Showing posts with label Gaya Hidup. Show all posts
Showing posts with label Gaya Hidup. Show all posts

May 13, 2013

Latihan 7 Menit Ini Setara Lari Jarak Jauh


Kompas.com - Bila Anda tak punya cukup waktu untuk berolahraga, tak ada salahnya untuk mencoba latihan jenis high-intensity interval selama 7 menit . Latihan berdurasi tujuh menit ini diklaim memiliki efektivitas yang tinggi karena terbukti menyediakan manfaat yang setara dengan berlari jarak jauh dan latihan beban.

Selain singkat, latihan ini juga tidak membutuhkan banyak alat. Anda hanya memerlukan kursi, dinding, dan sedikit waktu luang . Namun demikian, peneliti mengingatkan, walau hanya tujuh menit, Anda harus siap menahan rasa sakit untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Selain itu, bagi mereka yang memiliki gangguan fungsi jantung atau penyakit tertentu, latihan ini tidak disarankan. Sangat bijaksana bila sebelum mencoba melakukan latihan ini, Anda berkonsultasi lebih dulu dengan dokter untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Para ahli mempublikasikan latihan ini dalam sebuah artikel berjudul High-Intensity Circuit Training Using Body Weight: Maximum Results With Minimal Investment yang diterbitkan American College of Sports Medicine Health & Fitness.  

Latihan intensitas tinggi ini terdiri dari 12 jenis gerakan dapat dilakukan dalam 7 menit saja.

"Yang penting dalam suatu latihan adalah intensitas gerakan dalam menjadikan tubuh lebih sehat. Semakin tinggi intensitasnya, tentu waktu yang dibutuhkan untuk latihan makin sedikit," kata Chris Jordan, direktur Exercise Physiology dari Human Performance Institute di Orlando.

Latihan ini mencakup beberapa gerakan seperti lompat dengan kaki tertutup dan terbuka (jumping jacks), duduk bersandar dinding, push up, sit up, squat, naik turun kursi, push up terbalik menggunakan kursi, dan push up berputar.

Penelitian sebelumnya membuktikan, latihan dengan intensitas maksimum menghasilkan perubahan molekul yang sama dengan beberapa jam bersepeda. Perubahan molekul otot inilah yang memberikan dampak pada tubh setara latihan rutin beberapa jam.

Meski begitu peneliti mengingatkan untuk tetap melakukan istirahat pada setiap tahapnya. Interval ini berguna sebagai periode pemulihan otot dan bagian tubuh yang digunakan saat latihan.

Untuk memperoleh manfaat maksimal dari latihan ini, latihan yang sangat intensif ini sebaiknya diiikuti dengan waktu istirahat yang sangat singkat pada setiap interval. Jordan mengatakan, setiap interval diisi istirahat 10 detik.

Pada setiap set latihan, otot-otot yang belum terlatih diberi waktu untuk "mengejar nafas", sehingga membuat urutan dari gerakan latihan ini penting.  Setiap tiap tahapan latihan membutuhkan waktu yang sangat singkat yaitu  30 menit.

Untuk mendapatkan hasil terbaik, Jordan mengakui bahwa latihan ini akan sangat menguras tenaga dan tidak nyaman.  Bila dibuatkan  skala ketidaknyamanan 1 sampai 10,  maka mensyaratkan agar latihan ini dilakukan pada angka 8. Oleh sebab itu, tujuh menit ini sangat sangat menyiksa bagi yang belum terbiasa.




Jun 20, 2009

Menikahi Pria karena Uangnya, Kenapa Tidak?

Setelah Manohara, kini ramai kasus Cici Paramida. Cici pastilah makin menderita saat ini. Sudah terkena musibah akibat memergoki sang suami tengah berduaan dengan wanita lain, para penonton infotainment maupun pembaca berita gosip di internet ramai-ramai mencercanya. "Itu karma karena udah ambil suami orang!" demikian komentar salah seorang pembaca di kanal Entertainment Kompas.com. Yang lain mengatakan, "Itulah akibatnya jika menikahi pria hanya demi hartanya!" dan lain sebagainya.

Namun, bagi Daniela Drake, MD, produser berita yang pernah memenangkan Emmy Awards, apa salahnya jika perempuan menikahi pria karena uangnya?

Drake mengatakan, ketika ia mengamati tingkat perceraian yang semakin tinggi, ada banyak pertanyaan yang berkumpul dalam benaknya. Mengapa orang menikah? Sejak kecil, kita selalu dijejali persepsi bahwa cinta romantik adalah yang paling ideal, konsep tertinggi yang menjadi dasar pernikahan. Bahkan, ketika melakukan penelitian mengenai sejarah perkawinan, Drake menemukan bahwa konsep ini sudah ada sejak akhir tahun 1800-an. Namun pada jaman itu, sebagian orang telah mampu berpikir, "Jika orang menikah karena cinta, ketika mereka tidak lagi saling mencintai, mereka pasti akan meninggalkan satu sama lain." Bahkan pada saat itu, orang telah memprediksi bahwa perceraian akan meningkat 50 persen.

Berdasarkan pemikiran itulah Drake meluncurkan buku Smart Girls Marry Money: How Women Have Been Duped Into the Romantic Dream - And How They're Paying For It, yang ditulisnya bersama rekannya, Elizabeth Ford. Buku ini mengajak para wanita untuk bersikap cerdas dalam situasi individual kita.

“Ketika terjadi perceraian, wanita menjadi pihak yang lebih menderita secara finansial daripada pria. Sebab dulu mereka menjadi pihak yang mengalah, harus berhenti bekerja demi mengurus anak-anak,” jelas Drake.

Buku ini, menurutnya, bukan menyarankan agar perempuan bersikap matre. “Ini bukan bagaimana menikah demi uang. Buku ini tentang bagaimana wanita harus menjadi cerdas dalam menjalani hubungan sehingga rasa aman dan kebahagiaan Anda tidak terancam,” lanjutnya.

Kebudayaan kita, menurut Ford, mampu menerima kenyataan bahwa pria sering kali memilih wanita yang cantik, muda, dan seksi, menjadi istrinya. “Tetapi enggak ada tuh yang mengatakan bahwa pria itu beauty-digger karena selalu menginginkan wanita cantik?” kilahnya gemas.

Dalam seluruh aspek hidupnya, wanita perlu sadar secara finansial. “Wanita itu punya aset yang penting karena kita sama cerdasnya dengan pria. Kita juga mampu melakukan pekerjaan yang dilakukan pria. Namun, lingkungan pekerjaan sering kali tidak fair secara sistematis terhadap wanita,” kata Drake.

Di perusahaan, meskipun memiliki jabatan yang cukup tinggi, gaji wanita tidak akan setinggi pria. Hal ini disebabkan wanita sering kali harus bersikap fleksibel. Sewaktu-waktu harus bisa cuti mendadak jika anak sakit, atau harus mengambil rapor. Dan hal ini kerap kali menurunkan poin wanita sebagai karyawan di perusahaan tersebut. Bahkan demi anak, banyak wanita dengan suka rela meninggalkan kariernya. Sedangkan pria bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan, yang akhirnya memberinya promosi atau kenaikan jabatan yang diinginkan.

Duet penulis yang mendapatkan ide untuk menulis buku karena sering bertemu di sekolah anak mereka ini menyimpulkan, wanita sebaiknya tidak berhenti bekerja demi memberikan rasa aman secara finansial pada dirinya. Dan jika sebelum menikah ia bisa menemukan pria yang akan memberikan rasa aman tersebut sepanjang hidupnya, mengapa tidak?

Pergi ke Puncak ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (3)

Di kalangan para turis Timur Tengah yang sedang berburu istri kontrak di Cisarua, Bogor, nama Asep cukup dikenal sebagai perantara alias makelar. Kebanyakan pria Timur Tengah itu sreg pada pilihan Asep. Sebab, dia tahu betul selera mereka.

Menurut Asep, nasib wanita yang menjadi istri kontrak pria Timur Tengah, kalau tidak untung, ya buntung. Mereka yang beruntung mendapat suami kontrak baik hati bisa meraup banyak uang. Sebaliknya, mereka yang mendapat suami pelit hanya memperoleh uang dari nilai kontrak saja. Tak ada yang lain. ''Itu bergantung si wanitanya,'' kata Asep.

Dia lantas menceritakan beberapa kiat yang dilakukan sejumlah istri kontrak agar suaminya mau mengeluarkan uang ekstra. ''Paling sering, mereka mengajak suaminya jalan-jalan ke mal,'' ungkapnya.

Nah, saat jalan-jalan itulah, kata dia, para istri bisa bermanja kepada suaminya agar mau mengeluarkan uang untuk membelikan beragam barang yang diinginkan. Mulai baju hingga kebutuhan rumah tangga. Tak jarang, sang suami diajak jalan-jalan ke Taman Safari yang tak jauh dari vila tempat mereka tinggal.

Turis Timur Tengah yang paling disukai untuk dijadikan suami kontrak adalah mereka yang baru pertama datang ke Cisarua. ''Sebab, biasanya mereka itu paling gampang mengeluarkan duit. Kalau sudah begitu, bukan hanya wanitanya yang untung, kami sebagai perantara juga kecipratan dapat uang,'' tuturnya.

''Mereka itu kalau bayar ojek bisa sampai Rp 100 ribu sekali jalan. Kalau pas naik angkot, bayarnya bisa sampai Rp 20 ribu. Mobil rental pun laris,'' ujar lelaki berambut gondrong dikucir tersebut.

Kehadiran turis Timur Tengah memang menggairahkan roda perekonomian di kawasan Puncak. Karena menjadi destinasi rutin, sejumlah fasilitas wisata menjamur di kawasan Puncak. Di antaranya, rental mobil (mobil yang disewakan umumnya Suzuki APV dan sejenisnya), jasa penukaran uang asing, travel agent, hingga penatu. Semua penyedia jasa itu bahkan membuat papan nama dalam dua bahasa, yakni Arab dan Indonesia.

Namun, kata bapak satu anak itu, umumnya turis Timur Tengah yang dermawan adalah mereka yang baru kali pertama menjalani kawin kontrak. Mereka yang berpengalaman dan makan asam garam Puncak justru lebih pelit. ''Nggak tahu apakah mereka tidak tahu atau karena memang baik mungkin ya,'' katanya. Mereka yang sudah sering ke Puncak biasanya malah pelit. ''Bahkan, pelitnya lebih dari orang-orang sini,'' tegasnya.

Husin, calo lainnya, menuturkan, soal pelit atau dermawan sebenarnya bergantung kualitas istri kontrak. Istri yang benar-benar disukai suami akan benar-benar dimanja dengan fasilitas serta uang pemberian di luar nilai kontrak. Bahkan, istri yang berkesan di hati suami akan ikut diboyong ke tanah air sang suami.

''Dulu ada yang seperti itu. Setelah musim Arab selesai, dia dibawa ke Arab. Katanya sih si suaminya suka, makanya dibawa. Nah, karena itu, ada beberapa orang sini yang pengen diperistri orang Arab. Siapa tahu bisa dibawa ke sana,'' ungkapnya.

Husin ragu wanita yang dibawa ke Arab itu akan benar-benar menjadi istri sah suaminya. Sebab, suami tersebut pasti memiliki istri sah di negaranya. ''Kalau kata tetangga sih, dia di sana dijadiin pembantu. Mungkin enakan gitu kali ya. Jadi, kalau istrinya pergi, bisa main sama pembantunya,'' ujarnya lantas tergelak.

Namanya Ida, sebut saja demikian. Usianya sekitar 30 tahun. Wanita yang mengaku tinggal di Desa Gandamanah tersebut ditinggal suaminya bekerja di Malaysia sejak setahun lalu. ''Suami saya pamit kerja di sana dua tahun. Katanya pulang 2010,'' ujarnya.

Awal 2008, Ida melihat banyak wanita di sekitar rumahnya yang menjalani kawin kontrak. Mereka, kata wanita berambut sebahu itu, terlihat hidup glamor karena menerima banyak uang. ''Iya kan kelihatan. Rambutnya dicat, terus ada yang bisa beli sepeda motor,'' ungkapnya.

Salah seorang rekannya yang menjadi istri kontrak lantas menawari dirinya untuk menjadi istri kontrak. Awalnya Ida enggan. Namun, karena kiriman dari suami seret dan tak terlalu banyak, dia pun tergiur.

Akhirnya, dia pun meneken kawin kontrak selama tiga bulan pada awal Mei lalu. ''Lumayan sih. Cuma tiga bulan bisa dapat Rp 7 juta. Kerja saja nggak bisa dapat segitu,'' ujarnya.

Tampaknya, Ida pintar memanfaatkan situasi. Dia tak mau kalau hanya mendapat uang kontrak. Strategi meraup uang lebih banyak pun dia jalankan. Yakni, mengajak suaminya yang orang Kuwait itu berjalan-jalan. Mulai mal, pasar tradisional, hingga Taman Safari, Bogor. Bahkan, tak jarang dia minta uang saku harian. ''Biasanya sekali ngasih bisa sampai Rp 250 ribu. Lumayan kan,'' katanya lantas tersenyum.

Dia pun minta dibelikan sejumlah barang. Mulai pakaian, kamera digital, hingga ponsel. ''Saya pengen minta dibelikan sepeda motor. Tapi, masih belum berani. Nanti saja kalau waktunya tepat,'' ucapnya.

Apakah tidak takut ketahuan suami? Ida menggeleng. Menurut dia, suaminya tak bakal pulang sampai 2010. Sebab, suaminya itu bekerja di sebuah perusahaan perkebunan di Malaysia. Untuk pulang sewaktu-waktu, tak bisa seenaknya.

''Kalau nanti curiga, ya tinggal bilang saja kalau saya di sini kerja. Habis, kirimannya juga nggak banyak,'' tuturnya.

Pergi ke Puncak ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (2)

Namanya sebut saja Ani. Umurnya 25 tahun. Sehari-hari, dia adalah seorang PSK yang biasa mangkal di daerah Tugu Selatan, Cisarua.

Kepada Jawa Pos yang menemui di sebuah rumah biliar dan karaoke di daerah Cisarua, Ani mengaku sempat ditawari tetangganya untuk menjadi istri kontrakan seorang pria dari Timur Tengah. ’’Aku nggak mau, Mas,’’ katanya dengan intonasi sangat tegas.

Mengapa tidak mau? ’’Banyak nggak enaknya. Uang yang diterima nggak sebanding dengan risiko yang harus dihadapi,’’ tuturnya.

Apa yang dimaksud dengan risiko itu? Ani lantas menceritakan pengalamannya dicurhati beberapa temannya yang dikawin kontrak pria Timur Tengah. ’’Mereka kebanyakan mengaku kewalahan dan kelelahan melayani pasangannya. Bahkan, ada di antaranya yang cerita sampai tersiksa lahir dan batin,’’ paparnya.

Ani menambahkan, kebanyakan wanita yang mau dikawin kontrak berumur 28–32 tahun. ’’Kalau masih muda seperti saya, banyak yang nggak mau,’’ ujarnya. ’’Meski pekerjaanku menjual diri, aku kan juga harus pilih-pilih pasangan. Apa artinya dapat uang banyak kalau jadinya malah sakit semua. Apalagi sampai tersiksa batin,’’ tegas ibu dua anak tersebut.

Cecep, salah seorang calo, menambahkan, memang tak mudah mencari wanita yang mau dikawin kontrak. Mereka yang menjadi istri kontrakan turis Timur Tengah, lanjut dia, harus siap fisik dan mental.

Para istri harus selalu bersedia kapan pun dibutuhkan. Sebab, gairah para turis ras kaukasoid itu tak mengenal ruang dan waktu. Sekali ’’pengen’’, harus langsung dikabulkan saat itu juga.

Berdasar pengalaman menjadi penjaga vila selama lima tahun, Cecep sering melihat para turis Timur Tengah itu memenuhi hasrat seksualnya di sembarang tempat. Pernah dia melihat mereka melakukannya di taman kompleks vila. Siang-siang lagi!

’’Ya gituan, di depan umum. Tapi, bukan di depan umum di depan banyak orang. Di luar, tapi masih kompleks vila. Kami yang tahu ya ngelihat aja,’’ ujarnya lantas tersenyum. ’’Kalau di luar saja seperti itu, apalagi kalau di dalam kamar,’’ imbuhnya.

Selain itu, kata Cecep, wanita yang menjalani kawin kontrak harus siap atas segala konsekuensinya. Sering tidak ada yang mau memperistri wanita yang selesai menjalani kawin kontrak. Lelaki Cisarua telanjur menganggap, secara fisik, wanita yang selesai menjalani kawin kontrak sudah rusak. ’’Kalau sudah gitu, siapa yang mau?’’ katanya.

Akibatnya, kata Cecep, banyak di antara mereka yang akhirnya benar-benar menjadi pelacur setelah menjadi istri kontrak. Pelacur eks kawin kontrak itu pun tak beroperasi di daerah sekitar Puncak. Mereka lebih memilih kawasan remang-remang lain di Cisarua.

Kalaupun ada, citra wanita eks kawin kontrak dianggap jelek di dunia pelacuran Puncak. Pelacur seperti itu dianggap tak berkualitas dan sering mengecewakan pelanggan. Rabu malam lalu (6/5), Jawa Pos sempat membawa salah seorang wanita pelaku kawin kontrak ke sebuah vila untuk keperluan wawancara. Salah seorang penjaga vila yang juga mucikari sempat melihat wanita tersebut.

Lelaki itu lantas mengirim SMS kepada Jawa Pos. ’’Mas, bisa keluar sebentar?’’ ungkap penjaga itu dalam pesan singkatnya.

Saat ditemui, mucikari tersebut menyatakan bahwa kualitas wanita yang dibawa tidak bagus. ’’Ngapain Mas? Dia sering mengecewakan pelanggan. Dia itu mah, bekas wanita kawin kontrak. Saya bisa carikan yang lebih bagus,’’ katanya setengah berbisik.

Dunia remang-remang juga penuh persaingan. Antara satu mucikari dengan yang lain merasa memiliki stok wanita lebih baik. Karena itu, begitu ada wanita eks kawin kontrak yang dibawa mucikari lainnya, hal tersebut menjadi bahan pergunjingan. Akibatnya, umumnya mucikari enggan menjadi mucikari para wanita eks kawin kontrak.

Para pelaku kawin kontrak umumnya bukan penduduk asli Cisarua. Mereka biasanya berasal dari daerah lain di sekitar Bogor. Umumnya berasal dari daerah yang masih sejalur dengan kawasan Puncak. Di antaranya, Bandung dan Cianjur.

Tapi, tidak semua wanita yang dikawin kontrak punya cerita menyedihkan. Salah satunya dialami Dewi, sebut saja namanya demikian. Ibu dua anak tersebut mengaku sudah dikontrak menjadi istri seorang pria asal Iran untuk jangka empat tahun. Nilai kontraknya mencapai Rp 70 juta.

’’Baru dua tahun ini berjalan,’’ ujar wanita 28 tahun yang tinggal di Gandamanah tersebut kepada Jawa Pos saat ditemui di sebuah vila di Kampung Tugu Selatan, Puncak, Cisarua, Bogor, Rabu pekan lalu (6/5).

Dia lantas menceritakan, perkenalannya dengan pria asal Iran tersebut terjadi pada 2007. Namanya Abdul, berumur sekitar 40 tahun. Keduanya kemudian menikah secara kawin kontrak di sebuah rumah kontrakan milik Dewi.

Setelah menikah, Dewi lantas dibawa ke vila yang sudah disewa Abdul di kawasan Tugu Selatan. Karena sudah diikat tali perkawinan kontrak, hubungan layaknya suami-istri pun mereka lakukan.

Dewi mengungkapkan, nafsu suami kontrakannya itu berbeda dari lelaki pada umumnya. Dalam sehari, lebih dari lima kali dirinya harus melayani. Itu pun tak boleh ditolak. ’’Ya bagaimana lagi. Saya juga sudah teken kontrak,’’ katanya.

Tapi, dia menampik anggapan bahwa hubungan tersebut dilakukan di tempat umum. ’’Ya enggak lah. Memang kadang-kadang rewel kayak anak kecil. Tapi, tidak pernah kalau sampai di tempat umum,’’ tegasnya.

Tahun pertama pernikahannya, kata Dewi, hubungan keduanya berjalan tiga bulan. Yakni, antara Mei hingga Juli. Setelah itu, Abdul kembali ke negaranya. Selama ditinggal pergi suaminya, Dewi tidak tinggal di vila. Dia kembali ke rumahnya. ’’Pokoknya kalau suami datang, saya menginap di vila. Kalau dia pergi ke negaranya, ya saya balik lagi ke rumah sendiri,’’ jelasnya.

Namun, musim Arab tahun ini, Abdul tak juga mengunjungi Dewi. Padahal, biasanya akhir April dia sudah datang. Namun, hingga memasuki Mei, dia tak juga datang. Kendati ditinggal, Dewi tak punya niat untuk kabur.

Dia juga berharap suaminya itu datang. Bukan karena cinta. ’’Dia kan baru bayar separo dari nilai kontrak. Jadi, ya saya tunggu dulu. Janjinya sih sisanya mau dibayar musim Arab tahun ini,’’ ungkapnya.

Pergi ke Puncak ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (1)

RABU pagi itu (6/5) Suzuki APV berhenti di dekat Jembatan Cibeureum, kawasan Puncak, Cisarua, Bogor. Kedatangan mobil merah marun itu menarik perhatian para tukang ojek yang parkir di dekat jalan masuk ke kampung Gandamanah. Kaca tengah mobil itu lalu dibuka setengah. Dari jendela, tampak dua orang berambut dan berhidung khas Timur Tengah menoleh kiri kanan.

Tak lama kemudian salah seorang tukang ojek mendatangi mereka. Setelah berbincang sebentar, kedua lelaki berusia 40-an tahun berpostur tinggi itu turun. Mereka lantas memasuki salah satu vila di pinggir jalan. ’’Mereka sedang cari cewek (perempuan). Saya suruh mereka menunggu dulu,’’ kata tukang ojek yang mengaku bernama Asep itu kepada Jawa Pos.

Asep lantas kembali ke pangkalan ojek tadi. Dia lantas berbincang sebentar kepada dua tukang ojek koleganya. Asep dan dua temannya lantas menggeber motornya. Masing-masing bagi tugas ke jalan menanjak menuju kampung Tugu Selatan, Gandamanah, dan Warung Kaleng.

Transaksi ”kawin kontrak” memang biasa dilakukan di pangkalan ojek. Banyak di antara pengojek itu yang saat banyak turis Timur Tengah tiba nyambi jadi calo. Mereka tersebar di beberapa pintu masuk kampung. Selain Gandamanah, mereka ada di kampung Warung Kaleng, Tugu Utara, dan Tugu Selatan.

Hampir satu jam ”berburu”, dua tukang ojek itu kembali. Salah seorang tukang ojek yang ke Warung Kaleng tiba lebih dulu. Wajahnya murung. Dia menggeleng. Wanita yang biasa kawin kontrak di Warung Kaleng sudah tidak ada. Tak lama kemudian, Asep yang ke Tugu Selatan pun tiba. Raut wajahnya hampir sama dengan tukang ojek sebelumnya. ’’Payah, euy. Nggak ada barang,’’ keluh Asep.

Biasanya, kata lelaki asli Gandamanah itu, urusan itu bisa dia tangani sendiri. Tak perlu mengorder rekan tukang ojek lainnya. Dia sendiri sudah memiliki stok siapa saja yang bisa dikontrak. ’’Sekarang, stok saya sudah banyak yang ditangkap polisi. Banyak yang dibawa ke Pasar Rebo (tempat panti sosial, Red.),’’ keluhnya.

Akhir-akhir ini, Polres Bogor memang sedang gencar-gencarnya melakukan razia. Apalagi menjelang pemilu legislatif dan pilpres. Hampir tiap hari mobil patroli memasuki kampung-kampung. Pada Maret lalu, misalnya, petugas berhasil menjaring sekitar 20 wanita pelaku kawin kontrak.

Operasi itu membuat para pelaku kawin kontrak tiarap. Asep mengaku kesal dengan banyaknya razia. Sebab, itu membuat “stok” berkurang banyak. ’’Sekarang ini yang minta banyak, tapi barangnya nggak ada. Padahal ini masih Mei, belum Juni dan Juli yang datang semakin banyak,’’ keluhnya.

Mulai Mei hingga Agustus ini, kawasan Puncak memang diserbu para pelancong dari Timur Tengah. Masyarakat sekitar menyebut empat bulan masa “peak season” putaran uang di Puncak itu sebagai’’Musim Arab’’. Yakni, musim turis dari negara-negara Arab memadati kawasan dataran tinggi berbukit itu. Mereka biasanya pulang saat menjelang bulan puasa.

Namun, para pelancong itu tidak hanya dari Arab Saudi. Mereka juga datang dari negara-negara Timur Tengah lain seperti Kuwait, Iran, dan bahkan (di luar Timur Tengah) Pakistan. ’’Tapi, semua orang di sini menyebutnya ya orang Arab gitu aja. Nggak peduli mereka dari mana,’’ ujar bapak satu anak itu.

Para turis Timur Tengah itu tinggal di villa-villa sekitar kawasan Puncak. Biasanya, turis domestik menyewa vila selama satu hingga tiga hari. Namun, para turis Timur Tengah itu menyewa vila dalam jangka panjang: tiga hingga empat bulan. Nah, di sela-sela tinggal di kawasan vila itulah, beberapa dari mereka ’’mengisi’’ waktu liburan dengan kawin kontrak.

Untuk mencari calo kawin kontrak, tidak sulit. Kalau Anda bertampang ras kaukasoid atau sedikit berciri fisik Timut Tengah, Anda bahkan tak perlu bersusah-susah mencari mereka. Begitu menginjakkan kaki di bumi Puncak, beberapa calo akan mendekati Anda.

Bahkan, beberapa calo yang sudah profesional kini jemput bola dengan menghadang para tamu sejak di bandara Soekarno-Hatta. Mereka cukup menghafal kata dalam bahasa Arab yang maknanya adalah Puncak: Jabal. Mendengar itu, turis itu biasanya langsung mengangguk dan mengikuti sang calo.

Karena tak paham bahasa asing, para calo cukup menggunakan bahasa Tarzan untuk menawarkan kawin kontrak kepada mereka. Malah, para turis yang sudah tahunan mengunjungi Puncak, sudah biasa dengan bahasa Indonesia pasaran.

’’Tapi orang yang seperti itu yang jarang ngasih uang lebih. Yang sering datang ke sini malah lebih pelit daripada yang baru pertama datang,’’ ujar Asep.

Lantas, bagaimana prosedurnya? Salah seorang calo kawin kontrak, Husin, sebut saja begitu, mengakui awalnya memang harus ada kesepakatan harga. Untuk jangka waktu tiga hingga empat bulan, calo bisa mematok tarif Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Semakin lama jangka waktunya tarif semakin mahal.

Setelah itu, turis akan diajak untuk mendatangi calon mempelai wanita. Wanita itu biasanya masuk dalam list calo. ’’Mereka harus diajak. Kami kan nggak tahu. Kalau dikasih gula, ternyata minta yang kopi. Dikasih kopi, ternyata mintanya gula,’’ katanya. Gula dan kopi merupakan istilah umum di kamus calo untuk merujuk pada warna kulit calon istri. Kopi untuk yang berkulit hitam dan gula untuk yang berkulit putih.

Saat melihat calon mempelai, turis Timur Tengah tak hanya melihat warna kulit. Mereka juga harus mengecek kualitas fisik yang dimiliki calon mempelai. Tak jarang, mereka juga meraba-raba bagian yang menjadi ’’favorit’’ mereka. Kalaupun tidak jadi, calon mempelai yang sudah diraba-raba itu akan diberi uang ganti. ’’Ya, paling dikasih gocap (sekitar 50 ribu)’’ katanya.

Kata Husin, selera para turis Timur Tengah tak seperti orang Indonesia. Kalau para hidung belang Indonesia suka dengan yang masih belia, mereka lebih suka yang matang dengan fisik sedikit gemuk.

’’Mereka suka (maaf) pantat dan dada besar. Biasanya janda anak satu atau dua gitu mereka masih suka,’’ katanya. Usianya pun tak seberapa muda. Kisarannya 28-32 tahun.

Setelah cocok dengan calon mempelai, prosedur selanjutnya adalah melakukan pernikahan. Kawin kontrak cukup menghadirkan penghulu dan satu saksi. Yang jadi saksi biasanya adalah calo yang menjadi makelar itu sendiri. Sedan penghulunya bisa diatur. ’’Orang Arab masak tahu itu penghulu beneran atau nggak. Pokoknya kawin, beres,’’ katanya.

Setelah ’’prosesi’’ pernikahan, kedua mempelai teken tanda tangan di sebuah surat. Surat tersebut menjadi dokumen pengesahan untuk status mereka. ’’Mereka kan tidak mau zina. Mereka mau main, tapi nggak mau dosa. Jadi kawin kontrak itu seperti membuat hubungan mereka sah, padahal itu juga bohong-bohongan,’’ ujar Husin lantas terkekeh.

Dari uang ”mahar” yang dibayarkan itu, kata Husin, sebagian masuk ke kantong calo sebagai uang komisi. Nilainya beragam, bergantung kepintaran calo dan “mempelai” wanita. Kalau mempelai perempuan mudah ditipu, setengah nilai kontrak diembat calo. Tapi, Husin berkilah dia tidak rakus dalam mengambil komisi. ’’Kalau bayarnya Rp 7 juta, kita paling dapat Rp 2 juta. Tapi, kebanyakan sih cuma Rp 1 juta. Nggak lebih,’’ katanya sambil tersenyum kecil.

Seperti suami istri, setelah diikat ”kontrak” akad nikah, kedua mempelai diantar menuju tempat peraduannya. Yakni vila yang sudah disewa oleh mempelai pria. Yang wanita pun harus bersedia melayani sang pria. Layaknya hubungan suami-istri.