Nov 8, 2008

Isu Biden, Sarah Palin, Hingga Irak


Sejak pertarungan memanas, capres Republik John McCain terus mencoba memainkan taktik sumir. Pada awalnya McCain berharap bisa menjual isu kebijakan luar negeri, yang dia anggap akan lebih mengena bagi masyarakat. Namun, isu luar negeri, terutama soal Irak, tidak lagi mengena. Berdasarkan jajak pendapat, dari semua lembaga, isu Irak bukan urusan utama.

Setelah krisis, faktor ekonomi kini menjadi perhatian utama warga AS, di mana Obama dianggap lebih mampu ketimbang McCain.

Lagi, Barack Obama mengantisipasi kelemahannya dalam kebijakan luar negeri dengan menunjuk Joe Biden sebagai calon wakil presiden. Jualan McCain soal kebijakan luar negeri juga makin hancur dengan penunjukan Sarah Palin sebagai pendampingnya.

Lidah Palin keseleo. Dia mengatakan, Rusia bisa dia lihat >

Lagi pula, McCain juga dianggap tidak piawai soal kebijakan luar negeri karena ternyata dalam delapan tahun pemerintahan Presiden George W Bush, citra AS di mata dunia hancur berantakan. ”Kita tidak mau lagi menerima kenyataan bahwa citra AS terus memburuk. McCain akan sama saja dengan Bush,” kata Becky Campbell, wartawan dari Johnson City Press, di Johnson City, Tennessee.

Pengangkatan Palin sebagai pendamping juga membuat McCain seperti menjilat ludah sendiri karena pernah mengatakan bahwa Obama tidak siap sebagai presiden. Palin yang tidak berpengalaman berbalik menjadi sasaran kecaman pada McCain.

McCain juga berharap isu aborsi dan perkawinan sesama jenis bisa menjatuhkan Obama mengingat Republik pada umumnya didukung kaum konservatif. Kemudian muncul isu ekonomi dengan hancurnya sektor keuangan. ”Orang-orang tidak memerhatikan isu-isu seperti ini lagi,” kata Brittany Long, mahasiswa East Tennessee State University.

Ambruknya ekonomi membuat warga menjadikan isu ekonomi menjadi prioritas, di mana McCain turut tercoreng karena semua ini lagi-lagi dianggap sebagai warisan Republik.

Harapan McCain mendulang pamor sebagai eks veteran juga tidak menggugah. ”Ayah saya militer, nyatanya tidak mendukung McCain. Menjadi veteran, sama seperti ayah saya yang juga pernah bertugas di Vietnam, tidak menjadi jaminan untuk siap sebagai presiden,” kata Corie Shaun, warga Tennessee.

Karena itu, McCain mencoba memainkan isu bahwa Obama adalah teroris dan mengaitkannya dengan Bill Ayers. Hal itu langsung membuat McCain juga menjadi sasaran kecaman karena dia ternyata juga terlibat penjualan senjata ke Iran di bawah pemerintahan almarhum Presiden Ronald Reagan, dan kemudian membiayai pemberontakan di Nikaragua.

McCain mencoba memojokkan Obama dengan menyebutkan bahwa Rashid Khalidi, warga Palestina, dikatakan pernah dekat dengan Obama. Kemudian muncul kecaman bahwa adalah McCain yang pernah menyumbang dana 400.000 dollar AS lebih kepada pihak Hamas di Palestina. Tentu saja Khalidi membantah dirinya teroris Palestina dan demikian juga Obama membantah tudingan sumir itu.

McCain mencoba meraih simpati dengan merangkul Joe Lieberman, termasuk merangkul warga Yahudi mengingat Liberman adalah Yahudi Amerika. Akan tetapi, pamor Lieberman jelek karena dia adalah pemberontak Demokrat yang berpaling mendukung Republik. Politikus pelarian tidak dihargai di AS.

McCain dan Palin mencoba merangkul pendukung Hillary Clinton dengan menyatakan rasa simpati kepada Hillary Clinton setelah kalah pada pemilu pendahuluan dari Obama. Namun, tindakan ini juga jadi bumerang. ”Tidak untuk McCain, tidak untuk Palin,” ujar Hillary pada Konvensi Nasional Demokrat di Denver Agustus lalu.

Kemudian McCain mengampanyekan Samuel J Wurzelbacher, Joe the Plumber, seorang pengusaha yang menentang program ekonomi Obama, terutama program pajak Obama yang akan meningkatkan pajak korporasi. Akan tetapi, Joe the Plumber ternyata adalah pengusaha yang tidak punya izin.

Demikianlah McCain selalu terbentur aksi-aksi sumir yang dia lakukan. Dalam aksi komedinya, Tina Fay, pelawak yang meniru Sarah Palin, mengatakan, ”Berhadapan dengan Obama, McCain seperti garbage.”