Showing posts with label Medan. Show all posts
Showing posts with label Medan. Show all posts

Mar 4, 2016

Seekor Bayi Harimau Sumatera Lahir, Akan Dinamakan "Benar"

Kompas.com - Seekor anak harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) lahir di Taman Margasatsa Medan atau Medan Zoo.

Jul 6, 2015

Percikan Api di Hercules Pengangkut Jenazah Sempat Buat Keluarga Korban Panik

Kompas.com - Keluarga korban pesawat Hercules C-130 yang jatuh pada Selasa (30/6/2015) sempat dibuat panik. Mereka yang sedang berada di Lanud Soewondo, Medan, terkejut akibat munculnya percikan api dari pesawat pembawa jenazah. Pesawat Hercules C-130 dengan nomor registrasi A-1321 yang akan membawa delapan jenazah ke Pekanbaru itu akhirnya gagal terbang.

Keluarga korban yang rencananya ikut mengantar sempat melihat ada percikan api di bawah bangku pilot. Dengan panik dan ketakutan, mereka keluar dari pesawat.

Saksi mata, Vanesya Romina Sembiring, mengatakan, saat pesawat mulai dihidupkan terdengar suara mesin yang tidak biasa dan terlihat percikan api dari tangga menuju ruang kemudi pilot. Melihat adanya percikan api, petugas yang berada di dalam pesawat langsung menyuruh para keluarga yang ada di dalam pesawat untuk segera keluar dari pesawat.

"Tadi kami sudah di dalam pesawat, pas pesawat mulai dihidupkan, tiba-tiba kami rasa ada yang aneh. Terus salah satu dari kami melihat di dekat ruang kemudi ada seperti percikan api. Karena kaget serta panik, petugas TNI AU yang ada di dalam pesawat langsung menyuruh kami keluar," kata Romina.

Akibat peristiwa ini, pesawat gagal terbang dan diganti dengan pesawat CN 295 yang berangkat pukul 09.30 WIB tadi. Rencananya, delapan jenazah yang sudah bersemayam satu malam di Hanggar Soewondo, Medan, tersebut akan diberangkatkan ke Pekanbaru Ranai dan Malang pada pukul 07.30 WIB. (Baca juga: Hercules Rusak, Pengiriman Jenazah Korban Sempat Tertunda)

Insiden biasa

Menanggapi peristiwa ini, Panglima Komando Operasi (Pangkoops) I Marsekal Muda Agus Dwi Putranto mengakui memang ada insiden yang membuat keluarga korban sempat terkejut dan panik. Marsda Agus Dwi Putranto yang rencananya ikut terbang dengan pesawat Hercules itu pun menganggap itu sebagai peristiwa biasa.

"Ini kejadian biasa, tidak parah. Namanya hari-hari dalam misi pesawat apa pun bisa terjadi. Ada sistem yang mengalami kelainan. Kalau ada kelainan, lebih baik ditunda berangkat. Sudah dicek, tidak ada tanda-tanda. Namanya pesawat, ya begitulah sebelum start bisa terjadi," kata Agus, Jumat (3/7/2015).

Pesawat Hercules C-130 dengan nomor penerbangan A-1321 itu rencananya akan mengantarkan delapan korban pesawat ke Lanud Rusmin Nurjadin, Pekanbaru, Ranai Natuna, dan Lanud Abdurrahman Saleh, Malang.

Akibat insiden tersebut, keberangkatan jenazah dan keluarganya harus menunggu pesawat CN-294 yang tengah menuju Lanud Soewondo, Medan.

Hercules A-1321 ini adalah jenis pesawat yang sama dengan Hercules yang jatuh dan menimpa bangunan di Jalan Jamin Ginting, Medan, Selasa siang lalu.

Berikut nama-nama korban yang diberangkatkan dengan pesawat pengganti Hercules CN-295:

1. Wahyu Rezqi Fitra, mahasiswa baru Universitas Riau yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
2. Robianto, mahasiswa baru Universitas Hang Tuah Pekanbaru yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
3. Roslina Wati, ibu Robianto yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
4. Indriana Br Sembiring yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
5. Anggi, mahasiswa di Pekanbaru yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
6. Reski Budi Perkasa, mahasiswa, Pekanbaru.
7. Rinaldi Wahyu, Pekanbaru.
8. Erni Br Sembiring, Malang.

Mar 21, 2014

Bocah Siti Aisyah, Setahun Lebih Tidur di Becak Bersama Ayahnya yang Sakit

Detik.com - Siti Aisyah Pulungan (8) sudah lebih dari satu tahun tidur di becak bersama ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (56) yang sakit parah. Jika malam tiba, keduanya meringkuk di atas becak yang diparkir di teras rumah warga. Saat hujan, suasana menjadi semakin sulit.

Aisyah kini tidak sekolah lagi. Dulu dia sempat duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD), namun seiring dengan kondisi ayahnya yang sulit, kesehariannya kini hanya menjaga ayahnya.

"Mulai dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, hanya menjaga ayah,” kata Aisyah di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (19/3/2014) sore.

Becak barang itu menjadi rumah bagi Aisyah dan ayahnya. Ada bantal, ember, selimut, pakaian dan kebutuhan harian lainnya. Mereka tinggal dan beraktivitas di atas becak itu. Malam hari mereka memarkirkan becaknya di depan teras rumah warga di seputar Jalan Sisingamangaraja. Jika pagi tiba, mereka pindah ke sekitar Masjid Raya. Aisyah lah yang mendayung becak itu.

Sang ayah Nawawi menderita penyakit komplikasi paru yang berimbas pada kondisi fisiknya. Kurus layu dan tidak bisa menggerakkan sebagian besar tubuh. Aisyah menjadi tumpuan. Setiap hari Aisyah yang memberi makan, minum, dan memberi obat dan mengurus kebersihan tubuh ayahnya.

Setiap hari keduanya memarkirkan becak mereka di samping Masjid Raya. Masjid bersejarah ini menjadi bagian dari penyambung hidup mereka. Saat masjid sedang tidak ramai, Aisyah masuk dan membersihkan tubuh di kamar mandi masjid itu. Usai mandi, dia kemudian membawa kain yang sudah dibasahi untuk mengelap tubuh ayahnya. Begitu cara ayahnya mandi.

Tapi jika akan ke kamar mandi masjid, Aisyah tidak akan masuk dari pintu depan. Ini masjid yang rutin dikunjungi turis dan pejabat, jika Aisyah terlihat masuk dari depan, bisa menyulitkan penjaga. Maka Aisyah masuk dengan cara melompati pagar masjid. Penjaga masjid tahu, tapi tidak memarahi.

Keberadaan Aisyah dan ayahnya tidak disukai pejabat kelurahan. Mereka sering diusir, apalagi jika pejabat akan datang mengunjungi Masjid Raya. Jika sudah begitu, maka Aisyah akan mendayung becaknya, membawa ayahnya pergi ke tempat yang aman.

Nov 17, 2012

Aktivis Sesalkan Pembakaran 1.500 Ekor Burung Jalak di Sumut

Hafli Hasibuan
Detik.com - Pemusnahan 1.500 ekor burung jalak dengan cara dibakar di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut) disesalkan aktivitas lingkungan hidup. Pemusnahan dengan cara dibakar hidup-hidup dipandang tidak etis dan memberi kesan negatif.

Program Manager Wildlife Conservation Society, Indonesia Program, Dwi Nugroho Adhiasto menyatakan ada beberapa cara lain yang dapat ditempuh dalam pemusnahan itu. Pilihannya haruslah yang mempertimbangkan animal welfare atau etika kesejahteraan satwa. Itu pun harus dengan alasan yang cukup, apakah mengandung virus berbahaya maupun aspek bahaya lainnya.

"Apakah dengan cara ditidurkan dahulu dengan cara dibius, atau pilihan-pilihan yang lain. Pembakaran hidup-hidup bukanlah opsi yang pas. Tidak memenuhi prinsip animal welfare, dan hal itu tidak dapat dibenarkan," kata Dwi Nugroho Adhiasto kepada wartawan, Senin (12/11/2012).

Pernyataan senada juga disampaikan Rasyid Assaf Dongoran dari Sumatra Rainforest Institute (SRI) yang berkantor di Medan. Dia menyatakan, pemusnahan itu hendaknya mempertimbangkan situasi yang ada.
"Jika memang tidak berbahaya, tidak mengandung virus tertentu, akan lebih baik jika dilepaskan saja," katanya.

Pemusnahan burung jalak itu berlangsung pada Sabtu (10/11/2012) di kompleks Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Tanjung Balai Asahan di Tanjung Balai, Sumut. Dari 1.500 burung itu, sebagian besar sudah mati, dan kemudian dibakar. Ikut dibakar dalam kesempatan itu, sekitar 300 ekor burung jalak yang masih hidup. Burung yang masih hidup berikut sangkarnya dilemparkan ke tumpukan api.

Burung jalak itu diselundupkan dari Malaysia. Patroli Satuan Polisi Air (Satpolair) Tanjung Balai menemukannya, pada Jumat (2/11/2012) lalu dari KM Eme Jaya yang melintas di perairan Sungai Asahan sekitar Pulau Leibos, Kecamatan Teluk Nibung. Pemusnahan dilakukan setelah adanya surat penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri Tanjung Balai tanggal 8 November 2012.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Tanjung Balai - Asahan, Hafli Hasibuan mengatakan, pemusnahan dilakukan karena burung jalak asal Malaysia tersebut tidak memiliki dokumen resmi. Selain itu dicurigai dapat menjadi media pembawa virus berbahaya.

Oct 9, 2012

Harimau Sumatera Mati Saat Diterbangkan dari Aceh ke Surabaya

Ilustrasi
Detik.com - Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae ) mati saat hendak dipindahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dengan pesawat Garuda Indonesia ke Surabaya. Pesawat yang membawa harimau malang itu sempat transit ke Medan sebelum akhirnya harimau itu dibawa lagi ke Aceh.

"(Ditemukan mati) pukul 12-an, Selasa (2/10/12) kemarin di Medan pas transit," jelas Kepala Pusat Humas Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Sumarto Suharno di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (4/10/12).

Kematian harimau yang berkategori langka ini sangat disayangkan berbagai pihak. Sumarto menjelaskan ada ketidakwajaran dalam kematian harimau itu.

"Pada waktu ganti pesawat petugas yang dari bandara Aceh tidak tahu kalau hewan itu dikembalikan lagi," terangnya.

Sumarto mengaku petugasnya sudah menjalankan Standard Operating Procedure (SOP) pemindahan satwa dengan benar. Kini pihak Kemenhut sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab matinya harimau tersebut.

"Nanti kita lihat (penjelasan) dari Dirut Garuda, kan (kita) sudah sesuai prosedur. Tapi nanti kan ada penyelidikan dan penyidikan dilakukan oleh penyidik PNS Kemenhut," jelasnya.

Apakah ada salah mekanisme di pihak pengangkut?

"Yang jelas ada yang salah mekanisme. Karena kasus ini bukan yang pertama kali, kebetulan sebelumnya ada yang mati tahun 2008 yaitu primata dari Indonesia ke Jepang. Pada tahun 2010 harimau dari Yogya ke Sumatera Barat (mati)," jawab Sumarto. Harimau itu sejatinya hendak ditempatkan di area konservasi Jatim Park II di Kota Batu, Jawa Timur.

Harimau sumatera termasuk jenis yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah No 7/1999. Status konservasi harimau sumatera berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) dikategorikan terancam punah.

May 28, 2012

Aipda Giono Menghibur Publik Lewat Hipnotis

Liputan6.com - Bakat menghibur orang lain tak memandang profesi. Lembaga yang dikenal serius seperti kepolisian pun memiliki seorang penghibur. Aipda Giono mempunyai kemampuan hipnotisme yang ditampilkan untuk menghibur orang. Aksinya bak entertainer profesional.

Seorang wanita paruh baya yang hadir dalam suatu acara menjadi salah satu target hipnotisnya. Dalam pengaruh hipnotis sang polisi, wanita itu pun 'berani' tampil mengikuti apa yang diminta Aipda Giono. Termasuk memberikan nasihat dan menyanyi membawakan lagu Krisdayanti.

Kemampuan hipnotisme ini dalam tugasnya sehari-hari sebagai polisi bisa bermanfaat yakni membantu memberikan petunjuk. Namun selama ini belum pernah diterapkan dalam dinas kecuali hanya sebagai sarana menghibur orang lain.

Aktivitas personel polisi yang sangat menghibur ini dijalani Giono di luar jam dinasnya di Polresta Medan. Lembaganya pun tak menganggap kegiatan personelnya sebagai masalah. Video