Cnnindonesia.com - Basarnas Yogyakarta mengkonfirmasi tiga orang tewas akibat jatuhnya helikopter milik TNI AD pada jam 15.20 WIB di Yogyakarta.
Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts
Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts
Jul 17, 2016
Mar 4, 2016
Bakso Idola Masyarakat Yogyakarta
Kompas.com - Jika Anda sering ke Yogyakarta, cobalah untuk melewati Jalan Taman Siswa pada siang hingga sore hari. Anda akan melihat kerumunan di sebuah rumah makan di sebelah barat jalan.
Jul 23, 2015
Walang Goreng Khas Gunungkidul Diserbu Pemudik
Kompas.com - Libur Lebaran menjadi berkah tersendiri bagi penjual makanan khas Gunungkidul yakni walang (belalang) goreng. Hingga Minggu (19/7/2015), omzet penjualan walang goreng meningkat hingga 75 persen.
Setidaknya, sejak hari H+2 lebaran sampai dengan H 2 ini, omset penjualan walang Goreng meningkat hingga 75 persen.
"Ya, setiap musim libur panjang seperti Lebaran ini banyak peminatnya," ujar Devi (21), penjual walang goreng di Jalan Baron Km 2 Karangrejek Wonosari Gunungkidul.
Devi menuturkan, kebanyakan peminat walang goreng adalah warga luar Gunungkidul. Sementara Pemudik asal Gunungkidul membeli sebagai obat kangen setelah lama merantau.
"Jalan Baron kan arah menuju pantai jadi banyak mobil wisatawan yang mampir. Yang beli kebanyakan mobilnya plat B, plat D, dan F. Orang asli sini juga banyak," kata Devi.
Menurut dia, satu kantong plastik berisi 10 walang goreng dihargai Rp 20.000, sedangkan walang goreng kemasan toples dipatok harga Rp 40.000.
"Yang paling laris ukuran toples. Kalau yang plastikan jarang peminat," ucap Devi.
Selama libur lebaran lanjutnya, ia sengaja membawa stok walang lebih banyak dan membuka lapak jualan walang Goreng lebih awal, yakni dari jam 6.30 WIB hingga 20.00 WIB.
"Kan pagi ramai kendaraan mau ke pantai, jadi bukanya lebih awal. Hari biasanya sih jam 9 pagi baru buka," kata dia.
Ia mengungkapkan, selama libur Lebaran ia memperoleh pendapatan antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari.
Setidaknya, sejak hari H+2 lebaran sampai dengan H 2 ini, omset penjualan walang Goreng meningkat hingga 75 persen.
"Ya, setiap musim libur panjang seperti Lebaran ini banyak peminatnya," ujar Devi (21), penjual walang goreng di Jalan Baron Km 2 Karangrejek Wonosari Gunungkidul.
Devi menuturkan, kebanyakan peminat walang goreng adalah warga luar Gunungkidul. Sementara Pemudik asal Gunungkidul membeli sebagai obat kangen setelah lama merantau.
"Jalan Baron kan arah menuju pantai jadi banyak mobil wisatawan yang mampir. Yang beli kebanyakan mobilnya plat B, plat D, dan F. Orang asli sini juga banyak," kata Devi.
Menurut dia, satu kantong plastik berisi 10 walang goreng dihargai Rp 20.000, sedangkan walang goreng kemasan toples dipatok harga Rp 40.000.
"Yang paling laris ukuran toples. Kalau yang plastikan jarang peminat," ucap Devi.
Selama libur lebaran lanjutnya, ia sengaja membawa stok walang lebih banyak dan membuka lapak jualan walang Goreng lebih awal, yakni dari jam 6.30 WIB hingga 20.00 WIB.
"Kan pagi ramai kendaraan mau ke pantai, jadi bukanya lebih awal. Hari biasanya sih jam 9 pagi baru buka," kata dia.
Ia mengungkapkan, selama libur Lebaran ia memperoleh pendapatan antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari.
Jul 29, 2014
Mudik ke Yogyakarta, Jangan Lupa 5 Kuliner Ini
Tempo.com - Yogyakarta punya segudang daya tarik yang bisa membikin turis kangen untuk datang kembali. Dari karsya seni, pentas budaya, hingga tentu saja olahan pangannya. Siapa yang tak kenal dengan masakan jadul khas Kota Gudeg?
Meskipun "berjuang" di tengah gempuran sajian ala waralaba lokal maupun mancanegara, hidangan asli masih berkibar. Bahkan saking digandrungi, penganan itu selalu banjir peminat. Berikut ini lima pilihannya seperti dikutip dari Travelounge:
Bakmi Kadin
Berlokasi pesis di belakang kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jalan Kusumanegara. Namun ternyata nama Kadin tak ada hubungannya dengan lokasi tersebut. Kadin rupanya kependekan dari Karto Kasidin, nama perintis usaha ini sejak 1947.
Pengunjung akan disambut deretan lima gerobak bakmi. Yang khas dari bakmi Jawa adalah proses memasaknya di wajan model kuno. Demi menjaga cita rasa, sang koki hanya membuat satu porsi mi dalam sekali masak. Jadi siap-siap untuk bersabar.
Tersedia mi rebus, mi goreng, dan mi nyemek alias mi berkuah sedikit. Pembeli boleh memesan setengah porsi. Harga per porsi Rp 15 ribu. MInuman pilihannya bajigur yang kaya akan rempah-rempah.
Selanjutnya: Bakmi Pele
Bakmi Pele
Bisa ditemukan di pohok timur Pagelaran Alun-Alun Utara. Didirikan pertama kali pada 1983 oleh Bapak Suharjiman, yang sehari-hari bekerja sebagai pelatig sepak bola anak-anak. Karena ada kaitannya dengan sepak bola itulah, warung ini dikenal dengan nama Bakmi Pak Pele atau Bakmi Pele.
Sesaat setelah warusng dibuka setiap senja, antrean langsung terlihat. Bila berkunjung tepat pada akhir pekan atau momen libur panjang, jangan harap pesanan kita bisa hadir dengan cepat. Karena itu disarankan jangan datang dalam kondisi sangat lapar.
Pada musim liburan, bisa terjual hingga 500 porsi mi per hari. Sang koki juga maksimal hanya membuat dua porsi dalam sekali masak demi menjaga cita rasa. Selain mi rebus, ada mi goreng, dan mi nyemek. Yang khas di sini, tambahan telur bebek dan kol. Harga per porsi Rp 17 ribu.
Terdapat pula menu andalan ayam rica-rica seharga Rp 20 ribu. Sajian itu tak tercantum di daftar menu dan hanya dibuat bila ada yang memesan. Lantas, minuman favoritnya wedang jahe panas yang disajikan dengan gula jawa.
Selanjutnya: Lotek dan Gado-gado Teteg Baciro
Lotek dan Gado-gado Teteg Baciro
Disebut Lotek Teteg karena di awal berdiri pada 1968 lokasinya di sekitar teteg sepur alias pintu palang kereta api daerah Baciro. Kemudian pindah ke area parkir kantor DPD Golkar di Baciro.
Lotek merupakan makanan khas Jawa yang kaya akan sayuran. Bumbunya terdiri atas kacang goreng, gula merah, cabai, bawang putih, kencur, air asam, dan garam. Dipadu dengan bayam, kangkung, tauge, kol, kacang panjang dan dilengkapi kerupuk bawang.
DI warng Lotek Teteg digunakan cobek berdiameter sekitar 80 sentimeter. Perlu keterampilan dan tenaga besar untuk mengulek bumbu. Tidak mengherankan jika mengulek dilakukan oleh seorang laki-laki. Tersedia lotek dan gado-gado. Masing-masing seharga Rp 15 ribu dan Rp 17 ribu. Jangan kaget melihat porsinya yang besar.
Selanjutnya: Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo
Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo
Bermula dari usaha kecil di Jalan Moses Gatotkaca, Colombo, samping Universitas Sanata Darma pada 1985. Sekarang pemiliknya telah membuka lebih dari 10 cabang di seantero Yogyakarta dan sekitarnya. JUmlah karyawannya sekitar 150 orang.
Untuk menjaga cita rasa, setiap karyawan yang bertugas mengulek bumbu harus melewati pelatihan intensif. Khusus untuk gado-gado, bumbu dikirim langsung dari pusatnya di Colombo.
Yang khas dari racikan lotek dan gado-gado ini bakwa goreng nan renyah yang dipotong kecil-kecil dan diacuk dengan bumbu. Harga dipatok mulai Rp 9.000-12 ribu.
Selanjutnya: SGPC Bu Wiryo
SGPC Bu Wiryo
Menjadi tempat sarapan yang cukup terkenal di Yogyakarta. SGPC kependekan dari Sego Pecel. Bagi sebagian orang yang pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada dan sekitarnya, akan terasa ada yang "hilang" bila belum sarapan di warung ini saat menyambangi Yogyakarta.
Pada awal berdiri tahun 1959, keluarga Wiryosoenarto memilih lahan sempit di sebelah timur Kantor Pusat Tata Usaha UGM. Baru pada 1994 pindah ke area yang lebih luas di Jalan Agro, sebelah utara Selokan Mataram.
Menu utamanya tentu nasi pecel berisi sayuran, seperti bayam, kangkung, kacang panjang, dan tauge. Ada pula nasi sop yang unik karena dikombinasikan dengan sayur bayam. Di warung ini, menu tertata rapi di satu meja panjang.
KIta tinggal mengambil sesuai dengan selera. Ada telur ceplok, tahu-tempe goreng, aneka gorengan, serta sate kerang dan telur puyuh. Harga sajian berkisar antara Rp 9.000 dan Rp 15 ribu. Jika masih belum puas makan di tempat, kita bisa membeli bumbu pecelnya saja yang dipatok seharga Rp 150 ribu per kilogram.
Meskipun "berjuang" di tengah gempuran sajian ala waralaba lokal maupun mancanegara, hidangan asli masih berkibar. Bahkan saking digandrungi, penganan itu selalu banjir peminat. Berikut ini lima pilihannya seperti dikutip dari Travelounge:
Bakmi Kadin
Berlokasi pesis di belakang kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jalan Kusumanegara. Namun ternyata nama Kadin tak ada hubungannya dengan lokasi tersebut. Kadin rupanya kependekan dari Karto Kasidin, nama perintis usaha ini sejak 1947.
Pengunjung akan disambut deretan lima gerobak bakmi. Yang khas dari bakmi Jawa adalah proses memasaknya di wajan model kuno. Demi menjaga cita rasa, sang koki hanya membuat satu porsi mi dalam sekali masak. Jadi siap-siap untuk bersabar.
Tersedia mi rebus, mi goreng, dan mi nyemek alias mi berkuah sedikit. Pembeli boleh memesan setengah porsi. Harga per porsi Rp 15 ribu. MInuman pilihannya bajigur yang kaya akan rempah-rempah.
Selanjutnya: Bakmi Pele
Bakmi Pele
Bisa ditemukan di pohok timur Pagelaran Alun-Alun Utara. Didirikan pertama kali pada 1983 oleh Bapak Suharjiman, yang sehari-hari bekerja sebagai pelatig sepak bola anak-anak. Karena ada kaitannya dengan sepak bola itulah, warung ini dikenal dengan nama Bakmi Pak Pele atau Bakmi Pele.
Sesaat setelah warusng dibuka setiap senja, antrean langsung terlihat. Bila berkunjung tepat pada akhir pekan atau momen libur panjang, jangan harap pesanan kita bisa hadir dengan cepat. Karena itu disarankan jangan datang dalam kondisi sangat lapar.
Pada musim liburan, bisa terjual hingga 500 porsi mi per hari. Sang koki juga maksimal hanya membuat dua porsi dalam sekali masak demi menjaga cita rasa. Selain mi rebus, ada mi goreng, dan mi nyemek. Yang khas di sini, tambahan telur bebek dan kol. Harga per porsi Rp 17 ribu.
Terdapat pula menu andalan ayam rica-rica seharga Rp 20 ribu. Sajian itu tak tercantum di daftar menu dan hanya dibuat bila ada yang memesan. Lantas, minuman favoritnya wedang jahe panas yang disajikan dengan gula jawa.
Selanjutnya: Lotek dan Gado-gado Teteg Baciro
Lotek dan Gado-gado Teteg Baciro
Disebut Lotek Teteg karena di awal berdiri pada 1968 lokasinya di sekitar teteg sepur alias pintu palang kereta api daerah Baciro. Kemudian pindah ke area parkir kantor DPD Golkar di Baciro.
Lotek merupakan makanan khas Jawa yang kaya akan sayuran. Bumbunya terdiri atas kacang goreng, gula merah, cabai, bawang putih, kencur, air asam, dan garam. Dipadu dengan bayam, kangkung, tauge, kol, kacang panjang dan dilengkapi kerupuk bawang.
DI warng Lotek Teteg digunakan cobek berdiameter sekitar 80 sentimeter. Perlu keterampilan dan tenaga besar untuk mengulek bumbu. Tidak mengherankan jika mengulek dilakukan oleh seorang laki-laki. Tersedia lotek dan gado-gado. Masing-masing seharga Rp 15 ribu dan Rp 17 ribu. Jangan kaget melihat porsinya yang besar.
Selanjutnya: Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo
Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo
Bermula dari usaha kecil di Jalan Moses Gatotkaca, Colombo, samping Universitas Sanata Darma pada 1985. Sekarang pemiliknya telah membuka lebih dari 10 cabang di seantero Yogyakarta dan sekitarnya. JUmlah karyawannya sekitar 150 orang.
Untuk menjaga cita rasa, setiap karyawan yang bertugas mengulek bumbu harus melewati pelatihan intensif. Khusus untuk gado-gado, bumbu dikirim langsung dari pusatnya di Colombo.
Yang khas dari racikan lotek dan gado-gado ini bakwa goreng nan renyah yang dipotong kecil-kecil dan diacuk dengan bumbu. Harga dipatok mulai Rp 9.000-12 ribu.
Selanjutnya: SGPC Bu Wiryo
SGPC Bu Wiryo
Menjadi tempat sarapan yang cukup terkenal di Yogyakarta. SGPC kependekan dari Sego Pecel. Bagi sebagian orang yang pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada dan sekitarnya, akan terasa ada yang "hilang" bila belum sarapan di warung ini saat menyambangi Yogyakarta.
Pada awal berdiri tahun 1959, keluarga Wiryosoenarto memilih lahan sempit di sebelah timur Kantor Pusat Tata Usaha UGM. Baru pada 1994 pindah ke area yang lebih luas di Jalan Agro, sebelah utara Selokan Mataram.
Menu utamanya tentu nasi pecel berisi sayuran, seperti bayam, kangkung, kacang panjang, dan tauge. Ada pula nasi sop yang unik karena dikombinasikan dengan sayur bayam. Di warung ini, menu tertata rapi di satu meja panjang.
KIta tinggal mengambil sesuai dengan selera. Ada telur ceplok, tahu-tempe goreng, aneka gorengan, serta sate kerang dan telur puyuh. Harga sajian berkisar antara Rp 9.000 dan Rp 15 ribu. Jika masih belum puas makan di tempat, kita bisa membeli bumbu pecelnya saja yang dipatok seharga Rp 150 ribu per kilogram.
Jun 9, 2014
Pusing Cari Suku Cadang Toyota Land Cruiser Jadul, Di sini Tempatnya
Otomotifnet.com - Buat pemilik Toyota Land Cruiser (TLC) Seri FJ ingin mencari suku cadang. Kebetulan Anda berada di Yogyakarta bisa mampir ke Jalan Imogiri, Perum Giwang Pratama No.3. Temui Agung Prawira, pemilik dari GJD (Galeri Jip Jadoel) 4x4.
Dari beragam jualannya, katanya, yang paling laris atau dicari peminat adalah unit girboks dan transfercase TLC FJ mulai tahun 1960 s/d 1984. “Harganya beda. Untuk girboks TLC 4-speed (3 maju, 1 mundur) saya tawarkan Rp 5,5 juta. Kalau girboks FJ55 yang sudah 5-speed (4 maju, 1 mundur) lebih mahal Rp 7,5 juta,” promo Agung sembari menambahkan kondisi girboks siap pasang.
Artinya, transmisi sudah melalui pengecekan lebih dahulu. Bila mau sekaligus pasang, juga bisa. Namun ada tambah biaya pasang Rp 500 ribu.
Selain itu, suku cadang lain seperti gril TLC FJ lansiran tua (1970-1978) lengkap dengan ram kawat dan emblem juga sedia lho. Banderolnya cuma Rp 500 ribuan. Oh ya, peranti rem macam cakram depan TLC BJ40 (diesel) sedia tuh. Ditawarkan Rp 6,5 juta. Minat, kontak saja Agung GJD 087839345410.
Dari beragam jualannya, katanya, yang paling laris atau dicari peminat adalah unit girboks dan transfercase TLC FJ mulai tahun 1960 s/d 1984. “Harganya beda. Untuk girboks TLC 4-speed (3 maju, 1 mundur) saya tawarkan Rp 5,5 juta. Kalau girboks FJ55 yang sudah 5-speed (4 maju, 1 mundur) lebih mahal Rp 7,5 juta,” promo Agung sembari menambahkan kondisi girboks siap pasang.
Artinya, transmisi sudah melalui pengecekan lebih dahulu. Bila mau sekaligus pasang, juga bisa. Namun ada tambah biaya pasang Rp 500 ribu.
Selain itu, suku cadang lain seperti gril TLC FJ lansiran tua (1970-1978) lengkap dengan ram kawat dan emblem juga sedia lho. Banderolnya cuma Rp 500 ribuan. Oh ya, peranti rem macam cakram depan TLC BJ40 (diesel) sedia tuh. Ditawarkan Rp 6,5 juta. Minat, kontak saja Agung GJD 087839345410.
Nov 20, 2012
5 Kuliner Yogyakarta yang Ngangeni
Kompas.com - Sarapan, makan siang, minum kopi di sore hari, sampai makan malam. Masing-masing jam makan bisa memunculkan aneka kuliner khas Yogyakarta. Ya, walau disebut sebagai Kota Gudeng, kuliner Yogyakarta lebih dari sekadar “gudeg”.
Tentu saja, mampir ke Yogyakarta tetap tak lengkap jika belum mencicipi gudeg. Bagi pelancong sejati Yogyakarta, pasti memiliki kuliner favorit yang akan selalu dicari setiap menginjakan kaki di Yogyakarta.
Ada pula beberapa kuliner yang selalu menjadi incaran para wisatawan. Beberapa kuliner tersebut begitu “ngangeni” alias membuat rindu bagi orang yang sudah pernah memakannya. Berikut beberapa makanan Yogyakarta yang “ngangeni” versi Kompas.com.
Kipo. Kipo adalah jajanan khas Kotagede. Bentuknya kecil dan dibungkus daun pisang. Kulit kipo warna hijau dengan isian gula jawa. Bungkusan daun pisang berisi adonan yang sudah diberi gula jawa kemudian dipanggang di atas cobek.
Harum pandan dan kenyal kulit dari tepung ketan yang gurih bercampur dengan manisnya gula jawa. Salah satu tempat legendaris yang menjual kipo adalah kios Bu Djito di Jalan Mondorakan Nomor 27, Kotagede, yang sudah berjualan sejak 1946.
Sego Pecel. Sego berarti nasi, pecel sudah pasti sayuran dengan bumbu kacang. Masakan sederhana ini selalu mampu membuat penikmatnya rindu untuk menyantapnya kembali. Kuncinya memang di bumbu kacang.
Nah, SGPC Bu Wiryo bisa menjadi salah satu tempat makan untuk menikmati sego pecel. Lokasinya masih berada di kompleks Universitas Gajah Mada (UGM) dan sudah ada sejak tahun 1959. Tak heran, ini menjadi tempat makan nostalgia bagi kalangan alumni UGM.
Sego pecel ala Bu Wiryo tak jauh beda dengan nasi pecel lainnya, yaitu berisikan kacang panjang, bayam, dan tauge. Tentu saja tak lupa bumbu kacang gurih dengan sedikit rasa pedas, disiram di atas sayuran. Anda bisa tambahkan lauk lainnya untuk menyantap nasi pecel, ada tempe dan tahu bacem, ataupun sekedar telur goreng.
Gudeg. Mendengar kata “gudeg” saja sudah mampu menerbitkan air liur. Rasanya yang legit dengan paduan gurih dari santan. Nangka muda dimasak dengan santan selama berjam-jam hingga kental dan berubah warna.
Salah satu penjual gudeg yang tenar adalah Gudeg Yu Djum. Sampai-sampai, jika tak sempat makan, gudeg pun dibungkus untuk dijadikan oleh-oleh. Gudeg Yu Djum sering dibeli untuk dibawa pulang ke kota asal. Biasanya bisa awet jika dibungkus dengan kendil atau kendi tanah liat.
Gudeg kering khas Yu Djum ini berisikan telor bebek, ayam kampun, dan sambal krecek. Saking larisnya, siang hari seringkali gudeg di tempat ini sudah habis. Gudeg Yu Djum sudah berusia lebih dari 30 tahun dan terus berjualan di Jalan Wijilan.
Sate Klathak. Pertama kali menikmati sate klathak, tak perlu kaget dengan tampilan tusuk satainya yang tampak menyeramkan itu. Ya, jeruji sepeda yang terbuat dari besi digunakan sebagai tusuk sate. Sate Klathak bisa ditemukan di daerah Bantul.
Daging yang dipakai biasanya daging kambing muda yang sudah dibumbui dengan garam dan sedikit merica, tanpa tambahan kecap dan bumbu lainnya. Begitu sederhana namun malah mengeluarkan kesegaran rasa asli dari daging kambing.
Nama “klathak” sendiri berasal dari bunyi yang keluar saat daging dibakar di tungku bara api. Di Jalan Imogiri Timur dan Pasar Jejeran terdapat banyak penjual Sate Klathak. Namun salah satu yang tenar adalah Sate Klathak Pak Bari yang berada di Pojok Kidul Pasar Jejeran, Wonokromo, Bantul.
Kopi Jos. Ketenaran Kopi Jos ini sudah tak terkatakan lagi. Bisa dipastikan setiap pelancong yang ke Yogyakarta, mampir ke sebuah angkringan jadul di Jalan Mangkubumi, dekat pintu keluar Stasiun Tugu.
Angkringan Lek Man, demikian biasa disebut. Angkringan itu sudah ada sejak tahun 1950-an. Kopi Jos hanyalah kopi hitam pekat. Hal yang membuatnya istimewa adalah arang yang membara dimasukan ke dalam kopi.
Sambil menikmati kopi jos, jangan lupa menyantap sego kucing alias nasi dalam porsi kecil lengkap dengan sedikit lauk seperti ikan teri. Tambahkan aneka gorengan dan sate.
Tentu saja, mampir ke Yogyakarta tetap tak lengkap jika belum mencicipi gudeg. Bagi pelancong sejati Yogyakarta, pasti memiliki kuliner favorit yang akan selalu dicari setiap menginjakan kaki di Yogyakarta.
Ada pula beberapa kuliner yang selalu menjadi incaran para wisatawan. Beberapa kuliner tersebut begitu “ngangeni” alias membuat rindu bagi orang yang sudah pernah memakannya. Berikut beberapa makanan Yogyakarta yang “ngangeni” versi Kompas.com.
Kipo. Kipo adalah jajanan khas Kotagede. Bentuknya kecil dan dibungkus daun pisang. Kulit kipo warna hijau dengan isian gula jawa. Bungkusan daun pisang berisi adonan yang sudah diberi gula jawa kemudian dipanggang di atas cobek.
Harum pandan dan kenyal kulit dari tepung ketan yang gurih bercampur dengan manisnya gula jawa. Salah satu tempat legendaris yang menjual kipo adalah kios Bu Djito di Jalan Mondorakan Nomor 27, Kotagede, yang sudah berjualan sejak 1946.
Sego Pecel. Sego berarti nasi, pecel sudah pasti sayuran dengan bumbu kacang. Masakan sederhana ini selalu mampu membuat penikmatnya rindu untuk menyantapnya kembali. Kuncinya memang di bumbu kacang.
Nah, SGPC Bu Wiryo bisa menjadi salah satu tempat makan untuk menikmati sego pecel. Lokasinya masih berada di kompleks Universitas Gajah Mada (UGM) dan sudah ada sejak tahun 1959. Tak heran, ini menjadi tempat makan nostalgia bagi kalangan alumni UGM.
Sego pecel ala Bu Wiryo tak jauh beda dengan nasi pecel lainnya, yaitu berisikan kacang panjang, bayam, dan tauge. Tentu saja tak lupa bumbu kacang gurih dengan sedikit rasa pedas, disiram di atas sayuran. Anda bisa tambahkan lauk lainnya untuk menyantap nasi pecel, ada tempe dan tahu bacem, ataupun sekedar telur goreng.
Gudeg. Mendengar kata “gudeg” saja sudah mampu menerbitkan air liur. Rasanya yang legit dengan paduan gurih dari santan. Nangka muda dimasak dengan santan selama berjam-jam hingga kental dan berubah warna.
Salah satu penjual gudeg yang tenar adalah Gudeg Yu Djum. Sampai-sampai, jika tak sempat makan, gudeg pun dibungkus untuk dijadikan oleh-oleh. Gudeg Yu Djum sering dibeli untuk dibawa pulang ke kota asal. Biasanya bisa awet jika dibungkus dengan kendil atau kendi tanah liat.
Gudeg kering khas Yu Djum ini berisikan telor bebek, ayam kampun, dan sambal krecek. Saking larisnya, siang hari seringkali gudeg di tempat ini sudah habis. Gudeg Yu Djum sudah berusia lebih dari 30 tahun dan terus berjualan di Jalan Wijilan.
Sate Klathak. Pertama kali menikmati sate klathak, tak perlu kaget dengan tampilan tusuk satainya yang tampak menyeramkan itu. Ya, jeruji sepeda yang terbuat dari besi digunakan sebagai tusuk sate. Sate Klathak bisa ditemukan di daerah Bantul.
Daging yang dipakai biasanya daging kambing muda yang sudah dibumbui dengan garam dan sedikit merica, tanpa tambahan kecap dan bumbu lainnya. Begitu sederhana namun malah mengeluarkan kesegaran rasa asli dari daging kambing.
Nama “klathak” sendiri berasal dari bunyi yang keluar saat daging dibakar di tungku bara api. Di Jalan Imogiri Timur dan Pasar Jejeran terdapat banyak penjual Sate Klathak. Namun salah satu yang tenar adalah Sate Klathak Pak Bari yang berada di Pojok Kidul Pasar Jejeran, Wonokromo, Bantul.
Kopi Jos. Ketenaran Kopi Jos ini sudah tak terkatakan lagi. Bisa dipastikan setiap pelancong yang ke Yogyakarta, mampir ke sebuah angkringan jadul di Jalan Mangkubumi, dekat pintu keluar Stasiun Tugu.
Angkringan Lek Man, demikian biasa disebut. Angkringan itu sudah ada sejak tahun 1950-an. Kopi Jos hanyalah kopi hitam pekat. Hal yang membuatnya istimewa adalah arang yang membara dimasukan ke dalam kopi.
Sambil menikmati kopi jos, jangan lupa menyantap sego kucing alias nasi dalam porsi kecil lengkap dengan sedikit lauk seperti ikan teri. Tambahkan aneka gorengan dan sate.
Subscribe to:
Posts (Atom)