Kompas.com - Meski bukan merupakan makanan khas Semarang, Ayam Goreng Pak Supar digandrungi banyak penikmatnya. Bukan pemandangan yang aneh saat menjelang makan malam, pengunjung harus antre hingga satu jam untuk mendapatkan kursi.
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Apr 20, 2018
Aug 16, 2017
Gudeg Juminten di Yogyakarta yang Menjaga Kualitasnya Hampir Satu Abad
Kompas.com - Sebagai Kota Gudeg, Yogyakarta memiliki banyak pilihan gerai gudeg yang melegenda. Sebut saja Gudeg Yu Djum, Gudeg Pawon, Gudeg Permata, hingga Gudeg Djumilan.
Jul 23, 2017
Sensasi Menyantap Bakso Beranak Langsung di Tempat Kelahirannya
Kompas.com - Bakso beranak kini begitu populer. Tak hanya di kota-kota besar, tapi juga di kota-kota kecil di luar Pulau Jawa. Namun tahukah Anda, dari kota apa bakso beranak tersebut "dilahirkan"?
Apr 10, 2017
Sate Buntel Haji Bejo Langganan Presiden Jokowi
Kompas.com - Tanya saja tukang becak atau para pedagang kaki lima, semua pasti tahu Sate Buntel Haji Bejo langganan Presiden Jokowi.
Jan 24, 2017
Menggusur Lapo Terakhir di Senayan Demi Asian Games
Cnnindonesia.com - Ketika menanyakan tempat makan ala Batak atau dikenal lapo yang favorit di Jakarta, maka terdapat beberapa lokasi yang menjadi rujukan. Salah satunya terletak di Jalan Lapangan Tembak, Senayan, Jakarta Pusat. Tepatnya, di belakang gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta.
Jan 16, 2017
Cari menu sarapan? Nih lima soto di Salatiga yang wajib dicoba
Merdeka.com - Soto adalah makanan yang disukai banyak orang, dari anak kecil hingga orang dewasa. Makanan berkuah ini cocok disajikan dalam berbagai suasana. Di Salatiga, inilah daftar soto yang banyak digemari :
Sep 8, 2016
Polisi Geledah Marugame Udon, Ini Barang Buktinya
Tempo.co - Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian sudah menggeledah gerai Marugame Udon di Gandaria City, Jakarta Selatan, pada 18 April 2016. Menurut sejumlah sumber Tempo yang mengikuti penggeledahan, penyidik Bareskrim menyita barang bukti dari gerai Marugame Udon tersebut.
Kronologi Dugaan Bahan Kedaluwarsa Marugame Udon & Pizza Hut
Cnnindonesia.com - Restoran Marugame Udon Indonesia yang menyajikan kuliner asal Jepang diduga menggunakan bahan pangan yang telah kedaluwarsa. Dugaan itu bermula dari sebuah kopi surat elektronik yang diterima beberapa media, termasuk CNNIndonesia.com.
Sep 7, 2016
Pizza Hut Asia Akui Ada Perpanjangan Masa Kedaluwarsa
Tempo.co - Investigasi majalah Tempo dan BBC Indonesia menemukan indikasi penggunaan bahan makanan kedaluwarsa pada tiga restoran waralaba milik PT Sriboga Raturaya, yaitu Pizza Hut, Pizza Hut Delivery (PHD), dan Marugame Udon. Perpanjangan masa kedaluwarsa itu diduga sudah berlangsung lebih dari tiga tahun terakhir.
Aug 19, 2016
Sensasi meledak di mulut, Bakso Cak Kar Singosari
Merdeka.com - Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang tidak hanya terkenal dengan berbagai candi peninggalan saja yang ada di wilayahnya. Sebagai daerah perlintasan yang menyambungkan Surabaya dan Malang, tempat ini juga memiliki banyak tempat makan yang cukup lezat. Salah satu varian makanan khas Malang yang memiliki beberapa warung terkenal di Singosari adalah bakso. Ada setidaknya dua warung bakso yang tak pernah sepi didatangi pelanggan yaitu Bakso Sum-sum Cak Hadi serta Bakso Cak Kar.
Jun 30, 2016
Makan Enak di Pekalongan Hanya Rp 6.000? Bisa!
Kompas.com - Tim Merapah Trans Jawa dari Kompas.com yang bertugas meliput jalur mudik singgah di Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (25/6/2016). Di kota sentra batik ini, kami berkesempatan mencicipi kuliner khas nasi megono.
Jun 18, 2016
Bebek Kobong Banyuwangi pedasnya menggetarkan lidah
Merdeka.com - Berwisata kuliner di Banyuwangi memang tak jauh dari makanan citarasa pedas. Selain nasi tempong yang pedasnya terasa menampar-nampar, ada satu pilihan kuliner pedas yang tak kalah pamor. Yaitu Bebek Kobong Banyuwangi racikan Didik Iswahyudi.
Jun 9, 2016
Ingin Buka Puasa dengan Ayam Bakar Pedas? Ini Tempatnya...
Kompas.com - Buka puasa biasanya menjadi momen yang paling ditunggu setelah seharian menjalankan puasa. Maka tidak ada salahnya kita menyiapkan menu spesial untuk buka puasa.
Berburu es campur legendaris di Malang, pernah coba?
Merdeka.com - Selain kurma, es campur adalah salah satu jajajan yang paling di buru di bulan Ramadan. Saat berjalan-jalan di Kota Malang, kamu akan menemukan beberapa jajanan es campur yang rasanya sudah melegenda. Nah, buat kamu yang ingin mencobanya, kamu bisa berkunjung ke deretan depot es campur berikut ini.
Jun 2, 2016
Menikmati Sensasi Sanger, Kopi Susu Berbuih ala Aceh
Kompas.com - Warung di sudut Kota Lhokseumawe, Aceh, itu dipenuhi pembeli. Tiga pintu rumah dan tokok (ruko) terbuka lebar menyambut setiap pengunjung dari pukul 07.30 WIB hingga pukul 01.00 WIB dini hari.
Mar 4, 2016
Bakso Idola Masyarakat Yogyakarta
Kompas.com - Jika Anda sering ke Yogyakarta, cobalah untuk melewati Jalan Taman Siswa pada siang hingga sore hari. Anda akan melihat kerumunan di sebuah rumah makan di sebelah barat jalan.
Ini Bakso Gerobak Langganan Artis hingga Politisi
Kompas.com -Bakso jajanan semua kalangan, nampaknya benar terbukti pada bakso yang satu ini. Di daerah pecinan Bogor, tepatnya Jalan Suryakencana terdapat gerobak bakso yang mempunyai pelanggan artis ternama hingga politisi, bahkan pejabat setingkat menteri.
Jul 23, 2015
Walang Goreng Khas Gunungkidul Diserbu Pemudik
Kompas.com - Libur Lebaran menjadi berkah tersendiri bagi penjual makanan khas Gunungkidul yakni walang (belalang) goreng. Hingga Minggu (19/7/2015), omzet penjualan walang goreng meningkat hingga 75 persen.
Setidaknya, sejak hari H+2 lebaran sampai dengan H 2 ini, omset penjualan walang Goreng meningkat hingga 75 persen.
"Ya, setiap musim libur panjang seperti Lebaran ini banyak peminatnya," ujar Devi (21), penjual walang goreng di Jalan Baron Km 2 Karangrejek Wonosari Gunungkidul.
Devi menuturkan, kebanyakan peminat walang goreng adalah warga luar Gunungkidul. Sementara Pemudik asal Gunungkidul membeli sebagai obat kangen setelah lama merantau.
"Jalan Baron kan arah menuju pantai jadi banyak mobil wisatawan yang mampir. Yang beli kebanyakan mobilnya plat B, plat D, dan F. Orang asli sini juga banyak," kata Devi.
Menurut dia, satu kantong plastik berisi 10 walang goreng dihargai Rp 20.000, sedangkan walang goreng kemasan toples dipatok harga Rp 40.000.
"Yang paling laris ukuran toples. Kalau yang plastikan jarang peminat," ucap Devi.
Selama libur lebaran lanjutnya, ia sengaja membawa stok walang lebih banyak dan membuka lapak jualan walang Goreng lebih awal, yakni dari jam 6.30 WIB hingga 20.00 WIB.
"Kan pagi ramai kendaraan mau ke pantai, jadi bukanya lebih awal. Hari biasanya sih jam 9 pagi baru buka," kata dia.
Ia mengungkapkan, selama libur Lebaran ia memperoleh pendapatan antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari.
Setidaknya, sejak hari H+2 lebaran sampai dengan H 2 ini, omset penjualan walang Goreng meningkat hingga 75 persen.
"Ya, setiap musim libur panjang seperti Lebaran ini banyak peminatnya," ujar Devi (21), penjual walang goreng di Jalan Baron Km 2 Karangrejek Wonosari Gunungkidul.
Devi menuturkan, kebanyakan peminat walang goreng adalah warga luar Gunungkidul. Sementara Pemudik asal Gunungkidul membeli sebagai obat kangen setelah lama merantau.
"Jalan Baron kan arah menuju pantai jadi banyak mobil wisatawan yang mampir. Yang beli kebanyakan mobilnya plat B, plat D, dan F. Orang asli sini juga banyak," kata Devi.
Menurut dia, satu kantong plastik berisi 10 walang goreng dihargai Rp 20.000, sedangkan walang goreng kemasan toples dipatok harga Rp 40.000.
"Yang paling laris ukuran toples. Kalau yang plastikan jarang peminat," ucap Devi.
Selama libur lebaran lanjutnya, ia sengaja membawa stok walang lebih banyak dan membuka lapak jualan walang Goreng lebih awal, yakni dari jam 6.30 WIB hingga 20.00 WIB.
"Kan pagi ramai kendaraan mau ke pantai, jadi bukanya lebih awal. Hari biasanya sih jam 9 pagi baru buka," kata dia.
Ia mengungkapkan, selama libur Lebaran ia memperoleh pendapatan antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari.
Roti Durian Panglima, Oleh-oleh Khas Samarinda
Kompas.com - Di Samarinda, Roti Durian Panglima menjadi khas oleh-oleh Kota Tepian (julukan Kota Samarinda). Rasanya legit dan teksturnya lembut ditambah rasa khas durian.
Kalau Anda berkunjung ke Samarinda, selain amplang, kini ada oleh-oleh khas roti asal Samarinda. Nugrohadi Yuwono, Mulyadi, dan Ferry Gunawan, menciptakan produk roti halal dan terjangkau, sebagai produk makanan khas Samarinda.
Roti Durian Panglima berbentuk bantal berjejer delapan potong, di tengahnya berisikan seperti selai durian. Wangi Roti Durian Panglima, harum dan khas. Aromanya menggugah selera untuk segera mencicipi roti yang terbuat dari bahan tepung terigu soft wheat.
Roti Durian Panglima merupakan produk perdana warga Samarinda, dijual dengan bandrol Rp 25.000. Varian Roti Durian Panglima, isi original durian dan isi durian diberi topping atau ditaburi keju.
Nugrohadi Yuwono mengatakan, Roti Durian Panglima, menggunakan bahan tepung terigu, gula, telur, susu dan mentega ditambah susu bubuk berkualitas.
"Selai dari daging Durian asli dan berkualitas yang sudah masak. Tanpa bahan pengawet berbahaya. Daya tahannya 24 jam. Kalau dimasukan ke dalam kulkas bisa sampai tiga hari," tutur Nugrohadi.
Roti Durian Panglima, mulai diluncurkan resmi bulan Juli 2013. Hanya saja, tiga pemiliknya memulai usahanya sejak Bulan Februari 2011 silam.
Tidak hanya Roti Durian yang dipasarkan, Beberapa menu roti jenis kue sus dan bolu, juga tersedia. Varian bolu yang dijual isi keju dan cokelat.
"Saya tidak belajar roti. Kebetulan rekan usaha saya, yaitu pak Ferry sudah ahli membuat roti. Beliau pernah menjadi chef di hotel bintang lima dan menjadi instruktur bakery di Bogasari Baking Center," ungkapnya.
Sejak dijual secara terbuka 2013, Roti Durian Panglima di Samarinda sebuah tren. Warga yang ingin mencoba, harus mengantre. Banyak pembeli yang tertarik lantaran harganya yang juga terjangkau.
Untuk oleh-oleh, Anda bisa mengunjungi toko cabang dan gerai pusat. Gerai pusat di Samarinda, di Jalan Elang Nomor 36, Kelurahan Temindung, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda. Lokasinya mudah dijangkau dari Bandara Temindung, berjarak sekitar 500 meter dari bandara.
Kalau Anda berkunjung ke Samarinda, selain amplang, kini ada oleh-oleh khas roti asal Samarinda. Nugrohadi Yuwono, Mulyadi, dan Ferry Gunawan, menciptakan produk roti halal dan terjangkau, sebagai produk makanan khas Samarinda.
Roti Durian Panglima berbentuk bantal berjejer delapan potong, di tengahnya berisikan seperti selai durian. Wangi Roti Durian Panglima, harum dan khas. Aromanya menggugah selera untuk segera mencicipi roti yang terbuat dari bahan tepung terigu soft wheat.
Roti Durian Panglima merupakan produk perdana warga Samarinda, dijual dengan bandrol Rp 25.000. Varian Roti Durian Panglima, isi original durian dan isi durian diberi topping atau ditaburi keju.
Nugrohadi Yuwono mengatakan, Roti Durian Panglima, menggunakan bahan tepung terigu, gula, telur, susu dan mentega ditambah susu bubuk berkualitas.
"Selai dari daging Durian asli dan berkualitas yang sudah masak. Tanpa bahan pengawet berbahaya. Daya tahannya 24 jam. Kalau dimasukan ke dalam kulkas bisa sampai tiga hari," tutur Nugrohadi.
Roti Durian Panglima, mulai diluncurkan resmi bulan Juli 2013. Hanya saja, tiga pemiliknya memulai usahanya sejak Bulan Februari 2011 silam.
Tidak hanya Roti Durian yang dipasarkan, Beberapa menu roti jenis kue sus dan bolu, juga tersedia. Varian bolu yang dijual isi keju dan cokelat.
"Saya tidak belajar roti. Kebetulan rekan usaha saya, yaitu pak Ferry sudah ahli membuat roti. Beliau pernah menjadi chef di hotel bintang lima dan menjadi instruktur bakery di Bogasari Baking Center," ungkapnya.
Sejak dijual secara terbuka 2013, Roti Durian Panglima di Samarinda sebuah tren. Warga yang ingin mencoba, harus mengantre. Banyak pembeli yang tertarik lantaran harganya yang juga terjangkau.
Untuk oleh-oleh, Anda bisa mengunjungi toko cabang dan gerai pusat. Gerai pusat di Samarinda, di Jalan Elang Nomor 36, Kelurahan Temindung, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda. Lokasinya mudah dijangkau dari Bandara Temindung, berjarak sekitar 500 meter dari bandara.
Jan 21, 2015
Dari Gowes Jadilah Gowess
Kompas.com - SEJAK sembilan bulan terakhir, orang-orang Indonesia yang bermukim di Los Angeles punya tempat nongkrong baru. Gowess Food Truck, sebuah resto bergerak yang menawarkan menu-menu khas Indonesia. Seperti namanya, sejarah resto di 3731 Wilshire Blvd itu berawal dari hobi memasak Teguh Santoso setiap nge-gowes di Los Angeles.
Dinginnya malam di Los Angeles, Amerika Serikat, tiba-tiba dihangatkan pekik gembira Endah Redjeki, Jane Lawalata, dan Pheren Soepadhi. Begitu sampai di deretan meja-meja di samping sebuah truk besar bewarna hijau di 3731 Wilshire Blvd, ketiganya langsung riuh menyapa teman-teman lama mereka, sesama orang-orang Indonesia yang bermukim di Los Angeles.
”Beginilah, Gowess Food Truck jadi tempat tongkrongan baru orang-orang Indonesia di Los Angeles. Setiap kali datang kemari, tanpa atur janji pun bisa bertemu banyak teman,” kata Endah tertawa-tawa.
Begitu riangnya, sampai-sampai urusan kursi habis pun tak jadi soal. Endah dan Pheren yang sebelumnya mengaku lapar kini justru asyik berbincang, menimbrungi salah satu meja teman-teman mereka. Urusan makan terlupakan sementara.
Suasana makin meriah gara-gara kami bersua Konsul Jenderal RI di Los Angeles Umar Hadi yang malam itu nongkrong di lapak Gowess Food Truck bersama keluarganya. ”Saya orang baru di Los Angeles, baru pindah tugas, tetapi langsung jadi pelanggan tetap. Konsulat Jenderal RI di Los Angeles ada di dekat sini, jadi saya sering mampir dan makam malam di sini. Di sini, saya bisa berbincang segala urusan dengan para warga negara Indonesia di Los Angeles, dari yang serius sampai obrolan santai,” tutur Umar tertawa.
Jane menjadi dewi penyelamat lapar. Begitu kami semua kebagian kursi setelah serombongan pelajar dan mahasiswa Indonesia pulang, ia meninggalkan obrolan seru demi memesan makanan. ”Mau makan apa, saya kangen makan nasi goreng kambing. Suka pedas? Atau mau pilih mi thekthek? Atau mau coba semua?” tanya Jane tertawa.
Halal jadi magnet
Menu Gowess Food Truck yang dikelola keluarga Teguh Santoso (42) memang obat rindu kepada Tanah Air. Dua menu yang ditawarkan Jane adalah menu harian yang selalu ada. Juga tongseng dan nasi gila. Setiap hari juga ada menu tambahan yang rutin berganti demi keragaman pilihan. Mulai dari nasi udang, pangsit, ikan bakar, ayam bakar, sampai nasi sosis ayam.
”Yang paling laris nasi goreng kambing dan tongseng,” tutur Teguh memberikan saran. ”Tongseng saya digemari orang Banglades dan orang-orang asal Timur Tengah, lho,” katanya tertawa.
Dinginnya malam di Los Angeles, Amerika Serikat, tiba-tiba dihangatkan pekik gembira Endah Redjeki, Jane Lawalata, dan Pheren Soepadhi. Begitu sampai di deretan meja-meja di samping sebuah truk besar bewarna hijau di 3731 Wilshire Blvd, ketiganya langsung riuh menyapa teman-teman lama mereka, sesama orang-orang Indonesia yang bermukim di Los Angeles.
”Beginilah, Gowess Food Truck jadi tempat tongkrongan baru orang-orang Indonesia di Los Angeles. Setiap kali datang kemari, tanpa atur janji pun bisa bertemu banyak teman,” kata Endah tertawa-tawa.
Begitu riangnya, sampai-sampai urusan kursi habis pun tak jadi soal. Endah dan Pheren yang sebelumnya mengaku lapar kini justru asyik berbincang, menimbrungi salah satu meja teman-teman mereka. Urusan makan terlupakan sementara.
Suasana makin meriah gara-gara kami bersua Konsul Jenderal RI di Los Angeles Umar Hadi yang malam itu nongkrong di lapak Gowess Food Truck bersama keluarganya. ”Saya orang baru di Los Angeles, baru pindah tugas, tetapi langsung jadi pelanggan tetap. Konsulat Jenderal RI di Los Angeles ada di dekat sini, jadi saya sering mampir dan makam malam di sini. Di sini, saya bisa berbincang segala urusan dengan para warga negara Indonesia di Los Angeles, dari yang serius sampai obrolan santai,” tutur Umar tertawa.
Jane menjadi dewi penyelamat lapar. Begitu kami semua kebagian kursi setelah serombongan pelajar dan mahasiswa Indonesia pulang, ia meninggalkan obrolan seru demi memesan makanan. ”Mau makan apa, saya kangen makan nasi goreng kambing. Suka pedas? Atau mau pilih mi thekthek? Atau mau coba semua?” tanya Jane tertawa.
Halal jadi magnet
Menu Gowess Food Truck yang dikelola keluarga Teguh Santoso (42) memang obat rindu kepada Tanah Air. Dua menu yang ditawarkan Jane adalah menu harian yang selalu ada. Juga tongseng dan nasi gila. Setiap hari juga ada menu tambahan yang rutin berganti demi keragaman pilihan. Mulai dari nasi udang, pangsit, ikan bakar, ayam bakar, sampai nasi sosis ayam.
”Yang paling laris nasi goreng kambing dan tongseng,” tutur Teguh memberikan saran. ”Tongseng saya digemari orang Banglades dan orang-orang asal Timur Tengah, lho,” katanya tertawa.
Semua masakan Gowess Food Truck baru diracik setelah ada pesanan. Namun, sepertinya setiap pengunjung memang menikmati waktu dengan saling bertukar kabar sesama orang Indonesia. Endah, misalnya, berbagi kabar sial seorang komedian kondang Tanah Air yang gagal mendapat visa untuk manggung dan open mic di Los Angeles.
Pharen, yang seorang fotografer profesional di Los Angeles, sibuk mendiskusikan lokasi pemotretan tematisnya. Jane sibuk menimpali semuanya. Putu Sutresni (43), istri Teguh, sampai harus berteriak beberapa kali memanggil nomor antrean kami gara-gara obrolan riuh itu.
Seperti kebanyakan resto bergerak, menu-menu Gowess Food Truck terhidang dalam kotak makanan sekali pakai. Begitu kotak terbuka, aroma nasi goreng kambing yang khas tercium. Daging kambingnya memang daging kualitas terbaik, empuk dan meresap bumbu. Nasi gorengnya yang manis sedikit pedas oleh rempah. Lega rasanya, rindunya lidah ini digoyang pedas terobati. Mi thekthek Teguh pun ”Indonesia banget”, kaya cita rasa aneka bumbu. Jauh dari kecenderungan rasa tawar khas menu-menu lokal Amerika Serikat.
Pantas keduanya jadi menu harian yang selalu tersedia di resto truk hijau Teguh. Pantas pula sejumlah warga bertampang Timur Tengah rela antre di sela meja-meja yang riuh oleh obrolan berbahasa Indonesia. Menu-menu berharga jual 6-8 dollar AS itu memang sepadan dengan kelezatannya.
”Halal, itu kata kuncinya. Saya sengaja memilih lokasi ini karena dekat dengan kantong permukiman Muslim Banglades dan Timur Tengah. Jangan salah, mereka konsumen teliti, lho. Alih-alih asal percaya dengan label halal saya, mereka meminta saya menunjukkan kemasan daging bersertifikat halal,” kata Teguh tertawa.
Dari hobi gowes
Gowess Food Truck memang bertaut dengan gowes alias hobi bersepeda. Sejak lama Teguh mengisi akhir pekan dengan nge-gowes bersama-sama warga Indonesia di Los Angeles. ”Kadang kami mengakhiri gowes itu dengan berpesta aneka santapan. Entah bagaimana, saya kerap diminta menjadi koki pesta dadakan itu. Makin banyak menu yang saya masak dalam berbagai acara gowes di Los Angeles, makin orang suka,” kata Teguh.
Teguh yang sebelumnya bekerja sebagai sopir truk ukuran besar pun memberanikan diri banting setir berbisnis resto bergerak. ”Buka resto memang capek, tetapi saya bisa berkumpul dengan keluarga. Daripada menjadi sopir truk besar, kalau kirim barang ke Alaska bisa makan waktu dua-tiga bulan. Dorongan dari teman-teman komunitas Gowess LA yang membuat saya berani membuka bisnis food truck. Saya juga punya pengalaman bekerja di restoran sushi Jepang,” kata Teguh.
Tak percuma Teguh merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli truk dan mengurus segala perizinan membuka resto yang rumit dan ketat. Dalam waktu singkat, Gowess Food Truck jadi ”terminal” baru orang-orang Indonesia di Los Angeles. Kota tanpa musim salju itu memang salah satu kantong komunitas Indonesia terbesar di Amerika Serikat.
Pharen, yang seorang fotografer profesional di Los Angeles, sibuk mendiskusikan lokasi pemotretan tematisnya. Jane sibuk menimpali semuanya. Putu Sutresni (43), istri Teguh, sampai harus berteriak beberapa kali memanggil nomor antrean kami gara-gara obrolan riuh itu.
Seperti kebanyakan resto bergerak, menu-menu Gowess Food Truck terhidang dalam kotak makanan sekali pakai. Begitu kotak terbuka, aroma nasi goreng kambing yang khas tercium. Daging kambingnya memang daging kualitas terbaik, empuk dan meresap bumbu. Nasi gorengnya yang manis sedikit pedas oleh rempah. Lega rasanya, rindunya lidah ini digoyang pedas terobati. Mi thekthek Teguh pun ”Indonesia banget”, kaya cita rasa aneka bumbu. Jauh dari kecenderungan rasa tawar khas menu-menu lokal Amerika Serikat.
Pantas keduanya jadi menu harian yang selalu tersedia di resto truk hijau Teguh. Pantas pula sejumlah warga bertampang Timur Tengah rela antre di sela meja-meja yang riuh oleh obrolan berbahasa Indonesia. Menu-menu berharga jual 6-8 dollar AS itu memang sepadan dengan kelezatannya.
”Halal, itu kata kuncinya. Saya sengaja memilih lokasi ini karena dekat dengan kantong permukiman Muslim Banglades dan Timur Tengah. Jangan salah, mereka konsumen teliti, lho. Alih-alih asal percaya dengan label halal saya, mereka meminta saya menunjukkan kemasan daging bersertifikat halal,” kata Teguh tertawa.
Dari hobi gowes
Gowess Food Truck memang bertaut dengan gowes alias hobi bersepeda. Sejak lama Teguh mengisi akhir pekan dengan nge-gowes bersama-sama warga Indonesia di Los Angeles. ”Kadang kami mengakhiri gowes itu dengan berpesta aneka santapan. Entah bagaimana, saya kerap diminta menjadi koki pesta dadakan itu. Makin banyak menu yang saya masak dalam berbagai acara gowes di Los Angeles, makin orang suka,” kata Teguh.
Teguh yang sebelumnya bekerja sebagai sopir truk ukuran besar pun memberanikan diri banting setir berbisnis resto bergerak. ”Buka resto memang capek, tetapi saya bisa berkumpul dengan keluarga. Daripada menjadi sopir truk besar, kalau kirim barang ke Alaska bisa makan waktu dua-tiga bulan. Dorongan dari teman-teman komunitas Gowess LA yang membuat saya berani membuka bisnis food truck. Saya juga punya pengalaman bekerja di restoran sushi Jepang,” kata Teguh.
Tak percuma Teguh merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli truk dan mengurus segala perizinan membuka resto yang rumit dan ketat. Dalam waktu singkat, Gowess Food Truck jadi ”terminal” baru orang-orang Indonesia di Los Angeles. Kota tanpa musim salju itu memang salah satu kantong komunitas Indonesia terbesar di Amerika Serikat.
Setiap hari—sepanjang pukul 18.30 hingga pukul 23.30 waktu setempat—Teguh, Putu, dibantu kedua anak mereka melayani antrean pembeli di trotoar 3731 Wilshire Blvd. ”Jika
sempat, pada Selasa siang pukul 11.00 sampai pukul 15.00 kami juga berjualan di depan kantor Konsulat Jenderal RI di Los Angeles,” ujar Teguh.
Satu lagi pembeli melongok dari jendela kasir, memesan sejumlah menu kepada Putu. Putu menggantung kertas catatan pesanan di hadapan Teguh yang tengah berkutat dengan kompor dan wajannya.
Teguh membacanya sekilas, lalu cepat meracik bumbu. Begitu bumbu-bumbunya masuk ke wajan, wow, kabut uap bumbu racikan Teguh, berikut aromanya, langsung menggantung di langit dapur mungil di atas truk itu. Aroma gurih dan pedas itu, aaaah, di negeri orang rasa pedas memang selalu membuat rindu…
sempat, pada Selasa siang pukul 11.00 sampai pukul 15.00 kami juga berjualan di depan kantor Konsulat Jenderal RI di Los Angeles,” ujar Teguh.
Satu lagi pembeli melongok dari jendela kasir, memesan sejumlah menu kepada Putu. Putu menggantung kertas catatan pesanan di hadapan Teguh yang tengah berkutat dengan kompor dan wajannya.
Teguh membacanya sekilas, lalu cepat meracik bumbu. Begitu bumbu-bumbunya masuk ke wajan, wow, kabut uap bumbu racikan Teguh, berikut aromanya, langsung menggantung di langit dapur mungil di atas truk itu. Aroma gurih dan pedas itu, aaaah, di negeri orang rasa pedas memang selalu membuat rindu…
Subscribe to:
Posts (Atom)
