Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Apr 3, 2012

Yuk Berburu Kuliner Unik Khas Bali...

Kompas.com - Sate lilit ikan tuna, ayam betutu, sampai sambal matah merupakan beberapa dari masakan Bali. Masakan ini terkenal tak hanya sebagai menu yang diburu penggemar wisata kuliner saat bertandang ke Bali, tetapi juga dikenal sampai bisa Anda temukan di luar Pulau Bali.

Selain masakan tersebut, ada pula masakan-masakan lain yang belum terlalu tenar oleh wisatawan nusantara, namun digemari oleh penduduk lokal Bali. Mau mencoba beberapa masakan tersebut? Berikut beberapa masakan yang bisa Anda coba.

Rujak Kuah Pindang. Pindang adalah ikan, lalu rujak pastinya tentang buah. Apa hubungannya? Nah kuliner satu ini memang unik. Bayangkan segarnya buah-buah berpadu dengan asinnya kaldu ikan. Ya, itulah Rujak Kuah Pindang yang menjadi cemilan khas masyarakat Denpasar.

Buah yang dipakai biasanya kedondong, bengkuang, timun, dan buah-buah mentah lainnnya. Kaldu ikan dicampur dengan cabai dan terasi, bisa ditambahkan sedikit gula merah jika Anda tak tahan dengan rasa asinnya. Rasanya merupakan kolaborasi unik antara manis, renyahnya buah, asin, asam, dan kecut.

Ingin mencoba rasa rujak ini? Sangat mudah mencari kuliner satu ini di kawasan Badung maupun Denpasar. Salah satunya bisa di kawasan Jimbaran ataupun di Denpasar seperti sebuah warung di Jalan Bukit Tunggal.

Laklak. Kuliner satu ini adalah jajanan pasar yang legit. Bisa dibilang inilah surabi-nya Bali. Laklak menjadi kue khas Tabanan, kabupaten  di barat Bali. Namun, kue ini bisa Anda temukan hampir di seluruh Bali.

Laklak terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan periuk tanah liat. Setelah matang, ditaburi parutan kelapa dan disiram gula cair. Di Tabanan, Anda bisa mencarinya di Pasar Tabanan. Laklak nikmat dimakan sambil minum kopi.

Sudang Lepet. Sudang lepet adalah ikan asin yang merupakan makanan khas Buleleng, kabupaten di utara Bali. Ikan gepeng yang diasinkan ini cukup digoreng untuk mendapatkan tekstur yang garing nan gurih. Biasanya, ikan yang telah digoreng cukup diberi minyak kelapa, jeruk nipis, dan cabai untuk menambah kelezatan rasa.

Makan sudang lepet paling nikmat ditemani dengan jukut undis (sayur undis) dan plecing kakung, serta nasi panas. Bisa juga dengan sambal terasi atau sambal matah sebagai teman menikmati ikan asin ini. Masih agak jarang tempat makan di Bali yang menjual menu ini.

Di Buleleng, Anda bisa mencarinya di Rumah Makan Pondok Asri. Sudang lepet juga bisa Anda beli di pasar-pasar di Buleleng sebagai oleh-oleh. Cukup digoreng dan nikmati kerenyahan ikan.

Serombotan. Kuliner satu ini merupakan khas Klungkung, kabupaten di timur Bali. Seklias mirip sayur urap. Isinya kangkung, tauge, kacang panjang, bayam, dan aneka kacang.

Lalu diberi parutan kelapa dan disiram sambal pedas. Bisa dimakan juga dengan ketupat. Tertarik mencobanya? Anda bisa mencarinya di Pasar Klungkung. Bisa juga di Pasar Senggol.

Oct 23, 2011

Layanan 24 Jam Mitsubishi di Palembang dan Bali

Kompas.com - Pemilik mobil Mitsubishi di Palembang (Sumsel) dan Denpasar (Bali), tidak perlu cemas jika mengalami mogok. Tengah malam, sekalipun. Karena, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors telah membuka layanan darurat 24 jam Bengkel Siaga Mitsubishi yang merupakan salah satu dari layanan after sales service dalam program "Only in Mitsubishi", yang peresmiannya berlangsung 8 Oktober (Bali) dan 12 Oktober (Palembang).

Saat peresmian, di Kota Pempek berlangsung "free check" kendaraan Mitsubishi milik umum dan undangan. Sedang di Denpasar diramaikan oleh kehadiran komunitas Pajero Sport Surabaya dan Bali.

Program layanan 24 jam dari Mitsubishi ini sudah berjalan sejak 2002 berawal dari Jakarta. Keberadaannya memberi garansi dan layanan kepada konsumen, khususnya kendaraan penumpang yang mengalami masalah pada saat jam beroperasi dealer telah usai.

Dari Jakarta (021 470 9999), program diperluas ke Surabaya (031-7011 8999), Bandung (022-7060 3333), medan (061 7727 3333, Makassar (0411 44 55 33), Semarang (024 707 11 333), Palembang (0711 5846 333) dan Denpasar (0361 8204 333).

Layanan 24 jam menangani masalah kendaraan, baik siang maupun malam yang dilengkapi fasilitas memadai, seperti home service kit, car carrier (khusus Jakarta), service car berikut towing yang didukung tenaga mekanik yang berpengalaman. Kemudian ada mobile workshop merupakan fasilitas servis dengan menggunakan Colt Diesel yang dilengkapi peralatan servis sehingga bisa melayani perbaikan ringan.

Oct 27, 2010

Nasi Jinggo dengan Jaminan

Kompas.com - Jika Yogyakarta punya nasi kucing, Pulau Bali juga punya nasi jinggo yang terkenal bahkan hingga ke Bandung, Jawa Barat. Bedanya, nasi jinggo tidak menggunakan menu ikan, tetapi sama-sama enaknya disantap dan menjadi ikon pariwisata.

Nasi jinggo ini buatan Nyoman Ardana (50) dan istrinya, Wayan Indrawati (39), di mana sekepal nasi dibungkus daun pisang, diberi lauk mi goreng, serundeng, potongan tempe, potongan ayam pedas manis, dan sambal.

Nah, sambal ini yang terus dipertahankan meski harga cabai melambung, seperti pada bulan Juli lalu, sebab pelanggan tak menghendaki rasa pedasnya yang pas itu berubah. Gara-gara sambal pula rata-rata pelanggan makan minimal dua bungkus.

”Tiyang (saya) menjaga rasa pelanggan karena ini taruhannya. Mereka (pelanggan) yang menghidupi kami setiap hari. Jadi, seberapa pun mahalnya harga cabai dan bahan-bahan lainnya, tiyang tidak menjadikannya kendala untuk mengurangi porsi dan rasanya. Semuanya bisa disiasati tanpa harus merugi,” kata Ardana.

Tak hanya menjaga rasa, suami-istri ini pun menjaga kebersihan dapurnya. Menengok dapurnya di Gang Mertajaya, Jalan Gunung Agung, Denpasar, mulai panci atau wajan penggorengan, alat-alat lainnya, hingga lantainya bersih. Menurut mereka, kebersihan salah satu kunci keberhasilan dan kepercayaan pelanggan.

Alasannya, terkadang pelanggan datang melihat dapur pembuatannya. Jika kotor, pelanggan otomatis tak nyaman lagi menyantap nasi jinggonya. Mereka dibantu beberapa karyawan yang mulai memasak sejak pagi dan membungkus siang hari menjelang sore. Meski dibungkus pada siang hari, seluruh nasi tidak basi disantap pada malam harinya hingga esok hari. Nasi ini yang dikirim dengan pesawat masih bisa disantap oleh para pelanggan di Bandung.

Rahasianya, harus menggunakan bahan berkualitas nomor satu dalam memanjakan lidah pelanggannya hingga cara memasaknya. Bumbu-bumbunya berkualitas, termasuk daun pisang pembungkusnya pun tak sembarangan. Semuanya dipesan khusus. Uniknya, bungkusan nasi jinggo mirip topi.

Berawal dari coba-coba menjual puluhan nasi bungkus, sekitar 20 tahun lalu dengan harga Rp 50 per bungkus, kini mereka mengantongi pendapatannya bisa lebih dari Rp 10 juta per bulan dengan pesanan yang tidak hanya di Bali, tetapi sampai ke Bandung. Jika di Bali harga nasi jinggo per bungkus dijual pedagang mulai Rp 2.000 sampai Rp 4.000, di Bandung bisa dijual mulai dari Rp 5.000 per bungkus. Ardana mengaku hanya mengambil Rp 2.000 untuk satu bungkusnya, berapa pun harga yang dijual pedagang.

Nama jinggo yang kini melekat dengan nasi bungkus masakan Ardana dan istrinya ini justru berasal dari masyarakat karena mereka tidak pernah melabeli nasinya. ”Katanya, masyarakat yang pernah tiyang tanya, nasi bungkusnya ini paling murah zaman itu dan enak. Porsinya yang pas sekepalan tangan ini membuat orang pingin nambah-nambah terus. Rata-rata pembeli menyantap minimal dua bungkus,” ujar Ardana.

Ardana dan keluarga tak terbayang, nasi jinggo bakal terkenal dan menjadi ikon pariwisata Pulau Dewata. Banyak kaus oleh-oleh Bali pun menyablon gambar nasi jinggo.

Menjelang malam, Ardana dengan sepeda motor mengedarkan sendiri sejumlah keranjang berisi 500 bungkus per keranjang ini kepada pedagang. Keuntungan yang diraupnya setiap malam minimal berasal dari 2.000 bungkus yang dititipkan di beberapa pedagang kaki lima untuk para pelanggan setia.

Pedagang kaki lima ini khusus berjualan nasi jinggo yang biasanya dipadu dengan keripik kulit ayam, usus ayam goreng, atau kerupuk. Hanya saja, peredaran nasi jinggo milik Ardana di Bali masih sekitar Denpasar. Mendapatkan nasi jinggo bersemat merah muda, pembaca bisa mencari di Jalan Gajah Mada dan Jalan Setiabudi.

Memasuki tengah malam setiap harinya, ratusan nasi jinggo Ardana biasanya sudah ludes. Jika malam minggu tiba, ia bisa membungkus hingga lebih dari 3.000 bungkus. Bapak tiga anak ini pun bisa mengirim kembali menjelang tengah malam. ”Maklum, banyak anak muda yang nongkrong sampai pagi kalau liburan,” ujarnya.

Hobi makan

Ardana mengaku, pada mulanya dia meminjam modal awal dari orangtuanya. Maklum, ia belum punya pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarga. Pilihan pada bisnis makanan ini pun karena suami-istri ini punya hobi makan.

Sekarang ia lega, pilihannya meminjam uang dan memilih bisnis makanan tidak salah. Pendapatannya cukup untuk membeli rumah dan mobil. Kesuksesannya mengelola nasi jinggo pun mengantarkan anaknya bisa kuliah.

Karena sangat menghargai pelanggan, mereka menolak pesanan dadakan. Jika ingin pesan, mereka meminta untuk datang beberapa hari sebelumnya. ”Kami tidak mau mengecewakan pelanggan tetap setiap malam yang mencari nasi jinggo ini dengan memberikan kepada pemesan dadakan. Bungkusan 2.000 nasi ini tidak bisa dikurangi demi satu pelanggan mendadak ini. Kami tidak takut rugi meski pelanggan mendadak ini berani membayar mahal,” ujar Ardana.

Beberapa tahun terakhir, nasi jinggo makin populer di kalangan wisatawan mancanegara ataupun lokal. Katanya, tidak lengkap ke Bali jika belum menyempatkan diri untuk menyantap nasi jinggo. Sayangnya, nasi jinggo yang asli pertama buatan Ardana pun semakin banyak tiruannya dengan lauk dan rasa yang berbeda.

Biar calon pelanggan tidak salah membeli nasi jinggo asli dan palsu saat di Bali, cermati saja sematnya (lidi atau bambu pengunci daun) yang ada dipembungkus nasi jinggo. Jika ada semat berwarna merah, itu adalah nasi jinggo asli buatan Ardana. Sementara nasi jinggo yang mulai dijual di berbagai pinggiran jalan Pulau Dewata bersemat tanpa warna merah dan ini palsu.

”Maklum, ini bisnis makanan. Jika kita tidak mempertahankan selera pelanggan, berubah rasa sedikit saja, mereka pergi dari kita. Apalagi, persaingan mulai ketat. Jadi, kami mempertahankan apa yang sudah ada dari awal hingga sekarang,” katanya.

Aug 11, 2009

Ada Hotel Rp 1.700 per Malam di Bali

Hotel selalu identik dengan tarif yang mahal. Terlebih di Bali, pulau favorit tujuan para turis domestik maupun internasional. Tapi bagaimana rasanya jika kita menginap di hotel bertarif cuma Rp 1.700 per malam?

Sebuah slogan yang mengatakan 'harga tidak akan berbohong' tampaknya bisa diabaikan dalam urusan ini. Sebab, dengan harga tak lebih dari 4 buah kerupuk, kita bisa menginap di hotel dengan kenikmatan kasur di hotel bintang 5. Jelas, harga bisa berbohong bukan?

Hotel ini bernama Tune Hotels. Terinsipirasi dari kemurahan tarif maskapai penerbangan Air Asia, sang CEO Mark Lankaster berusaha membuat konsep hotel 'murah meriah' yang siap membuat siapa pun bisa merasakan nikmatnya tidur di hotel.

Tapi harga tersebut tentu saja dengan syarat. Seperti program promosi lainnya, kita harus sedikit bersusah payah untuk mendapatkannya. Syarat utama untuk memperoleh tarif murah tersebut adalah dengan memesan kamar sejak jauh hari.

Khusus untuk hotel di Bali, pemesanan kamar mulai dibuka pada 11 hingga 21 Agustus 2009. Sedangkan waktu promosi berlaku mulai 6 November 2009 hingga 31 Juli 2010 untuk Hotel Tune Kuta dan 15 Desember 2009 sampai 31 Juli 2010 di Hotel Tune Legian.

Booking bisa dilakukan di situs tunehotels.com mulai pukul 00.01 WIB. Sebaiknya Anda bergegas, karena penawaran tidak hanya berlaku bagi masyarakat Indonesia saja, ini juga berlaku bagi penduduk negara lain seperti Malaysia. Jumlah kamar yang tersedia pun terbatas.

"Jadi, siapa cepat dia dapat," kata Mark, Sabtu (8/8/2009).

Mark menuturkan, konsep hotel yang berusaha ia tawarkan adalah pilihan baru. Para tamu tidak diberikan fasilitas yang tidak diinginkan. Seperti yang dilakukan di Penang, Malaysia, tamu hanya diberikan fasilitas kamar berkipas angin, kasur, dan kamar mandi. Tambahan kebutuhan lainnya seperti AC, sabun, internet, bahkan untuk handuk diwajibkan untuk membayar.

"Kita juga tidak ada kolam renang, meeting room, atau fasilitas mewah lainnya, konsep hotel kami adalah hanya untuk bagi tamu yang ingin lebih banyak beraktifitas di luar dan hotel hanya untuk mandi dan tidur saja," jelasnya.

Mark mengklaim, konsep hotelya lebih ramah lingkungan. Para tamu dibuat lebih menghargai energi listrik dan pemanfaatan fasilitas seperlunya saja karena diwajibkan untuk membayar. Ia berharap, tidak ada yang menggunakan handuk seenaknya atau AC yang dinyalakan padahal tidak ada orang di kamar.

Saat ini ada sekitar 5 hotel Tune di Malaysia. Untuk Indonesia, Mark berencana membangun 20 hotel di beberapa kota besar. Dalam 5 tahun, ia bahkan sudah memprediksi ada 100 hotel yang tersebar di beberapa negara.

"Kita akan berada di manapun Air Asia terbang, supaya sama murahnya," tutup Mark.