Showing posts with label Bengkulu. Show all posts
Showing posts with label Bengkulu. Show all posts

Apr 25, 2015

Langka, Percumbuan Sepasang Harimau Sumatera Tertangkap Kamera

Kompas.com - Percumbuan sepasang harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) tertangkap kamera. Foto menyuguhkan pemandangan menarik tentang perilaku satwa eksotis yang kini kian terancam oleh perusakan hutan itu.

Adegan percumbuan itu ditangkap oleh kamera jebak WWF Indonesia yang dipasang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kamera menangkap aktivitas harimau yang jarang dilihat publik itu pada pertengahan Desember 2014.

Rekaman dengan kamera jebak itu menunjukkan dua harimau tampak malu-malu. Pakar harimau WWF Indonesia, Yoseph Vattakayen, mengungkapkan, itu menandakan bahwa keduanya baru saja bertemu. Harimau betina memberikan sinyal positif, ditandai dengan posisi tubuhnya.

"Menyadari adanya kesempatan, harimau jantan tersebut memberikan respons dengan melakukan flehmen, menjulurkan lidahnya dan memamerkan gigi dengan wajah lucu sambil mengendus-endus harimau betina," urai Yoseph dalam rilis WWF Indonesia, Selasa (21/4/2015). Dalam foto, sepasang harimau itu tampak sedang berciuman.

Harimau sumatera jantan yang tertangkap kamera bernama Riko. Individu itu pernah tertangkap kamera WWF sebelumnya. Kamera jebak WWF Indonesia di TNBBS sendiri sudah dipasang sejak tahun 2013, dan berhasil mengidentifikasi 5 harimau, antara lain 2 jantan dan 3 betina.

Harimau sumatera kini menjadi spesies yang terancam. "Selama 2014 saja, TIM Gabungan WWF-TNBBS telah menyapu 80 jerat harimau dan 2 senjata api ilegal dalam wilayah TNBBS," kata Yob Charles, Project Leader WWF Program Bukit Barisan Selatan.

Di luar soal perilaku menarik, hasil tangkap kamera terhadap harimau sumatera kali ini harus menjadi momen bagi pemerintah untuk melindungi salah satu satwa ikonis Indonesia tersebut agar populasinya tetap terjaga.

Feb 11, 2015

Tak Ada Lagi Badak Sumatera di TNKS?

Kompas.com - Organisasi lingkungan hidup Genesis Bengkulu menyebutkan hasil investigasi yang mereka lakukan di Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) menunjukkan bahwa tak ada lagi badak sumatera di wilayah itu.

"Kami melakukan pengamatan dan wawancara, termasuk terhadap para pemburu. Mereka katakan, sejak lima tahun terakhir badak sumatera tak ditemukan lagi di TNKS," kata Berlian, Ketua Yayasan Genesis Bengkulu, Senin (9/2/2015).

Berlian mengatakan, berdasarkan keterangan para pemburu, lima tahun lalu, seekor badak terlihat di wilayah TNKS. Namun, saat ini mereka tak pernah menjumpainya lagi. Investigasi dengan memantau jejak, kubangan, dan tempat tinggal pun menunjukkan bahwa badak tersebut kini tak lagi terlihat.

"Wilayah TNKS di Provinsi Bengkulu ini hanya 30 persen, artinya sangat mudah untuk mengidentifikasi jika keberadaan badak sumatera itu masih ada," tambah dia.

Info dari masyarakat pinggiran hutan juga menyatakan hal yang serupa. Menurut Berlian, warga yang tinggal di tepian hutan saat ini tak lagi menemukan jejak badak dan kubangan. "Sudah lama warga tak menemukan jejaknya. Kalau dulu, kubangan, jejaknya, ada. Sekarang tak ada lagi. Perburuan pun secara otomatis hilang," kata Berlian.

Apr 5, 2014

Kena Jerat, Kaki Harimau Sumatera Diamputasi

Ilustrasi
Kompas.com - Harimau Sumatera betina dewasa berat 70 kilogram, panjang 150 centimeter dan tinggi satu meter, Kamis (3/4/2014) kemarin, diamankan oleh petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu.

Harimau itu terkena jerat milik warga di Kabupaten Kaur. Harimau langsung dibawa ke kantor BKSDA di Kota Bengkulu setelah dievakuasi dari Kabupaten Kaur yang berbatasan dengan Provinsi Lampung.

Akibat terkena jerat lebih dari tiga hari, kaki kanan bagian depan harimau tersebut tampak membusuk sehingga harus diamputasi.

Petugas medis harimau, drh. Erni Suyanti, menyatakan harimau didapat di sekitar lokasi PT Dinamika Selaras Jaya, perkebunan kelapa sawit, Trans Sulau dalam kondisi terjerat, di Kabupaten Kaur, Bengkulu.

“Kami mendapatkan info terdapat harimau terkena jerat warga dan langsung harimaunya dievakuasi,” kata dia.

Harimau tersebut juga akan diberi suntikan anti biotik, penghilang rasa sakit dan dehidrasi. Selain itu, hewan ini juga akan diberi suplemen, pascaoperasi amputasi kakinya, sedangkan pasca pemulihan, pihaknya masih menunggu keputusan Menteri Kehutanan tentang harimau ini.

“Idealnya, akan dikembalikan ke alam bebas, tapi melihat kondisinya akan cacat, kita terpaksa menunggu keputusan dari menteri akan dibawa ke mana harimau ini,” kata Erni Suyanti.

Aug 23, 2008

Saat Bung Karno Jadi Sutradara


Deretan pakaian warna- warni gaya Eropa abad ke-19 hingga awal abad ke-20 digantung dalam lemari kaca di Gedung Persada Soekarno, rumah tinggal Bung Karno di Bengkulu. Busana aneka warna dan perlengkapan panggung itu merupakan warisan karya Soekarno di pembuangan saat dia mengembangkan salah satu talenta sebagai sutradara kelompok tonil ternama, Monte Carlo.

Pelbagai kisah roman, kepahlawanan, hingga dukungan Soekarno terhadap perjuangan Tiongkok saat diserbu Jepang tahun 1937 ditampilkan dalam pelbagai pertunjukan Monte Carlo. Pelbagai golongan masyarakat senantiasa memadati pertunjukan Monte Carlo yang juga berkeliling ke kota lain di Bengkulu semasa Soekarno diasingkan (1938-1942).

Lusi Liana, petugas di Persada Bung Karno, mengatakan, kostum kelompok Monte Carlo merupakan salah satu peninggalan Proklamator yang tidak banyak diketahui. ”Tidak banyak yang tahu bahwa beliau juga berbakat di seni panggung. Beliau sendiri yang menulis naskah dan mengatur kelompok Monte Carlo yang sangat terkenal sebelum Perang Dunia II,” kata Lusi.

Ragam naskah

Ragam naskah yang ditulis Bung Karno di Bengkulu menunjukkan betapa, meski hidup di pengasingan, dia tidak ketinggalan mengikuti perkembangan dunia luar. Sebagai contoh adalah naskah Chungking Djakarta, Rainbow atau Poetri Kentjana Boelan, Koetkoetbi, Si Ketjil (Klein’ duimpje), dan Hantoe Goenoeng Boengkoek. Kisah Chungking Djakarta memaparkan perjuangan masyarakat Tionghoa di Nusantara yang menyokong perang melawan agresi kaum fasis militer Jepang di daratan Tiongkok.

Bung Karno, seperti ditulis sejarawan Bengkulu Agus Setiyanto dalam Bung Karno Maestro Monte Carlo, bersikap menentang agresi Jepang di Tiongkok. Dikisahkan dalam Chungking Djakarta tentang perjuangan kaum Huakiao dan peranakan yang mengumpulkan dana perjuangan mendukung pemerintah Zhung Hua Min Guo (Republik Tiongkok) dalam menentang agresi Jepang yang membabi buta.

Kisah itu sejalan dengan karya sastra Melayu-Tionghoa pada zamannya, yang juga menyatakan perlawanan terhadap ekspansi fasis dan militer Jepang, seperti karya Batalyon Setan oleh Monsieur d’Amour dan Pendekar dari Chapei karya Kwee Tik Hoay yang diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Masa itu semangat perlawanan terhadap fasisme Jerman, Italia, dan Jepang memang menggelora.

Naskah lain menampilkan kedalaman, pemahaman pengetahuan, dan toleransi Bung Karno terhadap keberagaman. Kisah Rainbow alias Putri Kentjana Boelan menampilkan persaudaraan antarelite penguasa Inggris yang mengadopsi seorang putri bangsawan Bumiputera Bengkulu.

Kisah Koetkoetbi menampilkan cerita zaman Hindu di Jawa dengan para empu sakti hingga awal abad ke-20. Para arkeolog di Jawa awal abad ke-20 bertemu dengan Koetkoetbi, seorang pelayan kuil yang dikutuk Empu Agni. Pelbagai istilah dan kata bahasa Sansekerta dan Jawi Kuna digunakan Bung Karno.

Kisah terakhir tentang Klein Dumpje atau Si Kecil Djem- polan diadopsi dari kisah Eropa tentang kecerdikan seorang anak bungsu yang berhasil menyelamatkan enam kakak- nya yang nyaris dimangsa raksasa.

Sisi lain seorang Bung Karno dalam dunia panggung nyaris tenggelam ditelan masa. Bahkan, naskah-naskah karya Bung Karno di Bengkulu ditemukan secara tidak sengaja di Istana Bogor tahun 2002.

Padahal, ketika itu sejumlah bintang juga lahir dari Monte Carlo. Reputasi Monte Carlo kala itu nyaris seperti kelompok Dardanella, Miss Tjitjih. Salah seorang bintang panggung, yakni Hanafi, yang menambah namanya dengan Anak Marhaen (AM) Hanafi, kelak menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Kuba. Monte Carlo adalah sisi lain seorang Soekarno yang memiliki kedalaman rasa soal seni budaya. Kota Bengkulu dan Persada Bengkulu merekam catatan sejarah. (ONG)

Foto-foto Bung Karno lainnya >>