Tempo.co - Hari ini, 7 September 2016, tepat 12 tahun Munir Said Thalib meninggal. Aktivis hak asasi manusia itu menghembuskan napas terakhir di pesawat Garuda Indonesia yang membawanya dari Bandar Udara Changi ke Belanda. Munir, di usia 38 tahun, hendak melanjutkan studi hukum di Utrecht Universiteit. Ia tewas dengan racun arsenik bersarang di lambungnya.
Showing posts with label HAM. Show all posts
Showing posts with label HAM. Show all posts
Sep 12, 2016
Aug 2, 2016
Putusan Pengadilan Rakyat 1965: Indonesia Lakukan Genosida
Cnnindonesia.com - Putusan akhir pengadilan rakyat internasional atas kejahatan kemanusiaan periode 1965 di Indonesia atau International People’s Tribunal (IPT) 1965 menyebutkan, Indonesia harus bertanggung jawab atas 10 tindakan kejahatan hak asasi manusia (HAM) berat pada 1965-1966.
Apr 26, 2016
Luhut: Negara Akan Minta Maaf jika Kuburan Massal Korban 1965 Bisa Diidentifikasi
Kompas.com - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan negara akan meminta maaf terkait kasus Tragedi 1965.
Jokowi Perintahkan Luhut Cari Kuburan Massal Korban 1965
Kompas.com - Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan untuk mencari lokasi kuburan massal korban peristiwa 1965.
Oct 10, 2015
G30S 1965: Inggris Sudah Lama Ingin Singkirkan Soekarno
Tempo.co - Dalam peristiwa tahun 1965 di Indonesia, bukan hanya jejak Amerika Serikat dan badan intelijennya, Central Intelligence Agency (CIA), yang terlihat jelas. Sejumlah dokumen yang dibuka ke publik menunjukkan bahwa ada jejak terang Inggris dalam peristiwa yang berujung pada jatuhnya Seokarno dan dihancurkannya Partai Komunis Indonesia (PKI).
Oct 9, 2015
G30S 1965: Terungkap, Kedekatan Soeharto dan Letkol Untung
| Letnan Kolonel Untung Samsuri |
Tempo.co - Hari Selasa, pengujung 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. "Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih," kata Untung kepada Soebandrio.
Oct 8, 2015
G30S 1965: Ini Penyebab di Jawa Barat Tak Ada Pembantaian
Tempo.co - PERINTAH itu datang dari Mayor Jenderal Ibrahim Adjie. Kepada Benedict Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, Panglima Komando Daerah Militer VI Siliwangi itu menegaskan, "Saya sudah kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang-orang ini ditangkap diamankan, tapi jangan sampai ada macem-macem." Ibrahim dan Anderson bertemu pada 1968.
Oct 4, 2015
YPKP 65 Klaim 3 Juta Lebih Korban Tewas lantaran Dituduh PKI
Cnnindonesia.com - Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65) mengklaim jumlah korban tewas dalam tragedi pasca gerakan 30 September 1965 lebih dari 3 juta orang. Saat itu korban bukan hanya dari anggota Partai Komunis Indonesia yang aktif. Namun juga organisasi sayap atau yang dituduh berafiliasi dengan PKI.
Omar Dani: CIA Terlibat G30S 1965 dan Soeharto yang Dipakai
Kisah Kuburan Massal Korban G30S di Semarang
Cnnindonesia.com - Ada kuburan massal yang ditemukan para pegiat hak asasi manusia di Semarang, Jawa Tengah. Kuburan massal tersebut diyakini berisi jenazah mereka yang dituduh terlibat dalam Partai Komunis Indonesia. Ada yang menyebut kuburan massal itu berupa dua sumur berisi 24 jenazah. Dua sumur itu berada di Hutan Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Mangkang, Semarang, Jawa Tengah.
Aug 4, 2014
Sebelum Menyerang, Militer Israel Telepon Pemilik Bangunan di Gaza
| Warga Jalan Al-Jalla, Gaza menyaksikan sebuah bom Israel jatuh dan menghantam sebuah bangunan. Bom yang jatuh terlihat jelas di bagian atas foto ini. |
Kompas.com - Jarum jam menunjukkan pukul 14.30. Warga di Jalan Al-Jalla, Gaza, ramai membicarakan rencana serangan udara Israel. Sasarannya adalah sebuah bangunan bertingkat di jantung kota Gaza.
Anak-anak berkumpul di balkon-balkon bangunan. Para pemuda berkumpul di persimpangan jalan, sementara beberapa orang lainnya meletakkan batu dan ban bekas untuk menghalangi jalan yang melintasi gedung yang akan menjadi sasaran.
Seorang pria yang hanya mengenakan kaus dalam berperan sebagai polisi lalu lintas, mengarahkan pengguna jalan untuk mengubah arah kendaraan mereka. Mobil-mobil berhenti, mata mereka tak berkedip memandang gedung naas yang sesaat lagi akan hancur.
Beberapa menit sebelumnya, militer Israel menelepon putra Bashir al-Ramlawi (58), pemilik dari gedung yang akan menjadi sasaran. Bagaimana militer Israel mendapatkan nomor telepon pemuda tersebut, hal itu masih menjadi misteri.
Suara di ujung lain telepon itu memerintahkan pemuda tersebut mengevakuasi keluarganya karena gedung itu akan menjadi sasaran serangan udara.
Seusai menerima telepon itu, pemuda tersebut dengan panik memanggil sang ayah yang kemudian meminta semua anggota keluarganya yang berjumlah 35 orang untuk meninggalkan gedung itu dan mencari tempat aman.
Para tetangga mungkin melihat keluarga Al-Ramlawi berlarian meninggalkan kediamannya, atau mungkin juga putra Al-Ramlawi menghubungi kawan-kawannya, yang jelas kabar serangan itu menyebar dengan cepat dan dengan segera semua warga di jalan Al-Jalla mengetahui akan datangnya serangan Israel itu.
Menanti
Warga kemudian menunggu detik-detik jatuhnya bom dari langit Gaza. Tiba-tiba, sebuah ledakan keras terdengar diikuti kepulan asap mirip cendawan. Gedung tempat keluarga Al-Ramlawi sudah diserang. Namun, warga sudah mafhum, serangan ini baru "menu" pembukaan.
Beberapa menit kemudian, sebuah bom jatuh dari langit menghantam gedung tersebut. Sekali lagi asap membubung, menyelubungi jalanan di bawahnya. Bom ketiga kemudian menghantam, dan gedung itu masih berdiri.
Tak seorang pun beranjak. Mereka sudah paham, tiga serangan pertama merupakan peringatan kecil dari drone Israel. Serangan ini adalah peringatan bagi siapa pun yang masih berada terlalu dekat dengan gedung itu dan sekaligus sebagai cara "melunakkan" gedung itu.
Jarum jam kini menunjukkan pukul 14.50, dan terdengar raungan jet F-16 di langit Gaza. Sekejap kemudian, sebuah rudal melesat di atas kepala warga Jalan Al-Jalla, menghantam gedung itu.
Asap lebih besar membubung, dan gedung itu akhirnya tumbang. Tak ada korban jiwa atau luka. Gedung-gedung di sekitar sasaran juga tak mengalami kerusakan.
Dalam hitungan menit, ketegangan itu hilang dan jalanan dibuka kembali. Mobil-mobil kembali melanjutkan perjalanan melewati puing-puing bangunan. Semua tampak normal, kecuali tentu bagi Al-Ramlawi.
"Saya tak tahu mengapa mereka menyerang kediaman saya, padahal saya tak memiliki kaitan apa pun dengan Hamas atau kelompok lainnya," kata Al-Ramlawi, nyaris menangis.
Pria itu menambahkan, semua kerabatnya yang tinggal bersama dia sudah pergi mencari tempat aman di Shijaiyah, wilayah timur Gaza. Sekarang, mereka semua tak memiliki tempat tinggal.
Anak-anak berkumpul di balkon-balkon bangunan. Para pemuda berkumpul di persimpangan jalan, sementara beberapa orang lainnya meletakkan batu dan ban bekas untuk menghalangi jalan yang melintasi gedung yang akan menjadi sasaran.
Seorang pria yang hanya mengenakan kaus dalam berperan sebagai polisi lalu lintas, mengarahkan pengguna jalan untuk mengubah arah kendaraan mereka. Mobil-mobil berhenti, mata mereka tak berkedip memandang gedung naas yang sesaat lagi akan hancur.
Beberapa menit sebelumnya, militer Israel menelepon putra Bashir al-Ramlawi (58), pemilik dari gedung yang akan menjadi sasaran. Bagaimana militer Israel mendapatkan nomor telepon pemuda tersebut, hal itu masih menjadi misteri.
Suara di ujung lain telepon itu memerintahkan pemuda tersebut mengevakuasi keluarganya karena gedung itu akan menjadi sasaran serangan udara.
Seusai menerima telepon itu, pemuda tersebut dengan panik memanggil sang ayah yang kemudian meminta semua anggota keluarganya yang berjumlah 35 orang untuk meninggalkan gedung itu dan mencari tempat aman.
Para tetangga mungkin melihat keluarga Al-Ramlawi berlarian meninggalkan kediamannya, atau mungkin juga putra Al-Ramlawi menghubungi kawan-kawannya, yang jelas kabar serangan itu menyebar dengan cepat dan dengan segera semua warga di jalan Al-Jalla mengetahui akan datangnya serangan Israel itu.
Menanti
Warga kemudian menunggu detik-detik jatuhnya bom dari langit Gaza. Tiba-tiba, sebuah ledakan keras terdengar diikuti kepulan asap mirip cendawan. Gedung tempat keluarga Al-Ramlawi sudah diserang. Namun, warga sudah mafhum, serangan ini baru "menu" pembukaan.
Beberapa menit kemudian, sebuah bom jatuh dari langit menghantam gedung tersebut. Sekali lagi asap membubung, menyelubungi jalanan di bawahnya. Bom ketiga kemudian menghantam, dan gedung itu masih berdiri.
Tak seorang pun beranjak. Mereka sudah paham, tiga serangan pertama merupakan peringatan kecil dari drone Israel. Serangan ini adalah peringatan bagi siapa pun yang masih berada terlalu dekat dengan gedung itu dan sekaligus sebagai cara "melunakkan" gedung itu.
Jarum jam kini menunjukkan pukul 14.50, dan terdengar raungan jet F-16 di langit Gaza. Sekejap kemudian, sebuah rudal melesat di atas kepala warga Jalan Al-Jalla, menghantam gedung itu.
Asap lebih besar membubung, dan gedung itu akhirnya tumbang. Tak ada korban jiwa atau luka. Gedung-gedung di sekitar sasaran juga tak mengalami kerusakan.
Dalam hitungan menit, ketegangan itu hilang dan jalanan dibuka kembali. Mobil-mobil kembali melanjutkan perjalanan melewati puing-puing bangunan. Semua tampak normal, kecuali tentu bagi Al-Ramlawi.
"Saya tak tahu mengapa mereka menyerang kediaman saya, padahal saya tak memiliki kaitan apa pun dengan Hamas atau kelompok lainnya," kata Al-Ramlawi, nyaris menangis.
Pria itu menambahkan, semua kerabatnya yang tinggal bersama dia sudah pergi mencari tempat aman di Shijaiyah, wilayah timur Gaza. Sekarang, mereka semua tak memiliki tempat tinggal.
Jul 29, 2014
Muslim Palestina Salat Idul Fitri di Gereja
Tempo.co - Warga Gaza menemukan kedamaian pada akhir bulan suci Ramadan dengan melaksanakan salat di sebuah gereja umat Kristen di tengah gempuran bom dan tumpahan darah.
Mahmud Khalaf, warga Gaza, mengatakan komunitas Kristen di Gereja Saint Porphyrius mengundangnya untuk beribadah di dalam gereja. Gereja itu juga menjadi tempat pengungsian bagi Khalaf dan keluarga setelah bom Israel meledakkan wilayah tempat tinggalnya di Shaaf, Gaza. (Baca: Gencatan Senjata di Gaza Hanya Bertahan Dua Jam)
"Mereka mengundang kami untuk beribadah di dalam gereja. Saya sebelumnya tidak mengenal satu orang pun umat Kristen di sini, tapi kini kami telah menjadi saudara," kata Khalaf, sebagaimana dilansir situs Thenews.com.pk pada 26 Juli lalu.
Saat memasuki gereja, umat Nasrani akan menyambut para muslim dengan ucapan marhaban atau selamat datang. Menurut Khalaf, dia telah mengungsi selama dua pekan di gereja itu. Ritual puasa pada Ramadan pun dilakukannya di sana. (Baca: Israel Gencatan Senjata 24 Jam, Hamas Tak Sepakat)
"Umat Kristen tentunya tidak berpuasa. Namun mereka menghormati kami dengan tidak makan dan minum di depan kami. Mereka juga tidak merokok saat berada di sekitar kami yang sedang puasa," ujar Khalaf.
Awalnya, Khalaf mengaku merasa janggal karena harus salat di ruangan yang sama dengan tempat patung Yesus Kristus berada. Namun jemaat gereja itu membantu dia dan pengungsi lainnya dalam beribadah, sehingga mereka merasa nyaman. Selama Ramadan, menurut Khalaf, dia dan para pengungsi lainnya selalu melakukan saat tarawih berjemaah di dalam gereja itu. "Hal ini mengubah pandangan saya tentang umat Kristen," kata Khalaf.
Gereja Saint Porphyrius sejauh ini telah menampung 500 pengungsi Gaza yang selamat dari baku tembak antara pasukan Israel dan Hamas. Baku tembak antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung 20 hari ini menewaskan sedikitnya 1.050 warga Gaza yang sebagian besar merupakan warga sipil. Sebanyak 42 tentara dan tiga warga sipil Israel pun tewas dalam konflik ini. (Baca juga: Palestina Adukan Israel ke Mahkamah Internasional)
Mahmud Khalaf, warga Gaza, mengatakan komunitas Kristen di Gereja Saint Porphyrius mengundangnya untuk beribadah di dalam gereja. Gereja itu juga menjadi tempat pengungsian bagi Khalaf dan keluarga setelah bom Israel meledakkan wilayah tempat tinggalnya di Shaaf, Gaza. (Baca: Gencatan Senjata di Gaza Hanya Bertahan Dua Jam)
"Mereka mengundang kami untuk beribadah di dalam gereja. Saya sebelumnya tidak mengenal satu orang pun umat Kristen di sini, tapi kini kami telah menjadi saudara," kata Khalaf, sebagaimana dilansir situs Thenews.com.pk pada 26 Juli lalu.
Saat memasuki gereja, umat Nasrani akan menyambut para muslim dengan ucapan marhaban atau selamat datang. Menurut Khalaf, dia telah mengungsi selama dua pekan di gereja itu. Ritual puasa pada Ramadan pun dilakukannya di sana. (Baca: Israel Gencatan Senjata 24 Jam, Hamas Tak Sepakat)
"Umat Kristen tentunya tidak berpuasa. Namun mereka menghormati kami dengan tidak makan dan minum di depan kami. Mereka juga tidak merokok saat berada di sekitar kami yang sedang puasa," ujar Khalaf.
Awalnya, Khalaf mengaku merasa janggal karena harus salat di ruangan yang sama dengan tempat patung Yesus Kristus berada. Namun jemaat gereja itu membantu dia dan pengungsi lainnya dalam beribadah, sehingga mereka merasa nyaman. Selama Ramadan, menurut Khalaf, dia dan para pengungsi lainnya selalu melakukan saat tarawih berjemaah di dalam gereja itu. "Hal ini mengubah pandangan saya tentang umat Kristen," kata Khalaf.
Gereja Saint Porphyrius sejauh ini telah menampung 500 pengungsi Gaza yang selamat dari baku tembak antara pasukan Israel dan Hamas. Baku tembak antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung 20 hari ini menewaskan sedikitnya 1.050 warga Gaza yang sebagian besar merupakan warga sipil. Sebanyak 42 tentara dan tiga warga sipil Israel pun tewas dalam konflik ini. (Baca juga: Palestina Adukan Israel ke Mahkamah Internasional)
Jan 26, 2014
Ketika Perempuan Pernah Hidup Bebas di Afganistan
| Perempuan di sebuah toko kaset di Kabul |
Kompas.com - Perempuan di Afganistan ditindas secara brutal pada rezim Taliban tahun 1996-2001 tetapi serangkaian foto-foto lama menunjukkan bagaimana perempuan di sana dulu pernah hidup bebas.
Taliban dikecam di seluruh dunia karena perlakukan mereka terhadap perempuan. Berdasarkan peraturan mereka, perempuan dilarang untuk disekolahkan, bisa dipukuli secara terbuka jika menunjukkan ketidaktaatan dan dipaksa untuk memakai burqa, pakaian yang menutupi seluruh tubuh, kecuali mata.
Taliban dikecam di seluruh dunia karena perlakukan mereka terhadap perempuan. Berdasarkan peraturan mereka, perempuan dilarang untuk disekolahkan, bisa dipukuli secara terbuka jika menunjukkan ketidaktaatan dan dipaksa untuk memakai burqa, pakaian yang menutupi seluruh tubuh, kecuali mata.
| Foto ini menunjukkan sejumlah perempuan Afganistan memasuki universtas pada tahun 1967 |
Namun, Mohammad Humayon Qayoumi, yang lahir di Kabul, Afganistan, dan kemudian menjadi profesor teknik di San Jose State University, menulis sebuah buku esai foto berjudul Once Upon A Time in Afghanistan yang mendokumentasikan bagaimana kehidupan perempuan sebelum era Taliban.
Foto-fotonya dari tahun 1950-an, 60-an dan 70-an menunjukkan bagaimana mereka dulu diberikan pendidikan tingkat universitas, pergi ke toko musik dengan mengenakan rok pendek dan mempelajari sains.
Foto-fotonya dari tahun 1950-an, 60-an dan 70-an menunjukkan bagaimana mereka dulu diberikan pendidikan tingkat universitas, pergi ke toko musik dengan mengenakan rok pendek dan mempelajari sains.
| Mahasiswa universtias di Kabul |
Bahkan sebuah laporan Departemen Luar Negeri dari Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Tenaga Kerja yang berasal dari tahun 2001 menjelaskan tentang kaum perempuan mendapatkan hak bersuara pada tahun 1920-an, diberikan kesetaraan dalam konstitusi Afganistan pada tahun 1960-an dan pada awal 1990-an sebanyak 70 persen guru sekolah dan 50 persen pekerja pemerintah adalah perempuan. Di Kabul, bahkan 40 persen dokter adalah perempuan.
Qayoumi mengatakan, "Mengingat masa lalu Afganistan yang penuh harapan hanya membuat penderitaan yang sekarang tampak lebih tragis. Tetapi penting untuk mengetahui bahwa kekacauan, terorisme, dan kekerasan terhadap sekolah-sekolah yang mendidik anak-anak perempuan bukan tidak bisa dihindari. Saya ingin menunjukkan kepada kaum pemuda Afganistan dewasa ini bagaimana orang tua dan kakek-nenek mereka dulu hidup."
Qayoumi mengatakan, "Mengingat masa lalu Afganistan yang penuh harapan hanya membuat penderitaan yang sekarang tampak lebih tragis. Tetapi penting untuk mengetahui bahwa kekacauan, terorisme, dan kekerasan terhadap sekolah-sekolah yang mendidik anak-anak perempuan bukan tidak bisa dihindari. Saya ingin menunjukkan kepada kaum pemuda Afganistan dewasa ini bagaimana orang tua dan kakek-nenek mereka dulu hidup."
| Sejumlah perempuan memerhatikan seorang perawat di sebuah rumah sakit yang menunjukkan kepada mereka bagaimana memandikan bayi. |
Presiden Afganistan, Hamid Karzai, baru-baru ini mengesahkan sebuah kode etik yang akan melarang banyak adegan yang ditampilkan dalam foto-foto itu. Kode etik itu menyatakan bahwa perempuan tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan tanpa wali laki-laki dan tidak boleh berbaur dengan laki-laki asing di tempat umum seperti sekolah, pasar dan kantor. Pemukulan terhadap istri hanya dilarang jika tidak ada 'keluhan terkait hukum syariah', kata aturan itu.
Karzai menegaskan, aturan itu sesuai dengan ajaran Islam dan tidak membatasi perempuan. "Ini hukum syariah yang berlaku bagi semua Muslim dan semua warga Afganistan," kata Karzai.
Karzai menegaskan, aturan itu sesuai dengan ajaran Islam dan tidak membatasi perempuan. "Ini hukum syariah yang berlaku bagi semua Muslim dan semua warga Afganistan," kata Karzai.
Aug 30, 2013
Kim Jong-un's ex-lover 'executed by firing squad'
Telegraph.co.uk - Kim Jong-un's ex-girlfriend was among a dozen well-known North Korean performers who were executed by firing squad nine days ago, according to South Korean reports.
Hyon Song-wol, a singer, rumoured to be a former lover of the North Korean leader, is said to have been arrested on Aug 17 with 11 others for violating laws against pornography.
The reports in South Korea's Chosun Ilbo newspaper indicate that Hyon, a singer with the Unhasu Orchestra, was among those arrested on August 17 for violating domestic laws on pornography.
All 12 were machine-gunned three days later, with other members of North Korea's most famous pop groups and their immediate families forced to watch. The onlookers were then sent to prison camps, victims of the regime's assumption of guilt by association, the reports stated.
“They were executed with machine guns while the key members of the Unhasu Orchestra, Wangjaesan Light Band and Moranbong Band as well as the families of the victims looked on,” said a Chinese source reported in the newspaper.
Hyon Song-wol, a singer, rumoured to be a former lover of the North Korean leader, is said to have been arrested on Aug 17 with 11 others for violating laws against pornography.
The reports in South Korea's Chosun Ilbo newspaper indicate that Hyon, a singer with the Unhasu Orchestra, was among those arrested on August 17 for violating domestic laws on pornography.
All 12 were machine-gunned three days later, with other members of North Korea's most famous pop groups and their immediate families forced to watch. The onlookers were then sent to prison camps, victims of the regime's assumption of guilt by association, the reports stated.
“They were executed with machine guns while the key members of the Unhasu Orchestra, Wangjaesan Light Band and Moranbong Band as well as the families of the victims looked on,” said a Chinese source reported in the newspaper.
Hyon's band was responsible for a string of patriotic hits in North Korea, including "Footsteps of Soldiers," "I Love Pyongyang," "She is a Discharged Soldier" and "We are Troops of the Party." Her popularity reportedly peaked in 2005 with the song "Excellent Horse-Like Lady."
The 12 who were executed were singers, musicians or dancers with the Hyon's band,, the Unhasu Orchestra or the Wanghaesan Light Music Band and were accused of making videos of themselves performing sex acts and then selling the recordings.
The reports stated that both groups have been disbanded as a result of the scandal.
Some of the musicians were also found to have bibles when they were detained and all were treated as political dissidents.
Kim Jong-un, who became leader of North Korea after the sudden death of his father in December 2011, is believed to have met Hyon about 10 years ago and struck up a relationship.
His father, Kim Jong-il, did not approve of the relationship and ordered him to break it off. Hyon subsequently married an officer in the North Korean military and reportedly had a baby, although there are suggestions that Hyon continued to see Kim after her marriage.
Kim's wife, Ri Sol-ju, was also a member of the Unhasu Orchestra before marriage and one theory is that Ri objected to the continuing high profile of her husband's former girlfriend.
North Korea's Communist dictator reportedly purged his own step-mother, Kim Ok, from her post as a senior official in the Workers' Party Finance and Accounting Department as he sought to tighten his grip on power within the country.
She was luckier than Kim Chol, vice minister of the army, who was executed with a mortar round in October 2012.
Kim Chol was reportedly executed for drinking and carousing during the official mourning period after Kim Jong-il's death.
On the explicit orders of Kim Jong-un to leave "no trace of him behind, down to his hair," according to South Korean media, Kim Chol was forced to stand on a spot that had been zeroed in for a mortar round and "obliterated."
The 12 who were executed were singers, musicians or dancers with the Hyon's band,, the Unhasu Orchestra or the Wanghaesan Light Music Band and were accused of making videos of themselves performing sex acts and then selling the recordings.
The reports stated that both groups have been disbanded as a result of the scandal.
Some of the musicians were also found to have bibles when they were detained and all were treated as political dissidents.
Kim Jong-un, who became leader of North Korea after the sudden death of his father in December 2011, is believed to have met Hyon about 10 years ago and struck up a relationship.
His father, Kim Jong-il, did not approve of the relationship and ordered him to break it off. Hyon subsequently married an officer in the North Korean military and reportedly had a baby, although there are suggestions that Hyon continued to see Kim after her marriage.
Kim's wife, Ri Sol-ju, was also a member of the Unhasu Orchestra before marriage and one theory is that Ri objected to the continuing high profile of her husband's former girlfriend.
North Korea's Communist dictator reportedly purged his own step-mother, Kim Ok, from her post as a senior official in the Workers' Party Finance and Accounting Department as he sought to tighten his grip on power within the country.
She was luckier than Kim Chol, vice minister of the army, who was executed with a mortar round in October 2012.
Kim Chol was reportedly executed for drinking and carousing during the official mourning period after Kim Jong-il's death.
On the explicit orders of Kim Jong-un to leave "no trace of him behind, down to his hair," according to South Korean media, Kim Chol was forced to stand on a spot that had been zeroed in for a mortar round and "obliterated."
An expert on North Korean affairs believes the singer was executed for "political reasons."
"If these people had only made pornographic videos, then it is simply not believable that their punishment was execution," Toshimitsu Shigemura, a professor at Tokyo's Waseda University and an authority on North Korean affairs, told The Daily Telegraph.
"They could have been made to disappear into the prison system there instead.
"There is a political reason behind this," he said, suggesting that the groups may have been leaning towards a rival faction in Pyongyang's shadowy political world.
"Or, as Kim's wife once belonged to the same group, it is possible that these executions are more about Kim's wife," Professor Shigemura added.
"If these people had only made pornographic videos, then it is simply not believable that their punishment was execution," Toshimitsu Shigemura, a professor at Tokyo's Waseda University and an authority on North Korean affairs, told The Daily Telegraph.
"They could have been made to disappear into the prison system there instead.
"There is a political reason behind this," he said, suggesting that the groups may have been leaning towards a rival faction in Pyongyang's shadowy political world.
"Or, as Kim's wife once belonged to the same group, it is possible that these executions are more about Kim's wife," Professor Shigemura added.
Jul 31, 2013
Apr 22, 2013
Daayiee Abdullah, Ulama Pendukung Pernikahan Gay
Kompas.com - Seorang pria Afrika-Amerika yang menjadi mualaf, Daayiee Abdullah, melakukan langkah yang terbilang kontroversial. Dia membantu menikahkah pasangan gay Muslim dan merahasiakan orientasi seks pasangan itu dari keluarganya.
Tentu saja, Abdullah harus sangat berhati-hati saat melakukan hal yang dianggap melanggar perintah agama oleh sebagian besar umat Islam itu.
"Kami harus bertanya kepada semua tamu kami agar tidak mengabarkan pernikahan ini lewat jejaring sosial. Tidak ada Facebook, Twitter atau Instagram," kata MQ, salah seorang dari pasangan gay yang baru dinikahkan Abdullah.
"Keluarga kami akan menderita jika pernikahan kami tersebar di internet," lanjut dia.
Abdullah, sebagai seorang pemuka agama yang tak biasa, dianggap sebagai pahlawan di kalangan komunitas gay Muslim.
"Dia sangat membantu mereka yang ingin menyesuaikan orientasi seksualnya dengan kepercayaan kami," kata Faisal Alam, aktivis Muslim yang berbasis di Washington.
Meski mendapat banyak dukungan, Abdullah juga mendapatkan banyak resistensi.
"Sejumlah pemuka agama lokal menolak mengucapkan salam kepada saya," kata Abdullah.
Kemarahan terhadap Abdullah juga muncul di dunia maya. Abdullah disebut sebagai pelaku ide yang sangat dilarang dalam Islam.
Pandangan Islam pada umumnya adalah seks hanya bisa dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Dan, pernikahan hanya bisa dilakukan pasangan yang berbeda jenis kelamin.
"Saya tak setuju dengan pandangan imam Daayiee," kata Johari Abdul-Malik, anggota komite eksekutif Dewan Organisasi Muslim di Washington Raya.
Namun, lanjut Johari, semua komunitas memang membutuhkan pemimpin spiritualnya masing-masing.
"Saya menantang dia untuk mengayomi mereka yang menyetujui pandangannya," Johari menegaskan.
Abdullah memang eksentrik. Tindakan pertamanya saat diangkat menjadi imam adalah memimpin upacara pemakaman untuk seorang gay Muslim yang meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang disebabkan AIDS.
Abdullah adalah satu-satunya pemuka agama Islam di kawasan itu yang bersedia memimpin jalannya upacara pemakaman.
"Ada kebutuhan di sini. Terutama untuk mereka yang sudah ditindas secara brutal hanya karena mereka adalah gay," kata Abdullah.
Urooj Arshad, anggota Aliansi Muslim untuk Keragaman Seksual dan Jender, mengatakan, permasalahan yang dihadapi Abdullah bertambah ketika banyak pasangan gay yang ditolongnya justru meninggalkan Islam.
"Namun, dia (Abdullah) adalah satu-satunya orang yang kami miliki. Tak ada orang lain di AS yang melakukan apa yang sudah dia lakukan selama ini," kata Arshad.
Tentu saja, Abdullah harus sangat berhati-hati saat melakukan hal yang dianggap melanggar perintah agama oleh sebagian besar umat Islam itu.
"Kami harus bertanya kepada semua tamu kami agar tidak mengabarkan pernikahan ini lewat jejaring sosial. Tidak ada Facebook, Twitter atau Instagram," kata MQ, salah seorang dari pasangan gay yang baru dinikahkan Abdullah.
"Keluarga kami akan menderita jika pernikahan kami tersebar di internet," lanjut dia.
Abdullah, sebagai seorang pemuka agama yang tak biasa, dianggap sebagai pahlawan di kalangan komunitas gay Muslim.
"Dia sangat membantu mereka yang ingin menyesuaikan orientasi seksualnya dengan kepercayaan kami," kata Faisal Alam, aktivis Muslim yang berbasis di Washington.
Meski mendapat banyak dukungan, Abdullah juga mendapatkan banyak resistensi.
"Sejumlah pemuka agama lokal menolak mengucapkan salam kepada saya," kata Abdullah.
Kemarahan terhadap Abdullah juga muncul di dunia maya. Abdullah disebut sebagai pelaku ide yang sangat dilarang dalam Islam.
Pandangan Islam pada umumnya adalah seks hanya bisa dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Dan, pernikahan hanya bisa dilakukan pasangan yang berbeda jenis kelamin.
"Saya tak setuju dengan pandangan imam Daayiee," kata Johari Abdul-Malik, anggota komite eksekutif Dewan Organisasi Muslim di Washington Raya.
Namun, lanjut Johari, semua komunitas memang membutuhkan pemimpin spiritualnya masing-masing.
"Saya menantang dia untuk mengayomi mereka yang menyetujui pandangannya," Johari menegaskan.
Abdullah memang eksentrik. Tindakan pertamanya saat diangkat menjadi imam adalah memimpin upacara pemakaman untuk seorang gay Muslim yang meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang disebabkan AIDS.
Abdullah adalah satu-satunya pemuka agama Islam di kawasan itu yang bersedia memimpin jalannya upacara pemakaman.
"Ada kebutuhan di sini. Terutama untuk mereka yang sudah ditindas secara brutal hanya karena mereka adalah gay," kata Abdullah.
Urooj Arshad, anggota Aliansi Muslim untuk Keragaman Seksual dan Jender, mengatakan, permasalahan yang dihadapi Abdullah bertambah ketika banyak pasangan gay yang ditolongnya justru meninggalkan Islam.
"Namun, dia (Abdullah) adalah satu-satunya orang yang kami miliki. Tak ada orang lain di AS yang melakukan apa yang sudah dia lakukan selama ini," kata Arshad.
Feb 27, 2013
Hore, Warga Jakarta Dapat Asuransi Kesehatan Gratis
Detik.com - Jakarta akan menjadi pilot project untuk pelaksaan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Dalam waktu dekat Pemprov DKI Jakarta akan tanda tangani naskah kerjasama dengan PT Asuransi Kesehatan untuk pengadaan asuransi kesehatan bagi warga.
"Akan kita tanda tangan 1 Maret 2013. Teknisnya kita ikutin seperti BPJS, cuma uangnya nggak diserahkan ke dia (PT Askes -red), kita yang mengelola," kata Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, di kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (25/2/2013).
"Nanti seluruh orang Indonesia itu punya asuransi. Itu amanat UU 24/2012 tentang BPJS," sambung pria yang akrab dipanggil Ahok ini.
Uji coba program ini akan dilakukan di Jakarta dulu. Fokus uji coba untuk memastikan bahwa polis senilai Rp 23 ribu per orang per cukup sudah cukup atau sebaliknya. Memang nilainya terhitung kecil, namun itu kenaikan siginifikan dari Rp 15.500 per orang per bulan yang Kemenkeu serahkan ke PT Askes.
"Kita kan menghitungnya Rp 23 ribu. Uangnya kita yang pegang, tapi seolah-olah PT Askes yang kelola uang itu. Cukup atau tidak, nanti kita evaluasi," papar Ahok.
Ahok mengatakan, kalau nanti uji coba di Jakarta berhasil nanti di seluruh wilayah Indonesia akan berhasil pula. "Jadi sekarang tinggal menunggu Rumah Sakit Swasta apakah akan ikut berpartisipasi. Kan tau sendiri alat-alat kesehatan di Jakarta paling canggih. Intinya kita ingin mencoba," ujarnya.
"Akan kita tanda tangan 1 Maret 2013. Teknisnya kita ikutin seperti BPJS, cuma uangnya nggak diserahkan ke dia (PT Askes -red), kita yang mengelola," kata Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, di kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (25/2/2013).
"Nanti seluruh orang Indonesia itu punya asuransi. Itu amanat UU 24/2012 tentang BPJS," sambung pria yang akrab dipanggil Ahok ini.
Uji coba program ini akan dilakukan di Jakarta dulu. Fokus uji coba untuk memastikan bahwa polis senilai Rp 23 ribu per orang per cukup sudah cukup atau sebaliknya. Memang nilainya terhitung kecil, namun itu kenaikan siginifikan dari Rp 15.500 per orang per bulan yang Kemenkeu serahkan ke PT Askes.
"Kita kan menghitungnya Rp 23 ribu. Uangnya kita yang pegang, tapi seolah-olah PT Askes yang kelola uang itu. Cukup atau tidak, nanti kita evaluasi," papar Ahok.
Ahok mengatakan, kalau nanti uji coba di Jakarta berhasil nanti di seluruh wilayah Indonesia akan berhasil pula. "Jadi sekarang tinggal menunggu Rumah Sakit Swasta apakah akan ikut berpartisipasi. Kan tau sendiri alat-alat kesehatan di Jakarta paling canggih. Intinya kita ingin mencoba," ujarnya.
Dec 1, 2012
Masjid untuk Gay dan Lesbian Dibuka di Perancis
Kompas.com - Untuk pertama kalinya, sebuah masjid yang bisa menerima kelompok gay dan lesbian dibuka di Paris, Perancis, Jumat (30/11/2012). Pembukaan masjid ini menjadi tantangan tersendiri terhadap tradisi Islam yang menentang hubungan sesama jenis.
Masjid itu, selain menerima gay, lesbian dan transgender juga tidak memisahkan tempat umat pria dan perempuan. Hal ini juga mematahkan tradisi lama Islam yang biasanya memisahkan tempat antara umat pria dan perempuan.
Pendiri masjid ini, seorang Muslim yang juga aktivis gay berdarah Aljazair, Ludovic-Mohamed Zahed (35) juga mendorong perempuan memimpin ibadah shalat Jumat.
"Ini adalah sebuah masjid inklusif yang radikal. Sebuah masjid yang menerima umatnya apa adanya," kata Zahed.
Masjid ini, yang untuk saat ini dibuka terbatas pada saat shalat Jumat ini, dibuka pada saat para pemimpin agama di Perancis, termasuk para pemuka agama Islam senior, tengah membuat petisi untuk menentang rencana pemerintah melegalkan pernikahan gay.
Zahed memutuskan untuk mendirikan masjid ini setelah anggota organisasi Muslim Homoseksual Perancis yang dikelolanya terus bertambah. Dua tahun lalu anggota organisasi ini hanya enam orang dan kini sudah mencapai 325 orang.
Kehadiran masjid ini mendapat sambutan hangat warga Muslim Perancis yang kebetulan adalah kaum gay dan lesbian.
"Perancis sangat kekurangan tempat seperti ini," kata seorang pengunjung masjid berusia 38 tahun yang tak ingin disebutkan namanya.
Namun, tentu saja masjid Zahed ini mendapat tentangan dari institusi Muslim formal dan pemuka agama Islam di Perancis.
"Kami tahu homoseksual Muslim itu ada. Namun, membuka sebuah masjid khusus bagi mereka adalah penyimpangan," kata Abdallah Zekri, yang memantau serangan anti-Muslim untuk Dewan Muslim Perancis.
Sementara itu, Pengelola Masjid Paris Dalil Boubaker mengatakan proyek masjid Zahed harus berada di luar komunitas.
"Kami tidak menuding kaum homoseksual. Namun kami tidak bisa memberi mereka kredit dan mengakui keberadaan mereka di komunitas kami," ujar Boubaker.
Bagaimana pendapat umat Muslim Perancis?
"Shalat adalah sebuah ritual. Anda tak bisa semaunya menentukan cara melakukan shalat. Anda harus melakukannya seperti diperintahkan Allah," kata Soufiene (45).
Sementara itu sejumlah pakar juga ikut mengomentari masjid yang dikelola Zahed ini.
"Tujuan para Muslim ini adalah untuk mempromosikan Islam yang inklusif dan memiliki nilai-nilai progresif," kata peneliti di Institut Riset dan Studi tentang Arab dan Dunia Muslim, Florence Bergeaud-Blackler.
Zahed sendiri adalah seorang gay yang menikahi kekasihnya, yang juga seorang Muslim dalam pernikahan sipil di Afrika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis.
Masjid itu, selain menerima gay, lesbian dan transgender juga tidak memisahkan tempat umat pria dan perempuan. Hal ini juga mematahkan tradisi lama Islam yang biasanya memisahkan tempat antara umat pria dan perempuan.
Pendiri masjid ini, seorang Muslim yang juga aktivis gay berdarah Aljazair, Ludovic-Mohamed Zahed (35) juga mendorong perempuan memimpin ibadah shalat Jumat.
"Ini adalah sebuah masjid inklusif yang radikal. Sebuah masjid yang menerima umatnya apa adanya," kata Zahed.
Masjid ini, yang untuk saat ini dibuka terbatas pada saat shalat Jumat ini, dibuka pada saat para pemimpin agama di Perancis, termasuk para pemuka agama Islam senior, tengah membuat petisi untuk menentang rencana pemerintah melegalkan pernikahan gay.
Zahed memutuskan untuk mendirikan masjid ini setelah anggota organisasi Muslim Homoseksual Perancis yang dikelolanya terus bertambah. Dua tahun lalu anggota organisasi ini hanya enam orang dan kini sudah mencapai 325 orang.
Kehadiran masjid ini mendapat sambutan hangat warga Muslim Perancis yang kebetulan adalah kaum gay dan lesbian.
"Perancis sangat kekurangan tempat seperti ini," kata seorang pengunjung masjid berusia 38 tahun yang tak ingin disebutkan namanya.
Namun, tentu saja masjid Zahed ini mendapat tentangan dari institusi Muslim formal dan pemuka agama Islam di Perancis.
"Kami tahu homoseksual Muslim itu ada. Namun, membuka sebuah masjid khusus bagi mereka adalah penyimpangan," kata Abdallah Zekri, yang memantau serangan anti-Muslim untuk Dewan Muslim Perancis.
Sementara itu, Pengelola Masjid Paris Dalil Boubaker mengatakan proyek masjid Zahed harus berada di luar komunitas.
"Kami tidak menuding kaum homoseksual. Namun kami tidak bisa memberi mereka kredit dan mengakui keberadaan mereka di komunitas kami," ujar Boubaker.
Bagaimana pendapat umat Muslim Perancis?
"Shalat adalah sebuah ritual. Anda tak bisa semaunya menentukan cara melakukan shalat. Anda harus melakukannya seperti diperintahkan Allah," kata Soufiene (45).
Sementara itu sejumlah pakar juga ikut mengomentari masjid yang dikelola Zahed ini.
"Tujuan para Muslim ini adalah untuk mempromosikan Islam yang inklusif dan memiliki nilai-nilai progresif," kata peneliti di Institut Riset dan Studi tentang Arab dan Dunia Muslim, Florence Bergeaud-Blackler.
Zahed sendiri adalah seorang gay yang menikahi kekasihnya, yang juga seorang Muslim dalam pernikahan sipil di Afrika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis.
Nov 22, 2012
Jokowi Sahkan UMP DKI 2013 Rp 2,2 Juta
Kompas.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akhirnya menetapkan upah minimum provinsi (UMP) DKI 2013 sebesar Rp 2.200.000. Nilai ini hanya beda tipis dari nilai upah yang ditetapkan Dewan Pengupahan DKI sebesar Rp 2.216.243,68.
"Kami ketok Rp 2,2 juta. Dewan Pengupahan kemarin menetapkan Rp 2,2 juta sekian. Kami bulatkan," kata Jokowi di Balaikota Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Mengenai sikap pengusaha yang sebelumnya menolak besaran angka UMP tersebut, Jokowi mengatakan bahwa keputusan itu sudah diambil berdasarkan win-win solution. Apabila salah satu pihak tidak setuju, akan selalu berkelanjutan, tidak akan ada habisnya.
"Kalau ditanya ke serikat masih belum, pengusaha masih belum. Itu sudah saya putuskan. Saya sudah minta yang sudah diputuskan semuanya bisa menerima. Saya sudah undang dan ajak berbicara. Kalau berbicara senang tidak senang, puas tidak puas, orang hidup enggak ada habisnya," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan, penetapan besaran nilai UMP tersebut sudah melalui proses, termasuk mempertimbangkan besaran UMP di daerah sekitar Jakarta. Ia mengambil sikap menentukan nilai UMP Jakarta lebih tinggi daripada wilayah sekitar, tetapi perbedaannya tidak terlalu jauh.
"Enggak mungkin kita tinggi sekali. Tapi sekali lagi, supaya semuanya dapat win-win. Kita di atas sedikit, hanya terpaut Rp 50.000 dengan timur (Bekasi) dan 100 (ribu) dengan barat (Tangerang). Kita sudah berada di tengah," kata Jokowi.
Kenaikan UMP ini disinyalir akan memberatkan usaha kecil dan menengah (UKM). Pengusaha yang berkeberatan dengan UMP baru ini dapat mengajukan penangguhan pelaksanaan UMP sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penangguhan Pelaksanaan UMP.
Jokowi menilai bahwa angka UMP DKI sebesar Rp 2,2 juta itu merupakan yang terbaik. Angka itu sudah sesuai dengan angka kebutuhan hidup layak (KHL) DKI Jakarta yang ditetapkan senilai Rp 1.987.789. "Tadi sudah ketemu dan dirampungkan. Semua yang memutuskan kan saya. Kalau ditanya ke saya apakah adil? Ya sudah adil," kata mantan Wali Kota Solo itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta sekaligus Ketua Dewan Pengupahan DKI Deded Sukendar mengatakan, pengusaha yang akan mengajukan penangguhan harus memenuhi delapan syarat. "Salah satunya adalah perundingan bipartit antara pengusaha dan serikat pekerja serta pendapatan perusahaan mengalami kerugian selama dua tahun berturut-turut," ujar Deded.
Disnakertrans DKI Jakarta akan menurunkan tim pengawas ke perusahaan tersebut untuk melakukan audit keuangan perusahaan dan meneliti kemampuan perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menentukan layak atau tidaknya perusahaan tersebut melakukan penangguhan. Pengusaha yang tidak membayarkan UMP berarti akan dikenai pelanggaran sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
"Berdasarkan UU tersebut, pengusaha dapat dijerat dengan kurungan penjara maksimal empat tahun dan denda minimal Rp 100 juta sampai Rp 400 juta," kata Deded.
"Kami ketok Rp 2,2 juta. Dewan Pengupahan kemarin menetapkan Rp 2,2 juta sekian. Kami bulatkan," kata Jokowi di Balaikota Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Mengenai sikap pengusaha yang sebelumnya menolak besaran angka UMP tersebut, Jokowi mengatakan bahwa keputusan itu sudah diambil berdasarkan win-win solution. Apabila salah satu pihak tidak setuju, akan selalu berkelanjutan, tidak akan ada habisnya.
"Kalau ditanya ke serikat masih belum, pengusaha masih belum. Itu sudah saya putuskan. Saya sudah minta yang sudah diputuskan semuanya bisa menerima. Saya sudah undang dan ajak berbicara. Kalau berbicara senang tidak senang, puas tidak puas, orang hidup enggak ada habisnya," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan, penetapan besaran nilai UMP tersebut sudah melalui proses, termasuk mempertimbangkan besaran UMP di daerah sekitar Jakarta. Ia mengambil sikap menentukan nilai UMP Jakarta lebih tinggi daripada wilayah sekitar, tetapi perbedaannya tidak terlalu jauh.
"Enggak mungkin kita tinggi sekali. Tapi sekali lagi, supaya semuanya dapat win-win. Kita di atas sedikit, hanya terpaut Rp 50.000 dengan timur (Bekasi) dan 100 (ribu) dengan barat (Tangerang). Kita sudah berada di tengah," kata Jokowi.
Kenaikan UMP ini disinyalir akan memberatkan usaha kecil dan menengah (UKM). Pengusaha yang berkeberatan dengan UMP baru ini dapat mengajukan penangguhan pelaksanaan UMP sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penangguhan Pelaksanaan UMP.
Jokowi menilai bahwa angka UMP DKI sebesar Rp 2,2 juta itu merupakan yang terbaik. Angka itu sudah sesuai dengan angka kebutuhan hidup layak (KHL) DKI Jakarta yang ditetapkan senilai Rp 1.987.789. "Tadi sudah ketemu dan dirampungkan. Semua yang memutuskan kan saya. Kalau ditanya ke saya apakah adil? Ya sudah adil," kata mantan Wali Kota Solo itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta sekaligus Ketua Dewan Pengupahan DKI Deded Sukendar mengatakan, pengusaha yang akan mengajukan penangguhan harus memenuhi delapan syarat. "Salah satunya adalah perundingan bipartit antara pengusaha dan serikat pekerja serta pendapatan perusahaan mengalami kerugian selama dua tahun berturut-turut," ujar Deded.
Disnakertrans DKI Jakarta akan menurunkan tim pengawas ke perusahaan tersebut untuk melakukan audit keuangan perusahaan dan meneliti kemampuan perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menentukan layak atau tidaknya perusahaan tersebut melakukan penangguhan. Pengusaha yang tidak membayarkan UMP berarti akan dikenai pelanggaran sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
"Berdasarkan UU tersebut, pengusaha dapat dijerat dengan kurungan penjara maksimal empat tahun dan denda minimal Rp 100 juta sampai Rp 400 juta," kata Deded.
Subscribe to:
Posts (Atom)