Showing posts with label Redaksi YTH. Show all posts
Showing posts with label Redaksi YTH. Show all posts

Apr 28, 2011

Kualitas Mobil Nissan Mengecewakan

Kompas.com - Akhir tahun 2010, saya membeli dua unit mobil baru Nissan dari dealer Pondok Indah, Jaksel, masing-masing Xtrail XT (tipe termahal) dan Serena Highway Star (tipe termahal). Bulan Maret 2011, saya juga membeli mobil Nissan March di dealer yang sama. Namun, kualitas mobil Nissan mengecewakan. Pada saat mencoba mobil Xtrail di minggu pertama terdengar bunyi berisik.

Ketika komplain, awalnya dibantah oleh pihak Nissan. Namun, ketika saya bawa ke bengkel ternyata ada sekrup di dashboard depan yang tidak rapat. Dua bulan kemudian, tape mati total. Ketika dibawa, bisa diperbaiki, namun rusak kembali bulan depannya, dan sampai sekarang kondisi masih rusak.

Saya yang harus bolak-balik mengontak Nissan untuk ditindaklanjuti. Beberapa waktu lalu, saya juga membeli mobil Nissan March. Hari pertama saya coba terdengar bunyi sangat berisik dari bawah mesin. Setelah dibawa ke bengkel dijelaskan bahwa ada kerikil di sela-sela rem. Berulang kali mencoba meyakinkan saya bahwa semua mobil baru telah melewati standar kualitas kontrol Nissan. Mobil Serena juga bermasalah, namun belum sempat saya laporkan. Sangat mengecewakan kualitas mobil Nissan, dan hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi pada mobil baru.

Chandra Siagian Jalan Delima Raya B 11, Cilandak, Jakarta Selatan

Apr 14, 2011

Indosat Sedot Pulsa

Kompas.com - Pada 25 Februari 2010 saya mengisi pulsa Rp 100.000 pada nomor IM3 085641263331 untuk mengaktifkan paket Blackberry Irit dengan tarif Rp 100.000 per bulan. Tanggapan yang saya dapat adalah pulsa tidak mencukupi. Saya kembali mengisi Rp 10.000, baru saya bisa mengaktifkan paket Blackberry Irit Indosat.


Keesokan harinya, saya kembali melakukan pengisian Rp 25.000 dan beberapa kali mengirim pesan singkat (tidak sampai 20 SMS). Betapa terkejut karena beberapa hari kemudian saya tidak bisa mengirim SMS. Setelah dicek, pulsa saya Rp 0.

Saya kembali mengisi Rp 5.000 pada 2 Maret karena berencana membuat pengaduan ke layanan pelanggan Indosat di nomor telepon 100 dengan biaya Rp 400 per panggilan.

Ternyata layanan pelanggan Indosat tidak bisa mengecek history pengisian pulsa ataupun pemakaian pulsa saya karena sistem bermasalah. Setelah telepon ke layanan pelanggan Indosat, saya tidak pernah melakukan panggilan atau SMS dengan nomor IM3 tersebut.

Setelah saya cek ulang pulsa saya pada 3 Maret 2011, lagi-lagi pulsa saya menghilang. Luar biasa dan salut dengan cara Indosat mencari keuntungan.

Andi Wibowo Desa Sokaraja Wetan RT 002 RW 003, Banyumas, Jawa Tengah

Apr 8, 2011

PAM Lyonnaise Jual Angin

Kompas.com - Sudah puluhan tahun kami berlangganan air pada PAM Lyonnaise DKI (Palyja). Nomor pelanggan 000003817. Air PAM tak bisa diandalkan karena volumenya sangat kecil, tetapi kami tetap berlangganan.


Pada Desember 2009 air PAM berhenti mengalir. Puluhan kali saya menelepon bagian layanan pelanggan Palyja. Belasan kali petugas teknik Palyja datang. Air tetap tak mengalir. Mereka berjanji, keluhan saya akan dilaporkan kepada pemimpin PAM.

Maret-April 2010 Palyja memperbaiki jaringan pipa air minum di sekitar Kelurahan Rawa Barat. Air tetap tak mengalir tanpa penjelasan apa pun. Setahun terakhir ini, meski air tak mengalir sama sekali, tagihan minimum dari Palyja plus denda tetap dikirimkan kepada kami, juga melalui SMS, bahkan disertai ancaman cabut total.

Saya mendatangi bagian layanan pelanggan dan bagian tagihan Palyja di Jalan Darmawangsa, Kebayoran Baru. Jawaban Palyja sangat mengejutkan, ”Bapak harus tetap membayar sewa meteran air meski air tak keluar sama sekali.”

Apakah air Palyja akan mengalir jika tagihan sewa meter dibayar? Jawabannya lebih mengejutkan, ”Kami tak bisa janji apa pun, tetapi Bapak tetap harus bayar sewa meter biarpun air tidak keluar sama sekali.”

FIRMANSYAH BACHTIAR Jalan Cipete IX, Cilandak, Jakarta Selatan

Apr 6, 2011

Telkomsel Jebak Pelanggan

Kompas.com - Saya beserta keluarga berlibur di Singapura, 3-7 Januari lalu. Untuk berkomunikasi, saya menggunakan fasilitas Blackberry karena mendapat informasi bahwa salah satu operator seluler memberikan fasilitas bebas jelajah internasional.


Di Kompas (16/12/2010) saya membaca iklan Telkomsel bahwa Kartu Halo, kartu seluler yang saya gunakan 10 tahun terakhir, juga memberikan fasilitas bebas jelajah internasional sampai 16 Januari 2011.

Maka, saya membatalkan niat menggunakan operator seluler lain dan tetap menggunakan Kartu Halo di Singapura. Alangkah kaget saya ketika mendapat tagihan Januari 2011. Telkomsel menagih jelajah internasional Blackberry sebesar Rp 692.632.

Keluhan telah saya sampaikan melalui layanan pelanggan 111. Namun, jawaban yang saya terima, saya harus mengurusnya ke Grapari atau mengirimkan tagihan yang saya keluhkan dengan menandai setiap bagian yang saya keluhkan. Telkomsel membuat promosi yang membohongi konsumen. Ketika ada masalah, konsumen harus mengurus sendiri.

Jefri Ganda Jalan Sumbawa 1 Blok H7, Tegal Alur, Jakarta Barat

Mar 31, 2011

Carrefour Menjual AC Bekas

Kompas.com - Tanggal 15 Februari 2011 saya membeli satu unit AC split 1/2 PK merek LG di Carrefour Buaran, Jakarta Timur, seharga Rp 2.296.000. Harga tersebut sudah termasuk perpanjangan masa garansi hingga tiga tahun. Barang kemudian dikirim ke rumah malam harinya.


Esok harinya seseorang menelepon saya mau datang memasang AC. Kebetulan, saat itu saya juga mendatangkan tukang AC langganan yang rutin servis AC di rumah saya.

Setelah kardus unit AC yang baru dibeli itu dibuka, kedua orang ahli AC tersebut mengabarkan kepada saya bahwa AC yang dikirim adalah AC bekas pakai karena busa pelapis selang telah sobek dan baut-baut terlihat bekas dipasang.

Saya menelepon hotline Carrefour, dan setelah empat jam mencoba, akhirnya ada seseorang mengaku bernama Lasdon menjawab telepon saya. Ia berjanji dalam waktu 30 menit akan mengabarkan kembali.

Selang 30 menit, saya ditelepon dan dipersilakan menukar AC dengan merek dan jenis lain karena AC yang telah saya beli sudah habis di gudang. Apa berarti karena stok habis, lalu saya diberi AC bekas?

Pelanggan awam seperti saya tentu tidak bisa melihat secara rinci keanehan barang yang dibeli. Saya mengingatkan konsumen agar berhati-hati jika berbelanja di Carrefour. 


Dhyan L Byantoro Kampung Tanah 80 Nomor 2, Klender, Jakarta Timur

Mar 27, 2011

Cara Tidak Terpuji Indosat Mencari Pelanggan

Kompas.com - Pembantu rumah tangga saya berbelanja di Giant Kalimalang, Jakarta Timur, untuk keperluan saya. Saat membayar, dia diberi tahu oleh kasir akan mendapat pulsa telepon seluler gratis Rp 50.000 dari Indosat. Pulsa bisa diambil di konter Indosat di situ. Ketika mengambil, dia dimintai KTP dan ditanya berbagai hal.


Karena sudah memiliki telepon seluler, kartu yang bernomor 081510516059 itu diberikan kepada saudaranya. Merasa pulsa belum habis, maka kartu digunakan terus oleh saudaranya untuk menelepon. Namun, pembantu saya kaget saat menerima surat tagihan sebesar Rp 659.220 dan baru tahu bahwa ternyata kartu tersebut adalah pascabayar setelah saya jelaskan.

Segera saya telepon layanan pelanggan Indosat untuk komplain karena marketing Indosat tidak pernah memberi tahu bahwa kartu tersebut adalah pascabayar. Saya minta untuk segera ditutup, apalagi telepon seluler yang menggunakan kartu tersebut hilang.

Namun, pihak Indosat tetap memaksa harus datang ke galeri Indosat untuk menutup meski sudah ditanya berbagai pertanyaan sesuai dengan isian formulir pendaftaran. Saya keberatan harus repot-repot datang ke galeri Indosat dan ternyata komplain tidak dihiraukan. Indosat hanya berkutat pada tagihan yang belum dibayar, bahkan mengancam akan mengirimkan debt collector untuk melunasi. Cara tidak terpuji Indosat mencari pelanggan.

ANDREY ANDOKO Mayang III AG 9/3, Kompleks Billy Moon, Jakarta Timur

Feb 19, 2011

Pelanggan Bisa Nonaktif

Kompas.com - Menanggapi surat di Kompas (4/2), ”Promosi Esia Mengganggu” yang disampaikan oleh Bapak Teguh Raharjo, dengan ini diinformasikan bahwa SMS dan telepon dimaksud adalah bentuk layanan informatif berbagai fitur dan produk inovatif Bakrie Telecom yang dapat dinikmati pelanggan.


Apabila tidak berkenan dengan layanan tersebut, pelanggan dapat menonaktifkan dengan mengirim SMS: ketik DND dan kirim ke 999. Pengiriman SMS ini gratis.

Setya Yudha Indraswara Public Relations Manager PT Bakrie Telecom Tbk

Feb 14, 2011

Troli Carrefour Meluncur, Merusak Mobil

Kompas.com - Sebuah troli milik Carrefour BSD, Serpong, Tangerang, Senin, 27 Desember 2010, sekitar pukul 14.00, tiba-tiba meluncur ke arah mobil yang saya kendarai saat melintas di lobi utama. Akibatnya, pintu depan kiri mobil tergores dan penyok. Saya melihat ada lebih dari tiga troli kosong yang berantakan di lobi.


Menurut pihak ITC BSD, troli-troli yang berantakan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Carrefour. Saya menemui pengawas troli yang mengaku dari perusahaan yang disewa Carrefour untuk mengurus troli. Saya diminta menunggu, tetapi hampir satu jam tak ada pihak Carrefour yang menemui. Tidak ada juga tindak lanjut. Sangat mengecewakan.

Setelah saya berbicara dengan nada tinggi, seorang petugas informasi menyatakan akan menelepon customer service manager. Sekitar 15 menit kemudian, Ibu Manda dan Bapak Maruli menemui saya. Namun, mereka bersikeras bahwa kejadian seperti itu bukan tanggung jawab Carrefour karena jumlah petugas troli yang bertugas sudah cukup.

Carrefour lepas tanggung jawab dan lalai mengurus troli sehingga merugikan orang lain. Kali ini mengenai mobil saya, kemungkinan akan terjadi lagi pada mobil lain, dan yang paling mengkhawatirkan akan mengenai anak-anak. Mohon Carrefour tidak menganggap hal ini sebagai masalah sepele. 
Estella Teguh BSD Sektor XIV-4, Serpong, Tangerang

Feb 8, 2011

Pungutan DHL

Kompas.com - Tanggal 6 Juni 2010 dan 16 November 2010 saya mengimpor USB flashdisk melalui jasa ekspedisi DHL. Sebelumnya saya menggunakan jasa EMS.

Di luar dugaan, saya harus menanggung pajak di luar ketentuan resmi yang berlaku, yang dibebankan DHL kepada saya. Saya harus menanggung PPh 15 persen dengan lampiran atas nama Kementerian Keuangan Ditjen Bea dan Cukai.

Pungutan itu tanpa menyertakan Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos (PPKP) dan tanpa menyertakan penanggung jawab. Padahal, seharusnya disertakan pula nama pegawai dan NIP pemeriksa Bea dan Cukai. Awalnya, saya tidak peduli karena harus segera menyerahkan barang ke klien.

Namun, selisih yang mencolok membuat saya berusaha mendapatkan kejelasan dari pihak Bea dan Cukai. Setelah konsultasi dengan petugas Bea dan Cukai diketahui bahwa pungutan itu tidak resmi (ilegal) karena seharusnya PPh yang dibebankan hanya 7,5 persen.

Sayang sekali, perusahaan sebesar DHL masih curang dengan memungut PPh dua kali lipat dari yang seharusnya. Mohon penjelasan DHL. Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan sebaiknya juga mengoreksi kecurangan yang sangat merugikan konsumen.

DITA HIMAWAN SUCIPTO Jalan Kaswari 393, Purworejo Geger, Madiun, Jawa Timur

Aetra Mengganti Meteran Sepihak

Kompas.com - Orangtua saya membeli rumah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sejak tahun 2009. Rumah itu kosong.


Bulan Agustus 2010, saya menerima tagihan pemakaian air Aetra sebesar Rp 4.173.540. Padahal, tidak pernah ada pemakaian air karena sambungan air dalam posisi ditutup. Pada bulan-bulan sebelumnya, pembayaran hanya Rp 19.300 berupa biaya beban tetap.

Saya ke kantor pelayanan pelanggan Aetra di Sindang, lalu dilempar ke Balai Pustaka, kemudian ke kantor penggantian meter di Klender, dan ke Tongkol. Di kantor terakhir ini saya dilayani oleh staf bernama Abdul dan Sondang.

Di situ saya baru tahu bahwa tagihan membengkak karena ada penggantian kepala meteran pada tanggal 22 Juni 2010. Nama staf yang tertera di berita acara service order adalah Didi.

Tidak ada satu pun dari keluarga saya yang menandatangani penggantian tersebut. Tanda tangan yang tertera adalah palsu.

Ketika saya konfirmasi, pihak Aetra tetap memaksa saya untuk membayar. Saya meminta untuk mengadakan pertemuan antara kedua pihak, tetapi selalu ditolak dengan alasan sibuk. Saya kecewa karena pihak Aetra tidak bekerja sesuai prosedur dan selalu mengancam untuk memutus sambungan air.

Bahkan, pihak Aetra datang dan memaksa saya untuk menerima salinan asli berita acara service order. Padahal, seharusnya salinan ini diberikan di tempat ketika konsumen menyetujui penggantian kepala meteran. Saya menolak menerima. Hingga saat ini belum ada iktikad baik dari pihak Aetra untuk menyelesaikan masalah ini.

Andri Effendi Jalan Janur Asri V Blok QK 10 Nomor 6, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Feb 2, 2011

Tak Ada Kepastian Berlangganan Yes TV


Kompas.com - Saat mengunjungi pameran IndoComTech di Balai Sidang Jakarta pada 5 November 2010, suami saya ditawari program promosi ”bayar instalasi Rp 100.000 mendapat bebas tiga bulan iuran YesTV All Channel”. Yang menawari adalah Saudara Mansur dari YesTV dengan nomor ponsel 021979796xx.

Setelah membayar lunas, suami saya dijanjikan instalasi akan dipasang pada 7 November 2010 dengan nomor formulir berlangganan 141699. Empat hari kemudian teknisi YesTV, Saudara Syaiful dengan ponsel 081229726xx, menghubungi via telepon akan memasang saat itu juga. Suami saya menolak karena tanpa perjanjian.

Berhubung hampir sebulan belum ada tindak lanjut, suami saya menghubungi teknisi itu pada 6 Desember. Petugas itu menjawab akan datang dua hari kemudian. Pada hari-H, dia membatalkan kedatangannya. Yang begitu terulang sampai beberapa kali.

Sampai saat ini tak ada tindak lanjut dari YesTV. Saya tak lagi tertarik berlangganan dan merelakan uang instalasi yang telah lunas dibayar.

Henny Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Feb 1, 2011

Hujatan Guru kepada Murid


Kompas.com - Pada jam istirahat di Sekolah Bukit Sion Intercon, Kebon Jeruk, Jakarta Barat (13/12/2010), anak saya bernama Richard Homan yang duduk di kelas VI B bermain dengan temannya. Sambil bercanda, ia mengatakan ”mupeng” (muka gepeng), dan kebetulan terdengar oleh seorang guru Matematika bernama D.

Kemudian, yang bersangkutan langsung menarik sambil berkata kepada Richard Homan, ”Siapa yang mengajarkan kata kotor mupeng?” Apakah Richard di rumah diajarkan kata-kata kotor? Apakah mama kamu pelacur dan papa kamu germo?

Saat itu kepala sekolah bernama Ibu Fany mendengar kata- kata pelacur, yang terlontar dari guru dimaksud. Sepulang sekolah, anak saya menangis dan mengadu kepada orangtuanya.

Disayangkan profesi seorang guru yang sampai sekarang dianggap ”pahlawan tanpa tanda jasa” mengatakan seperti itu. Bukan mendidik dengan baik, melainkan secara tidak langsung mengajarkan tidak baik. Ini memang hanya oknum, tetapi dampaknya besar bagi sekolah.

CHARLES HOMAN Ruko Pelangi Blok D, Cengkareng, Jakarta Barat

Jan 10, 2011

Usia Singkat Ponsel Sony Ericsson

Kompas.com - Pada 9 September 2009 anak saya membeli ponsel Sony Ericsson X PERIA-X1 seharga Rp 5.299.000 di gerai Sony Ericsson Shop, Jalan Sriwijaya, Semarang, dengan masa garansi setahun.

Sebulan setelah masa garansi lewat, ponsel mati tanpa sebab. Kemudian, ponsel saya bawa ke gerai itu untuk diperiksa. Setelah upgrade dilakukan, ponsel tidak merespons sama sekali, tetap mati. Kerusakan ada pada board. Ponsel dikembalikan dan dinyatakan tak bisa diperbaiki.

Mengherankan. Apakah ini taktik menghindar? Produk Sony Ericsson sangat mengecewakan. Usianya tak lebih sehari pun dari masa garansi. Tampaknya, falsafah Sony Ericsson, sekali habis masa garansi, sesudah itu mati.
Perlu saya informasikan, pemakaian ponsel ini di tangan saya berjalan normal. Tak pernah pula ponsel itu jatuh atau terkena air.

THOMAS AQUINO Jalan Dr Susanto 39, Pati, Jateng

Dec 27, 2010

Uang Jamsostek di Coffee Bean

Kompas.com - Saya adalah salah seorang mantan karyawan PT Trans Coffee (The Coffee Bean) yang bergerak di bidang food & beverage service (coffee shop). Saya bekerja sebagai outlet manager sejak bulan Oktober 2008 dan memutuskan keluar secara baik-baik bulan Juni 2010. Pada saat yang hampir bersamaan, keanggotaan Jamsostek saya berakhir bulan Mei 2010.

Karena membutuhkan uang untuk mengurus paspor dan visa sebab saya diterima bekerja di luar negeri (Qatar), saya memutuskan untuk mencairkan dana Jamsostek saya, yang menurut PT Jamsostek Tbk, saldo akhir berjumlah Rp 6.539.213. Ternyata saya tidak dapat mencairkan uang tersebut karena pihak PT Trans Coffee belum membayar uang iuran Jamsostek terhitung dari bulan Maret 2010.

Oleh PT Jamsostek, saya diminta menghubungi PT Trans Coffee untuk mendapatkan penjelasan, mengapa menunggak iuran Jamsostek? Ketika saya menemui Bapak Iwan S, Business Development Manager” mengakui bahwa memang menunggak iuran tersebut dan menjanjikan akan menyelesaikan dalam tempo paling lambat satu minggu.

Namun, ternyata hanya janji, yang sampai sekarang tidak dapat memenuhinya. Saya bolak-balik ke PT Trans Coffee dari bulan Juli 2010 hingga sekarang untuk mendapatkan hak saya, dan seperti biasa saya hanya diberikan janji-janji kosong. Padahal, saat bekerja di perusahaan tersebut, setiap bulan gaji saya dipotong untuk iuran Jamsostek.

Mochamad Iqbal Jalan Gandaria II Nomor 142, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta

Dec 15, 2010

Minuman Beralkohol dan Remaja di Pasar Swalayan

Kompas.com - Pada 6 November lalu saya bersama anak laki-laki saya yang berusia 16 tahun berbelanja di Pasar Swalayan Giant, Botani Square, Bogor. Selagi antre di kasir, saya melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan saya. Postur tubuhnya lebih kecil dari anak saya. Dari raut wajahnya, saya taksir umurnya pasti tak lebih tua dari anak saya. Yang mengherankan, anak tersebut membeli sebotol vodka, minuman beralkohol.

Pikir saya, mungkin orang ini sebenarnya adalah laki-laki dewasa dengan raut baby face. Nanti kalau dianggap meragukan, pasti kasir akan menanyakan KTP anak tersebut. Namun, harapan saya tidak menjadi kenyataan. Tak ada pertanyaan sepatah kata pun dari kasir. Setelah membayar, anak tersebut memasukkan vodkanya ke dalam tasnya. Mungkin untuk menyembunyikan benda itu dari pandangan umum.

Saat giliran membayar, saya bertanya kepada kasir, ”Mas, tadi anak-anak kok boleh beli minuman keras? Kenapa tidak ditanya KTP-nya?” Kasir kebingungan dan balik bertanya, ”Oh, apa seharusnya begitu ya, Bu? Di sini tidak ada peraturannya.” Bagaimana kita bisa melindungi anak-anak dan generasi muda Indonesia jika minuman keras begitu mudah didapat atau dibeli tanpa ada penegakan hukum?

Saya teringat pengalaman sewaktu mendapat kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat. Dalam sebuah acara makan malam, ada teman satu delegasi dari Thailand yang bertubuh mungil dan berwajah baby face minta anggur. Spontan pramusaji menanyakan paspornya karena secara legal mereka hanya boleh menyajikan anggur bagi yang berusia di atas 21 tahun. Karena yang bersangkutan tak membawa paspor, dia tidak boleh minum anggur.

Lira Oktaviani Danau Bogor Raya D2 No 5, Katulampa, Bogor

Dec 13, 2010

Sikap Pramugari Pesawat Garuda

Kompas.com - Pada tanggal 7 November 2010 saya menumpang pesawat Garuda GA 603 pukul 17.20 dari Makassar menuju Jakarta. Selama penerbangan, penumpang di sebelah saya sibuk mengetik kalimat di Blackberry-nya. Sebagai penumpang yang khawatir dengan keselamatan penerbangan ini, saya menyampaikan hal tersebut kepada pramugari.

Peramugari hanya melihat sekilas kepada penumpang yang sibuk dengan Blackberry messenger-nya, dan berkata dengan santai: ”Kalau di atas begini tidak apa-apa menyalakan HP karena tidak ada sinyal. Yang tidak boleh itu adalah saat landing atau take off.”

Saya bingung dengan penjelasan ini karena sepengetahuan saya, dan itu sudah diumumkan sebelum naik pesawat ataupun saat peraturan penerbangan sipil disetel di dalam kabin, ”tidak boleh mengaktifkan telepon seluler selama penerbangan”.

Akhirnya saya sendiri menegur ibu yang terus sibuk dengan Blackberry-nya, dan jawabannya kurang lebih sama: ”Ini, kan, enggak ada sinyal, jadi aman.” Saat akan landing, si ibu meletakkan Blackberry-nya di dalam tas tanpa mematikannya, dan sesaat sebelum roda pesawat menyentuh landasan, terdengar bunyi ”cling” tanda pesan masuk dari dalam tas ibu tersebut, menandakan Blackberry-nya telah mendapatkan sinyal sempurna.

DEWI INDAH SARI Villa Ilhami Jalan Mina III, Tangerang


Nov 28, 2010

Bohong ala KFC

Kompas.com - Kentucky Fried Chicken (KFC) menawari saya membeli CD seharga Rp 35.000. Dijanjikan, setiap bulan saya menerima SMS untuk ditukar dengan salah satu produk ”Goceng Gratis Seumur Hidup”.

Ternyata ini bohong belaka. Setelah REG sesuai dengan petunjuk, saya diberi tahu lewat SMS bahwa saban saya menerima SMS, pulsa saya dipotong Rp 2.000. Untuk klaim ”Free Goceng”, saya harus punya kartu anggota. Beberapa minggu kemudian, saya ambil kartu anggota dan diberi tahu saat itu: tenggat telah lewat.

Ternyata janji seumur hidup sudah dihapuskan sebelum saya sempat manfaatkan. Sewaktu saya mengadukan hal itu kepada KFC, mereka mengeluarkan peraturan sepihak yang sebelumnya tak pernah dijelaskan.

Henny S Muktiwijaya Jalan Sebakung Nomor 7 Pasar Kliwon, Surakarta

Nov 27, 2010

Layanan Purnajual Sanyo

Kompas.com - Tanggal 21 Oktober 2010 saya menghubungi call center Sanyo di 021-65307765, diterima oleh Saudari Amel. Saya jelaskan mau servis mesin cuci merek Sanyo tipe SW-700 XT, dengan keluhan bocor tabung pencuci.

Dijanjikan tiga atau empat hari kemudian baru bisa datang. Ternyata setelah empat hari (25/10) tidak datang.

Saya menelepon lagi dan disarankan menghubungi Ibu Novi di 021-70917709 dengan Bon Kerja: 172830. Dijawab, ”Tidak bisa sekarang, tunggu dalam minggu ini.”

Saya mendebat karena tidak jelas kapan. Akhirnya diputuskan datang 26 Oktober 2010.

Pada pagi hari yang dijanjikan saya telepon kembali. Ternyata tidak jadi datang dengan alasan ada petugas yang tidak masuk. Karena tidak ada kepastian, saya mencari tempat servis lain di luar Sanyo dan dilayani dengan baik hari itu juga.

Saya kapok membeli elektronik merek Sanyo karena layanan purnajualnya buruk. Bagaimana tanggung jawab Sanyo kepada konsumen? 


RIDHAWATIE SUHARTO Jalan Mega 30 Kompleks Meteorologi, Pondok Aren, Tangerang Selatan

Pencuri Beraksi di Grand Indonesia

Kompas.com - Pada 20 Oktober 2010 saya, istri, dan relasi makan di restoran cepat saji Yoshinoya di West Mall Grand Indonesia, Jakarta. Selesai memesan di kasir, kami menuju tempat duduk, menaruh tas laptop persis di samping badan dan mulai makan.

Ternyata pada saat itu terjadi pencurian. Tas laptop saya hilang beserta isinya. Begitu menyadarinya, saya langsung melapor ke pihak keamanan mal yang bertugas di dekat lift. Sayangnya petugas keamanan tidak dilengkapi dengan handy talky sehingga ia harus berlari-lari dulu untuk menghubungi rekannya di tempat lain.

Pegawai restoran langsung memeriksa kamera pengawas di restoran. Sayang hal yang sama tidak dilakukan oleh pihak keamanan mal sehingga terkesan lamban dan hanya membuang waktu. Akibatnya, penanganan pasca-pencurian berjalan tidak efektif.

Sampai hampir pukul 18.00 usaha kami untuk meminta pengecekan dari kamera pengawas pihak mal tetap sia-sia dan waktu terbuang percuma. Maka kesempatan menemukan tas laptop saya sirna karena sudah pasti pencuri telah menghilang.

Padahal, pihak restoran cukup kooperatif, memberi kami kesempatan melihat adegan pencurian dari rekaman kamera pengawas dalam restoran.

Terlihat waktu kejadian pukul 17.10 WIB, hanya selang 10 menit dari waktu saya melaporkan kejadian kepada pihak keamanan mal.


Charles W Yusuf Apt Sudirman Park Tower B 27 AG, Tanah Abang, Jakarta

Nov 4, 2010

Poin Citibank di BreadTalk

Kompas.com - Saya pelanggan roti BreadTalk. Pada Minggu, 10 Oktober 2010, saya membeli roti BreadTalk di Mal Kelapa Gading 3, Jakarta, dengan menukarkan 1.000 poin dari kartu kredit Citibank dengan produk senilai Rp 26.000.

Pada saat akan membayar, kasir menyatakan bahwa program tersebut hanya berlaku untuk hari Senin sampai Jumat. Kemudian, saya ditawari program lain yang, menurut kasir, berlaku pada hari Sabtu-Minggu, tetapi terlebih dahulu harus membeli produk minimal Rp 50.000.

Karena merasa tidak enak dengan antrean pelanggan yang panjang di belakang saya, akhirnya dengan terpaksa saya setujui dengan menambah beberapa roti lagi meski sebenarnya saya tidak ingin membeli roti sebanyak itu.

Sampai di rumah, saya melihat kembali iklan penawaran tersebut di media cetak, sekaligus konfirmasi ke Citibank melalui Citiphone Officer karena penasaran.

Yang mengejutkan, ternyata program penukaran poin dengan produk BreadTalk senilai Rp 26.000 berlaku setiap hari dan tidak menyebutkan berlaku hari Senin sampai dengan Jumat.

Saya kecewa dan merasa dibohongi oleh BreadTalk.

ARIO PUJILAKSONO Jalan Bulak Barat II, Klender, Jakarta