Detik.com - Identitas pria yang mendalangi teror truk di Nice, Prancis, telah diketahui. Media lokal Prancis menyebut pelaku diidentifikasi sebagai Mohamed Lahouaiej Bouhlel.
Showing posts with label Perancis. Show all posts
Showing posts with label Perancis. Show all posts
Jul 18, 2016
Dec 1, 2012
Masjid untuk Gay dan Lesbian Dibuka di Perancis
Kompas.com - Untuk pertama kalinya, sebuah masjid yang bisa menerima kelompok gay dan lesbian dibuka di Paris, Perancis, Jumat (30/11/2012). Pembukaan masjid ini menjadi tantangan tersendiri terhadap tradisi Islam yang menentang hubungan sesama jenis.
Masjid itu, selain menerima gay, lesbian dan transgender juga tidak memisahkan tempat umat pria dan perempuan. Hal ini juga mematahkan tradisi lama Islam yang biasanya memisahkan tempat antara umat pria dan perempuan.
Pendiri masjid ini, seorang Muslim yang juga aktivis gay berdarah Aljazair, Ludovic-Mohamed Zahed (35) juga mendorong perempuan memimpin ibadah shalat Jumat.
"Ini adalah sebuah masjid inklusif yang radikal. Sebuah masjid yang menerima umatnya apa adanya," kata Zahed.
Masjid ini, yang untuk saat ini dibuka terbatas pada saat shalat Jumat ini, dibuka pada saat para pemimpin agama di Perancis, termasuk para pemuka agama Islam senior, tengah membuat petisi untuk menentang rencana pemerintah melegalkan pernikahan gay.
Zahed memutuskan untuk mendirikan masjid ini setelah anggota organisasi Muslim Homoseksual Perancis yang dikelolanya terus bertambah. Dua tahun lalu anggota organisasi ini hanya enam orang dan kini sudah mencapai 325 orang.
Kehadiran masjid ini mendapat sambutan hangat warga Muslim Perancis yang kebetulan adalah kaum gay dan lesbian.
"Perancis sangat kekurangan tempat seperti ini," kata seorang pengunjung masjid berusia 38 tahun yang tak ingin disebutkan namanya.
Namun, tentu saja masjid Zahed ini mendapat tentangan dari institusi Muslim formal dan pemuka agama Islam di Perancis.
"Kami tahu homoseksual Muslim itu ada. Namun, membuka sebuah masjid khusus bagi mereka adalah penyimpangan," kata Abdallah Zekri, yang memantau serangan anti-Muslim untuk Dewan Muslim Perancis.
Sementara itu, Pengelola Masjid Paris Dalil Boubaker mengatakan proyek masjid Zahed harus berada di luar komunitas.
"Kami tidak menuding kaum homoseksual. Namun kami tidak bisa memberi mereka kredit dan mengakui keberadaan mereka di komunitas kami," ujar Boubaker.
Bagaimana pendapat umat Muslim Perancis?
"Shalat adalah sebuah ritual. Anda tak bisa semaunya menentukan cara melakukan shalat. Anda harus melakukannya seperti diperintahkan Allah," kata Soufiene (45).
Sementara itu sejumlah pakar juga ikut mengomentari masjid yang dikelola Zahed ini.
"Tujuan para Muslim ini adalah untuk mempromosikan Islam yang inklusif dan memiliki nilai-nilai progresif," kata peneliti di Institut Riset dan Studi tentang Arab dan Dunia Muslim, Florence Bergeaud-Blackler.
Zahed sendiri adalah seorang gay yang menikahi kekasihnya, yang juga seorang Muslim dalam pernikahan sipil di Afrika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis.
Masjid itu, selain menerima gay, lesbian dan transgender juga tidak memisahkan tempat umat pria dan perempuan. Hal ini juga mematahkan tradisi lama Islam yang biasanya memisahkan tempat antara umat pria dan perempuan.
Pendiri masjid ini, seorang Muslim yang juga aktivis gay berdarah Aljazair, Ludovic-Mohamed Zahed (35) juga mendorong perempuan memimpin ibadah shalat Jumat.
"Ini adalah sebuah masjid inklusif yang radikal. Sebuah masjid yang menerima umatnya apa adanya," kata Zahed.
Masjid ini, yang untuk saat ini dibuka terbatas pada saat shalat Jumat ini, dibuka pada saat para pemimpin agama di Perancis, termasuk para pemuka agama Islam senior, tengah membuat petisi untuk menentang rencana pemerintah melegalkan pernikahan gay.
Zahed memutuskan untuk mendirikan masjid ini setelah anggota organisasi Muslim Homoseksual Perancis yang dikelolanya terus bertambah. Dua tahun lalu anggota organisasi ini hanya enam orang dan kini sudah mencapai 325 orang.
Kehadiran masjid ini mendapat sambutan hangat warga Muslim Perancis yang kebetulan adalah kaum gay dan lesbian.
"Perancis sangat kekurangan tempat seperti ini," kata seorang pengunjung masjid berusia 38 tahun yang tak ingin disebutkan namanya.
Namun, tentu saja masjid Zahed ini mendapat tentangan dari institusi Muslim formal dan pemuka agama Islam di Perancis.
"Kami tahu homoseksual Muslim itu ada. Namun, membuka sebuah masjid khusus bagi mereka adalah penyimpangan," kata Abdallah Zekri, yang memantau serangan anti-Muslim untuk Dewan Muslim Perancis.
Sementara itu, Pengelola Masjid Paris Dalil Boubaker mengatakan proyek masjid Zahed harus berada di luar komunitas.
"Kami tidak menuding kaum homoseksual. Namun kami tidak bisa memberi mereka kredit dan mengakui keberadaan mereka di komunitas kami," ujar Boubaker.
Bagaimana pendapat umat Muslim Perancis?
"Shalat adalah sebuah ritual. Anda tak bisa semaunya menentukan cara melakukan shalat. Anda harus melakukannya seperti diperintahkan Allah," kata Soufiene (45).
Sementara itu sejumlah pakar juga ikut mengomentari masjid yang dikelola Zahed ini.
"Tujuan para Muslim ini adalah untuk mempromosikan Islam yang inklusif dan memiliki nilai-nilai progresif," kata peneliti di Institut Riset dan Studi tentang Arab dan Dunia Muslim, Florence Bergeaud-Blackler.
Zahed sendiri adalah seorang gay yang menikahi kekasihnya, yang juga seorang Muslim dalam pernikahan sipil di Afrika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis.
Mar 29, 2012
Berhenti Gunakan Palestina Sebagai Dalih Serangan Teror
Detik.com - Perdana Menteri (PM) Palestina Salam Fayyad menyerukan para ekstremis untuk berhenti menggunakan masalah Palestina sebagai dalih atas aksi-aksi kekerasan. Seruan ini disampaikan menyusul serangan penembakan brutal di sebuah sekolah Yahudi di Prancis.
"Sekarang waktunya bagi para penjahat ini untuk berhenti memasarkan aksi-aksi teroris mereka yang atas nama Palestina dan berhenti berpura-pura membela hak-hak anak-anak Palestina yang cuma meminta kehidupan yang layak," kata Fayyad dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (21/3/2012).
PM Palestina itu pun mengecam serangan penembakan brutal di sekolah Yahudi di Prancis yang menewaskan empat orang pada Senin, 19 Maret lalu.
"Kejahatan teroris ini dikecam sekeras mungkin oleh rakyat Palestina dan anak-anak mereka," cetus Fayyad. "Tak ada anak Palestina yang bisa menerima kejahatan yang menargetkan orang-orang tak bersalah," imbuhnya.
Pernyataan itu disampaikan Fayyad di tengah berlangsungnya pengepungan pasukan khusus Prancis di Kota Toulouse atas seorang pria, yang diduga sebagai tersangka pelaku penembakan sekolah Yahudi dan aksi-aksi penembakan lainnya di Prancis.
Pria yag diidentifikasi sebagai Mohammed Merah, warga Prancis keturunan Aljazair itu, menyebut dirinya sebagai anggota jaringan teroris Al-Qaeda. Pria berumur 24 tahun itu mengaku telah melakukan aksi-aksi penembakan brutal tersebut sebagai pembalasan dendam atas anak-anak Palestina yang tewas dalam konflik dengan Israel.
"Sekarang waktunya bagi para penjahat ini untuk berhenti memasarkan aksi-aksi teroris mereka yang atas nama Palestina dan berhenti berpura-pura membela hak-hak anak-anak Palestina yang cuma meminta kehidupan yang layak," kata Fayyad dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (21/3/2012).
PM Palestina itu pun mengecam serangan penembakan brutal di sekolah Yahudi di Prancis yang menewaskan empat orang pada Senin, 19 Maret lalu.
"Kejahatan teroris ini dikecam sekeras mungkin oleh rakyat Palestina dan anak-anak mereka," cetus Fayyad. "Tak ada anak Palestina yang bisa menerima kejahatan yang menargetkan orang-orang tak bersalah," imbuhnya.
Pernyataan itu disampaikan Fayyad di tengah berlangsungnya pengepungan pasukan khusus Prancis di Kota Toulouse atas seorang pria, yang diduga sebagai tersangka pelaku penembakan sekolah Yahudi dan aksi-aksi penembakan lainnya di Prancis.
Pria yag diidentifikasi sebagai Mohammed Merah, warga Prancis keturunan Aljazair itu, menyebut dirinya sebagai anggota jaringan teroris Al-Qaeda. Pria berumur 24 tahun itu mengaku telah melakukan aksi-aksi penembakan brutal tersebut sebagai pembalasan dendam atas anak-anak Palestina yang tewas dalam konflik dengan Israel.
Feb 7, 2012
Google Dituntut karena Gratiskan Google Maps
Kompas.com - Google Maps yang bisa diakses secara gratis tentu sangat membantu sebagai penunjuk jalan, terlebih untuk wisatawan. Namun, karena menawarkan layanan peta online ini secara gratis, Google dianggap telah melakukan kompetisi yang tidak adil dalam bisnis.
Hal ini terjadi di Paris, Perancis, di mana Google Perancis dan perusahaan induk Google Inc dituntut oleh perusahaan lokal bernama Bottin Cartographes, yang menyediakan layanan peta online berbayar. Perusahaan ini menganggap Google dapat mengancam masa depan bisnis mereka.
Pengadilan Komersial Perancis memutuskan Google bersalah dan meminta raksasa mesin pencari itu membayar 500.000 euro (sekitar Rp 6 miliar) sebagai ganti rugi dan 15.000 euro (sekitar Rp 180 juta) sebagai denda.
Pengacara Bottin Cartographes, Jean David Scemmama, mengatakan, ini adalah akhir dari pertempuran selama dua tahun, sebuah keputusan tanpa preseden.
"Kami membuktikan ilegalitas dari strategi Google untuk menghancurkan pesaingnya. Pengadilan pun mengakui ada ketidakadilan dan metode kasar yang ditujukan kepada Bottin Cartographes. Ini adalah kali pertama Google telah dihukum karena layanan Google Maps," tambah Scemmama, Kamis (2/2/2012).
Juru bicara Google Perancis menjawab, pihaknya akan mengajukan banding atas keputusan tersebut. "Kami tetap yakin bahwa sebuah alat pemetaan gratis berkualitas tinggi sangat bermanfaat untuk pengguna internet dan website lainnya," tegas juru bicara Google.
Hal ini terjadi di Paris, Perancis, di mana Google Perancis dan perusahaan induk Google Inc dituntut oleh perusahaan lokal bernama Bottin Cartographes, yang menyediakan layanan peta online berbayar. Perusahaan ini menganggap Google dapat mengancam masa depan bisnis mereka.
Pengadilan Komersial Perancis memutuskan Google bersalah dan meminta raksasa mesin pencari itu membayar 500.000 euro (sekitar Rp 6 miliar) sebagai ganti rugi dan 15.000 euro (sekitar Rp 180 juta) sebagai denda.
Pengacara Bottin Cartographes, Jean David Scemmama, mengatakan, ini adalah akhir dari pertempuran selama dua tahun, sebuah keputusan tanpa preseden.
"Kami membuktikan ilegalitas dari strategi Google untuk menghancurkan pesaingnya. Pengadilan pun mengakui ada ketidakadilan dan metode kasar yang ditujukan kepada Bottin Cartographes. Ini adalah kali pertama Google telah dihukum karena layanan Google Maps," tambah Scemmama, Kamis (2/2/2012).
Juru bicara Google Perancis menjawab, pihaknya akan mengajukan banding atas keputusan tersebut. "Kami tetap yakin bahwa sebuah alat pemetaan gratis berkualitas tinggi sangat bermanfaat untuk pengguna internet dan website lainnya," tegas juru bicara Google.
Subscribe to:
Posts (Atom)