Showing posts with label TNI AD. Show all posts
Showing posts with label TNI AD. Show all posts

Jul 17, 2016

Helikopter TNI AD Jatuh di Yogya, Tiga Orang Tewas

Cnnindonesia.com - Basarnas Yogyakarta mengkonfirmasi tiga orang tewas akibat jatuhnya helikopter milik TNI AD pada jam 15.20 WIB di Yogyakarta.

Oct 18, 2013

Truk Pembawa Pasukan Pengamanan SBY Terguling

Detik.com - Sebuah truk pengangkut pasukan TNI mengalami kecelakaan di ruas tanjakan Desa Gawang, Kebonagung, Pacitan, Rabu (16/10/2013) pagi. Sedianya kendaraan tersebut hendak menuju PLTU Sudimoro untuk tugas pengamanan kunjungan Presiden SBY.

Informasi yang dihimpun, kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu truk sarat muatan melaju dari arah Pacitan menuju Sudimoro. Saat melewati tanjakan Sekar Putih truk tidak mampu naik. Akibatnya truk kembali mundur terperosok menabrak tebing dan terguling.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun informasi yang dihimpun, 4 personel mengalami cedera. Kejadian tersebut juga mengakibatkan arus lalu-lintas dari kedua jalur tersendat. Hingga pukul 07.06 WIB proses evakuasi masih berlangsung dengan melibatkan sebuah derek.

"Ini bisa terjadi karena berbagai kemungkinan dan bisa menimpa siapapun. Yang jelas kami upayakan secepat mungkin dievakuasi supaya tidak mengganggu agenda kunjungan Pak SBY," terang Kolonel Inf Widodo Iryansyah di lokasi.

Dec 19, 2010

WikiLeaks: AS Soroti Tommy Soeharto Muncul di HUT Kopassus

Detik.com - Kembali bocoran kabel diplomatik perwakilan AS di Indonesia terkuak lewat WikiLeaks. Salah satu isu yang disoroti adalah soal dimulainya kerjasama kembali dengan Kopassus, yang sempat diberhentikan AS setelah Kopassus dituduh terlibat pelanggaran HAM.

Dalam kabel yang dikeluarkan pada 2007, AS juga menyitir nama Tommy Soeharto.

"Kabel bertahun 2007 menjelaskan sorotan AS tentang HUT Kopassus yang dihadiri Tommy Soeharto, anak terkenal dari mantan presiden yang menjalani hukuman penjara beberapa tahun karena merencanakan pembunuhan pada seorang hakim yang menghukumnya terlibat penipuan," tulis media Australia, The Sydney Morning Herald, yang merilis bocoran WikiLeaks tentang Indonesia, Jumat (17/12/2010).

Sekadar diketahui, hakim agung Syafiuddin Kartasasmita ditembak mati pada 26 Juli 2001. Dia memvonis Tommy  18 bulan penjara dan denda Rp 30,6 milyar kepada Tommy Soeharto dalam kasasi kasus tukar guling tanah milik Bulog dengan PT Goro Batara Sakti.

Pada November 2001, Tommy ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Pada tahun 2005, MA memperingan vonisnya menjadi 10 tahun.

Setelah mendapat sejumlah remisi, Tommy yang seharusnya bebas pada 2011, keluar dari penjara pada Oktober 2008. Ia  bebas bersyarat pada 30 Oktober 2006.

Menyitir pada kamus Wikipedia, pada tahun 2007, Kopassus kembali tercoreng dengan insiden pembungkukan Danjen Kopassus di depan Tommy Soeharto. Hal ini mengesankan Kopassus masih tunduk kepada kekuasaan Soeharto. Pada acara hari ulang tahun kopassus, Tommy dan Bambang Trihatmodjo Soeharto hadir di Kandang Menjangan Group II Kopassus Solo sebagai peserta lomba tembak terbuka yang digelar pada 23 April 2007.

Pada saat bersalaman dengan Tommy, Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary (Danjen Kopassus) terlihat membungkuk di depan putra presiden Suharto itu, dan kejadian ini terekam kamera wartawan. Foto membungkuknya Danjen Kopassus ini beredar luas di masyarakat bahkan sampai ke Amerika Serikat dan Australia. Pemerintah Amerika Serikat melalui Asisten Menlu AS Urusan Asia Pasifik, Christopher Hill menanyakan secara resmi mengenai peristiwa ini kepada Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Jakarta. Juwono menyahut bahwa Danjen Kopassus ingin memberikan ucapan selamat atas prestasi Tommy.

Jul 24, 2009

Tuhan Lebih Sayang Mama & Papa

Musibah demi musibah dialami dua anak (alm) Kolonel Ricky Samuel. Setelah dua tahun lalu ditinggal sang bunda yang menderita kanker otak, kini giliran ayah mereka pergi selamanya. Meski demikian, Assila terlihat sangat tabah.

Demi merayakan ultah Assila Amelia (14) yang jatuh tanggal 16 Juni, Ricky Samuel sudah berencana cuti. Apa daya, Tuhan punya kehendak lain. Ia tewas dalam kecelakaan jatuhnya helikopter di Cianjur, Senin (8/6) lalu.

Dua tahun silam, Assa, begitu panggilan anak sulung mendiang, juga harus merayakan ultahnya dengan cara tak lazim. Yaitu meniup lilin ultah di rumah sakit. Kala itu, bundanya, Sherly Makadada, tergolek lemah karena penyakit kanker otak. Seakan hanya ingin menunggu anak sulungnya ulang tahun, esok harinya Sherly pergi ke alam baka.

Itu sebabnya, Assa langsung lemah lunglai ketika mendengar kabar ayahnya menjadi salah satu korban kecelakaan heli naas itu. ”Rasanya berita itu sulit dipercaya, tapi saya harus berusaha tabah,” kata siswa kelas II SMP Lentera International School, Jakarta ini.

Terbiasa Ditinggal

Assa memang terkesan amat tabah untuk anak seusianya. Hanya sesekali gadis muda ini menyeka air matanya ketika jenazah ayahnya perlahan-lahan dimasukkan ke dalam liang kubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata (9 Juni 2009). ”Saya sudah terbiasa ditinggal pergi orang-orang yang saya cintai. Sebelum Mama, Oma, dan sekarang Papa. Rasanya, kok, nasib Assa enggak beruntung banget, ya? Tapi, mau bagaimana lagi?” katanya dengan nada masygul.

Sementara itu, adiknya, Nugraha Pusaka (11), amat shock saat mendengar ayahnya tewas. Saka sempat membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Itu pula yang dilakukannya saat ibunya meninggal dua tahun silam.

Kepergian sang ayah memang amat menyakitkan bagi Assa dan Saka. Toh, itu tak membuat kenangan manis sang ayah di benak Assa pudar. “Papa orang baik. Tak hanya pada Assa dan Saka, ke orang lain pun Papa selalu berbuat baik.” Salah satu contohnya, sebut Assa, anak-anak pembantu mereka dibiayai sekolah. ”Papa juga selalu memikirkan nasib anak buahnya. Juga sering traktir mereka.” Bahkan sejam sebelum terbang di hari naas itu, Ricky sempat menjamu makan teman-temannya.

Selain rajin mengajak anak-anaknya ke gereja, Ricky juga selalu menunggui Assa dan Saka belajar. “Kami juga dimanja. Papa selalu memikirkan kebutuhan kami,” kisah Assa lirih.

Setelah sang bunda meninggal, Ricky dipindah ke Pusat Pendidikan Pasukan Khusus Kopassus TNI Batujajar, Bandung. Assa dan Saka tetap menempati rumah keluarga di kawasan Bintaro bersama Irna Susanti, adik rohani Ricky, dan dua pembantunya. “Biasanya, tiap 3-4 hari, Papa ke Jakarta. Selebihnya, kami telepon-teleponan sehingga rasanya selalu dekat.”

Hubungan Assa dan ayahnya sangat dekat. ”Kami bisa bertukar pikiran soal apa saja. Soal pelajaran, sekolah, bahkan masalah Papa. Memang, sih, tak terlalu sering Papa bicara soal pekerjaannya. Mungkin dia tahu, kami punya beban sendiri jadi dia enggak mau menambah beban anak-anaknya,” kata Assa yang kelihatan lebih dewasa dari anak-anak seusianya.

Lunasi Gaji Pembantu

Cerita Assa tentang mendiang ayahnya tak jauh beda dengan pandangan rekan dan kerabat Ricky. “Orang lurus dan bersahaja.” Begitu komentar mereka. “Kak Ricky selalu memikirkan orang lain di samping sangat taat beribadah dan dermawan,” kenang Irna yang diminta Ricky menjaga anak-anaknya selama ia dinas di luar kota.

Ricky juga rajin berpuasa. ”Setiap kali akan tugas atau anaknya mau ujian, dia pasti puasa.” Bahkan beberapa hari sebelum kejadian, Ricky sempat puasa. ”Padahal, katanya badannya sedang tidak fit.”

Seperti sebuah firasat, beberapa hari sebelum tewas dalam kecelakaan itu, Ricky sudah membayar gaji pembantunya beberapa bulan ke depan. Bahkan, uang sekolah anak pembantunya juga sudah dilunasi. ”Dia juga pesan agar saya menjaga anak-anaknya,” kata Irna yang juga diserahi tugas mengatur keuangan keluarga. ”Sepertinya ia ingin memenuhi kewajibannya dulu sebelum pergi.”

Rupanya Ricky juga menitipkan dua buah hatinya ke Tonny Makadada (46), kakak iparnya. “Katanya, sebentar lagi dia mau tugas ke Kongo selama setahun. Ternyata dia malah ‘dinas’ untuk selamanya,” papar Tonny yang siap menjadi orangtua bagi Assa dan Saka.

Ricky yang baik hati memang sudah pergi menyusul sang istri. Toh, kepergian orangtuanya tak membuat Assa putus asa. ”Saya yakin, sesuatu yang baik, akan datang kelak. Walau kami sangat menyayangi Papa dan Mama, Tuhan lebih menyayangi mereka,” kata Assa dengan tegarnya.