Kompas.com - PT Pertamina (Persero) mengklaim sudah berhasil memindahkan 50 persen konsumen bensin jenis Premium ke Pertalite. Hal ini memicu perusahaan untuk terus melakukan edukasi dan sosialisasi untuk pelan-pelan memindahkan konsumsi bensin ke tingkat lebih tinggi.
Showing posts with label BBM. Show all posts
Showing posts with label BBM. Show all posts
Aug 21, 2016
Nov 19, 2014
Dec 26, 2013
Daftar SPBU di Jakarta Yang Melayani Pemasangan RFID
Otomotifnet.com - Pertamina bersama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) membuka posko pemasangan Radio Frequency Identification (RFID) di SPBU di Jakarta. Berikut adalah daftar SPBU yang dapat melayani pemasangan RFID.
Jam kerja pemasangan RFID ini mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Berhubung tidak setiap hari posko dibuka di semua SPBU yang ada pada daftar ini, dianjurkan untuk melakukan pengecekan sebelum berangkat dengan menghubungi hotline Pertamina di 500 000.
Idealnya hanya butuh waktu 5 menit saja untuk pemasangan RFID. "Tapi karena banyak pertanyaan dari masyarakat saat pemasangan jadi molor, sekitar 10 sampai 20 menit," jelas Dayu Rengganis, Corporate Services Director PT INTI.
Proses pertama dalam pemasangan RFID adalah proses input data pemilik dan kendaraan dari berdasarkan STNK. Kemudian, tiap satu nama yang tercatat akan mendapatkan gelang RFID yang sebelumnya sudah diprogram sesuai jenis dan kategori kendaraan menggunakan RFID Programmer.
Tiap gelang RFID mewakili satu profil pemilik dan kendaraanya yang tidak bisa saling tukar. Langkah selanjutnya adalah memasang gelang RFID di mulut tangki bahan bakar. "Satu lagi yang harus diketahui masyarakat juga adalah, pemasangan perangkat RFID ini gratis tidak dipungut biaya," yakin Andi Nugroho Manager Sosialisasi Sistem Monitoring dan Pengendalian Bahan Bakar Minyak (SMPBBM). (motor.otomotifnet.com)
Jakarta Utara
1 / 34-11103 / Jl. Raya KS. Tubun No. 20
2 / 34-11104 / Jl. Hayam Wuruk No. 74/75 Kec Mapar Kel. Taman Sari
3 / 34-11701 / Jl. Kamal Raya
4 / 34-14107 / Jl. Raya Cakung Cilincing (KBN) No. 17
5 / 34-14201 / Jl. Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading
6 / 34-14204 / Jl. Raya Yos Sudarso
7 / 34-14205 / Jl. Boulevard Timur Kelapa Gading
8 / 34-14206 / Jl. Pegangsaan 2 Kelapa Gading
9 / 34-14207 / Jl. Plumpang Semper
10 / 34-14209 / Jl. Logistik No. 85 Pegangsaan
11 / 34-14210 / Jl. Sentra Bisnis Artha Gading Blok D Kav 2
12 / 34-14301 / Jl. Sunter Paradise
13 / 34-14304 / Jl. Tongkol No. 7 Kel. Tanjung Priok
14 / 34-14307 / Jl. Danau Sunter Selatan Blok 05 No. 10
15 / 34-14403 / Jl. Pluit Raya Selatan No. 10 Kel. Pluit Kec. Penjaringan
16 / 34-14405 / Jl. Kampung Bandan Jakarta Utara
17 / 34-14408 / Jl. Budi Mulya Raya, Pademangan
18 / 34-14413 / Jl. Benyamin Sueb ex. Bandara Kemayoran
Jakarta Barat
1 / 34-11403 / Jl. Kemanggisan Utama Raya No. 6-8 RT 11 RW 06 Palmerah
2 / 34-11407 / Jl. Kemanggisan Utama Raya
3 / 34-11708 / Jl. Raya Duri Kosambi Cengkareng
4 / 34-11710 / Jl. Outer Ringroad Cengkareng Pintu Air
5 / 34-11712 / Jl. Daan Mogot KM. 4-5 Kel. Cengkareng Timur
6 / 34-11713 / Jl. Raya Daan Mogot KM. 10 Pesing
7 / 34-11801 / Peta Barat (Jl. Benda)
Jakarta Pusat
1 / 31-10202 / Jl. Abdul Muis No. 68 Kel. Petojo Sela
2 / 31-13101 / Jl. Pramuka Raya
3 / 31-10303 / Jl. Cikini Raya Kel. Cikini Kec. Menteng
4 / 31-10701 / Jl. Industri II Kemayoran
5 / 34-10401 / Jl. Kramat Raya No. 116
Jakarta Timur
1 / 31-13602 / Jl. Mayjen Sutoyo
2 / 31-13701 / Jl. Raya Bogor KM. 28, Ps. Rebo
3 / 34-13205 / Jl. Printis Kemerdekaan
4 / 34-13206 / Jl. Raya Pemuda Rawamangun
5 / 34-13208 / Jl. Rawamangun Muka Raya No. 1
6 / 34-13305 / Jl. Otista Raya
7 / 34-13409 / Jl. Raden Inten
8 / 34-13414 / Jl. Basuki Rahmat No. 64
9 / 34-13419 / Jl. Raden Inten Kec. Duren Sawit POSPOL
10 / 34-13421 / Jl. I Gusti Ngurah Rai Pondok Kopi
11 / 34-13422 / Jl. Raya Kalimalang Pd. Kelapa
12 / 34-13502 / Jl. Raya Condet
13 / 34-13505 / Jl. Raya Bogor KM. 4, Kramat Jati
14 / 34-13506 / Jl. Pusdik Depnaker No. 80 Pinang Ranti
15 / 34-13802 / Jl. Raya Pondok Gede
16 / 34-13806 / Jl. Supriyadi No. 27 Ciracas
17 / 34-13907 / Jl. Centra Primer
18 / 34-13908 / Jl. Hamengkubuwono IX
Jakarta Selatan
1 / 31-12802 / Jl. M.T. Haryono Kav. 18
2 / 31-12902 / Jl. H.R. Rasuna Said Kav. X2/2
3 / 34-12412 / Jl. Fatmawati
4 / 34-12703 / Jl. Raya Pasar Minggu 14, Pancoran
5 / 34-12902 / Jl. Gatot Subroto Kav. 31
Jam kerja pemasangan RFID ini mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Berhubung tidak setiap hari posko dibuka di semua SPBU yang ada pada daftar ini, dianjurkan untuk melakukan pengecekan sebelum berangkat dengan menghubungi hotline Pertamina di 500 000.
Idealnya hanya butuh waktu 5 menit saja untuk pemasangan RFID. "Tapi karena banyak pertanyaan dari masyarakat saat pemasangan jadi molor, sekitar 10 sampai 20 menit," jelas Dayu Rengganis, Corporate Services Director PT INTI.
Proses pertama dalam pemasangan RFID adalah proses input data pemilik dan kendaraan dari berdasarkan STNK. Kemudian, tiap satu nama yang tercatat akan mendapatkan gelang RFID yang sebelumnya sudah diprogram sesuai jenis dan kategori kendaraan menggunakan RFID Programmer.
Tiap gelang RFID mewakili satu profil pemilik dan kendaraanya yang tidak bisa saling tukar. Langkah selanjutnya adalah memasang gelang RFID di mulut tangki bahan bakar. "Satu lagi yang harus diketahui masyarakat juga adalah, pemasangan perangkat RFID ini gratis tidak dipungut biaya," yakin Andi Nugroho Manager Sosialisasi Sistem Monitoring dan Pengendalian Bahan Bakar Minyak (SMPBBM). (motor.otomotifnet.com)
Jakarta Utara
1 / 34-11103 / Jl. Raya KS. Tubun No. 20
2 / 34-11104 / Jl. Hayam Wuruk No. 74/75 Kec Mapar Kel. Taman Sari
3 / 34-11701 / Jl. Kamal Raya
4 / 34-14107 / Jl. Raya Cakung Cilincing (KBN) No. 17
5 / 34-14201 / Jl. Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading
6 / 34-14204 / Jl. Raya Yos Sudarso
7 / 34-14205 / Jl. Boulevard Timur Kelapa Gading
8 / 34-14206 / Jl. Pegangsaan 2 Kelapa Gading
9 / 34-14207 / Jl. Plumpang Semper
10 / 34-14209 / Jl. Logistik No. 85 Pegangsaan
11 / 34-14210 / Jl. Sentra Bisnis Artha Gading Blok D Kav 2
12 / 34-14301 / Jl. Sunter Paradise
13 / 34-14304 / Jl. Tongkol No. 7 Kel. Tanjung Priok
14 / 34-14307 / Jl. Danau Sunter Selatan Blok 05 No. 10
15 / 34-14403 / Jl. Pluit Raya Selatan No. 10 Kel. Pluit Kec. Penjaringan
16 / 34-14405 / Jl. Kampung Bandan Jakarta Utara
17 / 34-14408 / Jl. Budi Mulya Raya, Pademangan
18 / 34-14413 / Jl. Benyamin Sueb ex. Bandara Kemayoran
Jakarta Barat
1 / 34-11403 / Jl. Kemanggisan Utama Raya No. 6-8 RT 11 RW 06 Palmerah
2 / 34-11407 / Jl. Kemanggisan Utama Raya
3 / 34-11708 / Jl. Raya Duri Kosambi Cengkareng
4 / 34-11710 / Jl. Outer Ringroad Cengkareng Pintu Air
5 / 34-11712 / Jl. Daan Mogot KM. 4-5 Kel. Cengkareng Timur
6 / 34-11713 / Jl. Raya Daan Mogot KM. 10 Pesing
7 / 34-11801 / Peta Barat (Jl. Benda)
Jakarta Pusat
1 / 31-10202 / Jl. Abdul Muis No. 68 Kel. Petojo Sela
2 / 31-13101 / Jl. Pramuka Raya
3 / 31-10303 / Jl. Cikini Raya Kel. Cikini Kec. Menteng
4 / 31-10701 / Jl. Industri II Kemayoran
5 / 34-10401 / Jl. Kramat Raya No. 116
Jakarta Timur
1 / 31-13602 / Jl. Mayjen Sutoyo
2 / 31-13701 / Jl. Raya Bogor KM. 28, Ps. Rebo
3 / 34-13205 / Jl. Printis Kemerdekaan
4 / 34-13206 / Jl. Raya Pemuda Rawamangun
5 / 34-13208 / Jl. Rawamangun Muka Raya No. 1
6 / 34-13305 / Jl. Otista Raya
7 / 34-13409 / Jl. Raden Inten
8 / 34-13414 / Jl. Basuki Rahmat No. 64
9 / 34-13419 / Jl. Raden Inten Kec. Duren Sawit POSPOL
10 / 34-13421 / Jl. I Gusti Ngurah Rai Pondok Kopi
11 / 34-13422 / Jl. Raya Kalimalang Pd. Kelapa
12 / 34-13502 / Jl. Raya Condet
13 / 34-13505 / Jl. Raya Bogor KM. 4, Kramat Jati
14 / 34-13506 / Jl. Pusdik Depnaker No. 80 Pinang Ranti
15 / 34-13802 / Jl. Raya Pondok Gede
16 / 34-13806 / Jl. Supriyadi No. 27 Ciracas
17 / 34-13907 / Jl. Centra Primer
18 / 34-13908 / Jl. Hamengkubuwono IX
Jakarta Selatan
1 / 31-12802 / Jl. M.T. Haryono Kav. 18
2 / 31-12902 / Jl. H.R. Rasuna Said Kav. X2/2
3 / 34-12412 / Jl. Fatmawati
4 / 34-12703 / Jl. Raya Pasar Minggu 14, Pancoran
5 / 34-12902 / Jl. Gatot Subroto Kav. 31
Jun 3, 2013
Siap-siap, Mobil Tanpa RFID Tak Boleh Isi BBM Bersubsidi
Detik.com - PT Pertamina (Persero) dan PT Inti awal Juli 2013 sudah memulai memasang RFID (Radio Frequency Identification) disetiap kendaraan di DKI Jakarta. Target pemasangan ini seluruhnya selesai selama 3 bulan.
"Juli kita mulai pemasangan RFID di DKI Jakarta, dimana tergetkan 3 bulan selesai seluruhnya termasuk masa sosialisasi," ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir kepada detikFinance, Minggu (2/6/2013).
Setelah masa sosialisasi selama 3 bulan tersebut selesai, maka sistem monitoring dan pengawasan (SMP) di seluruh SPBU di Jakarta bisa diterapkan. "Artinya Oktober kendaraan yang tidak memiliki RFID di mulut tangki BBM kendaraanya tidak bisa dilayani untuk pembelian BBM subsidi," ujar Ali.
Menurut Ali, kendaraan yang tidak memiliki RFID dipersilahkan mengisi BBM non subsidi alias Pertamax atau produk BBM non subsidi sejenis. "Ya silahkan beli yang non subsidi saja," ucap Ali.
Selanjutnya akan ada aturan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terkait aturan kewajiban pemasangan RFID di setiap kendaraan bermotor. "Kita sedang tunggu aturan kewajiban pemasangan RFID di kendaraan dari BPH Migas," tandasnya.
Seperti diketahui PT Pertamina dan PT Inti sedang membangun sistem monitoring pengawasan (SMP) yang nantinya digunakan untuk memonitor dan mencatat setiap transaksi pembelian BBM subsidi.
RFID sendiri akan dipasang di 100 juta kendaraan di Indonesia yang terdiri dari 11 juta mobil penumpang, 80 juta sepeda motor, 3 juta bus, 6 juta truk dan 5.027 SPBU di 33 provinsi.
"Juli kita mulai pemasangan RFID di DKI Jakarta, dimana tergetkan 3 bulan selesai seluruhnya termasuk masa sosialisasi," ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir kepada detikFinance, Minggu (2/6/2013).
Setelah masa sosialisasi selama 3 bulan tersebut selesai, maka sistem monitoring dan pengawasan (SMP) di seluruh SPBU di Jakarta bisa diterapkan. "Artinya Oktober kendaraan yang tidak memiliki RFID di mulut tangki BBM kendaraanya tidak bisa dilayani untuk pembelian BBM subsidi," ujar Ali.
Menurut Ali, kendaraan yang tidak memiliki RFID dipersilahkan mengisi BBM non subsidi alias Pertamax atau produk BBM non subsidi sejenis. "Ya silahkan beli yang non subsidi saja," ucap Ali.
Selanjutnya akan ada aturan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terkait aturan kewajiban pemasangan RFID di setiap kendaraan bermotor. "Kita sedang tunggu aturan kewajiban pemasangan RFID di kendaraan dari BPH Migas," tandasnya.
Seperti diketahui PT Pertamina dan PT Inti sedang membangun sistem monitoring pengawasan (SMP) yang nantinya digunakan untuk memonitor dan mencatat setiap transaksi pembelian BBM subsidi.
RFID sendiri akan dipasang di 100 juta kendaraan di Indonesia yang terdiri dari 11 juta mobil penumpang, 80 juta sepeda motor, 3 juta bus, 6 juta truk dan 5.027 SPBU di 33 provinsi.
Apr 26, 2013
Wah! Premium yang Dijual SPBU Ternyata Premix RON 90
Detik.com - Indonesia saat ini mengimpor BBM 900 ribu barel atau 143 juta liter tiap hari, termasuk bensin subsidi premium. Namun ternyata, premium yang dijual di SPBU adalah bensin premix dengan bilangan oktan (RON) 90 bukan 88. Kok bisa?
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Sugiharto mengatakan saat ini tidak ada lagi negara yang menjual bensin premium Ron 88. Jadi yang diimpor adalah RON 90 atau premix.
"Ya memang menggunakan aturan berpuluh tahun selalu menggunakan RON 88, namun saat ini yang menjual RON 88 sudah makin langka di dunia," kata Sugiharto ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (24/4/2013).
Dikatakan Sugiharto, karena lebih mudah mengimpor RON 90, maka Pertamina tetap menjualnya dengan harga premium Ron 88. Karena apabila bensin RON 90 harus diturunkan oktannya, memerlukan biaya tambahan lagi.
"Ya karena lebih mudah dapat yang 90 ya kita anggap saja itu 88 dan jual saja tidak di-downgrade atau diturunkan kualitasnya," ungkapnya.
Sebelumnya, pihak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga mengakui bensin premium yang dijual di SPBU merupakan bensin jenis premix.
Pemerintah pernah menyatakan harga bensin keekonomian bensin premium adalah Rp 9.000/liter. Tapi ternyata bensin tersebut bukan premium, melainkan Premix 90.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Sugiharto mengatakan saat ini tidak ada lagi negara yang menjual bensin premium Ron 88. Jadi yang diimpor adalah RON 90 atau premix.
"Ya memang menggunakan aturan berpuluh tahun selalu menggunakan RON 88, namun saat ini yang menjual RON 88 sudah makin langka di dunia," kata Sugiharto ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (24/4/2013).
Dikatakan Sugiharto, karena lebih mudah mengimpor RON 90, maka Pertamina tetap menjualnya dengan harga premium Ron 88. Karena apabila bensin RON 90 harus diturunkan oktannya, memerlukan biaya tambahan lagi.
"Ya karena lebih mudah dapat yang 90 ya kita anggap saja itu 88 dan jual saja tidak di-downgrade atau diturunkan kualitasnya," ungkapnya.
Sebelumnya, pihak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga mengakui bensin premium yang dijual di SPBU merupakan bensin jenis premix.
Pemerintah pernah menyatakan harga bensin keekonomian bensin premium adalah Rp 9.000/liter. Tapi ternyata bensin tersebut bukan premium, melainkan Premix 90.
Mar 26, 2013
Shell V-Power Gantikan Super Extra
Detik.com - Pengguna kendaraan baik roda 2 maupun roda 4 di Indonesia kembali mendapatkan pilihan bahan bakar baru. Kali ini Shell kembali meluncurkan V-Power Gasoline.
Meski resmi diluncurkan hari ini, Senin (25/3/2013) pengguna Shell di Indonesia diharapkan untuk bersabar karena Shell Indonesia baru menjualnya di awal April mendatang di seluruh SPBU Shell di Indonesia.
"Kita (Shell) mulai jual V-Power ini di minggu pertama April nanti," tegas Product Quality Shell Indonesia Abdul Halim disela-sela peluncuran Shell V-Power di Hotel Dharmawangsa, Senin (25/3/2013).
Abdul Halim menambahkan, nantinya V-Power ini posisinya akan menggantikan Shell Super Extra yang selama ini sudah di jual di Indonesia.
"Nantinya ini akan menggantikan Super Extra. Jadi ada Super dan V-Power nantinya. Dan untuk oktannya sama yakni 95 yang membedakan hanya formula-formulanya saja," timpalnya.
Sementara itu, untuk masalah harga Abdul Halim masih menutup informasinya. Ia mengatakan harganya tidak akan jauh dari Super Extra.
Meski resmi diluncurkan hari ini, Senin (25/3/2013) pengguna Shell di Indonesia diharapkan untuk bersabar karena Shell Indonesia baru menjualnya di awal April mendatang di seluruh SPBU Shell di Indonesia.
"Kita (Shell) mulai jual V-Power ini di minggu pertama April nanti," tegas Product Quality Shell Indonesia Abdul Halim disela-sela peluncuran Shell V-Power di Hotel Dharmawangsa, Senin (25/3/2013).
Abdul Halim menambahkan, nantinya V-Power ini posisinya akan menggantikan Shell Super Extra yang selama ini sudah di jual di Indonesia.
"Nantinya ini akan menggantikan Super Extra. Jadi ada Super dan V-Power nantinya. Dan untuk oktannya sama yakni 95 yang membedakan hanya formula-formulanya saja," timpalnya.
Sementara itu, untuk masalah harga Abdul Halim masih menutup informasinya. Ia mengatakan harganya tidak akan jauh dari Super Extra.
Mar 24, 2011
Pertamax Hanya Rp 7.500 Jika Bebas Pajak
Detik.com - PT Pertamina (Persero) menyatakan jika Pertamax tidak dikenakan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 10% dan PBB KB (Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor) sebesar 5%, maka harga jualnya hanya Rp 7.500 per liter.
“Lihat saja, kalau dikurangi 15 persen pajaknya, itu bisa sampai berkurang Rp 1300-1400-an. Kalau dikurangi kan berarti bisa sampai kisaran Rp 7500 per liter untuk harga Pertamax,” kata VP Corporate Communication Pertamina Mochammad Harun kepada detikOto, Rabu (16/3/2011).
Ia mengatakan, naiknya harga Pertamax Cs yang saat ini sudah mencapai Rp 8.700 per liter bukan berarti mahal, namun harga BBM yang tidak disubsidi itu merupakan cerminan harga minyak dunia yang terus meningkat.
“Sebetulnya harga Pertamax jika naik itu wajar, harga Pertamax itu kan cerminan harga minyak dunia. Justru yang tidak wajar itu adalah harga Premium,” kata Harun.
Sebagai informasi, sebelumnya Menteri Keuangan, Agus Marto, menyampaikan dalam rapat yang diadakan di badan anggaran DPR RI sehari sebelumnya, bahwa harga Premium Cs tidak ada perubahan dan merupakan yang paling murah ketimbang harga BBM di beberapa negara tetangga yang sudah mengalami penyesuaian.
“Maka itu, di sini pemerintah sudah baik hati. Jadi sebaiknya BBM Subsidi digunakan tepat sasaran dan digunakan untuk hal-hal yang bersifat produktif supaya anggaran tidak dirugikan karena sudah banyak habis untuk subsidi,” jelas Harun.
“Kita juga sekarang sefang menyusun formula yang rencananya ingin diberikan kepada Kementerian Keuangan apakah memungkinkan bagi masyarakat yang mengkonsumsi Pertamax bisa diberikan insentif terkait pajak BBM Non-Subsidi tersebut. Mungkin pajaknya bisa dikurangi, syukur-syukur bisa dihilangkan jadi harga Pertamax bisa murah,” tambahnya.
Dijelaskan olehnya, bahwa formula yang ingin diusulkan kepada Kemenkeu tersebut adalah peninjauan ulang kembali PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 10 persen dan PBB KB (Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor) sebesar 5% yang masuk ke dalam formulasi harga Pertamax Cs.
Seperti diketahui, sejak tanggal 16 Maret 2011, Pertamax Cs mengalami kenaikan sebesar Rp 600 dari Rp 8100/liter menjadi Rp 8700/liter untuk wilayah Jabodetabek.
Mar 3, 2011
Pertamax Dan Pertamax Plus Bikin Mesin Jadi Panas? (Ini Tipsnya)
Otomotifnet.com - Tes dilakukan di Honda Supra X 125. Untuk menganalisisnya gas bakar dipasang Air Fuel Rasio atau AFR. Dari sana bisa ketahuan karakter campuran bensin bila menggunakan Premium, Pertamax dan Pertamax Plus.
Untuk pembakaran sempurna antara bensin dan udara ada takarannya. Untuk membakar bersih 1 molekul bensin butuh 12,5 molekul udara. Ini tidak akan menimbulkan kerak atau karbon.
Lalu bagaimana agar menggunakan Pertamax tapi mesin tidak panas? Cara paling gampang memang bisa diakali dengan setelan angin. Tapi, itu hanya untuk rpm bawah terutama ketika mesin langsam.
Cara lain bisa ditempuh dengan menggunakan spuyer yang lebih gede satu tingkat. Tapi, yang perlu diwaspadai jangan sampai kebanyakan kelewat besar. Malah mengurangi tenaga mesin dan berakibat jadi timbunan kerak.
Teknik paling benar lihat dari kepala busi. Kalau elektrodanya berwarna merah bata, menandakan masih normal. Tapi, apabila ternyata elektroda putih boleh ganti spuyer naik satu tingkat.
Dari hasil analisis juga bisa dilihat. Motor yang menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus jika dibongkar kepala silindernya. Ruang bakar lebih bersih dan sedikit timbunan kerak.
Feb 2, 2011
Bensin Sintetik, Rp 3.500 Per Liter
Kompas.com - Di tengah gencarnya tren perubahan alat mobilitas di seluruh dunia, dari mobil bensin ke mobil listrik, muncul harapan baru untuk mesin konvensional, yaitu ditemukan bensin sintetik. Hebatnya lagi, bensin sintetik ini lebih murah dibandingkan dengan hasil tambang, hanya Rp 3.500 per liter (1,50 dollar AS per galon).
Kelebihan lain, bensin ini bisa langsung digunakan pada mesin bensin sekarang tanpa perubahan dan tidak menimbulkan emisi karbon. Nah, tentu saja bisa dibayangkan, harapan produsen mesin konvensional bisa hidup lagi setelah terancam mobil listrik.
Bensin sintetik tersebut ditemukan oleh sebuah perusahaan asal Inggris, Cella Energy. Teknologinya dikembangkan dari material yang disebut complex hydrides. Pengembangan bensin sintetik ini telah berlangsung empat tahun dalam program sangat rahasia di laboratorium terkenal, Rutherd Appleton Laboratory, dekat Oxford, Inggris.
Menurut Stephen Voller, CEO Cella Energy, bensin sintetik ini memiliki kandungan energi sangat tinggi dan dikemas seperti kapsul dengan teknik nanostruktur yang disebut coaxial electrospraying.
"Kami telah mengembangkan bahan bakar mikrobutiran baru yang dapat digunakan pada mesin yang sebelumnya menggunakan bensin. Dapat digunakan tanpa harus memodifikasi mesin,” papar Voller.
Dia menambahkan, karena berasal dari hidrogen, pembakarannya tidak menghasilkan emisi karbon. Riset untuk menemukan bensin ini dipimpin Profesor Stephen Bennington bekerja sama dengan para ilmuwan dari Universitas College London dan Universitas Oxford.
"Teknologi kami berasal dari material yang disebut complex hydrides, yaitu hidrogen. Dikemas seperti kapsul dengan proses unik (dipatenkan). Karena itu, penyimpanan dan penanganannya lebih mudah dan aman dibandingkan dengan bensin yang digunakan sekarang,” ujar Bennington yang menjadi Kepala Riset Cella Energy.
Subscribe to:
Posts (Atom)