Showing posts with label Sukarno. Show all posts
Showing posts with label Sukarno. Show all posts

Nov 12, 2018

Soekarno Tertawa Ada Tap MPRS Melarang PKI, karena...

Ilustrasi
Tempo.co - Seusai sidang kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo, pejabat yang menangani urusan keamanan membagi tugas. Rapat pada Selasa, 10 Mei 2016, itu membahas banyaknya laporan tentang peredaran kaus bergambar palu-arit serta kegiatan yang diduga akan memunculkan komunisme.

Mar 18, 2016

Berburu Naskah Asli Supersemar...

Kompas.com - Misteri keberadaan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) masih belum terpecahkan. Lima puluh tahun berlalu, 11 Maret 2016, sejak Presiden Soekarno mengeluarkannya pada 11 Maret 1966.

Oct 10, 2015

Indonesia's 'killing season' remains a mystery 50 years on

Nikkei.com - It was a night depicted in the 1982 film "The Year of Living Dangerously" -- as proclaimed by a reckless president of a country in economic free fall. Truckloads of soldiers rumbled through the dimly lit streets of Jakarta. They hauled six army generals out of their homes, killing the three who put up a fight and, executing the others back at a camp in a rubber plantation.

Jun 18, 2015

Kisah lucu Soekarno batal marah gara-gara diajak nonton tari perut

Merdeka.com - Berbicara tentang Proklamator Soekarno memang tidak ada habisnya. Mulai tentang pidato-pidatonya yang menggugah, cerita Soekarno dengan wanita-wanita di sekelilingnya, hingga cerita lucu tentang sang proklamator.

Pernah, suatu ketika saat berkunjung ke Mesir, Soekarno diajak oleh pemimpin Mesir kala itu, Gamal Abdul Nasser untuk menonton tari perut pada suatu malam saat dia baru saja tiba di Cairo, ibukota Mesir.

Ceritanya, saat baru tiba di Bandara Cairo, Soekarno dan rombongan langsung menuju ke penginapan. Karena tidak ada acara di malam pertama, Soekarno langsung masuk ke kamar penginapan dan bergegas untuk istirahat.

Saat Soekarno istirahat, ajudan pribadi Soekarno, Letnan Kolonel Sabur tiba-tiba datang mengetok pintu. Soekarno pun memarahi ajudannya itu.

"Heh, Bur ada apa kau datang malam-malam begini? Aku kan sudah bilang mau istirahat," kata Soekarno lantang saat membuka pintu.

Cuma mengenakan piyama, kemarahan Soekarno mereda saat melihat utusan Presiden Nasser bersama dengan Subur. Nasser pun mengatakan kepada Soekarno kalau dirinya diminta untuk menjemput Soekarno untuk melakukan inspeksi.

Soekarno heran. Tengah malam apalagi saat dia baru saja tiba di Cairo dirinya diminta untuk menghadiri inspeksi. Saat Soekarno masih terbengong-bengong, Marsekal Abdul Hakim Amir melanjutkan pembicaraannya.

"Presiden kami mengundang sahabat beliau, Presiden Soekarno, untuk menginspeksi penari-penari perut di Kairo ini," ujar Amir. Mendengar ucapan tersebut, Soekarno pun beranjak dan langsung semangat.

"Kenapa tidak dari tadi. Sampaikan kepada Nasser, Soekarno dari Indonesia akan siap dalam sepuluh menit," kata Soekarno mantap.

Menurut salah satu putra Soekarno, Guntur Soekarnoputra, acara nonton tari perut Soekarno dan Nasser tersebut merupakan agenda tidak resmi saat berkunjung ke Mesir. Hal tersebut dia sampaikan dalam bukunya yang berjudul Bung Karno, Bapakku, Kawanku dan Guruku.

Jun 17, 2015

Ini rahasia Soekarno selalu bisa menaklukkan wanita cantik

Merdeka.com - Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk wanita. Menikah sembilan kali, dengan mudah wanita takluk padanya. Sebenarnya apa rahasia Soekarno? Mengapa wanita selalu terpikat padanya?

Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut.

"BK (Bung Karno) benar-benar dapat disebut jagoan. Terhadap setiap wanita yang sedang dihadapinya, dia selalu dapat mencurahkan perhatiannya kepada wanita itu. Sehingga wanita tersebut merasa bahwa dia satu-satunya wanita yang paling dicintai atau dihargai BK," tulis Bambang Widjanarko dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno' yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia.

Selain itu, Soekarno juga selalu bersikap gallant atau sopan dan hangat pada setiap wanita. Tak peduli wanita itu tua atau muda. Soekarno tak segan-segan mengambilkan minum sendiri untuk tamu wanitanya.

Soekarno juga selalu membantu memegang tangan wanita, jika wanita itu keluar mobil. Dia juga mengumbar pujian pada wanita. Hal ini yang selalu membuat para wanita tersanjung.

Pujian seperti "Alangkah serasinya kain kebaya yang anda pakai," atau "Nyonya kelihatan lebih muda dengan tatanan rambut baru itu," sering terdengar dari mulut Soekarno.

Maka dalam berbagai kunjungan di Eropa dan Amerika, Soekarno sering sekali mendapat pujian dari para wanita. Mulai dari politikus wanita, hingga artis sekelas Marilyn Monroe.

"Your President is real gentleman," ujar Bambang menirukan pujian para wanita itu.

Namun Bambang mencatat, akibat lagak seperti Arjuna itu pula Soekarno sering mendapat masalah dengan wanita. Tentunya tidak mudah mempunyai empat istri sekaligus dan semuanya minta menjadi nomor satu.

"Itulah BK sang arjuna yang dalam hidupnya terus terlibat persoalan wanita dan secara berani menerapkan politik 'vivere pericolozo' (living dangerously) dalam soal asmara," kenang Bambang Widjanarko.

Saat berusia 14 tahun, Soekarno sudah berani cium gadis Belanda

Merdeka.com - Soekarno muda membenci tindakan pemuda-pemuda Belanda yang arogan dan merendahkan pribumi. Soekarno punya cara sendiri untuk menunjukkan dia tidak kalah dengan pemuda-pemuda Belanda itu. Caranya, dengan memacari gadis-gadis Belanda.

Bukan perkara sulit bagi Soekarno muda untuk mendekati gadis Belanda. Otaknya pintar, wajahnya pun tampan. Tak heran, gadis-gadis Belanda mau saja didekati walau Soekarno pribumi. Apalagi sejak anak-anak, jiwa kepemimpinan Soekarno sudah terlihat. Dia selalu menjadi pemimpin teman-temannya.

Kakak kandung Soekarno, Wardoyo, menceritakan kelakuan adiknya dalam buku 'Bung Karno Masa Muda'. Buku ini diterbitkan Pustaka Yayasan Antar Kota Jakarta tahun 1978.

"Menurut pengakuannya sendiri, gadis Belanda yang pertama kali dipacarinya adalah Rika Meelhuysen. Gadis itu pulalah yang pertama kali dicium oleh Soekarno. Ketika itu umur Soekarno baru 14 tahun," tutur Wardoyo.

Awalnya memang Soekarno mendekati Rika karena ingin dianggap memiliki kelas yang sama dengan pemuda Belanda. Namun Soekarno ternyata lupa dengan niatnya itu. Namanya cinta monyet, Soekarno benar-benar tergila-gila pada Rika.

Dia rela membawakan buku-buku milik noni Belanda itu. Dia juga rela memutar jalan hanya untuk bisa melewati rumah Rika dan berharap melihat sekilas gadis pujaannya.

Walau begitu, Soekarno tak mau cinta monyetnya diketahui sang ayah, Raden Sukemi Sosrodiharjo. Soekarno tahu ayahnya benci orang Belanda. Apa yang akan dilakukan ayahnya jika melihat Soekarno menjalin kasih dengan noni Belanda. Soekarno takut akan dihajar dengan rotan.

Nah suatu sore, Soekarno sedang asyik berboncengan dengan Rika Meelhuysen. Di persimpangan dia tak sengaja menabrak seorang pengendara sepeda lain. Ternyata Soekarno menabrak Raden Sukemi, ayahnya sendiri! Bukan main takutnya Soekarno.

Tapi ketika itu ayahnya tidak marah. Ketika tiba di rumah, ayahnya malah berkata dengan lembut.

"Nak, kau jangan kuatir aku akan marah karena kau bergaul dengan gadis Belanda itu. Hal itu baik sekali. Itulah jalan terbaik agar Bahasa Belanda mu menjadi lebih baik lagi," ujar ayah Soekarno.

Soekarno lega bukan kepalang. Dia pun makin bersemangat mendekati gadis-gadis Belanda.

Sebut saja, Paulina Gobee, Laura, lalu dengan putri keluarga Raat. Ada lagi Mien Hessels. Mien inilah yang benar-benar membakar hati Soekarno yang berusia 18 tahun.

"Rasanya dia bersedia untuk mati untuk Mien. Tidak ada yang diharapkan selain percintaan dengan penuh berani pada Mien," kenang Wardoyo menggambarkan polah adiknya yang kasmaran.

Soekarno yang saat itu berusia 18 tahun bahkan nekat menemui Pak Hessels untuk melamar Mien. Apa jawaban keluarga Hessels?

"Kamu? Inlander kotor seperti kamu berani-beraninya mendekati anakku? Enyah kau binatang kotor!" bentak orang tua Hessels dengan geram.

Soekarno merasa terhina, malu, marah. Inilah salah satu hal yang akan terus diingat Soekarno. Memacu dirinya untuk membawa rakyat Indonesia agar bisa dipandang sejajar dengan bangsa manapun di dunia.

Waktu juga yang membuat Soekarno melupakan cintanya pada Mien Hessels. 23 Tahun kemudian, di tahun 1942. Soekarno sedang berjalan-jalan di Jakarta. Tiba-tiba dia ditegur oleh seorang wanita Belanda yang gemuk, tua dan jelek.

Wanita itu tertawa terkekeh-kekeh. "Dapatkah kau menebak siapa aku?" tanyanya pada Soekarno. Soekarno memperhatikan wanita itu dengan teliti. Berusaha mengingat-ingat. Tapi dia tidak tahu.

Wanita itu masih terkekeh. "Aku Mien Hessels," katanya. Soekarno terkejut luar biasa.

"HUhhhhh! Mien Hessels! Ratuku yang cantik seperti bidadari itu sudah berubah menjadi wanita sihir. Dengan cepat aku memberi salam padanya dan terus berjalan sambil mengucap syukur dan memuji Tuhan Yang Maha Penyayang karena telah melindungiku. Caci-maki yang telah dilontarkan ayahnya dulu sesungguhnya adalah rahmat yang terselubung bagiku. Kalau dipikir-pikir, dulu aku telah tertambat pada perempuan ini. Aku berterima kasih atas perlindungan Tuhan," ujar Soekarno dengan penuh rasa syukur.

Sep 26, 2010

Ganyang Malaysia?

Kompas.com - Unjuk rasa menentang Malaysia mengenai masalah perbatasan masih terus saja bermunculan di banyak tempat. Para pengunjuk rasa umumnya terdiri dari generasi muda.

Pola unjuk rasa mereka umumnya membakar bendera Malaysia sembari menuntut agar Pemerintah Indonesia bersikap lebih ”tegas” karena menganggap bahwa harga diri dan kedaulatan bangsa telah diinjak oleh negeri jiran tersebut.

Cukup banyak yang bahkan menuntut agar kita kembali ”mengganyang” Malaysia seperti pada tahun 1960-an, malah kalau perlu berperang. Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang zaman konfrontasi itu?

Istilah ”konfrontasi” dipopulerkan Menteri Luar Negeri Soebandrio pada 20 Januari 1963. Sikap bermusuhan terhadap Malaysia kemudian dipertegas oleh Presiden Soekarno lewat diumumkannya perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1963.

Isinya, selain perintah untuk memperkuat ketahanan revolusi Indonesia, seluruh rakyat juga diperintahkan membantu perjuangan rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia. Indonesia menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang didalangi Inggris sebagai upaya nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) membentuk sebuah negara boneka.

Adapun istilah ”Ganyang Malaysia” dilahirkan Bung Karno. Presiden pertama RI itu sangat gusar ketika dalam demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 Desember 1963 para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek- robek foto Soekarno, dan membawa lambang Garuda Pancasila ke hadapan PM Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman, dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

Insiden itu membuat Bung Karno murka. Ia pun berpidato:

”Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu, itu juga biasa. Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak Malaysian keparat itu.”

”Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.”

”Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”

”Yoo... ayooo... kita ganyang. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satoe- satoe!”


Rencana nekolim

Dibakar oleh pidato Bung Karno melalui radio itu (waktu itu radio merupakan media utama informasi), gerakan Ganyang Malaysia pun meledak ke seluruh negeri. Pendaftaran sukarelawan terjadi di mana-mana. Semangat bangsa saat itu memang sedang melambung setelah keberhasilan kita membebaskan Irian Barat pada tahun 1962.

Waktu itu, secara militer Indonesia merupakan negara terkuat di Asia Tenggara, terutama berkat persenjataan yang dibeli dari Uni Soviet. Semangat antinekolim juga sangat tinggi. Inggris pada tahun 1960-an itu masih merupakan kekuatan global.

Sebenarnya, Indonesia (dan Filipina) secara resmi setuju menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas rakyat di daerah yang akan dilakukan dekolonisasi menyetujui lewat referendum yang diorganisasi PBB. Namun, sebelum hasil referendum diumumkan, pembentukan Malaysia sudah diresmikan pada 16 September 1963, sesuatu yang dianggap Indonesia sebagai bukti rencana nekolim untuk terus mengangkangi Asia Tenggara.

Dari segi militer konfrontasi Indonesia-Malaysia, umum disebut sebagai undeclared war karena perang terjadi tanpa pernah didahului pernyataan perang. Inggris dan sekutunya (Malaysia, Australia, dan Selandia Baru) waktu itu memiliki sekitar 17.000 anggota pasukan di Kalimantan serta 10.000 anggota pasukan yang ada di Semenanjung Melayu.

Pertempuran kecil-kecilan (skirmishes) tentara Indonesia dengan Inggris terutama terjadi di perbatasan Kalimantan. Ada juga penyusupan tentara Indonesia di Semenanjung Malaysia.

Konfrontasi berakhir setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Presiden Soeharto. Jumlah korban tewas di kedua belah pihak lebih besar berada di pihak Indonesia (sekitar 590 orang dibandingkan dengan Inggris, Australia, Selandia Baru yang hanya 114 jiwa).

Dalam rangkaian konfrontasi ini, sebuah insiden pernah terjadi antara Indonesia dan Singapura tatkala Singapura tetap menggantung dua prajurit marinir Indonesia yang tertangkap waktu menyusup ke Singapura meski Presiden Soeharto sudah mengirim utusan khusus agar hukuman itu diperingan.

Insiden itu lama terekam dalam ingatan kolektif bangsa, antara lain lewat syair yang dinyanyikan dalam permainan kim (main tebak angka berhadiah ala Minang yang kemudian dilarang karena dianggap judi). Bunyinya ”Lee Kuan Yew sangat kejam, membunuh dua pahlawan, nama Harun dan Usman”.

Semua peserta tebak-tebakan pun langsung mafhum, angka yang keluar adalah 68, yakni tahun terjadinya penggantungan itu.

Kini kedua pemerintah, Indonesia dan Malaysia, sepakat menyelesaikan insiden perbatasan melalui jalur diplomasi (soft power). Pemakaian kekerasan atau hard power dianggap tidak akan dapat memecahkan masalah.

Namun, perlu diingat, dalam penyelesaian suatu sengketa perbatasan, hard power sering diperlukan sebagai back-up dari diplomasi. Sengketa Irian Barat (Papua) dengan Belanda juga bisa dimenangkan dengan perpaduan kedua hal itu.

Publik mestinya masih ingat, sewaktu penyelesaian kasus sengketa Sipadan-Ligitan dengan Malaysia pada 2002, melalui Mahkamah Internasional pemerintah berusaha meyakinkan masyarakat bahwa kans kita menang fifty-fifty karena kita mempunyai bukti-bukti yang sahih tentang kepemilikan dua pulau tersebut.

Ternyata hasilnya jeblok. Kita kalah karena hanya satu hakim yang memenangkan dalih-dalih kita dan 16 lainnya menolak.

Aug 23, 2008

Saat Bung Karno Jadi Sutradara


Deretan pakaian warna- warni gaya Eropa abad ke-19 hingga awal abad ke-20 digantung dalam lemari kaca di Gedung Persada Soekarno, rumah tinggal Bung Karno di Bengkulu. Busana aneka warna dan perlengkapan panggung itu merupakan warisan karya Soekarno di pembuangan saat dia mengembangkan salah satu talenta sebagai sutradara kelompok tonil ternama, Monte Carlo.

Pelbagai kisah roman, kepahlawanan, hingga dukungan Soekarno terhadap perjuangan Tiongkok saat diserbu Jepang tahun 1937 ditampilkan dalam pelbagai pertunjukan Monte Carlo. Pelbagai golongan masyarakat senantiasa memadati pertunjukan Monte Carlo yang juga berkeliling ke kota lain di Bengkulu semasa Soekarno diasingkan (1938-1942).

Lusi Liana, petugas di Persada Bung Karno, mengatakan, kostum kelompok Monte Carlo merupakan salah satu peninggalan Proklamator yang tidak banyak diketahui. ”Tidak banyak yang tahu bahwa beliau juga berbakat di seni panggung. Beliau sendiri yang menulis naskah dan mengatur kelompok Monte Carlo yang sangat terkenal sebelum Perang Dunia II,” kata Lusi.

Ragam naskah

Ragam naskah yang ditulis Bung Karno di Bengkulu menunjukkan betapa, meski hidup di pengasingan, dia tidak ketinggalan mengikuti perkembangan dunia luar. Sebagai contoh adalah naskah Chungking Djakarta, Rainbow atau Poetri Kentjana Boelan, Koetkoetbi, Si Ketjil (Klein’ duimpje), dan Hantoe Goenoeng Boengkoek. Kisah Chungking Djakarta memaparkan perjuangan masyarakat Tionghoa di Nusantara yang menyokong perang melawan agresi kaum fasis militer Jepang di daratan Tiongkok.

Bung Karno, seperti ditulis sejarawan Bengkulu Agus Setiyanto dalam Bung Karno Maestro Monte Carlo, bersikap menentang agresi Jepang di Tiongkok. Dikisahkan dalam Chungking Djakarta tentang perjuangan kaum Huakiao dan peranakan yang mengumpulkan dana perjuangan mendukung pemerintah Zhung Hua Min Guo (Republik Tiongkok) dalam menentang agresi Jepang yang membabi buta.

Kisah itu sejalan dengan karya sastra Melayu-Tionghoa pada zamannya, yang juga menyatakan perlawanan terhadap ekspansi fasis dan militer Jepang, seperti karya Batalyon Setan oleh Monsieur d’Amour dan Pendekar dari Chapei karya Kwee Tik Hoay yang diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Masa itu semangat perlawanan terhadap fasisme Jerman, Italia, dan Jepang memang menggelora.

Naskah lain menampilkan kedalaman, pemahaman pengetahuan, dan toleransi Bung Karno terhadap keberagaman. Kisah Rainbow alias Putri Kentjana Boelan menampilkan persaudaraan antarelite penguasa Inggris yang mengadopsi seorang putri bangsawan Bumiputera Bengkulu.

Kisah Koetkoetbi menampilkan cerita zaman Hindu di Jawa dengan para empu sakti hingga awal abad ke-20. Para arkeolog di Jawa awal abad ke-20 bertemu dengan Koetkoetbi, seorang pelayan kuil yang dikutuk Empu Agni. Pelbagai istilah dan kata bahasa Sansekerta dan Jawi Kuna digunakan Bung Karno.

Kisah terakhir tentang Klein Dumpje atau Si Kecil Djem- polan diadopsi dari kisah Eropa tentang kecerdikan seorang anak bungsu yang berhasil menyelamatkan enam kakak- nya yang nyaris dimangsa raksasa.

Sisi lain seorang Bung Karno dalam dunia panggung nyaris tenggelam ditelan masa. Bahkan, naskah-naskah karya Bung Karno di Bengkulu ditemukan secara tidak sengaja di Istana Bogor tahun 2002.

Padahal, ketika itu sejumlah bintang juga lahir dari Monte Carlo. Reputasi Monte Carlo kala itu nyaris seperti kelompok Dardanella, Miss Tjitjih. Salah seorang bintang panggung, yakni Hanafi, yang menambah namanya dengan Anak Marhaen (AM) Hanafi, kelak menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Kuba. Monte Carlo adalah sisi lain seorang Soekarno yang memiliki kedalaman rasa soal seni budaya. Kota Bengkulu dan Persada Bengkulu merekam catatan sejarah. (ONG)

Foto-foto Bung Karno lainnya >>