Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Jul 16, 2015

Hati-Hati, 3 Sikap Ini Akan Membunuh Kepercayaan Diri Anak

Tempo.co - Banyak orang tua yang menyayangkan anaknya tumbuh dengan sifat pemalu, tidak memiliki kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Tanpa mereka sadari, sebenarnya penyebab kurangnya rasa percaya diri anak disebabkan oleh perlakuan orang tua.

Terkadang, orang tua melontarkan perkataan yang bahkan bisa membunuh karakter anak. Dilansir  Berikut ulasannya seperti dilansir Family Share, Selasa 14 Juli 2015.

1. Menyepelekan anak dengan berkata 'Ini kan Mudah'

Terkadang anak tidak mampu menyelesaikan tugas atau sesuatu yang Anda minta padanya. Jelas, mereka masih sangat muda. Tentu Anda akan mudah melakukannya. Tapi belum tentu bagi si anak. Anda lalu mengatakan, "Itu kan mudah sekali, masak kamu tidak bisa."  Dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung Anda telah meruntuhkan kepercayaan diri anak Anda.

Anak akan merasa begitu bodoh dan berpikir soal semudah itu saja tidak bisa diselesaikannya. Anak juga akan kecewa dan merasa bersalah sendiri. Sebab, mereka tidak bisa membanggakan Anda, orang tuanya.

2. Mengambil alih tugas anak
Anda mungkin mengerjakan semua tugas rumah tangga. Termasuk merapikan tempat tidur anak. Atau mungkin Anda mengambil alih dan mengerjakan tugas sekolah Anak.

Itu bukan ungkapan rasa sayang, melainkan sikap tersebut dapat mengirim sinyal kepada anak, 'Kamu tidak bisa mengerjakannya'.

3. Panik ketika anak melakukan kesalahan
Semua anak pasti pernah melakukan kesalahan. Dan mereka belajar dari kesalahan tersebut melalui respons Anda. Jika Anda panik ketika anak melakukan kesalahan, anak akan sangat terpukul karena hal itu.

Feb 10, 2015

Saat Marah, Ibu Jangan Katakan 3 Hal Ini kepada Anak

Kompas.com - Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah, tetapi sebenarnya bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan. Tidak jarang anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan Anda hingga membuat Anda marah. Ketika marah, ada tiga kalimat yang sebaiknya tidak Anda katakan kepada anak.


1. "Kamu membuat Ibu marah!"
Menurut psikolog Erica Reischer, PhD, kalimat ini atau kalimat serupa sebenarnya bermaksud untuk membuat anak merasa bersalah atas sikapnya. Tujuan orangtua menyampaikannya kepada anak adalah berharap si kecil mengubah sikap buruknya. Namun, jika Anda sedang benar-benar marah, hindarilah mengucapkannya di depan anak.

"Mengungkapkan ekspresi dengan kalimat seperti ini malah memperburuk keadaan dan membuat hubungan dengan anak menjadi negatif. Lebih buruk lagi, ini membuat anak merasa rendah diri dan merasa cemas serta ketakutan," ujar Reischer.

2. "Kamu ini kenapa sih?"
Reischer menjelaskan, kalimat ini membuat anak merasa dipermalukan. Tanpa Anda sadari, Anda mengharapkan anak mengubah sikapnya denagn membuatnya malu. Reischer menyebutkan, orangtua harus menyadari pasti ada maksud di balik hal-hal menjengkelkan yang dilakukan anak.

"Misalnya adalah dia mengharapkan perhatian Anda, menginginkan adanya informasi, atau yang terkait dengan kreativitas anak. Daripada mempermalukan anak seperti itu, lebih baik Anda mengatakan hal-hal yang bisa membuat anak lebih baik pada masa mendatang," sebut pengajar di University of California Berkeley, Amerika Serikat, ini.

3. "Lebih baik kamu..."
Kalimat semacam ini, kata Reischer, membuat anak merasa takut. Sebab, nada kalimat yang Anda utarakan ini menyiratkan agresi dan intimidasi. Ingatlah, anak akan tumbuh dewasa dan mandiri. Jika Anda mengatakan kalimat semacam ini, anak akan terhambat untuk dapat bersikap mandiri.

"Anda malah akan mendidik anak dengan cara yang intimidatif. Pada akhirnya, ini akan mengikis kepercayaan dan rasa hormat sebagai unsur penting dalam hubungan Anda dengan anak," jelas Reischer.

Lalu, kalimat seperti apa yang dapat Anda katakan agar anak dapat bersikap lebih baik tanpa harus merusak karakternya? Reischer memandang, ada baiknya Anda fokus pada eksplisitas perilakunya. Anda dapat mengungkapkan kalimat seperti, "Ibu tidak suka sikap kamu itu," atau "Ibu tidak suka kalau kamu...," atau "Kalau kamu begini, Ibu merasa...."

"Setelah mengatakan itu, pastikan Anda memberitahunya mengapa sikapnya itu tidak baik. Kemudian, lakukanlah semacam diskusi tentang apa yang seharusnya dia lakukan lain kali," imbuh Reischer.

Mar 6, 2014

Sebelum Dua Tahun, Jangan Ajarkan Anak Bedakan Kiri Kanan

Kompas.com - Dalam budaya ketimuran termasuk di Indonesia, penggunaan tangan kanan untuk melakukan kegiatan tertentu menjadi hal yang penting. Misalnya untuk berjabat tangan, makan, dan kegiatan lainnya yang dinilai membutuhan kesopanan. Sehingga tangan kanan pun kerap dicap sebagai tangan "baik".

Sebenarnya sah-sah saja mengajari nilai tersebut pada si kecil supaya terbiasa sejak dini. Namun mengajarkan penggunaan tangan kanan pada anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya dihindari. Pasalnya hal itu akan mempengaruhi keseimbangan perkembangan otaknya.

"Sebelum dua tahun, jangan dulu ajarkan anak soal penggunaan tangan kanan dan kiri. Jika dia makan atau bersalaman dengan tangan kiri biarkan saja dulu, jangan dilarang," saran dokter spesialis anak dari Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Soedjatmiko dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, pelarangan terhadap penggunaan tangan tertentu pada anak di bawah dua tahun akan menghambat perkembangan salah satu bagian otak. Padahal untuk mendapatkan kecerdasan multipel, seluruh bagian otak anak perlu berkembang secara optimal.

Jika melarang penggunaan tangan kiri untuk meraih benda, makan, atau bersalaman, maka perkembangan otak kanan tidak optimal. Sementara perkembangan otak kiri mungkin berjalan dengan lebih baik sehingga saat dewasa anak akan lebih banyak mengunakan otak kirinya. Artinya, kreativitasnya bisa jadi kurang baik.

Kenapa sebelum dua tahun? Soedjatmiko menjelaskan, otak anak pada 1.000 hari pertama kehidupan tumbuh dan berkembang paling pesat. Sekitar 80 persen dari perkembangan otak terjadi di masa tersebut.

Seribu hari dihitung sejak konsepsi dan di dalam kandungan (270 hari) dan hingga usia dua tahun (730 hari). Itulah mengapa tidak optimalnya perkembangan otak di masa itu akan sangat mempengaruhi kemampuan anak di kemudian hari.

Untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya, Soedjatmiko menyarankan untuk memperhatikan tiga hal. Pertama, nutrisi harus lengkap dan seimbang. Kedua, tumbuh kembang anak perlu terukur setiap bulan meliputi tinggi dan berat badan, serta lingkar kepala.

Selain itu, anak juga membutuhkan pola pengasuhan yang meliputi kasih sayang dan cara mendidik yang tepat. "Jika semua itu terpenuhi maka anak mampu tumbuh menjadi orang yag cerdas, sehat, kreatif, dan berperilaku baik," pungkasnya.

Dec 6, 2013

Terjebak di Pekerjaan yang Salah, Ini Tandanya

Kompas.com - Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih tawaran pekerjaan tertentu, bisa karena kompensasi yang tinggi atau karena menyukai pekerjaan tersebut. Memang tak semua orang beruntung bisa menekuni profesi yang sesuai panggilan hati.

Pilihan karir yang tepat akan memiliki efek positif pada hidup karena Anda melakukan sesuatu yang membuat bahagia. Di sisi lain, jika Anda terjebak dalam karir yang salah, hidup Anda akan menjadi berat.

Nah, apakah Anda sudah berada di posisi karir yang tepat? Coba cek ciri-ciri berikut :

Terus mengeluh

Tidak peduli apa pun tugas yang Anda lakukan di tempat kerja, Anda sering mengeluh dan tidak puas. Hal ini jelas menunjukkan bahwa pekerjaan Anda tidak membuat  bahagia dan kemungkinan pekerjaan tersebut bukan yang tepat untuk Anda.

Tidak merasa bangga

Ketika seseorang bertanya mengenai pekerjaan Anda sekarang, Anda tidak bersemangat menceritakannya dan buru-buru mengalihkan topik tersebut.

Tak ada motivasi untuk bangun dan pergi bekerja

Pekerjaan yang memang sesuai passion akan membuat Anda bersemangat di pagi hari dan tak sabar untuk mengerjakan tugas-tugas. Waspadalah jika Anda merasa malas dan selalu terpaksa berangkat ke kantor.

Tidak melakukan yang terbaik

Biasanya orang yang menyukai pekerjaannya akan melakukan segala cara untuk membuat hasil pekerjaan menjadi bagus. Tapi jika Anda tak memiliki motivasi, maka seluruh potensi yang dimiliki tak akan terlihat.

Berjuang untuk melewati hari

Semua pekerja akan berjuang melewati hari mereka di dalam kantor, menghadapi bos yang kurang pengertian, rekan kerja yang tak sulit bekerjasama, sampai tekanan pekerjaan yang menumpuk. Apabila Anda berada di karier yang benar, maka Anda akan melewatinya dengan bahagia. Namun jika tidak, Anda akan merasa seperti berada di kamp penyiksaan dan selalu tak sabar menunggu jam pulang.

Kurang tertantang

Bagian yang menarik mengenai pekerjaan yakni tantangan dan motivasi untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik. Jika Anda merasa pekerjaan yang dijalani sekarang tak cukup menantang, mungkin ini saatnya berpikir untuk mencari tempat baru yang bisa menampung keterampilan yang dimiliki.

Melakukannya untuk uang

Beberapa dari pekerja memilih gaji yang besar daripada pekerjaannya. Ini sah-sah saja sebenarnya, tapi jika pekerjaan itu berlawanan dengan keinginan hati maka Anda tak akan maksimal mengerjakannya. Karier Anda pun mungkin hanya mandek. Jika Anda menyukai pekerjaan sekarang tapi kurang puas dengan gajinya, pertimbangkan untuk mencari pekerjaan sampingan.

Keterampilan dan minat tidak sesuai

Semua orang memiliki keterampilan dan minat yang tampaknya ideal untuk karir tertentu. Hal ini tidak hanya akan membuat Anda bahagia, tetapi juga bangga dengan apa yang Anda lakukan. Jadi, lihatlah apakah keterampilan dan minat Anda cocok dengan bidang pekerjaan yang Anda jalani saat ini?

Sering iri

Anda selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain dan merasa tidak percaya diri karenanya. Daripada hanya menggerutu, lakukanlah aksi untuk mengubah jalan hidup Anda.

Sep 5, 2013

Agar Tak Lagi Berteriak Hadapi Anak

Kompas.com - Tak ada satupun orangtua yang ingin marah dengan menaikkan volume suaranya sampai satu oktav. Tapi, kadang ada saja kejadiannya, entah itu bikin susu tumpah, lupa bawa kotak sarapan, atau menutup pintu.

Namun sebelum teriak-teriak, coba ingat lagi, sebenarnya buat apa sih, kita sampai menaikkan volume suara? "Karena merasa tidak didengar oleh anak," ujar Eileen Kennedy-Moore, PhD, penulis buku Smart Parenting for Smart Kids.

Bisa jadi benar demikian. Tetapi, percayalah semakin kita menaikkan volume suara, makin anak tidak mendengarkan apa yang kita sampaikan. Jadi, baiknya coba terapkan 10 kebiasaan berikut ini sebagai gantinya.

1. Rencanakan semua hal dengan matang. Coba pikir-pikir lagi apa yang kerap membuat Anda marah-marah? Dan dari situ bikin atau siapkan agenda secara terencana. Bisa dari agenda anak berangkat sekolah, jadwal kursus mereka hingga acara akhir pekan.

Dr. Kennedy-Moore mengatakan kadang ketika orangtua marah-marah, itu karena dia butuh waktu persiapan lebih banyak. Jadi kenapa tidak mencoba bersiap lebih dulu sebelum meminta anak bersiap diri ke sekolah. Bagaimana caranya ketika Anda memakai maskara sementara di saat yang sama menyuruh anak juga mengurusi dirinya sendiri? Atur semua terencana, bisa dengan menempatkan post list, apa saja yang dibutuhkan anak, jadi semua lebih tertata. Misal, Rangga butuh baju olahraga tiap hari Selasa, dan daftar lainnya.

2. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Anda pernah meminta anak untuk membersihkan perlengkapan mainnya, dan semua berjalan lancar di minggu pertama, namun kemudian semua berantakan lagi di minggu berikutnya. Jangan buru-buru marah, bisa jadi karena dia masih kecil, bukannya abai atau tidak mau mendengarkan Anda.

3. Jadilah contoh atau role model. Ketika Anda berteriak-teriak, anak akan merekamnya dengan baik. Dan bayangkan, jika suatu saat, entah pada adiknya atau sesama teman di sekolah mereka akan melakukan hal yang sama. Berteriak-teriak, mengeluarkan semua kata-kata yang Anda pernah keluarkan. Jadi, coba bayangkan, Anda menyampaikan kemarahan dengan lembut, dan suatu saat dia akan berlaku sama.

4. Beri tanda. Di saat rasanya Anda akan marah-marah dengan berteriak, cobalah redam sebentar, dan bilang padanya untuk meninggalkan ruangan. Kontrol diri Anda dengan baik dan pahami bahwa jangan sampai kata-kata jelek keluar. Dengan sikap ini, anak pun belajar bahwa dirinya menaruh respect atau saling menghargai terhadap orang lain, menjaga kata-kata dan perbuatannya.

5. Alihkan dengan distraksi. Misalkan, suatu kali Anda masuk ke dapur dan melihat sepatu anak berserakaan. Seketika Anda ingin marah dan memanggilnya dengan suara setinggi mungkin. Sebelum itu cobalah alihkan pandangan ke yang lain, yang membuat Anda sedikit lebih tenang. Misalnya dengan mengambil permen mint atau melihat foto keluarga yang dipajang dekat sana. Ini bisa membantu mengontrol emosi.

6. Ingat peran Anda. Sesaat Anda akan berteriak sekencang-kencangnya, ingatlah, peran sebagai orangtua. Marah-marah tak keruan hanya akan membuat peran atau posisi Anda lebih rendah di mata anak, karena tidak bisa mengontrol diri. Bagaimanapun rasa hormat atau saling menghargai tidak timbul karena dari marah-marah.

7. Atur volume suara rendah di segala suasana. Meski dalam keadaan emosi stabil pun, cobalah untuk tidak teriak-teriak. Misalkan untuk memanggil anak, makan malam sudah siap. Tidak perlu berteriak dari ruang makan hingga kedengaran sampai kamarnya, lebih baik dekati mereka dan ingatkan dengan lembut.

8. Berpikir layaknya seorang guru. Ketika Anda memposisikan diri sebagai guru, maka beginilah kira-kira posisinya. Anda melihat kebiasaan buruk anak bukan secara personal, tapi kesempatan untuk mereka belajar sesuatu. Misal, ketika dia membiarkan sisa es krim di meja, Anda membuat diri seolah sebagai guru yang mengajarkan agar dia membuang sampah ke tempatnya. Anda menerapkan diri sebagai pengajar agar dia menjadi tahu dan berbuat baik di kemudian hari.

9. Kontak mata. Daripada Anda berteriak kencang supaya anak mau mendengarkan apa yang ingin Anda sampaikan, lebih baik ubah caranya. Dekati dia, tatap matanya dan bicara dengan lembut dan tenang. Apa yang Anda sampaikan lebih diterima dan mungkin akan diingatnya sampai beranjak dewasa.

10. Bayangkan di sekitar Anda ada orang lain. Ketika akan marah dan berniat menaikkan suara ke volume setinggi langit, coba bayangkan ada orang lain di sekitar Anda. Yang siapa tahu adalah bos, pimpinan tempat Anda bekerja, tetangga, atau teman lama. Bisa malu dan mau ditaruh dimana muka Anda kalau demikian. Jadi, lebih baik bersikap dengan baik, tenang dan elegan. Tidak ada gunanya marah-marah sampai harus teriak-teriak.

Apr 22, 2013

3 Langkah Atasi Anak Rewel

Kompas.com - Seringkali anak rewel saat dibawa jalan ke pusat perbelanjaan. Minta mainan ini dan itu, bahkan sampai menangis meraung-raung kalau tidak dikabulkan. Sebagai orangtua, tentunya Anda kerap bingung bagaimana membuat anak diam dan tidak membuat malu.

Hal yang sama juga kerap terjadi saat di keramaian, di pesta ulang tahun misalnya. Entah karena jarang hadir di antara banyak orang atau sebab lainnya, tiba-tiba sang anak menangis dan rewel. Bagaimana menyiasatinya?

Ditemui saat talkshow “Inspiring Mom and Kids” yang digelar Babyfamous di fX Sudirman, Jakarta, Sabtu (20/04/2013) lalu, psikolog Febria Indra Hastati, MPsi, CH, Cht dari Brawijaya Clinic, punya tiga kiat yang bisa dilakukan jika seandainya satu atau kedua kerewelan anak itu terjadi.

Pertama, orangtua mesti mengecek dulu kondisi fisik si anak. Apakah dia tidak sedang dalam keadaan mengantuk, apa dia tidak sedang kebelet buang air, atau apakah baju yang dikenakannya nyaman dipakai. Karena seringkali pakaian yang tidak nyaman, entah itu terlalu ketat atau kelonggaran, membuat dia rewel. Dengan mengutamakan kenyamanan kondisi fisiknya, si anak jadi lebih tenang.

Kedua, cobalah sebelum bepergian memberikan gambaran apa yang akan mereka jalani, atau siapkan mentalnya. Misalkan mau bepergian ke mall atau toko buku, kalau memang tidak ada rencana membelikan dia mainan, maka beri gambaran jelas bahwa agenda bepergian hari itu hanya untuk membeli buku. Sampaikan juga bahwa  Anda akan membelikan mainan, misalnya minggu depan atau minggu berikutnya.

Begitu juga kalau ada pesta ulang tahun. Beri tahu beberapa jam sebelumnya, bagaimana kondisi saat pesta. Kalau ada kemungkinan si anak akan diminta untuk bernyanyi, maka bantu dia mempersiapkannya. Dengan begitu si anak akan merasa lebih siap dan tidak rewel saat pesta.

Kiat ketiga, cobalah beri hadiah atau reward atas sikap tenang mereka. Pemberian hadiah ini merupakan hak anak yang secara tidak langsung akan membuat mereka tahu bagaimana meresponsnya di kemudian hari.

Di luar itu, jangan terlalu sering berhenti di toko mainan. Kadang, masih saja terjadi ibu yang karena suka dengan mainan, lalu berhenti di toko tapi tidak mau membelikannya. Sama halnya Anda berhenti di toko baju atau tas, tentu tidak menyenangkan kalau hanya melihat-lihat saja. Jangan tunggu sampai mereka menangis atau meraung, baru Anda membelikannya. Lebih baik, menghindari toko mainan itu sejak semula.

Dec 18, 2012

10 Hal yang Dibutuhkan Anak dari Orangtua

Kompas.com - Siapa sih, yang tak ingin memiliki anak yang percaya diri, merasa dicintai, dan diperlakukan dengan baik? Bukan hanya Anda, lho, yang punya kebutuhan dan menuntut kewajiban dari mereka. Anak-anak pun menginginkan 10 hal berikut ini dari Anda, agar tumbung kembangnya maksimal.

Mendengarkan
Mungkin apa yang dia ceritakan terkesan sepele. Sedangkan kondisi emosional atau kegiatan Anda mungkin sedang padat sehingga tak memungkinkan punya waktu untuk mendengarkannya. Namun, cobalah untuk tetap mendengarkan cerita anak Anda. Ini akan membuatnya merasa Anda punya ketertarikan pada ceritanya dan menghargainya.

Memuji
Memuji, meski hanya untuk hal-hal sederhana yang ia lakukan, akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Sebaliknya, mengatakan hal-hal yang secara tidak langsung meremehkan apa yang ia lakukan bisa menyurutkan semangatnya. Jadi, jangan pelit pujian kalau ia melakukan hal-hal positif.

Cinta tanpa syarat
Apa pun yang ia lakukan, ia butuh dicintai tanpa tergantung kondisi emosi yang Anda rasakan, atau hal lainnya. Dengan demikian, ia akan merasa nyaman berkomunikasi dengan Anda, bahkan ketika menceritakan kesalahan yang telah dibuatnya. Selanjutnya, Anda tinggal memberitahunya bagaimana agar ia tidak mengulangi kesalahan.

Percaya
Cobalah untuk memberikannya tanggung jawab kecil, misalnya menjaga adiknya saat Anda mencuci piring. Atau, biarkan ia melakukan hal yang diinginkannya, selama itu positif. Amati bagaimana ia melakukannya dari kejauhan. Ini akan membuatnya merasa dipercaya mampu melakukan hal penting atau tanggung jawab.

Bersenang-senang
Jangan hanya terus menuntutnya melakukan kewajibannya sebagai anak. Ia pun berhak menuntut haknya layaknya anak lain, yaitu bersenang-senang. Lupakan sejenak kesibukan Anda, tunda kegiatan lain, dan lakukan kegiatan yang menyenangkan bersamanya. Pergi ke tempat bermain, pantai, berenang, atau bahkan hanya memasak bersama Anda di rumah bisa meninggalkan kenangan manis baginya.

Minta penjelasan
Membiasakan anak untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan memang baik. Namun, lanjutkan pada langkah berikutnya, tanyakan mengapa ia meminta maaf. Terbiasa memberikan penjelasan atas hal ini akan membuat anak tidak meremehkan atau hanya mengobral kata maaf.

Bertanggung jawab
Bila memang Anda yang salah, katakan dengan jujur padanya dan mintalah maaf. Tak lupa, katakan bahwa Anda akan memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan demikian, anak belajar untuk bertanggungjawab bila melakukan kesalahan, dan tahu bahwa terkadang orangtua pun salah.

Kesempatan kedua
Mungkin ia memang melakukan kesalahan yang membuat emosi Anda memuncak, tapi ada baiknya Anda berikan kesempatan lagi padanya. Sehingga, ia berusaha memperbaiki diri dan belajar untuk lebih baik di kemudian hari.

Tak ada yang sempurna
Katakan padanya kalimat di atas. Sampaikan pula, sekeras apa pun kita berusaha untuk menyenangkan orang lain, bukan tidak mungkin tetap akan ada orang yang tidak puas pada kita. Begitu pula halnya dengan orang lain. Sebab, setiap orang unik dan berbeda. Selain itu, tak ada orang yang sempurna.

Maklum
Jangan merasa dunia kiamat hanya karena dia memecahkan keramik kesayangan Anda, atau menumpahkan makanan atau minumannya ke karpet. Alih-alih mengamuk, ajak dia untuk membersihkannya bersama. Ingat, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk Anda.

Oct 19, 2012

Jangan Sembarang Marah kepada Anak Batita

Kompas.com - Sering kali orangtua menjadi tak sabar menghadapi anak batita yang suka "membangkang". Padahal, salah penanganan, buruk dampaknya. Perlu dipahami, anak batita sedang berada pada fase negativistik dan hal ini normal dalam tumbuh kembang anak.

Yuyun Fitriah, S Psi, Kepala KB/TK Izara, mengatakan bahwa pada fase yang biasanya terjadi pada usia 2 tahun ini, anak batita mulai bisa menunjukkan penolakannya dengan cara membangkang, tidak patuh, atau memperlihatkan bahwa dirinya bisa "mandiri" melakukan sesuatu. Orangtua kadang tak sabar menghadapinya sehingga emosi pun meledak.

Dalam menghadapi perilaku anak batita yang "mengundang emosi", ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua:
* Jangan menegur anak di depan orang banyak. Meski masih batita, anak juga mempunyai rasa malu karena merasa semua mata mengarah kepadanya. Hal ini dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.
* Pertimbangkan kondisi emosi anak, apakah dia sedang good mood ataukah bad mood? Sehingga teguran yang orangtua berikan tidak menjadi beban bagi anak.
* Pertimbangkan pula, apakah hal yang akan orangtua sampaikan, baik melalui sikap maupun pembicaraan, dapat membuatnya trauma. Semestinya orangtua dapat menghindari anak dari trauma akibat ucapan atau sikap orangtuanya. Banyak orangtua yang yang tidak sadar bahwa trauma itu dapat dipendam anak dalam waktu cukup lama dan memengaruhi kehidupannya di saat dewasa.
* Dalam memberikan "hukuman" hendaknya menyesuaikan dengan apa yang sudah dikerjakannya. Jangan berlebihan melampiaskan emosi sehingga orangtua tidak memberikan respons yang tepat. Yang terpenting adalah memberikan pembelajaran kepada si anak, yang memang belum mengerti mana yang boleh dan tidak.
* Jika respons yang diberikan tidak memberi pembelajaran baginya, bahwa hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan, maka ini berarti orangtua masih terbawa emosi dan tidak memberikan solusi atas perilaku negatif anak batita. Jangan lupa, anak masih dalam kondisi banyak belajar dan melihat sekelilingnya. Ia akan melihat perilaku yang ditunjukkan orangtuanya adalah contoh perilaku yang harus diikuti.
* Usahakan memberi contoh hampir mendekati kenyataan dan selalu kembalikan kepada anak, apakah ia ingin mengalami hal serupa. Umpamanya, si kecil sering memukul, kita bisa katakan bahwa memukul itu membuat orang lain merasa sakit. Apakah kamu mau dipukul?
* Beri penjelasan dengan logika yang benar. Ketika anak tidak mau menghabiskan makanannya, misal, orangtua dapat menceritakan bagaimana di daerah lain banyak anak yang tidak bisa makan. Tentu ini dilakukan dengan bahasa yang sederhana, sesuai dengan pemahaman anak seusianya.

Sep 6, 2012

15 Cara Berpikir Orang Kaya

Kompas.com- Di Australia, salah seorang wanita terkaya di dunia, Gina Rinehart menciptakan kontroversi dengan tulisannya yang mengecam warga Australia lainnya yang dianggapnya kurang bekerja keras. "Tidak ada monopoli untuk menjadi miliuner." tulis Rinehart dalam salah satu majalah Investasi di Australia sebagaimana dilaporkan Koresponden Kompas di Australia, L  Sastra Wijaya, Selasa (4/9/2012). "Bila Anda iri dengan orang-orang yang memiliki banyak uang, jangan duduk dan mengeluh saja. Lakukan sesuatu untuk mendapatkan uang -  habiskan waktu lebih sedikit untuk minum-minum di pub, merokok dan ataupun ngobrol. Kerja lebih banyak."

Orang kaya lainnya di Australia Clive Palmer baru-baru ini membeberkan rencana untuk membangun kapal pesiar Titanic 2, yang akan dilengkapi dengan kasino dimana hanya penumpang di kelas satu saja yang boleh bermain di kasino tersebut. Kontroversi orang-orang kaya ini membuat  situs news.com.au mempertanyakan apakah memang cara berpikir orang kaya berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Apakah mereka pekerja keras, dan sifat apakah yang membuat mereka menjadi kaya.

Inilah yang kemudian disarikan dari pengarang buku How Rich People Think (Bagaimana Pola Pikir Orang Kaya), Steve Siebold, yang mengatakan bahwa orang kaya dan orang kebanyakan memiliki cara pandang yang sangat berbeda.

1. Orang kaya menganggap egois adalah hal positif. Orang kebanyakan beranggapan membantu orang lain adalah hal yang mulia, dan itulah yang membuat mereka miskin. Orang kaya berperilaku bahwa kalau mereka tidak bisa membuat diri mereka kaya dulu, maka mereka tidak akan bisa nantinya membantu orang lain.

2.Orang kaya memiliki perilaku aksi. Anda tidak akan melihat orang kaya antre membeli lotere (bahkan sebelum mereka kaya). Orang kebanyakan selalu menunggu adanya orang lain yang akan membantu mereka menjadi kaya - Lotere, pemerintah, teman atau pasangan hidup - namun itulah yang membuat mereka tetap miskin. Orang kaya melakukan tindakan, dan menghabiskan waktu mereka menyelesaikan masalah yang ada.

3. Orang kaya mementingkan pengetahuan khusus, bukan sepotong ijazah. Orang kebanyakan mempercayai bahwa jalan menuju kaya adalah lewat pendidikan. Orang kaya pada umumnya berhasil karena mereka menjual pengetahuan khusus dan unik yang mereka sudah kuasai.

4. Orang kaya mimpi akan masa depan.  Orang kaya banyak menghabiskan waktu melihat ke depan, menentukan target yang ingin dicapai, dan semangat dengan tantangan yang ada. Orang kebanyakan lebih sering berpikir mengenai masa lalu, sehingga kemudian membuat mereka merasa tidak bahagia dan stres.

5. Orang kaya berpikir secara logis soal uang. Orang kebanyakan dan orang yang berpendidikan bisa masuk perangkap dengan berpikir mengenai uang secara emosional, dan ingin pensiun secukupnya. Orang kaya berpikir secara logis mengenai uang yang dianggap sebagai alat untuk mencetak lebih banyak kekayaan lagi.

6. Orang kaya mengikuti minat mereka. Ini pernyataan dari Oprah Winfrey -  ikuti minatmu dan lakukan apa yang senang kamu lakukan. Orang kaya menemukan cara mendapatkan pemasukan melakukan sesuatu yang mereka sukai, sementara orang kebanyakan mendapatkan uang melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai.

7. Orang kaya memiliki tujuan tinggi. Orang kebanyakan memasang target rendah karena takut kecewa, sementara orang kaya mengejar target tinggi, dan kemudian berusaha keras mewujudkan mimpi tersebut.

8. Orang kaya percaya kita harus menjadi "seseorang". Sementara orang kebanyakan percaya kita harus melakukan "sesuatu" untuk bisa kaya. Orang kaya terus menerus berusaha memperbaiki diri dan belajar dari sukses dan kegagalan.

9. Orang kaya menggunakan uang orang lain.  Orang kebanyakan percaya bahwa mereka harus menggunakan uang sendiri untuk menghasilkan, sementara orang kaya tidak memiliki masalah menggunakan uang orang lain.

10. Orang kaya hidup di bawah batas ambang. Ini terlihat bertentangan namun orang kaya berusaha terus kaya sehingga  mereka bisa hidup di bawah batas ambang mereka, sementara orang kebanyakan hidup di atas ambang kekayaan mereka.

11.Orang kaya mengajari anak mereka bagaimana menjadi kaya. Orang kebanyakan mengajar anak mereka bagaimana bertahan hidup, namun orang kaya mengajar anak mereka dari sejak dini mengenai orang kaya dan miskin.

12. Orang kaya tidak membiarkan uang membuat mereka jadi stress. Orang kebanyakan stress karena uang. Orang kaya merasa tenang dengan kekayaan mereka dan tahu bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah dengan uang yang mereka miliki - dengan itu mereka bisa mencetak lebih banyak uang lagi. Orang kebanyakan melihat uang sebagai perjuangan melawan setan dan keburukan.

13.Orang kaya terus belajar, dan tidak sekedar mencari hiburan. Orang kebanyakan malah kebalikannya. Mereka membaca buku, tabloid atau menonton televisi, dan bukannya belajar lebih serius meskipun sudah selesai sekolah.

14. Orang kaya bergaul dengan orang yang berpikiran seperti mereka.  Orang kebanyakan melihat orang kaya sebagai snob, dan cenderung berperilaku negatif terhadap mereka. Orang kaya cenderung menghindari orang-orang yang berpikiran negatif.

15. Orang kaya mengfokuskan diri pada pendapatan.  Orang kebanyakan memfokuskan diri pada menabung dan kehilangan kesempatan besar karena takut mengambil risiko. Orang kaya terus menerus memfokuskan diri pada tujuan besar, dan bagaimana meraih pendapatan besar.

Jul 23, 2012

4 Hal yang Tidak Boleh Anda Katakan Pada Anak

Kompas.com - Maksud hati ingin mendidik anak supaya lebih disiplin, kuat dan bersikap baik di muka umum akan tetapi kok hasilnya selalu gagal. Sebenarnya kata-kata yang Anda pilih itu memengaruhi anak buat mematuhi Anda atau justru mengacuhkan.

1. "Jangan nangis"
Variasi kalimat yang lain: "Jangan sedih." "Jangan cengeng." "Jangan takut." Tapi anak-anak balita saat marah, takut, kesal pun menangis. Mereka tidak bisa selalu mengartikulasikan perasaan mereka dengan kata-kata. "Hal yang sangat wajar bagi orang tua ingin melindungi anak dari perasaan seperti itu," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur, Family Support Services di Mailman Segal Institute for Early Childhood Studies, Nova Southeastern University, Fort Lauderdale, AS. "Tapi mengatakan jangan tidak membuat anak merasa lebih baik, dan dapat juga mengirim pesan bahwa emosinya sesuatu yang terlarang."

Sebagai gantinya Anda bisa mengatakan, "Kamu sedih tidak diajak bermain oleh Bayu?" atau "Kamu marah mainanmu direbut?" Dengan menamai perasaan, anak Anda akan belajar memberinya kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus tanpa sadar mengajarkannya buat berempati. Pada akhirnya, dia akan menangis lebih sedikit dan menggambarkan emosinya sebagai gantinya.

2. "Coba contoh kakakmu/adikmu"
Mungkin tampak membantu jika anak Anda dapat melihat contoh nyata dari saudara kandungnya atau teman. "Rara pintar yah, bisa pake sepatu sendiri." Anak-anak berkembang dengan fasenya sendiri. Membandingkan anak Anda kepada orang lain menyiratkan bahwa Anda tak menginginkannya serta merusak kepercayaan dirinya. Sebaliknya, dorong prestasi dia saat ini: "Wow, kamu mencuci tangan sebelum makan tanpa mama minta, hebat!" Ingat membandingkan dengan saudaranya hanya akan memicu kekesalan dan membakar perasaan iri. Jangan heran kalau Anda justru dibuat pusing dengan pertengkaran mereka tiap hari.

3. "Berhenti atau mama pukul!"
Dalam mendisiplinkan anak, ancaman itu jarang efektif. Anda mengancam dengan peringatan seperti "Ayo berani ulangi lagi, Mama pukul!" Cepat atau lambat anak akan belajar bahwa ancaman itu tak pernah terjadi. Akhirnya ancaman Anda kehilangan kekuatannya. Lebih buruk lagi justru membuat Anda tambah frustasi, akhirnya malah memukul. Akan lebih efektif  jika melakukan pengalihan. Caranya  dengan membawa anak pergi dari situasi tersebut.

Misalnya, ia mengamuk di toko mainan karena tidak diturutin kemauannya. Daripada Anda bereaksi dengan membentak, mengancam, melotot, langsung saja ambil tindakan dengan menggendong anak Anda keluar dari toko, bawa ke tempat lain, lakukan time out setelah tenang beri pengertian. Cara ini terbukti lebih efektif.

4. "Tunggu sampai Ayah pulang!"
Pengasuhan tipe ini adalah jenis lain dari tipe mengancam. Seperti halnya mengancam, cara  ini tidak efektif. Bila Anda ingin pesan Anda sampai pada anak, disiplin harus dilakukan saat itu juga, bukan nanti. Saat anak Anda berulah, bersikap tidak baik, langsung beri konsekunsinya. Disiplin yang ditunda tidak mengajarkan konsekuensi tindakan salah pada anak. Kemungkinan besar yang terjadi saat si ayah pulang, anak Anda sudah lupa kejadian yang tadi. Akibat buruk lainnya, bila ini sering Anda lakukan, Anda akan kehilangan otoritas di mata anak Anda.

Jan 31, 2012

5 Perilaku Orangtua yang Bikin Anak Stres

Kompas.com - Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka?

"Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri," tukas Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital kepada Kompas Female, saat talkshow "How to be a Healhty & Productive Career Women" di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Jumat (27/1/2012) lalu.

Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres. Berikut beberapa penyebabnya:

1. Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. "Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun," ungkapnya.

Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, "Kamu tidak boleh menangis", "Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng", atau "Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya."

Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. "Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka," tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.

2. Perilaku orangtua tidak konsisten
Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). "Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten," tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.

3. Membeda-bedakan anak
Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. "Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah," bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.

4. Labeling pada anak
Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, "Dasar kamu anak pemalas", atau "Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok", atau "Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?". Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.

5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. "Jangan main di sana", atau "Jangan dipegang-pegang!", dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata "jangan" dan "tidak" ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.

Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. "Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu," ujar Rustika.

Jun 25, 2009

Wah, Bacaan Anak Pengaruhi Karakternya 25 Tahun Mendatang!

Cerita atau bacaan yang dibaca oleh anak kita saat ini akan memengaruhi karakternya 25 tahun kemudian, apakah si anak itu cerdik, jujur, licik, serta berbagai karakter lain yang baik atau buruk dalam dirinya.

Untuk itulah, orang tua perlu pandai-pandai dan bijaksana memilihkan bacaan untuk anaknya. Demikian teori David McClelland tersebut dilontarkan oleh Renny Yaniar, Pemimpin Redaksi Majalah Anak Mombi, dalam diskusi 'Cerita Rakyat Memperkaya Dunia Dongeng Anak', Sabtu (21/6), di Jakarta.

Renny menambahkan, untuk teorinya itu McClelland mengambil sampel Inggris dan Spanyol, dua negara raksasa di awal abad ke-16. Dalam perkembangan selanjutnya, ujar Renny, Inggris terus menjadi negara maju, sebaliknya Spanyol malah mengalami kemunduran.

"Mengapa bisa begitu ternyata McClelland, psikolog asal Universitas Harvard, itu mendasari penyebabnya bahwa persoalan karakter anak-anak sebagai generasi penerus bangsanya adalah berlatar dari apa yang mereka baca," ujar Renny.

Menurut McClelland, lanjut Renny, cerita dan dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada masa-masa itu mengandung nilai-nilai optimisme yang tinggi (need for achievement), keberanian untuk mengubah nasib, serta sikap tidak gampang menyerah.

"Dongeng-dongeng itu ternyata telah menjadi virus yang mampu membuat anak-anak sebagai penikmatnya dipengaruhi sindroma ingin terus maju dan terus berprestasi tanpa kenal menyerah," ujar Renny. "Sebaliknya, umumnya dongeng di Spanyol kebanyakan mengandung nilai-nilai komedi berunsur kecerdikan yang licik dan penuh tipu daya, seperti kisah si Kancil," tambahnya.

Untuk itulah, Renny mengisyarakatkan perlunya orang tua zaman sekarang memilih bacaan yang baik untuk putra-putrinya, khususnya yang masih berusia dini. Cerita Rakyat, lanjut Renny, merupakan satu dari sekian banyak bacaan yang perlu menjadi pilihan bagi orang tua.

"Cerita rakyat itu imajinatif sehingga sangat baik untuk mengembangkan daya berpikir si anak, apalagi di dalamnya penuh mengandung pesan yang baik soal kejujuran, pantang menyerah, hormat kepada orang dan lain-lain yang selalu bersifat positif," ujar Renny.

Aug 17, 2008

Tes Kepribadian


Ini adalah cerita seorang gadis. Pada saat Ada Di upacara pemakaman ibunya yang baru Meninggal, Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang belum Pernah dia kenal sebelumnya. Dia sungguh tertarik Dengan lelaki Ini. Lelaki ini adalah pria idaman yang selalu dia Impikan sejak dulu sehingga dia langsung jatuh Cinta.Tapi sayang sekali setelah itu laki-laki Tadi menghilang Dan gadis tersebut tidak pernah Bertemu dengan lelaki itu lagi.
Beberapa Hari setelahnya, Ada Kejadian heboh. Gadis ini membunuh kakak Perempuan Kandungnya.
PERTANYAAN: Apa motif pembunuhan ini?

JAWABAN YANG BENAR:
Gadis ini berharap bahwa lelaki idamannya Akan muncul lagi di Pemakaman kakak perempuannya.
------------ --------- --------- --------- -
Jika jawabanmu benar, berarti kamu telah Berpikir seperti seorang Psikopat.
Tes ini dibuat oleh seorang psikolog Amerika yang terkenal.
Tes diberikan untuk mengetahui apakah Seseorang memiliki mentalitas Sebagai seorang pembunuh atau tidak.
Banyak Narapidana kasus pembunuhan Disuruh menjawab tes ini, Dan jawabannya Benar. Jika jawabanmu salah, Ini Sungguh baik.
Jika Ada salah satu teman yang Betul dalam menjawab, kamu Perlu Berpikir untuk menjauhi orang tersebut ....

Jul 23, 2008

Stop Memukul Anak!


Sadarilah, memukul atau menampar mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan suatu masalah. Anak-anak yang dipukul cenderung memiliki kepercayaan diri rendah, depresi dan tidak keberatan untuk digaji rendah. Nah, apa yang harus dilakukan agar dapat menghindari menampar anak?


TENANGKAN DIRI
Bila Anda merasa marah, dan ingin menampar atau memukul anak Anda, sedapat mungkin tinggalkan situasi tersebut. Tenangkan diri Anda dan diam. Jika tidak bisa, sebaiknya melangkah mundur dan hitung sampai sepuluh.

WAKTU UNTUK SENDIRI
Orangtua cenderung menampar bila mereka tak pernah punya waktu untuk diri sendiri, merasa sangat lelah dan diburu-buru. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menyisihkan waktu untuk dirinya sendiri.

TEGAS TAPI BAIK
Jika anak Anda tidak mengikuti perintah yang Anda lontarkan berulangkali, jangan menamparnya. Lebih baik, posisikan tubuh sejajar dengan anak Anda, lalu tatap matanya, berikan sentuhan yang lembut dan katakan kepadanya, secara baik-baik tetapi tegas, bahwa Anda meminta dia untuk bersikap manis.

BERIKAN PILIHAN
Memberikan pilihan pada anak merupakan alternatif yang efektif. Bila anak emoh makan dan malah memainkan makanannya, tanyakan padanya apakah dia ingin terus memainkan makanannya atau meninggalkan meja makan. Jika dia terus memainkan makanannya, secara baik-baik angkat anak dari kursi makan lalu katakan padanya bahwa dia dapat kembali ke meja makan bila sudah siap untuk memakan makanannya dengan benar.

KONSEKUENSI LOGIS
Jika anak Anda melakukan kesalahan, tawarkan konsekuensi logis yang harus dikerjakan agar dia belajar bertanggung jawab. Misalnya, anak memecahkan kaca jendela tetangga. Tawarkan apa yang dapat ia lakukan untuk menebus kesalahanya. Mencuci mobil tetangga tersebut beberapa kali sesuai dengan harga perbaikan kaca jendela, misalnya.

MENGGANTI HUKUMAN
Jika ingin mengganti bentuk hukuman pada anak, Anda tetap harus memberi penegasan padanya alasan yang tepat mengapa Anda mengganti bentuk hukuman.

MENINGGALKAN KONFLIK
Anak yang lancang, berani memukul balik orangtuanya. Pada situasi seperti ini, segeralah tinggalkan situasi tersebut. Dengan tenang, katakan kepada anak Anda, "Mama ada di kamar kalau kamu mau bicara dengan Mama dengan lebih hormat".

ALIHKAN PERHATIAN
Pada saat dia memegang atau menyentuh sesuatu yang tidak pantas, tarik tangannya secara baik-baik tetapi tegas dan bawa dia ke ruangan yang lain. Tawarkan dia mainan atau sesuatu benda untuk mengalihkan perhatiannya.

BERITAHU SEJAK DINI
Tanamkan sedini mungkin pada anak-anak pengertian kerja sama yang baik dan penyelesaian masalah secara kreatif tanpa menggunakan kekerasan.