Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts

May 26, 2017

Dua Penjual Kulit Harimau Ditangkap

Kompas.com - Jajaran Polres Bengkulu Utara bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) membekuk dua pelaku penjualan kulit harimau sumatera dan tulang, Sabtu (13/5/2017) pukul 23.00 WIB.

Apr 5, 2017

Kalimantan Selatan Miliki Kura-kura Paling Terancam di Dunia

Tempo.co - Kalimantan Selatan memiliki kura-kura yang paling terancam di dunia, yakni Tum-tum atau tuntong laut (Batagur borneoensis, dulunya bernama Callagur borneoensis). Binatang langka ini juga ditemui di Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.

Sep 8, 2016

KLHK: APSL Bakar Lahan 2.000 Hektare di Riau

Cnnindonesia.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan PT Andika Permata Sawit Lestari (APSL) diduga melakukan pembakaran lahan pada wilayah konsesinya di Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Jerman Tuduh Fiat-Chrysler Curang Seperti VW

Kompas.com - Kementerian Transportasi Jerman mengajukan permintaan resmi kepada komisi Eropa dan pihak berwenang di Italia untuk mengecek mesin diesel 4-silinder 2.0L milik Fiat Chrysler Automobiles (FCA). Mesin ini dicurigai memiliki perangkat lunak ilegal.

Aug 3, 2016

Terekam Kamera, Macan Tutul Jawa di Kaki Gunung Kukusan

Kompas.com - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) kembali menemukan keberadaan macan tutul jawa atau Panthera pardus melas setelah kamera pengintai yang dipasang oleh Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNBTS menangkap keberadaan hewan yang populasinya mulai kritis itu.

Harimau Sumatera Tak Terdeteksi di Enam Kantung Habitat

Kompas.com - Studi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga konservasi mengungkap, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) sudah tidak terdeteksi di sejumlah kantung habitat.

Jun 17, 2016

Enam Ekor Lumba-lumba Terdampar di Teluk Kendari

Kompas.com - Sebanyak enam ekor lumba-lumba sepanjang 2 meter terdampar di perairan Desa Sama Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Rabu (15/6/2016).

May 14, 2016

Anak Badak Sumatera yang Baru Lahir Berjenis Kelamin Betina

Kompas.com - Anak badak Sumatera yang baru terlahir pada Kamis (12/5/2016) berjenis kelamin betina.

Apr 22, 2016

Harimau Kamboja Resmi Dinyatakan Punah

Kompas.com - Para aktvis konservasi Kamboja, Rabu (6/4/2016), untuk pertama kalinya menyatakan harimau di negeri itu telah punah.

Apr 9, 2016

Singa di Taman Safari diduga dibius biar bisa foto dengan pengunjung

Merdeka.com - Ada-ada saja kelakuan sejumlah pihak untuk meraup pundi-pundi rupiah ke dalam kantongnya. Dengan melakukan eksploitasi terhadap sesama makhluk hidup pun dilakoni agar mendapat untung.

Apr 8, 2016

Dua Badak di Kutai Barat Akan Jadi Prioritas Penyelamatan

Kompas.com - Pascakematian Najag, badak sumatera di Kalimantan yang tertangkap pada 12 Maret 2016, pegiat konservasi berencana untuk fokus menyelamatkan dua badak lain di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Mar 18, 2016

Lahir Prematur dan Alami Dehidrasi, Si Benar Mati

Kompas.com - Cuma bertahan hidup sembilan hari, Si Benar, seekor bayi Harimau Sumatera yang lahir, Kamis (18/2/2016), ditemukan mati di kandang sempit di Taman Margasatwa Medan atau Medan Zoo, Jumat (26/2/2016) dinihari.

Mar 4, 2016

Seekor Bayi Harimau Sumatera Lahir, Akan Dinamakan "Benar"

Kompas.com - Seekor anak harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) lahir di Taman Margasatsa Medan atau Medan Zoo.

Jul 2, 2015

Kota New York Larang Penggunaan "Styrofoam"

Kompas.com - Mulai Rabu (1/7/2015), produk-produk expandable polystyrene foam (EPS) sekali pakai, termasuk gelas, mangkuk, piring, dan boks makan, tidak boleh dimiliki, dijual, atau ditawarkan di kota New York, Amerika Serikat.

Pihak penjual memiliki waktu enam bulan untuk menuruti larangan itu atau harus membayar denda.

"Produk-produk ini menyebabkan kerusakan lingkungan dan tidak memiliki tempat di New York City. Kita memiliki alternatif lebih baik," kata Wali Kota New York Bill de Blasio dalam sebuah pernyataan mengenai larangan itu.

Apa sebenarnya dampak EPS? Inilah sebuah panduan singkat tentang barang tersebut.

Temuan era 1940-an

EPS yang dijual di AS dengan merek styrofoam ditemukan oleh peneliti Otis Ray McIntire dari Dow Chemical pada 1941 lampau.

Untuk membuatnya, butiran-butiran kecil polymer polystyrene dipanaskan dengan bahan kimia hingga mengembang 50 kali lipat dari volume awal. Setelah pendinginan dan pengendapan, butiran yang sudah diperbesar itu dimasukkan ke cetakan, seperti bentuk gelas minum, lalu dipanaskan dan diperbesar lagi, sampai cetakan itu terpenuhi dan semua butiran melebur dan menyatu.

Produk akhir yang didapat adalah bahan ringan dan murah yang 95 persen isinya udara. Sifatnya yang menginsulasi dan biaya produksinya yang murah menjadikan EPS pilihan yang populer bagi banyak perusahaan.

Mencemari lingkungan

Diperkirakan bahwa di AS setiap tahun terdapat 25 miliar cangkir kopi EPS menjadi sampah. Jumlah yang banyak, tetapi kalah jauh dibandingkan 100 miliar kantong plastik yang digunakan warga AS tiap tahun.

Adapun di Hongkong, misalnya, 135 ton sampah EPS dibuang ke tempat pembuangan sampah pada 2006. Namun, itu hanya menyumbang 5 persen dari semua sampah plastik Hongkong.

Jumlah limbah EPS yang sedemikian besar dikhawatirkan para aktivis lingkungan ketika bocor ke lingkungan laut dan mencemari air.

Menurut Douglas McCauley, seorang profesor biologi kelautan di University of California, Santa Barbara, ada dua isu utama yang disebabkan EPS kepada hewan laut.

"Alasan teknisnya sangat sederhana," kata McCauley, "Sering kali, kita menemukan busa polystyrene bersarang di usus yang menyebabkan penyumbatan mematikan. Jika Anda berpikir bagaimana kita khawatir tentang penyumbatan ringan bila makan yang salah, bayangkan saja memakan bola styrofoam. Itulah yang terjadi pada beberapa hewan-hewan ini."

Secara kimia, sifat menyerap yang dimiliki EPS membuatnya makin berbahaya.

"Busa polystyrene bekerja seperti spons yang mencemari dan membawa kotoran terburuk dari laut," kata McCaulet. "Lalu, seekor hewan seperti penyu laut datang dan memakannya."

Ini tidak hanya buruk bagi dunia laut saja. EPS juga bisa membahayakan manusia.

"Sangat mengkhawatirkan bagi saya memikirkan bahwa ikan-ikan yang memakan plastik ini bisa kembali dan menjadi santapan kita,” kata McCauley.

Sulit didaur ulang

Sulitnya mendaur ulang EPS adalah alasan utama larangan penggunaannya di kota New York.

Kathryn Garcia, pejabat bidang sanitasi di New York, mengatakan, "Belum terbukti bahwa pendauran ulang styrofoam bisa dilakukan dalam skala besar dan belum terdapat pasaran untuk bahan ini."

Karena proses kimia yang mengubah butiran-butiran polystyrene menjadi EPS, sangat tidak mungkin mengubah sebuah piring EPS, misalnya, menjadi kemasan boks EPS.

"Anda tidak bisa mengambil gelas EPS daur ulang dan membuatnya menjadi cetakan lain karena itu sudah diperbesar," kata Joe Biernacki, profesor teknik kimia di Tennessee Tech University. "Yang Anda butuhkan adalah butiran polystyrene murni."

Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah EPS bisa diciutkan kembali dengan biaya minimal.

Salah satu langkah yang telah dicoba adalah pendauran ulang thermal. Dalam proses ini, EPS daur ulang dibakar di pembakaran sampah kota, yang menguapkan karbondioksida dan air. Ini menjadikan EPS bahan bakar yang baik untuk program konversi sampah ke energi yang menggunakan panas.

Walau daur ulang thermal bisa menjadi solusi efektif bagi sampah polystyrene, praktik semacam itu jarang dilakukan karena perlu banyak biaya untuk membawa polystyrene berukuran besar ke pusat daur ulang.

Berdampak pada bisnis

Karena alasan ini, restoran McDonalds berhenti menggunakan EPS sebagai wadah makanan sejak 1990-an dan berhenti total menggunakan EPS pada 2013. Restoran itu mengganti EPS dengan wadah yang berbahan dasar kertas.

Kemudian, restoran Dunkin’ Donuts menemukan bahan lain terbuat dari komponen yang lebih mudah didaur ulang, polypropylene.

Polypropylene adalah bahan berbasis resin atau getah yang sering digunakan jika pengunjung ingin membungkus santapannya. Walau polypropylene lebih mudah didaur ulang dibandingkan polystyrene, biayanya juga lebih mahal.

Astrid Portillo, pemilik restoran Mi Pequeno El Salvador di wilayah Queens, mengatakan, "Saya harus menaikkan harga makanan dan itu adalah hal yang sulit."

Namun, Wali Kota De Blasio berharap tindakannya bisa mengubah itu.

"Bila kota-kota lain di negara ini mencontoh kita dan memberlakukan larangan yang sama, alternatif-alternatif lainnya akan segera muncul dengan biaya lebih rendah," katanya.

Kebijakan pelarangan penggunaan styrofoam di New York telah dilakukan di Oxford, Inggris.

Semua restoran dan warung makanan di kota pelajar itu sekarang diharuskan menggunakan kemasan yang ramah lingkungan atau yang bisa didaur ulang.

Apr 25, 2015

Langka, Percumbuan Sepasang Harimau Sumatera Tertangkap Kamera

Kompas.com - Percumbuan sepasang harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) tertangkap kamera. Foto menyuguhkan pemandangan menarik tentang perilaku satwa eksotis yang kini kian terancam oleh perusakan hutan itu.

Adegan percumbuan itu ditangkap oleh kamera jebak WWF Indonesia yang dipasang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kamera menangkap aktivitas harimau yang jarang dilihat publik itu pada pertengahan Desember 2014.

Rekaman dengan kamera jebak itu menunjukkan dua harimau tampak malu-malu. Pakar harimau WWF Indonesia, Yoseph Vattakayen, mengungkapkan, itu menandakan bahwa keduanya baru saja bertemu. Harimau betina memberikan sinyal positif, ditandai dengan posisi tubuhnya.

"Menyadari adanya kesempatan, harimau jantan tersebut memberikan respons dengan melakukan flehmen, menjulurkan lidahnya dan memamerkan gigi dengan wajah lucu sambil mengendus-endus harimau betina," urai Yoseph dalam rilis WWF Indonesia, Selasa (21/4/2015). Dalam foto, sepasang harimau itu tampak sedang berciuman.

Harimau sumatera jantan yang tertangkap kamera bernama Riko. Individu itu pernah tertangkap kamera WWF sebelumnya. Kamera jebak WWF Indonesia di TNBBS sendiri sudah dipasang sejak tahun 2013, dan berhasil mengidentifikasi 5 harimau, antara lain 2 jantan dan 3 betina.

Harimau sumatera kini menjadi spesies yang terancam. "Selama 2014 saja, TIM Gabungan WWF-TNBBS telah menyapu 80 jerat harimau dan 2 senjata api ilegal dalam wilayah TNBBS," kata Yob Charles, Project Leader WWF Program Bukit Barisan Selatan.

Di luar soal perilaku menarik, hasil tangkap kamera terhadap harimau sumatera kali ini harus menjadi momen bagi pemerintah untuk melindungi salah satu satwa ikonis Indonesia tersebut agar populasinya tetap terjaga.

Feb 12, 2015

Hiu Paus yang Terdampar di PLTU Paiton Akhirnya Mati

Kompas.com - Hiu paus (Rhyncodon typus) yang terjebak di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton akhirnya mati. Tim penyelamatan hiu paus mengonfirmasinya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (11/2/2015).

"Berdasarkan identifikasi awal, hiu mati terjebak dalam waktu lama serta mengalami luka yang cukup dalam," kata Dwi Suprapti, Marine Species Coordinator WWF Indonesia, yang ikut mengobservasi hiu paus tersebut.

Dwi menambahkan, luka yang dialami hiu paus menyebabkan daya tahan tubuhnya turun. Berpadu dengan waktu terjebak yang cukup lama, kondisi hiu makin menurun sehingga akhirnya mati.

"Saat ini, nekropsi (otopsi pada hewan) baru akan kita lakukan," kata Dwi saat dihubungi hari ini. Otopsi akan menjawab lebih detail tentang penyebab kematian satwa langka yang terjebak sejak 31 Januari 2015 lalu.

Menurut observasi awal, hiu paus itu telah mati selama delapan jam. Saat ini, penyebab terjadinya luka belum diketahui, apakah sebelum atau sesudah terjebak. "Yang bisa dipastikan itu karena benda tajam," kata Dwi.

Hiu paus tergolong binatang dilindungi di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus.

Sebelum mati, sejumlah skenario sempat digagas untuk mengembalikan hiu paus ke habitatnya. Sayang, sejumlah skenario itu masih gagal menyelamatkan satwa dengan kulit keras dan penuh totol itu.

Feb 11, 2015

Tak Ada Lagi Badak Sumatera di TNKS?

Kompas.com - Organisasi lingkungan hidup Genesis Bengkulu menyebutkan hasil investigasi yang mereka lakukan di Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) menunjukkan bahwa tak ada lagi badak sumatera di wilayah itu.

"Kami melakukan pengamatan dan wawancara, termasuk terhadap para pemburu. Mereka katakan, sejak lima tahun terakhir badak sumatera tak ditemukan lagi di TNKS," kata Berlian, Ketua Yayasan Genesis Bengkulu, Senin (9/2/2015).

Berlian mengatakan, berdasarkan keterangan para pemburu, lima tahun lalu, seekor badak terlihat di wilayah TNKS. Namun, saat ini mereka tak pernah menjumpainya lagi. Investigasi dengan memantau jejak, kubangan, dan tempat tinggal pun menunjukkan bahwa badak tersebut kini tak lagi terlihat.

"Wilayah TNKS di Provinsi Bengkulu ini hanya 30 persen, artinya sangat mudah untuk mengidentifikasi jika keberadaan badak sumatera itu masih ada," tambah dia.

Info dari masyarakat pinggiran hutan juga menyatakan hal yang serupa. Menurut Berlian, warga yang tinggal di tepian hutan saat ini tak lagi menemukan jejak badak dan kubangan. "Sudah lama warga tak menemukan jejaknya. Kalau dulu, kubangan, jejaknya, ada. Sekarang tak ada lagi. Perburuan pun secara otomatis hilang," kata Berlian.

Apr 5, 2014

Kena Jerat, Kaki Harimau Sumatera Diamputasi

Ilustrasi
Kompas.com - Harimau Sumatera betina dewasa berat 70 kilogram, panjang 150 centimeter dan tinggi satu meter, Kamis (3/4/2014) kemarin, diamankan oleh petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu.

Harimau itu terkena jerat milik warga di Kabupaten Kaur. Harimau langsung dibawa ke kantor BKSDA di Kota Bengkulu setelah dievakuasi dari Kabupaten Kaur yang berbatasan dengan Provinsi Lampung.

Akibat terkena jerat lebih dari tiga hari, kaki kanan bagian depan harimau tersebut tampak membusuk sehingga harus diamputasi.

Petugas medis harimau, drh. Erni Suyanti, menyatakan harimau didapat di sekitar lokasi PT Dinamika Selaras Jaya, perkebunan kelapa sawit, Trans Sulau dalam kondisi terjerat, di Kabupaten Kaur, Bengkulu.

“Kami mendapatkan info terdapat harimau terkena jerat warga dan langsung harimaunya dievakuasi,” kata dia.

Harimau tersebut juga akan diberi suntikan anti biotik, penghilang rasa sakit dan dehidrasi. Selain itu, hewan ini juga akan diberi suplemen, pascaoperasi amputasi kakinya, sedangkan pasca pemulihan, pihaknya masih menunggu keputusan Menteri Kehutanan tentang harimau ini.

“Idealnya, akan dikembalikan ke alam bebas, tapi melihat kondisinya akan cacat, kita terpaksa menunggu keputusan dari menteri akan dibawa ke mana harimau ini,” kata Erni Suyanti.