Aug 26, 2016
Bule Mabuk Kendarai Ferrari Tabrak Trotoar di Pondok Indah
Jul 17, 2016
Helikopter TNI AD Jatuh di Yogya, Tiga Orang Tewas
Penyelidikan Kecelakaan Fatal Tesla Dilakukan
Jun 3, 2016
Apr 24, 2016
Mar 4, 2016
Pesawat TNI Jatuh Menimpa Rumah Warga
Jan 20, 2016
Aug 27, 2015
Jul 10, 2015
Jul 6, 2015
Percikan Api di Hercules Pengangkut Jenazah Sempat Buat Keluarga Korban Panik
Keluarga korban yang rencananya ikut mengantar sempat melihat ada percikan api di bawah bangku pilot. Dengan panik dan ketakutan, mereka keluar dari pesawat.
Saksi mata, Vanesya Romina Sembiring, mengatakan, saat pesawat mulai dihidupkan terdengar suara mesin yang tidak biasa dan terlihat percikan api dari tangga menuju ruang kemudi pilot. Melihat adanya percikan api, petugas yang berada di dalam pesawat langsung menyuruh para keluarga yang ada di dalam pesawat untuk segera keluar dari pesawat.
"Tadi kami sudah di dalam pesawat, pas pesawat mulai dihidupkan, tiba-tiba kami rasa ada yang aneh. Terus salah satu dari kami melihat di dekat ruang kemudi ada seperti percikan api. Karena kaget serta panik, petugas TNI AU yang ada di dalam pesawat langsung menyuruh kami keluar," kata Romina.
Akibat peristiwa ini, pesawat gagal terbang dan diganti dengan pesawat CN 295 yang berangkat pukul 09.30 WIB tadi. Rencananya, delapan jenazah yang sudah bersemayam satu malam di Hanggar Soewondo, Medan, tersebut akan diberangkatkan ke Pekanbaru Ranai dan Malang pada pukul 07.30 WIB. (Baca juga: Hercules Rusak, Pengiriman Jenazah Korban Sempat Tertunda)
Insiden biasa
Menanggapi peristiwa ini, Panglima Komando Operasi (Pangkoops) I Marsekal Muda Agus Dwi Putranto mengakui memang ada insiden yang membuat keluarga korban sempat terkejut dan panik. Marsda Agus Dwi Putranto yang rencananya ikut terbang dengan pesawat Hercules itu pun menganggap itu sebagai peristiwa biasa.
"Ini kejadian biasa, tidak parah. Namanya hari-hari dalam misi pesawat apa pun bisa terjadi. Ada sistem yang mengalami kelainan. Kalau ada kelainan, lebih baik ditunda berangkat. Sudah dicek, tidak ada tanda-tanda. Namanya pesawat, ya begitulah sebelum start bisa terjadi," kata Agus, Jumat (3/7/2015).
Pesawat Hercules C-130 dengan nomor penerbangan A-1321 itu rencananya akan mengantarkan delapan korban pesawat ke Lanud Rusmin Nurjadin, Pekanbaru, Ranai Natuna, dan Lanud Abdurrahman Saleh, Malang.
Akibat insiden tersebut, keberangkatan jenazah dan keluarganya harus menunggu pesawat CN-294 yang tengah menuju Lanud Soewondo, Medan.
Hercules A-1321 ini adalah jenis pesawat yang sama dengan Hercules yang jatuh dan menimpa bangunan di Jalan Jamin Ginting, Medan, Selasa siang lalu.
Berikut nama-nama korban yang diberangkatkan dengan pesawat pengganti Hercules CN-295:
1. Wahyu Rezqi Fitra, mahasiswa baru Universitas Riau yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
2. Robianto, mahasiswa baru Universitas Hang Tuah Pekanbaru yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
3. Roslina Wati, ibu Robianto yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
4. Indriana Br Sembiring yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
5. Anggi, mahasiswa di Pekanbaru yang akan dibawa ke Ranai, Natuna.
6. Reski Budi Perkasa, mahasiswa, Pekanbaru.
7. Rinaldi Wahyu, Pekanbaru.
8. Erni Br Sembiring, Malang.
Jul 1, 2015
Oct 18, 2013
Truk Pembawa Pasukan Pengamanan SBY Terguling
Informasi yang dihimpun, kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu truk sarat muatan melaju dari arah Pacitan menuju Sudimoro. Saat melewati tanjakan Sekar Putih truk tidak mampu naik. Akibatnya truk kembali mundur terperosok menabrak tebing dan terguling.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun informasi yang dihimpun, 4 personel mengalami cedera. Kejadian tersebut juga mengakibatkan arus lalu-lintas dari kedua jalur tersendat. Hingga pukul 07.06 WIB proses evakuasi masih berlangsung dengan melibatkan sebuah derek.
"Ini bisa terjadi karena berbagai kemungkinan dan bisa menimpa siapapun. Yang jelas kami upayakan secepat mungkin dievakuasi supaya tidak mengganggu agenda kunjungan Pak SBY," terang Kolonel Inf Widodo Iryansyah di lokasi.
May 21, 2013
May 18, 2012
Ini Dia Alasan ATC Cengkareng Izinkan Sukhoi Turun ke 6 Ribu Kaki
"ATC memberikan izin pesawat turun dari 10 ribu kaki ke 6 ribu karena ada permintaan dari pilot. Itu adalah flight plan yang diminta Sukhoi ke radial 200 dan 20 nautical mile dari Lanud Halim. Itu adalah wilayah Bogor area di atas Lanud Atang Sendjaja, itu sebuah wilayah safe training. Area sangat aman," kata Deputy Senior General Manager PT Angkasa Pura Cabang Bandara Soekarno-Hatta, Mulya Abdi saat dihubungi detikcom, Minggu (13/5/2012).
Wilayah yang Bogor area atau wilayah di atas Lanud Atang Sendjaja, selama ini dikenal sebagai tempat latihan pesawat. Bahkan untuk pesawat sekelas Hercules pun bisa latihan di kawasan itu.
"Posisi di atas Atang Sendjaja sangat aman dari Gunung Salak, karena itu Sukhoi diizinkan turun di wilayah yang aman. Tidak ada prosedur yang salah," imbuhnya.
Mulya menjelaskan, wilayah Atang Sendjaja berjarak jauh dari kawasan Gunung Salak. Karenanya saat pesawat meminta turun atas permintaan pilot, izin diberikan. Apalagi hal itu sesuai rencana penerbangan yang mereka terima.
"Wilayah Atang Sendjaja berjarak 7 nautical mile dari Gunung Salak. Wilayah itu pun bebas dari obstacle, sehingga pesawat bisa bermanuver," jelasnya.
Pantauan dari ATC, Sukhoi juga sudah masuk zona aman. "Di radar mereka di wilayah Bogor area di zona aman," tuturnya.
Jul 24, 2009
Tuhan Lebih Sayang Mama & Papa
Musibah demi musibah dialami dua anak (alm) Kolonel Ricky Samuel. Setelah dua tahun lalu ditinggal sang bunda yang menderita kanker otak, kini giliran ayah mereka pergi selamanya. Meski demikian, Assila terlihat sangat tabah.
Demi merayakan ultah Assila Amelia (14) yang jatuh tanggal 16 Juni, Ricky Samuel sudah berencana cuti. Apa daya, Tuhan punya kehendak lain. Ia tewas dalam kecelakaan jatuhnya helikopter di Cianjur, Senin (8/6) lalu.
Dua tahun silam, Assa, begitu panggilan anak sulung mendiang, juga harus merayakan ultahnya dengan cara tak lazim. Yaitu meniup lilin ultah di rumah sakit. Kala itu, bundanya, Sherly Makadada, tergolek lemah karena penyakit kanker otak. Seakan hanya ingin menunggu anak sulungnya ulang tahun, esok harinya Sherly pergi ke alam baka.
Itu sebabnya, Assa langsung lemah lunglai ketika mendengar kabar ayahnya menjadi salah satu korban kecelakaan heli naas itu. ”Rasanya berita itu sulit dipercaya, tapi saya harus berusaha tabah,” kata siswa kelas II SMP Lentera International School,
Terbiasa Ditinggal
Assa memang terkesan amat tabah untuk anak seusianya. Hanya sesekali gadis muda ini menyeka air matanya ketika jenazah ayahnya perlahan-lahan dimasukkan ke dalam liang kubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata (9 Juni 2009). ”Saya sudah terbiasa ditinggal pergi orang-orang yang saya cintai. Sebelum Mama, Oma, dan sekarang Papa. Rasanya, kok, nasib Assa enggak beruntung banget, ya? Tapi, mau bagaimana lagi?” katanya dengan nada masygul.
Sementara itu, adiknya, Nugraha Pusaka (11), amat shock saat mendengar ayahnya tewas. Saka sempat membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Itu pula yang dilakukannya saat ibunya meninggal dua tahun silam.
Kepergian sang ayah memang amat menyakitkan bagi Assa dan Saka. Toh, itu tak membuat kenangan manis sang ayah di benak Assa pudar. “Papa orang baik. Tak hanya pada Assa dan Saka, ke orang lain pun Papa selalu berbuat baik.” Salah satu contohnya, sebut Assa, anak-anak pembantu mereka dibiayai sekolah. ”Papa juga selalu memikirkan nasib anak buahnya. Juga sering traktir mereka.” Bahkan sejam sebelum terbang di hari naas itu, Ricky sempat menjamu makan teman-temannya.
Selain rajin mengajak anak-anaknya ke gereja, Ricky juga selalu menunggui Assa dan Saka belajar. “Kami juga dimanja. Papa selalu memikirkan kebutuhan kami,” kisah Assa lirih.
Setelah sang bunda meninggal, Ricky dipindah ke Pusat Pendidikan Pasukan Khusus Kopassus TNI Batujajar, Bandung. Assa dan Saka tetap menempati rumah keluarga di kawasan Bintaro bersama Irna Susanti, adik rohani Ricky, dan dua pembantunya. “Biasanya, tiap 3-4 hari, Papa ke Jakarta. Selebihnya, kami telepon-teleponan sehingga rasanya selalu dekat.”
Hubungan Assa dan ayahnya sangat dekat. ”Kami bisa bertukar pikiran soal apa saja. Soal pelajaran, sekolah, bahkan masalah Papa. Memang, sih, tak terlalu sering Papa bicara soal pekerjaannya. Mungkin dia tahu, kami punya beban sendiri jadi dia enggak mau menambah beban anak-anaknya,” kata Assa yang kelihatan lebih dewasa dari anak-anak seusianya.
Lunasi Gaji Pembantu
Cerita Assa tentang mendiang ayahnya tak jauh beda dengan pandangan rekan dan kerabat Ricky. “Orang lurus dan bersahaja.” Begitu komentar mereka. “Kak Ricky selalu memikirkan orang lain di samping sangat taat beribadah dan dermawan,” kenang Irna yang diminta Ricky menjaga anak-anaknya selama ia dinas di luar kota.
Ricky juga rajin berpuasa. ”Setiap kali akan tugas atau anaknya mau ujian, dia pasti puasa.” Bahkan beberapa hari sebelum kejadian, Ricky sempat puasa. ”Padahal, katanya badannya sedang tidak fit.”
Seperti sebuah firasat, beberapa hari sebelum tewas dalam kecelakaan itu, Ricky sudah membayar gaji pembantunya beberapa bulan ke depan. Bahkan, uang sekolah anak pembantunya juga sudah dilunasi. ”Dia juga pesan agar saya menjaga anak-anaknya,” kata Irna yang juga diserahi tugas mengatur keuangan keluarga. ”Sepertinya ia ingin memenuhi kewajibannya dulu sebelum pergi.”
Rupanya Ricky juga menitipkan dua buah hatinya ke Tonny Makadada (46), kakak iparnya. “Katanya, sebentar lagi dia mau tugas ke Kongo selama setahun. Ternyata dia malah ‘dinas’ untuk selamanya,” papar Tonny yang siap menjadi orangtua bagi Assa dan Saka.
Ricky yang baik hati memang sudah pergi menyusul sang istri. Toh, kepergian orangtuanya tak membuat Assa putus asa. ”Saya yakin, sesuatu yang baik, akan datang kelak. Walau kami sangat menyayangi Papa dan Mama, Tuhan lebih menyayangi mereka,” kata Assa dengan tegarnya.
May 28, 2009
Anak Ajaib ke Jakarta
KEAJAIBAN yang dialami Anggun Putri Aulia (4) membuat banyak orang terperangah. Putri kedua pasangan Serka Asep dan mendiang Ny Lemi yang selamat dalam musibah jatuhnya pesawat Hercules pekan lalu itu sudah pulih seperti sediakala.
Pada wajah dan kepalanya masih ada bekas luka-luka akibat benturan dan kaki kirinya masih digips, Senin (25/5), Anggun sudah ceria, menyanyi, tertawa, dan bersenda gurau dengan teman sebayanya.
Pada saat kejadian, Anggun dan adiknya, Angga Buana Kusuma (1,5), ditemukan di atas tumpukan mayat yang gosong. Keduanya berada tak jauh dari mayat sang ibu dan kakaknya. Diduga, saat pesawat terempas dan terbakar, sang ibu—nama lengkapnya Lemi Muchandah Ningrum (32)—memegangi Anggun dan Angga sehingga kedua bocah itu selamat.
Pesawat yang ditumpangi Anggun bersama seratusan penumpang lain, yakni Hercules C-130, jatuh dan meledak di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Rabu (20/5). Ibu dan kakak Anggun, Ardian (8), juga tewas.
Kemarin, Anggun dinyatakan sehat dan diperkenankan pulang oleh tim medis RSUP dr Soedono, Madiun, setelah menjalani perawatan intensif sejak Rabu lalu.
Sebelum dibawa kembali ke Jakarta, Anggun akan tinggal di rumah kakeknya di Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, sambil menunggu adiknya, Angga, pulih kesehatannya.
Menurut sang bibi, Aat Sumiati, kedua keponakannya itu akan dibesarkan oleh sang ayah di Kompleks Dwikora, Jakarta Timur. Serka Asep Dedi berdinas di Lanud Halim Perdanakusuma dan tinggal di Kompleks TNI AU Halim Perdanakusuma.
”Sampai sekarang kami belum berani memberitahukan kondisi ibu dan kakak kandungnya kepada Anggun, meski dia selalu tanya kondisi ibu dan kakaknya tersebut. Kami akan beri tahu kalau memang situasi dan kondisinya sudah tepat,” ungkap Sumiati.
Feb 7, 2009
Sully, Pilot Penyelamat 155 Penumpang
Mantan pilot pesawat tempur F-4, Chesley B ”Sully” Sullenberger III (57), asal Danville, California, pernah merasa bangga menjadi pahlawan. Akan tetapi, arti kepahlawanan pada musibah hari Kamis (15/1) berbeda sekali. Dengan ketenangan dan keterampilannya, Sully mendaratkan pesawat berpenumpang 155 orang dan awak pesawat dengan selamat di Sungai
Para penumpang pesawat US Airways nomor penerbangan 1549 tujuan Charlotte, North Carolina, itu merasakan bagaimana mesin pesawat Airbus A-320 tiba-tiba mati, lima menit setelah lepas landas dari Bandara La Guardia, New York, Kamis pukul 15.03. Mesin pesawat diduga mati setelah pesawat menabrak sekawanan burung.
Sully pernah belajar cara untuk membuat para awak tetap menjalankan tugas meski sedang menghadapi krisis. Sully segera mengambil keputusan mendaratkan pesawat di sungai. Dengan keahliannya, pesawat mendarat ”mulus” sehingga badan pesawat tidak pecah ketika membentur permukaan sungai yang sangat dingin dengan suhu minus enam derajat celsius.
Didukung bantuan regu penjaga sungai serta awak kapal yang melintas di Sungai
Wali Kota New York Michael Bloomberg memuji Sully sebagai pahlawan. Banyak pihak setuju, kunci penyelamatan seluruh penumpang US Airways terletak di tangan Sully. Pantaslah bila banyak pujian diterima Sully. Satu pesan bertuliskan ”Keajaiban terjadi di Sungai
Terlatih
Kepiawaian Sully dilengkapi kesigapan beberapa feri dan perahu motor yang dalam dua menit mendekati lokasi pesawat dan membantu menaikkan para penumpang yang sudah berdiri seperti antre di atas sayap dan balon peluncur.
Seorang kapten kapal feri, Brittany Catanzaro, termasuk yang pertama mendatangi pesawat Sully itu. Ia bersama awaknya, yang setiap bulan mengikuti latihan pertolongan di sungai, tahu apa yang harus dilakukan. ”Ketika saya sampai di
Tim penjaga sungai juga datang, kemudian menyelamatkan 35 penumpang. ”Kami melakukan latihan dari waktu ke waktu untuk memahami apa yang bisa dilakukan ketika hal seperti ini terjadi. Menyenangkan sekali karena bisa menyelamatkan orang saat seperti ini,” ungkap Letnan CK Moore dari satuan penjaga sungai.
Penyelamatan di Sungai Hudson bukan perkara gampang. Suhu air sangat dingin. Penyelamatan yang terlambat dalam beberapa menit saja membuat para penumpang dalam bahaya, setidaknya karena mengalami hipotermia.
Detektif Michael Delaney merupakan salah seorang polisi yang turut menyelam untuk menyelamatkan seorang nenek yang terjatuh ke sungai. Ia mengungkapkan, beberapa penumpang sudah lemah dan mati rasa setelah beberapa menit terendam di air, terutama di bagian kaki.
Sempat pasrah
Penumpang sungguh merasakan keajaiban. Setelah mesin mati, Sully sempat mengatakan, ”Siap-siap dengan keadaan terburuk, kita terpaksa mendarat darurat.”
”Anda sudah bisa membayangkan hal terburuk akan terjadi,” kata Albert Panero yang sempat merasakan suara bising pesawat dan bau daging terbakar. ”Saya sudah berpikir akan segera meninggal. Saya menyalakan telepon genggam saya, yang punya fasilitas penentu lokasi (GPS), sehingga saya bisa dengan mudah ditemukan,” kata Panero.
Jeff Kolodjay, penumpang lain, menyatakan sudah mengucapkan Salam Maria, sebuah doa Katolik.
Vallie Collins mengirim pesan kepada suaminya, Steve, di Tennessee. Pesannya hanya singkat, ”Pesawat saya jatuh”.
”Terima kasih, terima kasih, saya berharap Anda dapat pahala berkat layanan Anda,” kata Fred Beretta, penumpang lain, kepada Sully, sang pilot.
Aug 2, 2008
Ratusan Motor Gres Terjungkal di Jalan Tol TB Simatupang

Peristiwa itu terjadi di jalan tol TB Simatupang Km 31 dari arah Pondok Indah Senin (30/6/2008) pukul 05.15 WIB.
Menurut salah satu petugas Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, truk bermuatan ratusan motor selip terjungkal. Ratusan motor yang baru keluar dari pabrik pun, tersungkur di jalanan.
"Penyebab awal gara-gara sopir ngantuk. Itu kan jalanan sepi, bikin ngantuk," kata Aiptu Kasno, salah seorang petugas TMC kepada detikcom.
Saat ini, motor-motor yang berjatuhan dari trum masih dievakuasi. Sopir truk masih dimintai keterangan petugas. "Pengemudi Jalaludin masih dimintai keterangan di pos polisi terdekat," ucap Kasno