Showing posts with label Pilpres 2009. Show all posts
Showing posts with label Pilpres 2009. Show all posts

Jul 29, 2014

PPP Tarik Dukungan, Prabowo Lempar Ponsel

Tempo.co - Ada kisah tersisa dari Pemilu 2009. Ketika Partai Persatuan Pembangunan menarik dukungan dari Partai Gerindra pada pemilihan presiden 2009, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto sempat melemparkan telepon selulernya ke arah petinggi PPP (baca pula: Saat Prabowo-PPP Bertemu, Terdengar Suara 'Dor!').

Cerita itu bermula ketika sejumlah petinggi PPP bertemu Prabowo di rumah Hashim Djojohadikusumo di Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada 10 Mei 2009. Petinggi PPP yang hadir antara lain Suryadharma Ali, Suharso Monoarfa, Hasrul Azwar, dan Joko Purwanto. (Baca: Prabowo-Aburizal Makan Siang Bareng, Bahas Apa?)

Saksi di peristiwa itu menuturkan kepada Tempo, setelah PPP menyatakan maksud hati menarik dukungan ke Gerindra, Prabowo mengambil telepon selulernya di atas meja. Sambil marah-marah, ia melemparkannya ke arah Suharso. “Beruntung Suharso bisa mengelak,” kata saksi itu kepada Tempo.

Hasrul membenarkan adanya pertemuan itu. “Yang banyak bicara Suharso (kini menjabat Wakil Ketua Umum PPP), Suryadharma lebih banyak diam,” ujar Hasrul Kamis, pekan lalu. Adapun Suharso tak mau berkomentar soal kisah ini. (Baca pula: Gandeng PPP, Aburizal: Kalau Saya Cocok Banget)

Kepada Tempo, Prabowo sendiri pernah berkisah soal pertemuan itu saat mengunjungi rumahnya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Oktober tahun lalu. Sayang, semua keterangan mantan Komandan Jenderal Pasukan Khusus itu tidak untuk dipublikasikan.

Jun 25, 2009

Beredar Selebaran Istri Boediono Katolik di Kampanye JK

Sebuah selebaran dibagi-bagikan 2 pria kepada ratusan hadirin saat kampanye Capres Jusuf Kalla di Medan, Sumatera Utara.

Mayoritas hadirin yang didominasi perempuan berjilbab ini tampak menerima selebaran itu ketika JK bertemu dengan pemuka agama di asrama haji Medan, Sumatera Utara, Kamis (24/6/2009).

Selebaran itu berisikan foto kopi berita yang dimuat oleh Tabloid Indonesia Monitor edisi 49 tahun I/3-9 Juni 2009.

Berita itu hasil wawancara dengan Habib Husein Al Habsy dan diberi judul "Apa PKS tidak tahu istri Boediono Katolik?"

Ada sekitar 15 pertanyaan yang diajukan kepada Habib Husein. Isinya, seputar pernyataan Habib Husein yang menyesalkan SBY memilih Boediono.

Menurut Habib, SBY memilih Boediono tanda bahwa SBY tidak memperhatikan aspirasi parpol Islam.

Salah satu pertanyaannya, Apakah lobi partai Islam terlalu lemah untuk menjadi pendamping SBY?

Habib Husein pun menjawab. Satu hal dari PKS, dan partai Islam lainnya, mereka sama sekali tidak diperhitungkan oleh SBY. Tetapi, mereka semua justru mengakali umat untuk kepentingan mereka masing-masing.

Apakah PKS tidak tahu, bahwa istrinya Boediono katolik. Tetapi, saya tidak akan bahas itu, katolik atau bukan. Tetapi, kejadian ini menunjukkan keadaaan yang tidak demokratis.

Boediono ini Islamnya, Islam iwak ya iwak, celeng ya celeng. Islam tralala. PKS sadar tentang hal ini. Tetapi mereka berhitung dengan kursi yang bakal diperoleh makanya tutup mata dengan penunjukan Boediono.

Hadirin yang hadir terlihat membaca sambil mendengarkan pidato JK.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu Ketua Tim Sukses SBY-Boediono, Hatta Rajasa, telah membantah isu bahwa istri Boediono beragama Katolik. Menurut Hatta, istri Boediono seorang muslimah dari dulu.

Jun 24, 2009

Pembelaan Mega terhadap Prabowo soal Kerusuhan Mei

Calon Presiden Megawati Soekarnoputri mengajak segenap bangsa untuk menghilangkan rasa benci dan dendam dalam menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. Pernyataan itu disampaikan Megawati menjawab salah satu peserta dalam acara silaturahim dan makan bersama dengan para rektor, pengusaha, guru, dan tokoh masyarakat di The View Kota Bandung, Sabtu (20/6) semalam.

Penanya mempertanyakan mengapa Prabowo tidak pernah menjelaskan secara gamblang tentang kasus kerusuhan Mei 1998. Menjawab itu, pertama-tama Mega mengingatkan bahwa sesungguhnya dirinya pun adalah korban pelanggaran HAM oleh rezim Orde Baru, termasuk kasus 27 Juli.

"Tahun 1965, tidak boleh sekolah. Jadi sebetulnya apa yang ada di perasaan bapak sama saja," ucapnya. Menurut Megawati, kadang-kadang manusia harus punya kearifan dan kebijaksanaan. Kalau terus berpikir pada masa lalu maka tidak akan ada selesainya.

Memang ada yang mengatakan bahwa hukum harus ditegakkan. Namun, Mega yakin kalau pun itu dipenuhi pasti tidak akan pernah puas bahkan sampai ada hukuman mati di kursi listrik sekalipun.

"Jangan lupa, saya itu victim. jelas-jelas victim. Saat jadi presiden, sebagai orang paling berkuasa waktu itu, orang yang tidak saya senangi bisa dimasukkan semua ke penjara. Tapi tidak. Saya diam saja. Mari kita bangun Indonesia ini kembali," ucapnya disambut tepuk tangan.

Megawati mengatakan, hukum memang harus ditegakkan. Namun, kalau terus dipertanyakan, Prabowo pun punya hak membela diri dan karena itu Prabowo pun akhirnya harus membuka banyak pihak.

"Saya tahu di balik itu ada diri orang lain. Sama seperti saya. Saya victim, korban. Kalau saya bilang, berapa orang saya buka untuk bisa balas dendam. Jadi diam sajalah. Kita kembalikan saja kepada Yang di Atas," ajak Megawati.

Megawati berpendapat, negara ini harus menjadi negara ikhlas, negara penuh kasih sayang. Sudah banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini dan tidak boleh terus menumbuhkan rasa dendam.

"Kalau kita bicara dendam, kapan habisnya?" ujarnya lagi. Semangat hilangkan dendam itu pula yang selalu ia sampaikan saat menangani kerusuhan di Maluku, Papua, dan Kalbar.

"Saya tidak ingin masyarakat punya rasa benci dan dendam karena itu akan menghabiskan satu generasi," ujarnya. Megawati tidak ingin bangsa ini memiliki cerita, seperti cerita sinetron atau film kungfu, yang selalu menggambarkan konflik atau balas dendam yang berkepanjangan, terus-menerus, dari generasi ke generasi.

Jun 19, 2009

Lanjutkan - JK = Lanutan!

Kata 'Lanjutkan' benar-benar menyihir semua pihak, tidak terkecuali para santri yang tergabung dalam praja muda karana (Pramuka). Upacara resmi nan khidmat langsung gaduh saat kata 'Lanjutkan' disampaikan SBY ketika menyampaikan pidatonya.

Kehebohan itu terjadi saat prosesi upacara pembukaan perkemahan santri dibuka oleh Presiden SBY.

Kata 'Lanjutkan' muncul saat komandan upacara melaporkan kepada SBY terkait persiapan dan lainya. Sebagai inspektur upacara, seperti biasanya SBY langsung mengiyakan semua laporan itu dengan menjawab "Lanjutkan,".

Sontak, acara upacara pembukaan upacara perkemahan yang harusnya hikmat menjadi heboh lantaran ribuan santri dan pembina pramuka secara reflek tepuk tangan setelah mendengar kata lanjutkan tersebut. Tidak sedikit juga yang tertawa lebar.

Tak lama setelah itu, SBY juga mendapatkan laporan dari pembaca UUD 1945 dan Dasa Dharma Pramuka. Namun, mendengar laporan ini, SBY cuma menjawab, laksanakan. Acara kemudian berlangsung dengan khidmat kembali.

Indonesia Bangkrut - Iklan Mega Prabowo Yang Diboikot TV Swasta