Showing posts with label Transmisi. Show all posts
Showing posts with label Transmisi. Show all posts

Apr 30, 2013

Cara Mengendarai Mobil A/T yang Benar

Kompas.com - Mobil bertransmisi otomatis (automatic transmissions-A/T) sudah menjadi kebutuhan. Apalagi di kota besar seperti Jakarta, yang sering macet. Selain karena lebih nyaman, mengendarai mobil A/T tak jarang membuat pengendara lebih sabar menghadapi tekanan psikologis akibat diterpa kemacetan.

Meski memberi kenyamanan, belum banyak pengguna mobil bertransmisi otomatis yang paham bagaimana mengemudikan mobil A/T secara benar, agar kinerja mobil bisa optimal. Dan, kenyamanan benar-benar bisa dirasakan.

Tulisan ini khusus membahas cara mengemudikan mobil A/T sistem "konvensional" dengan empat tingkat kecepatan. Disebut "konvensional" karena aplikasi teknologinya sederhana, tidak begitu kompleks. Belum dilengkapi moda sport/power. Sensasi berkendaranya pun, tidak berbeda jauh dengan mobil bertransmisi manual.

Bedanya hanya soal berpindahan kecepatan yang berlangsung otomatis, tanpa perlu menekan pedal kopling. Pilihan moda pengoperasiannya hanya P, R, N, D, D-3 atau 3 (OD), 2, dan L.

Berikut cara pengoperasiannya:

1. P (park/parkir). Pada saat tuas transmisi otomatis berada/digeser ke posisi P, memungkinkan mesin mobil dihidupkan (run) tanpa mobil berjalan karena sistem pengunci parkir bekerja (parking lock assembly).

Pada posisi P ini, tekanan oli yang terbangun dalam transmisi, akan langsung dikembalikan ke bak penampungan. Belum bekerja menggerakkan serangkaian alat kontrol penggerak transmisi (control devices). Produsen transmisi otomatis mempertimbangkan berbagai aspek keselamatan pengendara. Misalnya, mesin mobil hanya bisa dihidupkan saat tuas ada di posisi P atau N (neutral).

Bayangkan apa jadinya, bila di semua pilihan moda transmisi, mesin mobil bisa dihidupkan. Begitu mobil distarter, langsung jalan. Sangat berbahaya. Untuk lebih aman, pada saat parkir, pastikan tuas transmisi ada di posisi P, menghindari mobil meluncur sendiri, tanpa dikehendaki.

2. R (reverse/mundur). Memungkinkan mobil berjalan mundur. Kebanyakan mobil A/T, akan terasa entakan ketika kita menggeser tuas transmisi dari posisi P ke R. Ini akibat terjadi peningkatan tekanan oli dalam sistem hidrolis dalam ruang transmisi. Peningkatan tekanan oli ini, atau yang dikenal dengan istilah booster, bertujuan meningkatkan daya cengkeram-mekanik pelat kopling dengan pelat baja dalam sistem transmisi otomatis. Tujuannya untuk menghindari slip kopling saat terjadi perpindahan torsi dari mesin ke roda penggerak.

3. N (neutral/netral). Pada saat tuas transmisi otomatis digeser ke posisi N, memungkinkan mesin mobil hidup tanpa mobil bisa berjalan. Biasanya, posisi N dipilih pada saat pengendara ingin mobil berhenti sejenak. Misalnya pada saat lampu lalu lintas menyala merah. Selain menghemat kampas rem dan kampas kopling/pelat baja, menggeser tuas ke posisi N lebih aman, mencegah mobil nyelonong tanpa dikehendaki. Posisi N juga bisa dipilih saat mobil parkir paralel. Sama saat tuas di posisi P, pada saat di posisi N, umumnya mesin mobil bisa dihidupkan.

4. D (drive). Tuas transmisi di posisi D, memungkinkan mobil berjalan/melaju dengan perpindahan kecepatan berlangsung secara otomatis, mulai dari gear 1st umumnya sampai gear 3rd (gear 3rd dengan rasio gear 1 : 1). Perpindahan kecepatan secara otomatis tanpa harus menginjak pedal kopling, layaknya mobil bertrasnamisi manual.

Pada saat tuas di posisi D, perpindahan kecepatan-otomatis akan terjadi hanya dengan menekan pedal gas. Perpindahan kecepatan terjadi seiring peningkatan kecepatan mobil yang dimonitor oleh sensor kecepatan mobil (vehicle speed sensor/VSS). Posisi tuas di D, memungkinkan kendaraan berakselerasi.

Caranya tinggal menekan pedal gas lebih dalam. Maka secara otomatis rasio gear akan turun satu tingkat. Bila semula gear rasio ada di posisi 4th, turun ke 3rd, dari 3rd turun ke 2nd, dan dari 2nd turun ke 1st. Akselerasi diperlukan saat hendak mendahului kendaraan lain atau saat akan memacu mobil lebih cepat.

Pada saat pedal gas ditekan, tegangan listrik yang diatur throttle position sensor (TPS) memberi sinyal ke sistem elektronik transmisi otomatis (transmission control unit/TCU atau powertrain control module/PCM) untuk mengalihkan tekanan oli ke posisi gear yang lebih rendah, sehingga akselerasi terjadi.

Rasio gear akan kembali meningkat, ketika laju kendaraan seperti yang dimonitor VSS mencapai kecepatan tertentu. Setiap kendaraan, rasionya berbeda-beda, diatur secara terkomputerisasi oleh TCU/PCM.

5. D-3 atau overdrive/OD. Banyak pengemudi mobil transmisi otomatis yang belum paham fungsi moda yang satu ini. Padahal, fungsinya sederhana. Pada saat tuas transmisi digeser ke posisi D-3, atau pada beberapa jenis mobil, saat tombol OD yang ada di tuas transmisi diaktifkan, memungkinkan terjadi perpindahan rasio gear dari 1st ke OD, sehingga hemat bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.

Posisi gear D-3 atau OD, juga memungkinkan membatasi perpindahan percepatan mobil maksimum pada gear 3rd. Umumnya moda D-3 atau OD terasa fungsinya ketika mobil melaju dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam.

Coba saja, geser tuas transmisi ke posisi D lalu injak pedal gas sampai mobil melaju dengan kecepatan di atas 60 km per jam. Ketika sampai di kecepatan kisaran 60 km per jam, umumnya tingkat percepatan mobil mencapai 4th. Tekan tombol OD atau geser tuas ke D-3. Maka, gear rasio akan langsung turun ke posisi 3rd, dan tertahan di 3rd (tidak mau kembali secara otomatis ke 4th), sekalipun pedal gas diinjak lebih dalam.

Moda D-3 atau OD sangat membantu saat kita hendak berakselerasi tanpa harus menginjak pedal gas lebih dalam, atau saat akan menyalip kendaraan lain. Tapi jangan lupa, setelah mobil lain terlampaui, geser kembali tuas ke posisi D atau non aktifkan kembali tombol OD.

Ada yang kerap bertanya, bagaimana sistem pengamanan dalam mobil transmisi otomatis? Bagaimana jadinya, kalau tanpa sengaja tuas transmisi yang semula di D, kesenggol dan geser ke N atau bahkan R? Jangan khawatir, produsen transmisi otomatis sudah mempertimbangkan itu.

Kalau tuas geser ke posisi yang tidak dikehendaki, maka sistem komputer transmisi otomatis mobil yang dikendalikan TCU/PCM secara otomatis akan mengeset sistem dalam moda N atau netral. Sistem dirancang untuk mencegah kehancuran transmisi otomatis.

6. Intermediate (2 atau D-2). Posisi tuas di 2, memungkinkan mencegah beroperasinya kecepatan atau gear yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ketika tuas digeser ke 2, transmisi akan bekerja secara otomatis pada gear 1st dan 2st, serta membatasi perpindahan ke gear 3rd.

Selain itu juga secara mekanis mengaktifkan compression breaking atau yang pada mobil manual acap kali disebut engine breaking. Fungsinya, saat mobil melaju diturunan, transmisi otomatis akan membantu menahan laju mobil. Harap diingat, setelah melintasi jalan normal, geser kembali tuas ke D.

Pengaktifan compression breaking yang terlalu lama, membuat oli transmisi dan transmisi cepat panas. Oli transmisi juga cepat kotor, sehingga usia pakai oli lebih singkat. Karena membatasi gear maksimum di posisi 2nd, maka sangat membantu mobil saat melaju di tanjakan yang cukup tajam dan panjang. Bisa menahan torsi mesin pada tingkat yang diinginkan.

7. L (low). Tidak jauh berbeda dengan 2, moda L bekerja untuk membatasi tingkat kecepatan kendaraan pada gear 1st. Karena bertahan di gear 1st, maka sangat efektif digunakan pada saat mobil melintasi tanjakan atau turunan terjal. Karena mobil cukup tenaganya, memungkinkan melintas di medan yang sulit sekalipun. Bila jalanan normal, jangan lupas geser lagi tuas ke D.

Memahami cara kerja dan penggunaan transmisi otomatis secara benar tidak saja mengemudikan mobil bertransmisi otomatis menjadi lebih nyaman, tetapi juga hemat bahan bakar. Selamat mencoba!

Feb 4, 2013

Punya Mobil Matik? Periksa Oli Transmisi Otomatis Secara Rutin

Detik.com - Memiliki mobil bertransmisi otomatis atau matik merupakan pilihan bagi masyarakat perkotaan di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. Dengan kondisi jalanan yang macet, berkendara menggunakan mobil matik akan jauh lebih praktis ketimbang mobil bertransmisi manual sebab pengemudi hanya menginjak pedal gas dan rem saja.

Muncul pendapat dari masyarakat kalau mobil matik perawatannya jauh lebih mahal ketimbang mobil dengan transmisi manual. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, perawatan mobil matik tidak jauh mudahnya dengan mobil manual.

Nah, buat Otolovers semua yang memiliki mobil matik hal yang harus diperhatikan yakni oli transmisi otomatis. Oli matik harus sering dicek agar mobil matik Anda tetap nyaman untuk dikendarai.

"Kalau mobil matik sebenarnya rutin periksa oli transmisi otomatisnya saja. Kalau warnanya masih merah itu masih bagus, tapi kalau sudah hitam dan bau kebakar itu berarti ada masalah dan segera untuk diganti," tutur Ismail Kepala Bengkel Hyundai di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan kepada detikOto, Kamis (27/12/2012).

Ismail menganjurkan, pemeriksaan oli transmisi otomatis juga tidak hanya berlaku untuk mobil matik yang sudah memiliki umur tapi juga untuk mobil matik baru. Takutnya volume olinya berkurang dan menimbulkan bau seperti terbakar.

Sementara itu, Adi Kurniawan, kepala mekanik bengkel Dua Barokah di kawasan Jakarta Barat juga mengatakan pengecekan oli transmisi otomatis sangatlah penting pada mobil matik.

Cara memeriksanya bisa kita lakukan sendiri dengan cara melihat tongkat pengukur (dipstick) yang berada di ruang mesin di atas perseneling (gearbox).

Pria yang akrab disapa Adi ini menyarankan kepada setiap pemilik mobil matik agar selalu mengecek oli transmisi setiap menempuh jarak 5.000 km. "Penggantiannya kalau bisa sama seperti mengganti oli mesin. Dan setiap 20.000 km dianjurkan untuk mengganti filter oli transmisi," cetusnya.

Tidak hanya itu, untuk pengguna mobil matik juga harus mengetahui tanda-tanda mulai terjadi kerusakan transmisi matik. Biasanya seperti gejala kopling selip, yang biasanya tak berimbang putaran mesin dengan mobil yang melaju.

"Biasanya mesin sudah berada di putaran tinggi tapi mobil tidak berjalan dengan laju yang seimbang," cetusnya.

Gejala lainnya seperti perpindahan gigi perseneling yang sering menghentak dan tidak halus seperti biasanya.

"Ini gampang kita coba, caranya coba masukan perseneling ke posisi D atau R, lalu rem kita lepas. Kalau mobil matik yang normal akan langsung bergerak. Tapi kalau tidak bergerak ada masalah pada transmisi otomatisnya," tutupnya.

Nov 22, 2012

Cara penggunaan Shift Lock, Berbeda Cara Satu Tujuan

Otomotifnet.com - Banyak konsumen yang telepon menanyakan kalau mau parkir paralel tapi bisa di dorong gimana caranya. Hampir setiap hari kita terima telepon seperti itu," ungkap salah satu kepala bengkel resmi salah satu brand mobil Jepang.

Pernyataan tersebut menggambarkan kalau sampai saat ini masih banyak yang belum mengenal betul tentang mobil bertransmisi otomatis (A/T) yang dibeli dan dipakainya. Terutama saat parkir secara paralel.

Parkir model ini jelas akan menghalangi mobil-mobil lainnya. Padahal mobil-mobil saat ini baru bisa lepas kunci kalau tuas transmisi berada di posisi P (Park).

Posisi tersebut membuat mobil tak bisa didorong, padahal supaya bisa didorong, transmisi harus netral dan tuas berada di N. Ketika tuas berada di posisi P, maka terdapat suatu mekanis yang mengunci gigi-gigi yang ada di dalam girboks (Gbr 1).

Nah, supaya tuas bisa dipindah dari posisi P ke N manfaatkan fitur shift lock. Pada beberapa mobil berbeda-beda cara penggunaannya. "Untuk di Nissan Juke, cukup di tekan tombol yang ada, kemudian sambil tekan tombol yang ada di gagang transmisi, pindahkan ke N (Gbr 2)," ucap Ade Haryawan, kepala bengkel Nissan Puri Kembangan, Jakbar.

Sedangkan Nissan Evalia, harus membuka karet penutupnya terlebih dahulu. Gunakan ujung anak kunci untuk mencongkelnya. Simpan dengan baik karetnya karena potensi hilang tinggi lantaran dimensinya sangat kecil. Setelah terbuka, masukkan anak kunci ke lubang tersebut sambil sedikit di tekan. Lalu, tekan tombol yang ada di gagang transmisi untuk memindahkan tuas dari P ke N.

Pada mobil-mobil Toyota, tekan tombol yang menonjol (Gbr 3). Kemudian pindahkan ke posisi N. Tak seperti Nissan, pada Toyota Avanza tidak perlu menekan tombol yang ada di tuas transmisi.

Berbeda lagi perlakukannya untuk mobil Honda. Masukkan anak kunci ke lubang yang cukup besar untuk bisa memindahkan dari posisi P ke N (Gbr.4). Setelah berada di posisi N, tarik kembali anak kunci tersebut.

Sederhana dan sangat penting, tapi terkadang dilupakan cara penggunaannya oleh pemilik mobil A/T.

Jun 18, 2012

Biaya Perawatan Transmisi Otomatis Vs Manual Mahal Belum Tentu Merugikan

Otomotifnet.com - Bicara tentang biaya perawatan transmisi otomatis, memang tak bisa dipisahkan dengan servis berkala yang mencakup penggantian cairan pelumasnya.

Sebab kinerja dan performa pada drive train atau transmisi, juga akan memengaruhi efisiensi pemakaian bahan bakar. Artinya semakin Anda rajin merawat mobil, budget yang harus dirogoh untuk perbaikan bagian penerus daya ini dapat lebih ditekan.

Untuk jangka waktu perawatan berkala transmisi matik, tak dapat disamakan dengan perlakuan pada versi manual. Sebab selain punya masa tenggat lebih panjang, biaya servis yang dibutuhkan pun tidak bisa dibilang lebih mahal.

KUALITAS PELUMAS
Lantaran transmisi otomatis sangat bertumpu pada sistem hidrolis yang membutuhkan oli sebagai media penyalur tekanannya, maka sangat disarankan untuk selalu memeriksa kualitas pelumas yang sudah terpakai.

Beda dengan transmisi jenis manual, yang membutuhkan oli hanya untuk melumasi bagian jeroan girboks agar tak lekas aus atau korosi.

Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pemilik mobil matik mesti memerhatikan dengan baik kualitas oli transmisi pada kendaraannya.

"Sebab kebersihannya harus terjaga untuk menghindari gejala abnormal seperti slip kopling, yang akan berdampak pada efisiensi pemakaian bahan bakar," saran Ibnu, kepala mekanik Auto Graha di daerah Bintaro Jaya, Tangerang.

Jika kualitas oli transmisi menurun drastis akibat jarang diganti, dapat membuat tekanan hidrolis berkurang. Kondisi ini disebabkan kotoran yang terkandung dalam pelumas yang bisa menyumbat saringan yang membuat sirkulasi oli tak lancar.

Selain itu, para pemilik mobil matik disarankan selalu mengecek kondisi ATF (Automatic Transmission Fluid), agar selalu dalam kondisi prima.

Menurut Sarto Rombe, Service Manager bengkel resmi Honda Pondok Pinang, idealnya setiap kelipatan 20 ribu km atau satu tahun sekali selalu mengecek level ketinggian oli transmisi. "Lihat tanda huruf H (Hot)-nya saja, sebagai batas maksimum pelumas dalam kondisi mesin panas. Jika level oli transmisi di bawah H sampai mendekati garis terbawah, pertanda ada kebocoran karena minimnya perawatan," beber Sarto.

Memang umumnya ongkos penggantian oli transmisi matik termasuk servis berkalanya terbilang lebih mahal dibanding versi manual. Misal pada Honda New Jazz.

Merujuk buku panduan servis berkala, penggantian oli transmisi M/T setiap 40 ribu km termasuk penggantian suku cadang sesuai ketentuan, menghabiskan dana sekitar Rp 1,3 jutaan.

Sementara New Jazz A/T, penggantian oli transmisi setiap kelipatan 60 ribu km. Total dana yang dibutuhkan termasuk biaya servis berkala sekitar Rp 1,4 jutaan.

Sama halnya Toyota Avanza. Untuk transmisi manual dengan periode ganti oli transmisi setiap kelipatan 40 ribu km, butuh total dana perawatan sekitar Rp 2 jutaan.

Sedangkan Avanza matic yang juga punya durasi penggantian oli transmisi per 40 ribu km, perlu budget sekitar Rp 2,1 jutaan.

Jika dibandingkan antara mobil matic dan manual, selisihnya tak terpaut terlalu besar. Jika dikonversikan dengan keawetan suku cadang serta efisiensi bahan bakar akibat kondisi transmisi yang bagus, bisa jadi perawatan mobil matic lebih terjangkau ketimbang yang manual.

So, enggak perlu takut lagi pakai matic, kan?

Mar 16, 2010

Kelalaian Kecil Awal dari Kerusakan Transmisi Matik

Tren penggunaan transmisi matik pada mobil di Indonesia meningkat. Pengoperasiannya pun lebih mudah ketimbang yang manual, tanpa harus menginjak pedal kopling. Kendati begitu, bukan berarti manusia tidak bisa melakukan kesalahan. Dan, perilaku salah dapat membuat usia pakai menjadi lebih singkat.

Dijelaskan oleh Ricardo Matik, spesialis transmisi matik yang berdomisili di Tangerang, bahwa kerusakan transmisi akibat kesalahan pengoperasian hanya 10 persen, terbesar 85 persen justru akibat kelalaian mengganti oli, sedangkan 5 persen akibat umur pemakaian.

Ada kelalaian-kelalaian kecil, walau tidak fatal, menjadi awal kerusakan transmisi. Seperti apa kelalaian tersebut?

  1. Tidak memindahkan tuas ke N. Saat berhenti lama di tengah kemacetan atau saat lampu merah, terkadang pengemudi terus memanteng tongkat transmisi pada posisi D. Kondisi ini membuat transmisi bekerja ekstra lantaran harus bekerja saat suplai udara segar terbatas. Jika berhentinya lebih 60 detik, segera pindahkan transmisi ke N agar pelumas tidak meningkat drastis.
  2. Tancap gas masuk ke D. Saat mengantre di lampu rambu, begitu tanda hijau menyala, kerap pengemudi langsung memindahkan tongkat ke D dan langsung menginjak pedal gas. Padahal, transmisi perlu waktu untuk melakukan proses engage dengan memindahkan tekanan fluida ke arah torque converter. Jika kebiasaan ini sering dilakukan maka katup selenoid di dalam rumah transmisi mudah rusak.
  3. Sering melakukan engine brake. Untuk memperoleh efek engine brake, boleh digunakan pada gigi rendah. Namun, perpindahan dilakukan pada saat putaran mesin di 3.000 rpm. Sebab, bila di atas itu, bisa terjadi hard friction dan akan mengurangi umur pakai kopling gesek di dalam trasmisi.
  4. Pindah posisi dari D ke R. Memindahkan tuas persneling dari D ke R (hendak parkir) perlu kecepatan tangan. Namun, bila dilakukan dengan kasar, maka transmisi konvensional dapat berakibat kerusakan pada planetary gear dan one way clutch. Sementara komponen di luar transmisi yang terpengaruh seperti cross joint pada as kopel, engine mounting dan as roda (penggerak roda depan).
  5. Menahan transmisi di gigi 1. Kebutuhan engine brake di jalanan menurun curam atau performa akselerasi di jalanan tanjakan, tentu butuh gigi 1. Tapi, sebaiknya kondisi ini dilakukan seperlunya saja dan dihindari ketika menghadapi kondisi jalan normal (rata). Sebab, beban kopling semakin berat. Apalagi bila dilanjutkan ke gigi tinggi pada transmisi otomatis konvensional yang masih menggunakan katup. Bisa membuat performa komponen per di balik akuator piston bisa bermasalah akibat tekanan berlebihan.

Dec 5, 2009

Membaca Fungsi Huruf Dan Angka Di Tuas Transmisi Matik

Kini tinggal melihat tuas transmisi di bagian tengah konsol. Biasanya terdapat huruf P, R, N, D-3, 2 dan L yang masing-masing memiliki kegunaan tersendiri. Pada generasi terdahulu, ada juga tombol O/D (Over Drive) di bagian tuas.

"Gunanya menurunkan gigi satu tingkat lebih rendah untuk mendapatkan torsi maksimal mesin," papar Didong, dari bengkel spesialis transmisi SBS Motor di Jl. Asmarandana 3, Buah Batu, Bandung.

Hanya saja generasi terbaru transmisi sekarang tidak lagi memiliki tombol ini. Gantinya yakni dengan sedikit mengeser tuas pada posisi D kearah kanan.

Pada posisi P, transmisi artinya terkunci hingga kendaraan tidak bisa dipindah-pindahkan. Ingat posisi ini berguna untuk kondisi parkir dengan waktu lama, bukan ketika berhenti di lampu lalu lintas.

Huruf R yang berguna untuk mundur. Untuk pindah ke posisi R, dari posisi N ataupun P, biasanya harus menekan tombol yang terdapat pada bagian depan atau samping tuas transmisi."Berfungsi sebagai safety agar tidak merusak gigi transmisi kalau mobil masih berjalan ke arah depan," ujar Nophedi lagi.

Posisi N artinya Netral, posisi ini berguna ketika berhenti dalam waktu tidak terlalu lama. Gunakan posisi ini ketika berhenti tak terlalu lama di lampu lalu-lintas, atau ketika terhadang kemacetan. Posisi ini juga yang digunakan kalau sampai terjadi kerusakan dan mobil harus diderek.

Berupa huruf D dan angka 3 di samping. Pada posisi D atau Drive, artinya transmisi bekerja di posisi ideal atau normal. Transmisi akan memasukan gigi sesuai dengan percepatan kendaraan, dari gigi 1 hingga gigi 4, menyesuaikan dengan beban mobil dan karakter pengemudi.

Angka 2 menandakan kerja transmisi maksimal di gigi 2. Biasanya dipakai untuk mempertahankan putaran mesin ketika melahap tanjakan curam. "Lebih efektif untuk mencapai efek engine brake pada transmisi manual," ucap Ricky kali ini. Efek lanjutannya tentu meringankan kinerja rem agar tak terlalu bekerja keras.

Pada posisi L, artinya gigi transmisi hanya bermain di gigi 1. "Namun tetap saja apabila gas terus ditekan hingga putaran mesin semakin tinggi. Transmisi akan otomatis naik ke gigi lebih tinggi untuk mencegah kerusakan mesin," lanjut mekanik yang sudah bertahun-tahun bermain matic ini.