Showing posts with label Palangkaraya. Show all posts
Showing posts with label Palangkaraya. Show all posts

May 30, 2014

Ada Kru Kelelahan, 14 Penumpang Lion Air Ditolak Naik ke Pesawat

Kompas.com - Empat belas penumpang Lion Air rute Palangkaraya–Jakarta sengaja ditinggal terbang oleh kru pesawat itu. Pihak dari pesawat dengan penerbangan bernomor JT 671 dengan kapasitas penumpang 215 orang itu menolak empat belas penumpang lain yang sudah boarding.

Salah seorang penumpang, Indri, mengatakan, dia bersama penumpang lainnya sudah menaiki tangga pesawat dan kemudian salah seorang pramugari meminta pintu pesawat untuk ditutup. Saat itu, dia bersama tiga belas penumpang lain tidak mendapat penjelasan dari kru dan diminta kembali ke ruang tunggu.

"Tadi kru teriak close, terus kita turun dan kembali ke ruangan. Kata teman yang di dalam pesawat banyak kru Lion ikut dan duduk di bagian belakang, harusnya mereka yang tunggu, kita kan konsumen kok dirugikan," kata Indri.

Sementara itu, Manajer Lion Air Palangkaraya, Agung, beralasan pihaknya terpaksa menurunkan kembali empat belas penumpang tersebut. Menurut Agung, tindakan itu terpaksa dilakukan karena kru yang bertugas pada rute penerbangan Palangkaraya–Jakarta yang dijadwalkan terbang pada Sabtu (24/05/2014) pukul 07.00 WIB itu lelah karena harus telah pada malam sebelumnya.

Semua kru pesawat JT 671, termasuk pilot, sebelumnya juga bertugas pada Jumat (23/5/2014) malam pada rute penerbangan Jakarta-Palangkaraya pada pukul 21.00 WIB. Penerbangan itu mengalami kendala cuaca sehingga gagal mendarat di Palangkaraya dan dialihkan ke Surabaya.

"Kru lelah karena mereka juga tugas tadi malam yang dialihkan ke Surabaya jadi harus dikembalikan ke Jakarta dulu," kata Agung.

Empat belas penumpang yang ditinggal itu kini terpaksa menunggu penerbangan selanjutnya yang dijadwalkan pada pukul 14.00 WIB.

Feb 2, 2011

Ingin Mesum, Silakan di Kawasan Legal

Kompas.com - Pemerintah Kota Palangkaraya dalam waktu dekat akan segera menertibkan kawasan yang diduga menjadi tempat prostitusi liar, seperti tempat yang berkedok panti pijat dan warung remang-remang.

"Saat ini kawasan yang diperbolehkan dan resmi untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) hanya di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 12. Apabila ada tempat prostitusi di daerah selain itu, maka sifatnya ilegal," kata Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Palangkaraya Kadarismanto di Palangkaraya, Selasa (18/1/2011).

Kawasan yang diduga kuat menjadi tempat prostitusi itu antara lain yakni tempat panti pijat di daerah Mahir Mahar dan sepanjang Jalan RTA Milono.

Selain itu, sebagian besar izin panti pijat di kawasan tersebut juga sudah habis dan tidak diperpanjang. Oleh karena itu, Satpol PP akan segera menertibkannya sesuai dengan ketentuan atau prosedur yang berlaku.

"Kawasan lokalisasi yang diperbolehkan hanya di satu tempat yakni di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 12 dengan tujuan agar ketertiban dan kenyamanan di lingkungan masyarakat tempat terjaga," ucapnya.

Pihaknya memastikan, Pemkot tidak akan membiarkan praktik prostitusi ilegal yang berkedok tempat hiburan malam seperti panti pijat.

Masyarakat juga diminta turut serta membantu memantau dan mengawasi hal tersebut karena personel pemerintah terbatas dalam jumlah pengawasan.

Selain itu, apabila ada pengusaha yang memegang izin hiburan dan pariwisata, tetapi menyalahgunakan atau memanfaatkannya menjadi tempat melayani pemuas nafsu laki-laki, izin tersebut akan dicabut.

Wakil Wali Kota Palangkaraya Maryono beberapa waktu lalu menyatakan selalu berupaya agar setiap tahun pihaknya dapat mengurangi jumlah PSK di kawasan setempat. Salah satu caranya ialah memberikan pelatihan keterampilan kepada wanita-wanita tersebut.

"Kami berharap dalam setahun sedikitnya ada 10 orang yang berhenti menjadi PSK karena sudah memiliki pekerjaan lain dengan keterampilan. Salah satu caranya adalah memberikan pelatihan keterampilan kepada para wanita tersebut," ujar Maryono.

Pihaknya mengharapkan, dengan pelatihan keterampilan tersebut bisa tercipta lapangan kerja baru bagi mereka. Ke depan, pihaknya akan lebih banyak lagi memberikan pelatihan untuk pekerja di kawasan lokalisasi.

Feb 28, 2009

Sepotong Jalan Rusia dan Impian Soekarno

Jalan aspal itu lurus dan mulus. Tak ada guncangan ketika mobil melaju kencang di atasnya. Ini berbeda dengan jalan trans- Kalimantan dari Nunukan, Kalimantan Timur, hingga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang penuh lubang dan bergelombang.

Warga setempat mengenal jalan itu sebagai Jalan Palangkaraya-Tangkiling. Namun, Gardea Samsudin (70) mengenangnya sebagai Jalan Rusia.

Samsudin, lelaki asal Bandung, Jawa Barat, adalah sedikit saksi yang tersisa dari sepotong jalan sepanjang 34 kilometer dengan lebar 6 meter yang dibangun oleh para insinyur dari Rusia—dulu The Union of Soviet Socialist Republics. Bersama puluhan warga Dayak, Samsudin dan ratusan orang Jawa lain bekerja di bawah arahan belasan insinyur Rusia. ”Saya ikut menyusun batu-batu yang menjadi fondasi jalan ini,” kata Samsudin yang kini menetap di Palangkaraya.

Tak gampang mencari saksi lain pembangunan Jalan Rusia yang mau bicara. Sabran Achmad (80), tokoh masyarakat Kalteng, menuturkan, banyak pekerja yang ikut membangun Jalan Rusia itu menyembunyikan diri. Ini tidak lepas dari politik Orde Baru yang memberi stigma hitam kepada sesuatu yang berbau Orde Lama. Dan, jalan yang dibangun oleh insinyur Rusia itu memang berasal dari era Soekarno, yang dekat dengan negara Blok Timur itu tahun 1950 hingga 1960-an.

”Jalan itu dibangun menandai pembangunan Kota Palangkaraya. Sebelumnya, jalan itu berupa hutan lebat. Pohon-pohonnya besarnya segini,” kata Sabran sambil melingkarkan kedua lengannya.

Mimpi Soekarno

Pada mulanya adalah ayunan kapak Presiden Soekarno pada sebilah kayu di Pahandut, Kampung Dayak, di jantung Kalimantan, 17 Juli 1957. Sebilah kayu yang dibelah itu menandai pembangunan kota baru yang diimpikan Soekarno. Kota baru ini kemudian diberi nama Palangkaraya yang berarti tempat suci, mulia, dan agung, yang didesain sebagai ibu kota Indonesia Raya.

Namun, mimpi Soekarno tak pernah jadi kenyataan. Palangkaraya saat ini hanyalah sebuah ibu kota Provinsi Kalteng yang gelap dan tak bergairah karena kekurangan pasokan listrik.

Dirancang sebagai ibu kota negara, awalnya Palangkaraya dibangun dengan konsep yang jelas. Ada pengelompokan fungsi bangunan yang memisahkan fungsi pemerintahan, komersial, dan permukiman. Tata kotanya dirancang dengan memadukan transportasi darat dan sungai.

Sungai Kahayan menjadi pusat orientasi di sebelah utara kota. Sebuah jalan darat dibangun di pusat kota menuju arah Sampit. Jalan itulah yang kini dikenal sebagai Jalan Rusia, ruas jalan nasional terbaik sepanjang jalan trans-Kalimantan yang dilalui Tim Jelajah Kalimantan Kompas bersama Departemen Pekerjaan Umum (PU). ”Kita tak pernah lagi membangun jalan sebaik Jalan Rusia yang masih mulus walau sudah puluhan tahun. Lihatlah, jalan-jalan lain di Kalimantan yang baru dibangun cepat sekali rusak,” kata Wibowo, staf Departemen PU anggota Regional Betterment Office VII Banjarmasin.

Menggali gambut

Sepotong jalan itu menjadi saksi kemahiran insinyur-insinyur Rusia membangun jalan di tanah yang sangat berbeda kondisinya dengan negara asal mereka. Sabran mengisahkan, semua gambut di tapak jalan dikeruk. ”Setelah gambut dikeruk, terciptalah alur seperti sungai. Lalu, alur itu diisi batu, pasir, dan tanah padat,” kata Sabran.

Pada 17 Desember 1962, pembangunan fondasi Jalan Rusia selesai. Pada tahun-tahun berikutnya, tinggal pembuatan drainase, pengerasan, dan pengaspalan. Pekerjaan yang lambat, tetapi hasilnya prima.

Namun, pembangunan jalan yang direncanakan sepanjang 175 kilometer melewati Parenggean lalu ke Sampit dan Pangkalan Bun kemudian menghubungkan Palangkaraya dengan pelabuhan-pelabuhan sungai menuju ke Jawa ini dihentikan awal tahun 1966. Ketika itu jalan yang terbangun baru 34 km.

Pergantian kekuasaan pasca-Gerakan 30 September 1965 membuat orang-orang Rusia bergegas meninggalkan Indonesia. Semua pekerja proyek menyembunyikan diri karena tak ingin disangkutpautkan dengan Rusia, Partai Komunis Indonesia, atau bahkan Soekarno.

Cerita pembangunan Jalan Rusia itu pun tamat. Segala yang berbau Rusia dihapus, termasuk ilmu pembangunan jalan yang diajarkan insinyur mereka di ruas Palangkaraya-Tangkiling. Pembangunan jalan di Kalimantan tidak pernah lagi dimulai dengan mengeruk gambut. Namun, cukup dengan fondasi berupa kayu galam yang ditancapkan di lahan gambut itu (fondasi ini dikenal sebagai cerucuk). Pembangunan jalan menjadi lebih murah dan cepat, tetapi konstruksi jalan tidak awet.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Provinsi Kalteng Ridwan Manurung menuturkan, secara teori, ruas Palangkaraya- Tangkiling yang dibangun Rusia itu yang benar. ”Saat membuka trase jalan, harus diperhatikan struktur tanah dasar, fondasi, dan lapisan penutupnya. Jika ada tanah humus, harus diganti dengan pasir, tanah padat, atau granit. Sedalam apa pun gambutnya, harus dibuang,” katanya.

Menurut Wibowo, pembangunan jalan dengan teknik Rusia itu membutuhkan biaya tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan teknik yang dilakukan dengan cerucuk, seperti yang sekarang kita buat. ”Namun, umur jalan dengan teknik Rusia itu bisa lima kali lipat dari jalan kita,” katanya.

Bangsa ini sepertinya memang suka yang instan. Cepat selesai, cepat pula hancur.