhood Studies, Nova Southeastern University, Fort Lauderdale, AS. "Tapi mengatakan jangan tidak membuat anak merasa lebih baik, dan dapat juga mengirim pesan bahwa emosinya sesuatu yang terlarang."
Sebagai gantinya Anda bisa mengatakan, "Kamu sedih tidak diajak bermain oleh Bayu?" atau "Kamu marah mainanmu direbut?" Dengan menamai perasaan, anak Anda akan belajar memberinya kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus tanpa sadar mengajarkannya buat berempati. Pada akhirnya, dia akan menangis lebih sedikit dan menggambarkan emosinya sebagai gantinya.
2. "Coba contoh kakakmu/adikmu"
Mungkin tampak membantu jika anak Anda dapat melihat contoh nyata dari saudara kandungnya atau teman. "Rara pintar yah, bisa pake sepatu sendiri." Anak-anak berkembang dengan fasenya sendiri. Membandingkan anak Anda kepada orang lain menyiratkan bahwa Anda tak menginginkannya serta merusak kepercayaan dirinya. Sebaliknya, dorong prestasi dia saat ini: "Wow, kamu mencuci tangan sebelum makan tanpa mama minta, hebat!" Ingat membandingkan dengan saudaranya hanya akan memicu kekesalan dan membakar perasaan iri. Jangan heran kalau Anda justru dibuat pusing dengan pertengkaran mereka tiap hari.
3. "Berhenti atau mama pukul!"
Dalam mendisiplinkan anak, ancaman itu jarang efektif. Anda mengancam dengan peringatan seperti "Ayo berani ulangi lagi, Mama pukul!" Cepat atau lambat anak akan belajar bahwa ancaman itu tak pernah terjadi. Akhirnya ancaman Anda kehilangan kekuatannya. Lebih buruk lagi justru membuat Anda tambah frustasi, akhirnya malah memukul. Akan lebih efektif jika melakukan pengalihan. Caranya dengan membawa anak pergi dari situasi tersebut.
Misalnya, ia mengamuk di toko mainan karena tidak diturutin kemauannya. Daripada Anda bereaksi dengan membentak, mengancam, melotot, langsung saja ambil tindakan dengan menggendong anak Anda keluar dari toko, bawa ke tempat lain, lakukan time out setelah tenang beri pengertian. Cara ini terbukti lebih efektif.
4. "Tunggu sampai Ayah pulang!"
Pengasuhan tipe ini adalah jenis lain dari tipe mengancam. Seperti halnya mengancam, cara ini tidak efektif. Bila Anda ingin pesan Anda sampai pada anak, disiplin harus dilakukan saat itu juga, bukan nanti. Saat anak Anda berulah, bersikap tidak baik, langsung beri konsekunsinya. Disiplin yang ditunda tidak mengajarkan konsekuensi tindakan salah pada anak. Kemungkinan besar yang terjadi saat si ayah pulang, anak Anda sudah lupa kejadian yang tadi. Akibat buruk lainnya, bila ini sering Anda lakukan, Anda akan kehilangan otoritas di mata anak Anda.
1. "Jangan nangis"
Variasi kalimat yang lain: "Jangan sedih." "Jangan cengeng." "Jangan takut." Tapi anak-anak balita saat marah, takut, kesal pun menangis. Mereka tidak bisa selalu mengartikulasikan perasaan mereka dengan kata-kata. "Hal yang sangat wajar bagi orang tua ingin melindungi anak dari perasaan seperti itu," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur, Family Support Services di Mailman Segal Institute for Early Childhood Studies, Nova Southeastern University, Fort Lauderdale, AS. "Tapi mengatakan jangan tidak membuat anak merasa lebih baik, dan dapat juga mengirim pesan bahwa emosinya sesuatu yang terlarang."
Sebagai gantinya Anda bisa mengatakan, "Kamu sedih tidak diajak bermain oleh Bayu?" atau "Kamu marah mainanmu direbut?" Dengan menamai perasaan, anak Anda akan belajar memberinya kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus tanpa sadar mengajarkannya buat berempati. Pada akhirnya, dia akan menangis lebih sedikit dan menggambarkan emosinya sebagai gantinya.
2. "Coba contoh kakakmu/adikmu"
Mungkin tampak membantu jika anak Anda dapat melihat contoh nyata dari saudara kandungnya atau teman. "Rara pintar yah, bisa pake sepatu sendiri." Anak-anak berkembang dengan fasenya sendiri. Membandingkan anak Anda kepada orang lain menyiratkan bahwa Anda tak menginginkannya serta merusak kepercayaan dirinya. Sebaliknya, dorong prestasi dia saat ini: "Wow, kamu mencuci tangan sebelum makan tanpa mama minta, hebat!" Ingat membandingkan dengan saudaranya hanya akan memicu kekesalan dan membakar perasaan iri. Jangan heran kalau Anda justru dibuat pusing dengan pertengkaran mereka tiap hari.
3. "Berhenti atau mama pukul!"
Dalam mendisiplinkan anak, ancaman itu jarang efektif. Anda mengancam dengan peringatan seperti "Ayo berani ulangi lagi, Mama pukul!" Cepat atau lambat anak akan belajar bahwa ancaman itu tak pernah terjadi. Akhirnya ancaman Anda kehilangan kekuatannya. Lebih buruk lagi justru membuat Anda tambah frustasi, akhirnya malah memukul. Akan lebih efektif jika melakukan pengalihan. Caranya dengan membawa anak pergi dari situasi tersebut.
Misalnya, ia mengamuk di toko mainan karena tidak diturutin kemauannya. Daripada Anda bereaksi dengan membentak, mengancam, melotot, langsung saja ambil tindakan dengan menggendong anak Anda keluar dari toko, bawa ke tempat lain, lakukan time out setelah tenang beri pengertian. Cara ini terbukti lebih efektif.
4. "Tunggu sampai Ayah pulang!"
Pengasuhan tipe ini adalah jenis lain dari tipe mengancam. Seperti halnya mengancam, cara ini tidak efektif. Bila Anda ingin pesan Anda sampai pada anak, disiplin harus dilakukan saat itu juga, bukan nanti. Saat anak Anda berulah, bersikap tidak baik, langsung beri konsekunsinya. Disiplin yang ditunda tidak mengajarkan konsekuensi tindakan salah pada anak. Kemungkinan besar yang terjadi saat si ayah pulang, anak Anda sudah lupa kejadian yang tadi. Akibat buruk lainnya, bila ini sering Anda lakukan, Anda akan kehilangan otoritas di mata anak Anda.
Jan 31, 2012
5 Perilaku Orangtua yang Bikin Anak Stres
Kompas.com - Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka?
"Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri," tukas Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital kepada Kompas Female, saat talkshow "How to be a Healhty & Productive Career Women" di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Jumat (27/1/2012) lalu.
Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres. Berikut beberapa penyebabnya:
1. Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. "Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun," ungkapnya.
Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, "Kamu tidak boleh menangis", "Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng", atau "Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya."
Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. "Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka," tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.
2. Perilaku orangtua tidak konsisten
Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). "Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten," tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.
3. Membeda-bedakan anak
Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. "Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah," bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.
4. Labeling pada anak
Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, "Dasar kamu anak pemalas", atau "Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok", atau "Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?". Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.
5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. "Jangan main di sana", atau "Jangan dipegang-pegang!", dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata "jangan" dan "tidak" ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.
Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. "Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu," ujar Rustika.
"Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri," tukas Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital kepada Kompas Female, saat talkshow "How to be a Healhty & Productive Career Women" di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Jumat (27/1/2012) lalu.
Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres. Berikut beberapa penyebabnya:
1. Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. "Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun," ungkapnya.
Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, "Kamu tidak boleh menangis", "Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng", atau "Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya."
Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. "Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka," tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.
2. Perilaku orangtua tidak konsisten
Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). "Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten," tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.
3. Membeda-bedakan anak
Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. "Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah," bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.
4. Labeling pada anak
Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, "Dasar kamu anak pemalas", atau "Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok", atau "Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?". Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.
5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. "Jangan main di sana", atau "Jangan dipegang-pegang!", dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata "jangan" dan "tidak" ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.
Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. "Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu," ujar Rustika.
Nov 12, 2011
Mendeteksi Anak Kecanduan Pornografi
Surya.co.id - Tanda-tanda anak atau remaja yang mengalami kecanduan pornografi tidak sepenuhnya kasat mata. Para orang tua wajib mewaspadai tanda-tanda tersebut supaya dapat segera dilakukan penanganan dan pencegahan.
Menurut psikolog keluarga Elly Risman, Psi, di sela-sela acara “Mengenali dan Mengatasi Adiksi Pornografi pada Anak dan Remaja” di Universitas Paramadina, setidaknya ada delapan tanda seorang anak atau remaja yang keranjingan gambar, film atau materi berbau pornografi.
Inilah ciri-ciri anak yang sudah teradiksi: 1. Suka menyendiri 2. Bicara tidak melihat mata lawan bicara 3. Prestasi di sekolah menurun 4. Suka berbicara jorok 5. Berperilaku jorok (menarik tali bra, menyenggol dengan sengaja bagian-bagian tubuh tertentu, dll) 6. Suka berkhayal tentang pornografi 7. Banyak minum dan banyak pipis 8. Suka menonton, bila dihentikan akan mengamuk (tantrum)
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Randall F Hyde, PhD, pakar penanganan adiksi pornografi, memberikan beberapa cara mendeteksi anak atau remaja yang telah teradiksi pornografi.
“Yang pertama adalah catatan history (di komputer) menunjukkan banyak web yang berhubungan dengan pornografi,” ujarnya.
Para orang tua juga dapat menggunakan teknik yang disebut “tinta tumpah”. “Kita sengaja menumpahkan tinta di kertas dan meminta anak menyebutkan gambar apa yang tercipta melalui tumpahan tinta tersebut. Karena hal yang ia jelaskan merupakan asosiasi dari realita yang ia ketahui,” terangnya.
Cara lain adalah dengan meminta anak untuk menggambar dirinya (laki-laki atau perempuan). Randall bilang, orang tua patut curiga kalau seorang anak mampu menggambar dan menerangkan dengan baik bagian-bagian tubuh tertentu di luar pengetahuan seksual anak seusianya.
Untuk mencegah adiksi pornografi, Randall sangat menyarankan para orang tua untuk menjalin komunikasi yang lebih dekat. “Bermain merupakan cara efektif menimbulkan ikatan batin yang membuat anak terproteksi dari hal buruk,” kata Randall.
Menurut psikolog keluarga Elly Risman, Psi, di sela-sela acara “Mengenali dan Mengatasi Adiksi Pornografi pada Anak dan Remaja” di Universitas Paramadina, setidaknya ada delapan tanda seorang anak atau remaja yang keranjingan gambar, film atau materi berbau pornografi.
Inilah ciri-ciri anak yang sudah teradiksi: 1. Suka menyendiri 2. Bicara tidak melihat mata lawan bicara 3. Prestasi di sekolah menurun 4. Suka berbicara jorok 5. Berperilaku jorok (menarik tali bra, menyenggol dengan sengaja bagian-bagian tubuh tertentu, dll) 6. Suka berkhayal tentang pornografi 7. Banyak minum dan banyak pipis 8. Suka menonton, bila dihentikan akan mengamuk (tantrum)
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Randall F Hyde, PhD, pakar penanganan adiksi pornografi, memberikan beberapa cara mendeteksi anak atau remaja yang telah teradiksi pornografi.
“Yang pertama adalah catatan history (di komputer) menunjukkan banyak web yang berhubungan dengan pornografi,” ujarnya.
Para orang tua juga dapat menggunakan teknik yang disebut “tinta tumpah”. “Kita sengaja menumpahkan tinta di kertas dan meminta anak menyebutkan gambar apa yang tercipta melalui tumpahan tinta tersebut. Karena hal yang ia jelaskan merupakan asosiasi dari realita yang ia ketahui,” terangnya.
Cara lain adalah dengan meminta anak untuk menggambar dirinya (laki-laki atau perempuan). Randall bilang, orang tua patut curiga kalau seorang anak mampu menggambar dan menerangkan dengan baik bagian-bagian tubuh tertentu di luar pengetahuan seksual anak seusianya.
Untuk mencegah adiksi pornografi, Randall sangat menyarankan para orang tua untuk menjalin komunikasi yang lebih dekat. “Bermain merupakan cara efektif menimbulkan ikatan batin yang membuat anak terproteksi dari hal buruk,” kata Randall.
Subscribe to:
Posts (Atom)