Oct 24, 2016

Pelaku Teror Tangerang dan Jaringan Ciamis

Cnnindonesia.com - Pelaku penyerangan pos polisi di Tangerang yang berinisial SA, tak sempat memberikan banyak informasi karena terlebih dulu meninggal dunia. Meski demikian, polisi sedikitnya sudah mengantongi latar belakang pria nekad itu.

"Pelaku ini berdasarkan data yang ada kelahiran Jakarta, 16 November 1994. Masih muda kelahiran 1994 si SA ini," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis (20/10).

Pria berusia 22 tahun itu diketahui tidak mempunyai pekerjaan. Meski pelaku diduga menempelkan stiker Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS di pos polisi yang diserang, polisi belum berani memastikan jaringan mana yang terkait dengan serangan ini.

Boy hanya mengatakan, pelaku patut diduga terkait dengan jaringan teroris yang sudah ada. Alasannya, dia membawa bahan peledak dan melakukan serangan terhadap Kepolisian.

"Mudah-mudahan bisa kita gali termasuk motifnya tapi tentu perbuatan-perbuatan ini patut diduga berkaitan dengan jaringan teror yang ada," kata Boy.

Hal ini juga menjawab pertanyaan apakah karakter serangan yang mirip dengan aksi teror Thamrin, Januari lalu, menunjukkan ada keterkaitan dengan pelaku.

Berdasarkan informasi yang dihimpun CNNIndonesia.com dari kepolisian, SA adalah bagian dari jaringan "Daulah Islamiyah" jaringan Ciamis, Jawa Barat.

Dia diduga bergabung dengan kelompok Daulah Islamiyah jaringan Ciamis, Jawa Barat sejak 2015. Pelaku disebut memang menjadikan polisi sebagai target serangannya.

Namun pengamat teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengatakan, istilah itu menurutnya merujuk pada negara yang dideklarasikan ISIS di Suriah.

Sementara di negara lain, para pengikutnya disebut Ansharu Daulah yang berarti simpatisan atau penolong negara.

"Mereka memang punya punya rencana aksi, tapi prioritas mereka itu pindah ke Suriah, tidak dalam bentuk aksi yang tidak bermutu menyerang seperti ini," kata Harits kepada CNNIndonesia.com.

Ansharu Daulah

Catatan CNNIndonesia.com, Ciamis bukan baru kali ini dikaitkan dengan jaringan teror. Salah satu simpatisan ISIS yang sudah menjalani proses persidangan juga diketahui berasal dari daerah tersebut.

Pria berinisial FL (16) yang sehari-hari mengikuti kegiatan yang diajarkan Pondok Pesantren An-Nasrullah di Ciamis diduga menyembunyikan informasi terkait terduga teroris bernama Hamzah.

Belakangan baru diketahui Hamzah termasuk Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror karena terlibat sebagai simpatisan ISIS.

Serangkaian penangkapan yang diduga terkait dengan Hamzah dilakukan Kepolisian usai serangan Thamrin. Sebut saja penangkapan yang dilakukan di Sumedang dan Karawang.

Saat itu, polisi menyebut Hamzah tergabung dengan kelompok Dian yang merupakan pelaku bom Thamrin.

Sementara dua pelaku yang ditangkap di Sumedang, I dan H, disebut pernah terkait dengan pelatihan militer di Aceh, sebelum akhirnya tergabung dengan jaringan Ansharu Daulah.

Saat ini, berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, jaringan teroris yang berada di Indonesia memang tidak banyak berubah sejak masa Jamaah Islamiyah, awal 2000-an. Setelah para petingginya ditangkap, kelompok tersebut terpencar ke dalam jaringan-jaringan kecil.

Jaringan-jaringan itu bersinggungan satu sama lain dan bisa berubah-ubah haluan, tergantung siapa pemimpinnya.

Hari ini, kelompok yang dianggap berpengaruh besar di dunia adalah ISIS. Karena itu, banyak kelompok tersebut menyatakan berafiliasi dan menganut paham serta visi-misi negara de fakto tersebut.

No comments:

Post a Comment