Showing posts with label Tangerang. Show all posts
Showing posts with label Tangerang. Show all posts

Jul 23, 2015

Taksi Gelap di Bandara Soekarno-Hatta Ditertibkan Marinir

Detik.com - Setelah sukses melakukan penertiban di kereta api, Marinir kembali dimintakan bantuan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Marinir diminta Kemenhub melakukan penertiban, selama ini kondisi Bandara Soekarno-Hatta memang butuh penanganan, salah satunya saja urusan taksi gelap.

Namun, penertiban yang dilakukan Marinir atas taksi gelap ini rupanya tak disukai sekelompok orang. Hingga akhirnya beredar broadcast message via BBM soal aksi Marinir menganiaya sopir taksi gelap.

Kadispen TNI AL Kolonel Zainudin memberikan penjelasan soal insiden yang terjadi pada Jumat (17/7) itu. Menurut Zainudin, Marinir merupakan bagian dari tim Satgas setelah diminta bantuan Kemenhub.

"Pada hari Jumat, 17 Juli 2015 pukul 00.30 WIB telah terjadi keributan di terminal 2D Bandara Soetta yang dikarenakan adanya provokasi dari para sopir taksi gelap yang beroperasi disekitar terminal 2D bandara Soetta," terang Zainudin, Minggu (19/7/2015).

Berikut kronologi penertiban taksi gelap menurut Zainudin:

A. Sekitar pukul 00.10 WIB, terdapat sopir TG yang melakukan transaksi dgn WNA di lobi terminal 2D pada saat itu salah satu anggota PAM Marinir Lettu Mar Danang mengetahui hal tersebut sehingga menegur sopir TG namun teguran diabaikan bahkan cenderung melakukan perlawanan.

B. Setelah dilakukan teguran berulang-ulang namun tidak mendapat tanggapan, maka sopir TG tersebut diamankan menuju pos security terminal 2D untuk dimintai keterangan, teman-teman dari sopir TG yang mengetahui hal tersebut berusaha untuk membantu dengan cara meneriaki anggota Pam Marinir yang membawa sopir TG.

C. Setelah sampai di pos security terminal 2D tidak lama kemudian datang 3 org teman sopir TG sehingga ikut diamankan untuk selanjutnya dibawa menuju PKP-PK dengan menggunakan mobil patroli security.

D. Setibanya di PKP-PK 4 orang tersebut diberikan tindakan berupa buka baju, scotjump dan pus up sambil menanyakan siapa koordinator dari TG kemudian salah satu dari sopir TG menjawab baahw koordinatornya bernama sdr. Bintar.

E. Sekitar pukul 00.45 WIB, Pam Marinir dan anggota security Bandara Soeta melakukan sweeping (menggunakan baju preman, celana doreng) dan mendapati para sopir TG yang sedang berkumpul di depan lobi terminal 2D, kemudian anggota Pam Marinir menyampaikan bahwa koordinatornya untuk menghadap ke anggota Pam Marinir namun tidak ada yang menghadap sehingga sekitar 29 orang sopir TG yang berkumpul tersebut diamankan menuju ke PKP-PK dengan menggunakan mobil patroli security.

F. Sesampainya di PKP-PK para sopir TG yang terjaring sweeping diberikan tindakan yang sama (buka baju, pus up dan scutjump) namun ada yang menggunakan pelepah pepaya.

G. Setelah mendapatkan tindakan, seluruh sopir TG membuat surat pernyataan yang berisi "bahwa apabila masih mengulangi hal tersebut maka sopir TG bersedia menerima tindakan tegas dari petugas keamanan bandara"

H. Pada tubuh sdr.fendi terdapat beberapa luka yang diduga akibat pukulan pelepah pepaya namun diberikan pengobatan di klinik angkasa pura.

I. Sekitar pukul 03.00 WIB, seluruh sopir TG dilepaskan kembali.

J. Sekitar pukul 08.00 WIB, 2 anggota subgar mendatangi Ltt Mar Danang di PKP-PK dan hanya menanyakan kejadian terjadi pada pukul berapa? Kemudian dijawab oleh Ltt Mar Danang kejadian sekitar pukul 00.10 WIB selanjutnya anggota subga meninggalkan PKP-PK.

"Tidak ada anggota Marinir yang melakukan pemukulan dgn menggunakan besi melainkan menggunakan pelepah pepaya dan selang air. Sebelum melakukan sweeping terlebih dahulu anggota Pam Marinir melakukan koordinasi dengan pihak security dan pihak dari security bandara juga terlibat dalam giat tersebut," tutup Zainudin.

Oct 29, 2012

Mencerahkan Lidah dengan Kopi Enak...

"Graha Kopi" Bintaro, Pondok Jagung, Tangerang Selatan
Kompas.com - De gustibus non est disputandum. Selera bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Tak heran bila makanan yang dianggap enak oleh seseorang, belum tentu cocok di lidah orang lain. Dilema itulah yang dihadapi Hadi Lesmono saat pengunjung warung kopinya bertanya kopi apa yang paling enak.

Menurut Hadi Lesmono, banyak orang datang ke warung kopinya di Pasar Segar, Graha Raya, Tangerang Selatan, dengan selera kopi tertentu yang dianggap paling enak. Namun, kebanyakan dari yang datang itu ternyata baru mencicipi beberapa jenis kopi di gerai-gerai kopi terkenal dan langsung memutuskan kopi dari gerai-gerai tersebut adalah yang terenak. Lidah mereka, ibaratnya, belum tercerahkan karena baru mengerti sedikit saja rasa kopi.

Ada juga yang setia pada kopi sachet merek tertentu tanpa menelusuri bubuk apa yang ada di kantong-kantong tersebut. "Banyak yang tidak tahu apakah aroma wanginya itu buatan atau wangi kopi sesungguhnya," tutur Hadi Lesmono.

Maka setiap kali ada yang menanyakan kopi terenak, Hadi akan mempersilakan mereka memilih sendiri. Mantan bankir di sebuah bank itu akan meminta pelanggan mencium aroma kopi dalam toples-toples kaca berisi biji kopi sambil menjelaskan asal kopi itu dan rasa apa yang kira-kira akan ditemui saat lidah menyesapnya.

"Tentu masing-masing orang akan mempunyai pendapat sendiri tentang kopi terenak. Semakin banyak jenis kopi yang dicoba, seseorang akan lebih mahir merasakan kopi, dan dengan begitu akan menemukan kopi yang paling cocok dengan lidahnya," ungkap Hadi Lesmono.

Meski orang boleh fanatik dengan kopi tertentu, Hadi menyarankan agar pelanggannya tidak hanya meminum satu jenis kopi. "Banyak sekali kopi yang enak. Masing-masing kopi memiliki aroma dan rasa khas. Rugi kalau hanya terpaku pada satu macam kopi," katanya.

Di warungnya, Hadi mengoleksi beberapa kopi terbaik dari seluruh Indonesia. Kopi-kopi itu ia pilih dari kebun-kebun tertentu dan bukan campuran dari berbagai biji kopi. "Kopi-kopi kita itu rasanya 'tebal', flavour-nya beda-beda. Saya biasanya mengambil yang enak saja dari berbagai kebun," katanya.

Sebagai contoh, saat memilih kopi arabika dari Toraja, ia dihadapkan pada berbagai pilihan. Ada kopi Toraja dari Sinjai, kopi Enrekang dari Kelurahan Kalosi, Kabupaten Enrekang, dan lainnya. Salah satu yang dipilih kemudian adalah kopi Toraja dari Sapan dan Minanga.

Kopi yang kemudian disebut Sapan Minanga ini memiliki profil yang tebal dan manis dengan biji mengilat saat dipanggang. Aromanya wangi seperti perpaduan wangi kayu hutan, cokelat, kacang-kacangan, lumut, hingga jamur liar. Lidah yang terlatih akan mengecap rasa manis yang kental saat menyeruput kopi ini meski dihidangkan tanpa gula.

Ada pula yang lebih langka dan sulit didapat di pasaran, yaitu kopi Toraja Pulu-pulu. Kopi ini memiliki aroma ceri dan sedikit lemon sehingga memiliki rasa asam yang halus. Saat dihidangkan, ada dominasi aroma cokelat dan meninggalkan rasa manis yang bersih di lidah. "Ini termasuk kopi susah. Artinya, sulit dicari di pasaran," ujar Hadi.

Contoh di atas barulah variasi dari kopi Toraja. Hadi Lesmono masih menyimpan berbagai kopi seperti Gayo Sanopa yang beraroma mantap menakjubkan, Lintong yang beraroma kuat, kopi Wamena yang tersisipi aroma buah-buahan, Flores Bajawa, Mandailing, hingga kopi Trapis dari biara di Rowoseneng yang memiliki aroma seperti pisang ranum.

"Masing-masing daerah memiliki kopi yang khas. Bahkan tiap-tiap kebun kopi menghasilkan kopi dengan rasa berbeda. Itulah seninya mencari kopi yang enak. Jadi rugi kalau kita hanya merasakan segelintir kopi dan menganggap sudah ketemu yang paling enak," ujarnya.

Kembali pada soal selera, bagi Hadi, sah saja seseorang suka pada kopi tertentu. Namun, sebaiknya diingat bahwa Indonesia memiliki banyak sekali kopi enak dan sedikit saja orang yang mengerti, apalagi merasakannya. Maka dari itu, lebih baik bagi seseorang untuk menentukan kopi favoritnya setelah mencoba sebanyak mungkin jenis kopi. Setelah lidah merasakan berbagai aroma dan tercerahkan, barulah seseorang boleh berkata, selera bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan....

Mar 31, 2011

Sering Dipukuli, Bocah Nekat Naik Tower

Liputan6.com - Seorang anak perempuan berusia 10 tahun nekat memanjat tower telepon seluler setinggi 60 meter di Jalan Suka Damai, Serua, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (29/3. Aparat kepolisian dan warga berusaha membujuk Pipit yang tengah duduk bahkan tiduran di atas menara. Menurut warga, Pipit sudah berada di tower ini sejak pagi.


Akhirnya dengan peralatan lengkap petugas Satpol PP mencoba mengevakuasi Pipit. Setelah berhasil diturunkan Pipit berteriak tak mau diantar pulang karena takut dipukuli orangtuanya lagi.

Petugas langsung membawa Pipit ke Mapolsek Ciputat. Namun tidak lama setelah tiba di markas polisi tiba-tiba ia kembali memanjat tower yang yang tak jauh dari Polsek Ciputat. Petugas pun kembali membujuk Pipit dan membawanya turun dari tower. Bisa jadi bagi Pipit berada di atas tower jauh  lebih aman dibanding di rumah karena akan kembali mendapatkan pukulan dari orangtuanya. Video

Oct 23, 2010

Sop Iga Sapi Warung Aat

Kompas.com - Layanan pesan singkat atau SMS masih tertulis di telepon genggam milik Ny Aat Fatmawati dengan nomor 081282219****.

”At... tolong siapin sop iga untuk 20 orang ya. Nanti setelah sepedahan di Cihuni, kita mau buka puasa bersama di sana”.

Isi SMS itu dikirim seorang pesepeda kepada Aat pada bulan puasa lalu.

Di kalangan pesepeda, Warung Aat memang dikenal dengan menu sop iga sapinya. Dengan uang Rp 15.000, pembeli bisa menikmati semangkok sop iga sapi dan sepiring nasi putih.

Meskipun pada bulan puasa lalu yang membeli sop iga di Warung Aat berkurang pada siang hari, namun pada malam hari selalu saja ada pesepeda yang datang makan di warung ini.

Setelah bersepeda malam hari (nite ride) ramai-ramai di kawasan Cihuni, para pesepeda biasanya makan malam di Warung Aat. Setiap akhir pekan, warung ini selalu dipenuhi para pesepeda. Sedangkan pada hari biasa di luar bulan puasa, Warung Aat tidak terlalu ramai kecuali pada hari Sabtu-Minggu. Keluarga Aat Fatmawati terpaksa mengerahkan seluruh keluarga dan kerabat untuk ikut melayani pembeli.

Biasanya setelah bersepeda offroad di kawasan Cihuni, para penggowes menuju Warung Aat untuk menikmati sop iga sapi.

Lokasi warung ini terletak di Kampung Nagreg, Desa Sampora, Kecamatan Cisauk, Tangerang Selatan. Lokasinya tidak jauh dari kawasan perumahan BSD City kluster baru, Foresta.

Selain sop iga, di Warung Aat juga tersedia nasi uduk dan ketan. Sementara minuman yang menjadi favorit para pesepeda adalah teh jahe panas.

Setelah bersepeda dari pagi sampai siang, menu sop iga yang dikombinasikan dengan minuman teh jahe sungguh membangkitkan selera makan. ”Rasa cape setelah gowes hilang setelah minuman teh jahe panas di Warung Aat,” kata Fredie Adjie, pesepeda dari Kompleks Perumahan Permata Pamulang yang tergabung dalam komunitas Tahu Cocol (THCC).

Tidak hanya saat bersepeda ramai-ramai bersama teman-temannya, ketika sendirian pun Fredie kerap mampir di Warung Aat. Padahal, lokasinya relatif jauh dari perumahan Permata Pamulang ke warung itu.

Hal yang sama juga kerap dilakukan Rika Novriadi, seorang ibu rumah tangga yang biasa bersepeda santai seminggu sekali. Meski rumahnya di sekitar Permata Hijau, Jakarta, Rika dan suaminya kerap bersepeda di sekitar Serpong dan selalu makan sop iga di Warung Aat.

Menurut Rika, porsi sop iga yang disajikan cukup, tidak berlebih dan tidak kurang. Bumbu sop iga berasa ke daging iganya.

”Kuah sopnya juga ’nendang’ banget, apalagi kalau bawang gorengnya minta lebih. Habis gowes, makan di sana maknyus,” ujar Rika.

Makan menjadi lahap

Pernah suatu waktu, Rika bersepeda di kawasan perumahan Alam Sutera di Serpong, Tangerang, namun makan siangnya tetap di Warung Aat. Padahal, di kawasan itu, tersedia banyak tempat makanan enak-enak.

”Setelah makan sop iga, pulangnya harus gowes agak jauh supaya kalori dalam tubuh bisa terbakar,” ujar Rika.

Ditanya soal harga sop iga, Rika Novriadi menyebutkan sangat relatif. Tetapi, karena rasanya enak sehingga meskipun harus membayar Rp 15.000, tetap terasa cukup murah. ”Bukan cuma sop iganya, ketannya juga enak loh,” tambah Rika.

Adji Srihandoyo dari Mega Bikers Club (MBC) juga terkesan dengan sop iga di Warung Aat. Warung ini sangat menarik. Dia merasakan benar-benar seperti kembali ke alam meskipun di seberang warung telah berdiri tembok tinggi, pembatas dengan kawasan perumahan BSD City.

Berbagai sajian makanan yang dijual di Warung Aat terasa sebagai makanan khas warung, dan disajikan dalam suasana natural.

”Rasa sop iga yang panas membuat para pesepeda menjadi lahap saat makan. Umumnya habis sepedaan badan terasa agak lelah. Dalam kondisi seperti itu, kita perlu minum dan makan yang enak serta dalam suasana yang lepas,” ujar Adji, profesional yang akhir-akhir ini rajin bersepeda.

Bagi Adji, harga makanan yang dijual di Warung Aat, termasuk sop iga, relatif murah dan terjangkau. Para pembeli yang datang ke warung ini umumnya dari semua golongan masyarakat.

Berdasarkan pengamatan Kompas, banyak di antara warga Jakarta, terutama mereka yang biasa bersepeda, senantiasa ingin merasakan menu masakan khas warung bernuansa alam, seperti halnya menu makanan sop iga di Warung Aat.

Di tempat lain pun sama, warung yang menyajikan masakan lumayan enak selalu menjadi tempat tujuan kuliner para pesepeda. Misalnya, para pesepeda dengan tujuan Rindu Alam, Puncak, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, para pesepeda biasa melakukan persiapan untuk bersepeda di Warung Mang Ade.

Di warung itu, pada umumnya pesepeda makan nasi goreng sebelum memulai aktivitas bersepeda ke tanjakan Ngehe maupun ke lokasi off road yang menantang di Telaga Warna.

Tempat makan yang cukup dikenal di kalangan pesepeda di sekitar Jalur Pipa Gas (JPG) Serpong, Tangerang, adalah Warung Mpok Cafe. Tempat ini juga biasa dijadikan tempat mangkal para pesepeda.

Sedangkan mereka yang biasa bersepeda santai pada hari Minggu di kawasan Sudirman- Thamrin, Jakarta, pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor umumnya pergi ke warung nasi uduk di Kebon Kacang atau soto mi di pinggir jalan di kawasan Menteng.

Kalau bersepeda ke jalur off road di Tajur Halang, Kabupaten Bogor, para pesepeda biasanya mampir untuk melahap makanan laksa yang dimasak dengan kunyit di pinggir jalan.

Jika bersepeda ke kawasan Sentul atau kaki Gunung Pancar, para pesepeda biasanya memburu sate kambing muda. Merasakan makanan di sejumlah tempat saat bersepeda sungguh merupakan pengalaman yang sangat mengasyikkan dan selalu ingin mencoba lagi.